Part 16 : Masalah Baru

1406 Kata
Euforia kebahagiaan dua insan terpampang jelas mana kala Nayla dan Fauzan akan menikah dalam waktu dekat ini. Kedua keluarga masing-masing, menyetujui untuk mengadakan pernikahan secepatnya. Tapi permintaan Nayla yang ingin mengadakan acara pernikahan dengan sesederhana mungkin. Tentu Fauzan menyanggupinya. Toh bukan seberapa mewah dan besarnya resepsi acara pernikahan mereka, tetapi kesakralan akad nikah lah yang paling utama. Saat ini Nayla di temani Salsa sedang fitting di sebuah butik khusus baju pengantin muslim. Nayla mencari gaun pengantin yang simpel dan sederhana saja. Selesai dari butik, Nayla menuju ke toko perhiasan untuk memilih cincin pernikahannya. "Nayla " panggil seorang wanita yang ternyata ada disampingnya. "Kak Rumi" sapa Nayla. Salsa yang ada disamping Nayla menyenggol bahu sang sahabat. Seakan bertanya siapakah dia. "Kenalin saya Rumi Andari Jati, kakak tingkat Nayla dikampus" Rumi memperkenalkan dirinya pada salsa yang mengulurkan tangannya untuk bersalaman. "Saya Salsa Maheswari" salsa membalas jabat tangan tersebut. "Nayla mau nikah lagi?"Tanya Rumi yang melihat Nayla memegang kotak cincin. "Iya kak" "Selamat ya saya turut senang, kamu juga masih muda, gak baik kalau menjanda terus, ngomong-ngomong kamu dekat kan sama Fauzan, saya titip salam ya" ucap Rumi. Nayla melirik Salsa ia bingung mau memberi jawaban apa. Sedangkan salsa hanya yang memutar bola matanya jengah mendengar perkataan Rumi. "Insyallah kak" akhirnya hanya itu jawaban dari Salsa. "Duluan ya" Rumi beranjak dari toko perhiasan tersebut bersama managernya. "Dasar artis songong, jangan kamu sampaikan salamnya itu ke mas Fauzan" salsa mencak-mencak setelah Rumi sudah tak terlihat lagi. "Jangan keras-keras ngomongnya Sal, dilihatin banyak orang" karena suara Salsa yang menggelegar banyak orang yang melirik mereka berdua. "Kesel aja, ganjen banget, titip salam segala sama calon laki orang " "Istighfar, Jangan marah-marah Sal, ingat kamu sedang hamil" ingat Nayla. Salsa memang sedang hamil anak keduanya. Makanya ia sangat sensitif dan emosional. Tau sendiri kalau ibu hamil emosinya naik turun. Sebenarnya Nayla ingin pergi sendirian tapi Salsa memaksa untuk ikut. Katanya ia bosan dikurung dirumah terus sama Adrian. *** Nayla sampai dirumah pada sore hari. Ia segera menghampiri anak-anaknya yang sedang bermain bersama para pengasuhnya. Nayla mengendong Mira dan mengecupi pipi gembulnya. Ia sangat rindu pada anak-anaknya. Setelah puas menciumi Mira, ia segera memeluk putra tercintanya-Danar. "Maaf ya mas, akhir-akhir ini ibu gak bisa nemenin mas, tapi ibu sayang banget sama mas Danar" Nayla mencium kening Danar. Ia sangat menyayangi putranya itu. Danar tersenyum dan membalas pelukan Nayla. " Ibu sayang sama mas" Selepas melaksanakan sholat ashar, Nayla segera menghubungi sang calon suami-Fauzan. Ia mengambil ponselnya yang berada di atas nakas. Fauzan mengangkat panggilan teleponnya. "Assalamualaikum mas" "Waalaikumsalam Dek" Fauzan memberi panggilan sayangnya "Dek " pada Nayla. "Tadi jadi fitting baju?" Tanya Fauzan. "Jadi mas, sekalian ambil cincin" jawab Nayla. "Tadi aku ketemu kak Rumi, ia titip salam buat kamu" "Hmmm" jawab Fauzan malas. Jujur saja Fauzan sejak