Fauzan POV
Dua hari lalu saat aku dan Nayla bertemu untuk membahas jawaban dari lamarannya, akhirnya aku memutuskan untuk berangkat ke Jepara. Tujuannya hanya satu, minta ijin kedua orang tuaku untuk menikahi Nayla. Tekad ku sudah bulat, apapun halangan dan rintangan yang ada di depan, aku pasti akan melaluinya.
Sejujurnya aku selalu merindukan suasana kampung halamanku di Jepara, tapi karena kesibukan mengurus perusahaan almarhum kakakku aku jarang berkunjung. Belum sempat pulang. Terakhir mungkin saat lebaran tahun lalu. Aku pasti selalu memberi kabar ayah dan ibu.
Pesawat yang aku tumpangi mendarat di Bandara Ahmad Yani Semarang. Dari Semarang aku masih harus menempuh perjalanan kurang lebih selama 3 jam menuju Jepara. Aku bisa saja menyetir dari Jakarta tapi kondisi tubuhku kurang fit untuk perjalanan panjang.
Saat sampai dirumah, ibu langsung menyambutku dengan pelukan hangat. Ayah juga memelukku dan menepuk punggungku tanda ia juga merindukan ku. Aku langsung digiring menuju ruang makan karena ibu sudah memasak banyak makanan kesukaan ku. Saat melewati ruang tengah aku menatap foto keluarga yang tergantung di dinding. Saat pengambilan foto tersebut,aku masih duduk di bangku sekolah menengah sedangkan kakak-kakakku sudah kuliah. Kami terlihat bahagia. Bahkan ada beberapa foto kami dengan pose konyol ala anak muda jaman dulu. Aku terkekeh pelan mengingat masa itu. Tapi segera menghela nafas panjang karena salah satu orang yang aku sayangi sudah meninggalkan kami untuk selamanya.
Mas Ridwan, aku merindukan tawa dan tingkah konyolmu saat menggodaku. Batin Fauzan
"Dek ayo makan dulu, pasti laper kan? Ibu udah bikin es Gempol, panas-panas gini enaknya makan yang seger-seger kan?" Ibu segera membawaku ke meja makan. Kulihat banyak makanan yang sudah disiapkan ibuku tercinta. Jangan lupakan pindang serani. Aku tersenyum karena membayangkan Nayla yang akan memasak untukku dirumah kami.
***
Sore harinya kami bertiga duduk di gazebo halaman belakang sambil melihat-lihat beberapa koleksi hewan peliharaan ayahku. Ayahku suka memelihara ayam, bebek, burung bahkan ikan. Semua itu dilakukan untuk mengisi kesibukan beliau karena sudah pensiun mengurus galerinya. Hanya sesekali beliau memantau, memastikan semuanya lancar dan baik-baik saja.
Ini saat yang tepat untuk bicara serius pada orang tuaku "Ayah ibu ada yang mau aku sampaikan pada kalian" ucapku.
"Apa ada masalah?" Timpal Ayahku.
"Aku mau melamar seseorang, aku harap kalian mendukung dan memberikan restu untuk hubungan kami"
"Siapa?" Tanya ayah to the point. Ayahku tipe orang yang tidak suka basa basi dan langsung pada intinya. Ibuku hanya mendengarkan dengan seksama. Karena aku yakin beliau pasti mendukung keputusanku.
"Aku mau melamar dan menikahi Nayla" jawabku lantang. Mereka berdua memandangku dengan tatapan yang sulit diartikan. Seakan tak percaya dengan keputusanku.
"Kenapa harus Nayla?" Kali ini ibuku bersuara.
"Karena aku cinta dan sayang dia jauh sebelum mas Ridwan mengenalnya. Kami bertemu saat kuliah dulu"
"Dek, bagaimana dengan tanggapan orang-orang jika kalian menikah? Kamu menikahi janda kakakmu? Apakah Nayla akan kuat dengan omongan keluarga besar kita dan orang-orang diluar sana?" Ucap ibuku.
"Mungkin awalnya akan berat, tapi kami yakin, kami bisa melalui semuanya jika bersama. Kami butuh restu dari ayah dan ibu. Nayla gak akan mau menikah denganku tanpa restu dari ayah ibu. Aku mohon restui kami. Selain itu Danar dan Mira juga butuh sosok ayah" aku berusaha meyakinkan mereka kalau memang keputusanku tepat.
