"Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir" (QS Ar-Rum: 21)
______________
Seorang laki-laki tampan berjas hitam, sedang menunggu sang wali nikah dari calon istrinya. Ia terlihat sedikit gugup dan sesekali menghembuskan nafas berat. Ya, dia adalah Fauzan calon suami Nayla. Ia sedang duduk di bangku yang telah disediakan wedding organizer. Sesekali ia melirik jam tangan. Mas Nando selaku wali nikah Nayla akhirnya muncul dari ruang tengah. Ia langsung duduk menghadap calon adik iparnya. Mas Nando mengulurkan tangan untuk menjabat Fauzan dan mengikrarkan ijab qobul.
"Ananda Fauzan Al Ghifari bin Ahmad Assegaf al Ghifari, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan adik saya, Nayla Persada Utami binti Ali Imran dengan mas kawin uang tunai 100 juta dan emas seberat 100 gram dibayar tunai"
"Saya terima nikah dan kawinnya Nayla Persada Utami binti Ali Imran dengan mas kawin tersebut tunai"
"Bagaimana saksi? Sah?"
"SAH!!!!" Para saksi serempak mengucapkan sah. Fauzan lega luar biasa. Saat ini Nayla sedang menatap calon suaminya, ralat suaminya di screen yang disediakan untuk melihat jalannya ijab qobul. Air mata kebahagian lolos dari mata cantiknya. Mereka akhirnya sah sebagai pasangan suami istri. Fauzan mengucap ijab qobul dengan lantang dan menghadiahinya surat Ar- Rahman. Lantunan ayat yang dibacakan Fauzan mengalun begitu indah membuat Nayla terharu dan berlinang air mata.
Saat pertama kali dipertemukan sebagai suami istri mereka berdua memandang satu sama lain seraya tersenyum bahagia. Akhirnya Fauzan menjadi suaminya. Nayla sempat melihat, bagaimana Fauzan menitikan air mata saat penghulu dan saksi mengucapkan kata "sah".
Saat ini Fauzan bukan lagi mantan adik iparnya melainkan suaminya.
Fauzan adalah tempat Nayla bergantung.
Fauzan adalah ayah untuk anak-anaknya.
Nayla begitu cantik, aura kebahagiaan memancar dari wajahnya. Fauzan memandangnya lekat, seraya berdoa didalam hati" Ya Allah, terima kasih engkau telah memberikan seorang bidadari untukku. Semoga keluarga kami selalu diberikan kekuatan dan kebahagiaan dalam menjalani biduk rumah tangga ini. Berikanlah kami anak yang Sholeh dan Sholehah. Semoga kami selalu bersama saat suka maupun duka".
Acara selanjutnya hanya resepsi sederhana saja. Hanya mengundang keluarga dekat dan sahabat- sahabat Nayla. Saat ini mereka tengah berada di apartemen milik Fauzan tepatnya di dalam kamar Fauzan yang sekarang menjadi kamar Nayla juga. Ada perasaan canggung diantara keduanya.
"Ini mbak Nanda yang dekor" ucap Fauzan yang memecah kesunyian diantara mereka berdua. Nayla mengamati kamar yang ditempati mereka. Banyak bunga mawar bertebaran dimana-mana dan lilin aromaterapi.
"Ngapain pake lilin segala, kalau kebakaran gimana?" kata Nayla seketika. Ngeri juga kalau lilin yang segitu banyak membuat kamar ini terbakar.
"Iya juga sih, ya udah aku matikan dulu deh" Fauzan berniat mematikan semua lilin tapi Nayla menghentikannya dengan memegang tangannya. "sisain satu aja biar romantis" ucap Nayla sambil tersenyum jahil. Fauzan terkekeh geleng-geleng kepala. Saat Fauzan minta ijin untuk keluar membeli makanan, Nayla bersiap untuk Mandi. Ia membuka koper untuk mengambil pakaiannya tapi muncul seonggok pakaian tembus pandang yang ia beli beberapa hari atas saran Salsa.
Flashback
Nayla dan Salsa sedang berjalan-jalan di mall untuk membeli beberapa keperluan menjelang hari pernikahannya. Saat sampai di toko pakaian dalam yang terkenal di dunia Veronica Secret, Salsa menyeret Nayla untuk masuk.
"Ngapain sih Sal?" Tanya Nayla bingung.
"Kamu kan mau nikah. Ya beli baju seksi buat nyenengin suamimu nanti. Apalagi suamimu masih muda masih hot-hotnya. Emang kamu ikhlas suamimu di rebut artis songong itu" salsa memang tukang kompor. Tentu saja Nayla tidak ikhlas dunia akhirat Fauzan dimiliki Rumi.
"Udah. Kalau kamu gak mau beli, biar aku yang beliin, pilih yang banyak, selama blackcard punya Adrian aku yang pegang,kita bisa hepi-hepi " kata Salsa memamerkan kartu dari suaminya.
Nayla hanya geleng-geleng kepala. Bukan karena ia tidak mampu membeli pakaian tembus pandang dengan harga selangit itu, tapi karena ia malu.