dulu malas menanggapi Rumi. Sedangkan sang perempuan tidak pernah menyerah mendekatinya. "Kok cuma gmn?" Tanya Nayla penasaran tanggapan Fauzan. "Terus mau gimana? Males aja nanggepinya, dari dulu dia memang selalu deketin mas, mas udah berusaha menjaga jarak tapi kayaknya dia belum menyerah juga, apa perlu kita undang pas nikahan nanti" seloroh Fauzan. Nayla tersenyum mendengarkannya. Ternyata Fauzan benar-benar laki-laki yang baik. "Mas udah selesai ngantornya?" "Belum dek, aku kelarin semua dulu biar pas kita nikah, gak ada tanggungan kerjaan. Soalnya aku mau cuti panjang" "Jangan capek-capek ya mas, ingat makan, soalnya kamu sering kelupaan" "Makanya, ingetin calon suaminya dong" Goda Fauzan. Akhir-akhir ini Fauzan sudah mulai berani menggoda Nayla dengan kata-katanya. Nayla hanya terkekeh sambil geleng-geleng kepala. Fauzan sering membuat Nayla tersipu malu. "Ya udah ya mas, aku mau liat anak-anak dulu" "Oke" Fauzan akhirnya mematikan sambungan teleponnya. Sedangkan Nayla beranjak dari kamarnya untuk memandikan Mira. *** Seminggu lagi Nayla dan Fauzan akan menikah. Saat ini dirumah kediaman Nayla sedang dipasang beberapa tenda dan dekorasi untuk persiapan pernikahannya. Fauzan pun ikut memantau persiapan pernikahan mereka. Saat ini ia sedang berada di rumah Nayla, sedangkan Nayla tengah bermain bersama anak-anaknya. Tiba-tiba ada sebuah mobil mewah didepan kediamannya. Muncul seorang pria setengah baya dan wanita cantik. Mang Agus yang merupakan satpam segera membukakan gerbang. "Ada yang bisa dibantu" sapa mang Agus sopan. "Kami mencari saudari Nayla" jawab pria setengah baya tersebut "Ada keperluan apa ya?" "Keperluan pribadi, bisa kami masuk, karena kami butuh bertemu langsung dengan saudari Nayla" lanjutnya. Sebelumnya, mang Agus menelepon dulu ke telepon rumah dan mengatakan bahwa ada yang mencari Nayla. akhirnya Nayla mengijinkan mereka masuk, mungkin saja memang ada sesuatu yang penting. Saat ini Nayla di dampingi Fauzan tengah bersiap menyambut tamu yang katanya memiliki keperluan pribadi dengannya. "Mbak Mutia__" kata Fauzan setelah melihat wanita cantik itu masuk diikuti sang pria setengah baya. Nayla tentu saja bingung. Seingatnya, Mutia adalah nama mantan istri Ridwan. Apa ini Mutia yang diceritakan Ridwan. Mereka berdua saling memandang dan menilai masing-masing. Mutia hampir seperti Rumi. Tinggi, langsing, berkulit putih namun rambutnya hanya sebahu. Nayla berpendapat bahwa Mutia berprofesi sebagai model. "Saya Hamdan pengacara keluarga ibu Mutia Salim. Kedatangan kami kesini untuk meminta hak asuh Danar" Nayla terkejut bukan main. Apa katanya tadi?meminta hak asuh Danar? Tidak akan Nayla biarkan. Setelah sekian lama, kenapa ibu kandungnya baru muncul dan tiba-tiba meminta hak asuh Danar. "Tidak!!" Jawab Nayla tegas. "Anda tidak memiliki hak untuk melarang ibu kandungnya untuk membawa putranya pergi" ucap sang pengacara. "Saya berhak, karena saya adalah ibunya Danar selama ini" balas Nayla tak kalah sengit. "Kalau kamu memang ibu kandungnya kemana saja kamu selama ini? Kenapa baru sekarang muncul dan menginginkan hak asuh Danar" Nayla menatap Mutia tajam. "Saya tau saya salah, karena saat itu pergi dari rumah dan meninggalkan Danar, saat itu saya begitu terpuruk