"Aku tidak peduli dengan omongan atau pendapat orang, selama kita tidak melakukan dosa. Tolong restui kami" ujarku yang masih memandang kedua orang tuaku. Mereka berdua terlihat menghela nafas panjang.
"Baik, kalau kamu sudah minta ijin kakak-kakaknya Nayla, ayah dan ibu akan melamar kan kamu untuknya"
"Lagipula sudah saatnya Nayla menikah, memang berat harus menjadi single parent dengan dua orang anak apalagi harus mengurus yayasan sendiri. Kamu benar, Danar dan Mira butuh sosok ayah. Dan kamu orang yang tepat" kata ayahku panjang lebar. Senyumnya seketika mengembang lebar. Ada perasaan luar biasa lega. Akhirnya aku mengantongi restu dari kedua orang tuaku. Sekarang tinggal meminta restu kakak Nayla.
"Ibu mendukung saja, selama kamu dan Nayla saling mencintai dan mau menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing" timpal ibuku. Aku segera memeluk orang yang melahirkan ku dengan erat.
"Terima kasih ayah, ibu"
***
Saat ini aku sedang janjian bertemu mas Nando di kantor penerbitannya. Untungnya, ia sedang berada di kantor Jakarta. Biasanya kakak Nayla ini sering bolak balik Bandung-Jakarta karena memang kantor penerbitannya berada di dua kota tersebut.
Aku menunggu di ruangan kerja mas Nando. Saat ini mas Nando sedang rapat dengan teamnya.
"Maaf lama ya Zan, biasa briefing sama review mingguan" ucap Nando yang segera duduk di depanku. Kami duduk saling berhadapan.
"Jadi, apa yang mau kamu bicarakan? Sepertinya serius" tebak mas Nando.
Tentu saja serius. ini menyangkut masa depan adik tercinta mu. Batinku
"Mas, aku mau melamar Nayla?" Ucapku to the point dan langsung tepat sasaran .
"Apa?!!" Mas Nando tersentak kaget.
"Aku mau menikah dengan Nayla mas, aku butuh restu dari mas Nando dan mbak Nanda"
"Kenapa?" Tanya mas Nando ingin tahu.
"Karena aku cinta dan sayang sama Nayla" jawabku tegas dan penuh keyakinan.
"Jadi____" kemudian mengalirlah cerita masa laluku saat masa kuliah dulu. Saat pertama kami bertemu di kampus. Saat aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Saat ia menolongku. Saat akhirnya aku menyerah karena ia menikah dengan mas Ridwan. Dan saat ini, kesempatanku terbuka lebar. Tentu saja aku tidak akan menyia-nyiakannya. Mas Nando hanya manggut-manggut mendengarnya.
"Apakah kamu sudah yakin dengan keputusanmu?" Tanya mas Nando sekali lagi.
"1000 persen yakin mas" jawabku lantang.
"Baik,mas akan merestui hubungan kalian, mas harap kamu bisa menyayangi dan membahagiakan Nayla satu paket dengan anak-anak"
"Tentu saja mas" aku tersenyum lebar. Mas Nando menepuk bahuku dan kemudian memelukku. Aku juga menelpon mbak Nanda dan membicarakan perihal keseriusanku dengan Nayla. Mbak Nanda juga setuju dan merestui hubungan kami. Bahkan ia memintaku untuk cepat-cepat menikahi Nayla. Bila perlu seminggu lagi. Tentu saja aku mau. Lebih cepat lebih baik. Tapi aku perlu persetujuan dari Nayla.
Aku segera mengambil ponselku dan mengirimkan pesan untuk Nayla.
To: Nayla
Persiapkan dirimu, seminggu lagi aku, ayah dan ibu bakalan ke rumahmu.
Tak lama notifikasi pesan masuk berbunyi.
To : Mas Fauzan
Aku tunggu kedatanganmu mas.
Seketika aku tersenyum melihat pesan masuk dari Nayla. Tunggu Mas ya Dek. Perasaanku saat ini sangat bahagia, antusias dan lega luar biasa. Akhirnya satu langkah lagi. Kami akan menyongsong kebahagian dalam ikatan mahligai suci pernikahan. Aku percaya takdirku adalah bersama Nayla, Begitupun sebaliknya. Karena seakan alam dan seisinya juga merestui hubungan kami.