"Aku malu Sal, masak pake gituan didepan mas Fauzan"
"Oh, terus maksud kamu mau langsung polosan aja gitu" kata Salsa dengan polosnya.
"Astaga jangan kenceng-kenceng Sal" Nayla membekap mulut salsa. Nayla tidak habis pikir dengan kefrontalan ucapan sahabatnya ini. Salsa kalau ngomong kadang gak di filter dulu.
"Ya intinya saat malam pertama kamu mesti pakai ini baju, kalau suami kamu mau bahagia" ucap Salsa. Nayla hanya memutar bola matanya mendengarkan penuturan Salsa.
"Karena aku yang beliin, kamu mesti pake, kalau sampai gak dipake, kita gak temenan lagi" jika salsa sudah memberikan ultimatum Nayla hanya pasrah saja.
"Astaghfirullah kok gitu Sal, kan kamu yang maksa aku buat ambil pakaian itu"
"Sekarang terserah kamu"
"Iya aku pake" kata Nayla. Pada akhirnya ia menyerah. Toh ini untuk suaminya. Suaminya berhak melihat Nayla memakai pakaian tembus pandang ini.
Saat ini Nayla yang baru saja selesai mandi hanya memandang lingerie tipis pemberian salsa. Apakah ia harus memakainya sekarang atau nanti saja setelah menemani Fauzan makan?
"Udah selesai mandi dek? Makan dulu gih, gantian aku yang mandi, habis itu kita sholat Sunnah bareng ya" kata Fauzan yang membuyarkan lamunan Nayla. Nayla segera menyembunyikan lingerie dibelakangnya. Nayla hanya menganggukan kepalanya dan memberikan senyum manisnya.
Selesai melaksanakan sholat Sunnah Fauzan membalikkan badannya menghadap Nayla. Ia memandang istrinya lekat dengan jarak teramat dekat. Ia segera berdoa dan meniup ubun-ubun Nayla. Setelah itu ia mencium kening Nayla untuk pertama kalinya.
"Terimakasih sudah mau menerimaku sebagai suamimu dek, aku harap keluarga kita menjadi keluarga sakinah mawadah warahmah, dikaruniai keturunan yang Sholeh dan Sholehah serta bahagia dunia akhirat" ucap Fauzan yang masih menatap Nayla.
"Aku yang berterima kasih karena mas sudah mau menerima segala kekurangan ku, mau menerima anak-anak, aku ini hanya seorang___" belum juga Nayla menyelesaikan kalimatnya. Fauzan langsung menyambar bibir tipis Nayla. Ia tentu saja terkejut tapi kemudian ia terbawa arus yang telah dimulai Fauzan. Sudah tau akhirnya seperti apa kan? Pasangan suami istri halal yang saling mengklaim satu sama lain. Malam panjang yang membuat Fauzan bahagia.
***
Nayla menempati apartemen Fauzan hingga tiga hari. Alasannya mereka tidak merencanakan bulan madu sehingga bulan madunya di apartemen milik Fauzan saja. Toh mereka bahagia-bahagia saja.
Nayla sedang sibuk memasak untuk sarapan sang suami. Tapi sepasang tangan kekar sang suami tiba-tiba memeluknya dengan sangat posesif.
"Selamat pagi sayangku" Fauzan mengecupi pipi Nayla. Nayla kemudian membalasnya dengan mengecup bibir Fauzan.
"Selamat pagi suamiku tercinta" balas Nayla. Ia tersenyum melihat sikap manja sang suami.
"Maaf ya tiap pagi jadi keramas karena aku" Fauzan terkekeh geli melihat rambut setengah basah milik Nayla yang diakibatkan olehnya. Maklum pasangan pengantin baru. Bawaannya kepengen di kamar terus. Nayla segera mencubit perut sang suami, Fauzan meringis mengaduh kesakitan.
"Kamu jangan godain aku terus mas"
"Habisnya kamu tiap malem pakai pakaian tembus pandang gitu, aku sebagai laki-laki normal tentu saja terpancing dek" aku Fauzan jujur.
"Itu pemberian Salsa, dia ngancem kalau gak dipake bakalan gak mau jadi temenku lagi" Fauzan tertawa terpingkal-pingkal seperti anak kecil
"Kamu lucu banget sih dek, Salsa pasti bercanda lah, mana mungkin dia serius gak mau temenan sama kamu" Nayla mendengus pelan. Bisa bisanya suaminya ini menertawai dirinya.
"Tapi aku harus berterima kasih sama Salsa, karena dia, kita tiga hari ini ___" belum sempat Fauzan menyelesaikan ucapannya Nayla membekap mulut sang suami. Fauzan hanya tersenyum geli mengingat kejadian setiap malamnya selama tiga hari ini.
"Mas__" sebelum Nayla ngambek akhirnya Fauzan berhenti menggodanya. Fauzan paling suka melihat pipi Nayla yang memerah saat ia malu karena Nayla terlihat semakin menggemaskan saja.