dan saya bingung dengan keadaan, saya baru saja sembuh, selama ini saya mengikuti konsultasi psikologis karena jujur saja saya sedikit terguncang" kata Mutia. "Nayla, kamu dan aku sama-sama perempuan, punya hati dan perasaan, tolong berikan hak asuh Danar pada saya, kamu juga seorang ibu, kamu sudah memiliki seorang putri biarkan Danar bersama saya" Mutia memohon pada Nayla dengan memegang tangan Nayla. "Saya tidak bisa, saya menyayangi Danar, selama ini Danar sudah seperti putra saya sendiri, saya tidak sanggup berpisah dengannya" ucap Nayla yang berlinang air mata. Mutia seakan tidak terima" Kamu jangan serakah Nayla!! kamu itu sudah tidak ada hubungan dengan apapun yang berkaitan dengan Ridwan karena Ridwan sudah meninggal!!Jadi saya berhak mengambil Danar kapan pun saya mau" Mutia tampak marah dan menatap Nayla dengan tak suka. Nayla menangis sesegukan. Ia tidak bisa membayangkan jauh dari Danar. "Saya mohon jangan pisahkan saya sama Danar mbak, saya tau kamu ibu kandungnya, tapi selama ini Danar seperti anak saya" Nayla memohon pada Mutia sambil berlutut. Fauzan tidak tega melihat Nayla memohon-mohon sampai seperti itu. Ia segera membantu Nayla bangun. "Ayo bangun Dek" "Apa motif mbak sebenarnya?!!" Tanya Fauzan menatap tajam Mutia. "Kami tidak akan memberikan hak asuh Danar pada mbak kalau itu jawaban yang mbak inginkan. Kami juga bisa menyewa pengacara untuk memberatkan permohonan pengajuan dari pihak mbak" "Selama ini mbak kemana saja? Mbak meninggalkan mas Ridwan dan Danar berdua. Mas Ridwan sampai mencari mbak ke Surabaya tapi sampai di sana keluarga mbak, mencaci maki mas Ridwan. Mas Ridwan pernah mengajukan mediasi saat mbak minta cerai tapi di tolak mentah-mentah, berungkali mas Ridwan minta mbak Mutia kembali tapi apa? Mbak Sama sekali tidak menggubris. Lalu sekarang setelah sekian lama mbak datang minta hak asuh Danar? Dimana muka mbak!!" Ucap Fauzan yang sudah habis kesabaran. Ia seakan meluapkan kekesalan yang selama ini ia pendam kepada mantan istri pertama sang kakak. "Aku cuma mau menebus kesalahanku dengan Danar, berikan aku kesempatan" mohon Mutia. "Mbak masih boleh datang kesini kapan pun, tapi syaratnya jangan pisahkan saya dengan Danar" kata Nayla. Nayla juga kasihan dengan Mutia, mungkin Mutia memang berniat menebus semua kesalahan di masa lalu. Bagaimana pun ia adalah ibu kandungnya. "Terima kasih sebelumnya, bolehkah saya bertemu dengan Danar" pinta Mutia. Nayla mengangguk tanda memperbolehkan ibu dan anak itu bertemu. Karena Mutia meninggalkan Danar saat berusia 3 bulan otomatis Danar tidak ingat tentang ibu kandungnya. Ia bahkan tidak mau di sentuh oleh Mutia. "Danar memang seperti itu pada orang yang baru dia kenal" ucap Nayla. "Mbak sabar saja, lama kelamaan Danar pasti akan menerima mbak Mutia" "Terima kasih, kalau begitu saya pamit dulu, maaf kalau saya sempat punya pikiran buruk tentangmu" kata Mutia jujur. Sepeninggal Mutia dan Hamdan, Nayla menghela nafas panjang, seharian ini ia diuji kesabarannya. Fauzan yang melihat Nayla segera memeluknya. "Kita akan terus bersama, dalam suka maupun duka, kita harus kuat ya dek" kata Fauzan mengelus puncak kepala Nayla. Nayla semakin mengeratkan pelukannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN