Part 14 : Cemburu?

1054 Kata
Hari ini Nayla diundang untuk menjadi pembicara pada seminar yang diadakan oleh Dinas Kesehatan kota Jakarta. Acara seminar tersebut diadakan di Hotel Ramayana. Semalaman Nayla sudah memantapkan hatinya untuk memberi jawaban kepada Fauzan. Hari ini Nayla diantar pak Kamto karena beliau sudah sembuh. Ia segera memberi pesan pada Fauzan agar tidak perlu mengantarnya. Nayla harus bertemu dengan Fauzan untuk memberikan jawaban perihal lamaran dari Fauzan. To: Mas Fauzan Assalamualaikum mas, hari ini pak Kamto sudah masuk jadi mas gak perlu antar aku ke tempat acara. Tapi ada yang mau aku omongin. Mas selesai ngantor jam berapa? Tak berapa lama ada notifikasi pesan masuk. Nayla segera melihat ponselnya, Fauzan membalas pesannya dengan cepat. To: Nayla Aku selesai jam 5 sore nanti aku jemput di lobby hotel ya. Ada banyak perasaan yang berkecamuk yang dirasakan Nayla. Ia tidak tau kenapa akhir-akhir ini Fauzan sering terlintas dalam pikirannya. Apakah Nayla sudah jatuh cinta pada Fauzan?apakah Nayla sudah benar-benar membuka hatinya untuk Fauzan, sang mantan adik ipar. Acara seminar tersebut berlangsung hingga sore hari. Saat ini Nayla tengah menunggu Fauzan di lobby hotel. Tak berapa lama orang yang ditunggu muncul. Hampir semua mata para hawa di lobby hotel itu tertuju padanya. Sesosok manusia tampan yang akhir-akhir ini membuat Nayla pusing karena pernyataan cinta sekaligus lamarannya. Dengan mengenakan setelan kemeja putih dan celana slim fit hitam yang sangat pas di tubuhnya. Penampilannya sedikit acak-acakan karena pulang kerja. Entah kenapa Nayla merasa akhir ini kadar ketampanan adik iparnya bertambah. Ia menelan ludah kasar ketika Fauzan berjalan mendekat kearahnya. "Udah lama Nay? Maaf tadi macet dijalan" ucap Fauzan. Nayla yang masih terpana dengan Fauzan berdehem pelan "gak kok mas baru sepuluh menitan"jawab Nayla. "Kita mau kemana?" Tanya Fauzan saat mereka berdua berada dalam mobil."Di kafe dekat klinik aja mas" jawab Nayla. "Oke" Akhirnya mereka memutuskan untuk bicara di kafe dekat klinik tempat Nayla kerja dulu. Kafe dengan nama yang unik "Kafe Bosque". Kafe yang penuh kenangan saat masih bersama Ridwan. Nayla memang sudah lama tidak berkunjung ke sana sejak Ridwan terakhir melamarnya. Suasana kafe lumayan ramai. Maklum malam mingguan, banyak pasangan muda mudi nongki-nongki atau sekedar hanya ngobrol haha-hihi. Fauzan memesan kopi hitam pekat dan ropang (roti panggang) sedangkan Nayla selalu memesan hot chocollatte. Coklat panas memang sangat cocok untuk merilekskan suasana. "Mas aku__" baru saja Nayla akan mulai bicara, seorang perempuan cantik datang ke meja mereka. Nayla memperhatikannya lekat. Dia sangat cantik dengan tubuh tinggi langsing dan kulit putih. Membuat semua pasang mata kaum Adam yang berada di kafe tersebut melotot kearahnya. Ia memakai dress berwarna peach sangat anggun dan cantik. Nayla seperti tidak asing dengan sesosok perempuan di depannya. Rumi Andari Jati, aktris cantik yang sedang naik daun. "Fauzan" sapa Rumi. "Oh hai rum" Fauzan menjawab sekadarnya. "Boleh gabung?" "Silahkan" jawab Fauzan. Nayla hanya mengangguk dan tersenyum simpul. "Oh ini dokter Nayla ya? Masih ingat aku gak? Aku dulu kakak tingkat kamu saat kuliah" Nayla berusaha mengingat-ingat. Tentu saja Nayla ingat. Rumi Andari kan sangat terkenal saat di kampus dulu. Menjadi primadona kampus karena segudang bakatnya. "Iya kak Rumi, apa kabar?" Sapa Nayla sopan. "Aku turut bersuka cita ya atas meninggalnya suamimu, maaf aku gak bisa dateng pas pemakaman karena tahun lalu aku masih di New York" ucap Rumi. "Gak apa kak" jawab Nayla. "Zan, kita terakhir ketemu kapan ya? Kalau gak salah pas aku lagi ada kerjaan di Turki kan?" Tanya Rumi pada Fauzan. Mereka berdua mengobrol panjang lebar dan menganggap Nayla seperti tak terlihat. Sesekali Rumi melontarkan jokes receh yang tak dipahami Nayla sama sekali. Pembawaan Rumi yang ceria membuat ia banyak teman dan mudah bergaul. Sangat berbeda dengan Nayla yang cenderung tertutup. Nayla yang sedari tadi mendengarkan obrolan mereka berdua hanya bisa menghela nafas. Ada perasaan tak nyaman di hati Nayla. Apakah ini yang namanya cemburu? Apa hak Nayla cemburu pada Fauzan? Mereka tidak memiliki hubungan apapun. "Dokter Nayla seperti masih gadis saja ya. Gak terlihat seperti janda. Body-nya masih oke pasti banyak pria yang mendekat" kata Rumi. Nayla bingung menjawabnya dan hanya menanggapi dengan tersenyum. "Ya udah aku pamit dulu ya,bentar lagi ada talkshow di TVQu jangan lupa nonton ya" pamit Rumi. Saat Rumi hendak memeluk Fauzan, Fauzan seketika mundur. Ia merasa risih jika skinship dengan wanita lain, kecuali dengan Nayla. Rumi yang salah tingkah seketika hanya tersenyum kikuk dan sedetik kemudian menganggap seperti tidak terjadi apapun. Sejujurnya dari tadi Nayla memperhatikan Fauzan yang malas-malasan menjawab pertanyaan dari Rumi. "Kamu dekat sama Rumi mas?" Tanya Nayla yang sedari tadi diam. "Gak, cuma tau aja, pernah ketemu sekali pas aku masih di Turki, cuma ngobrol biasa, kalau gak ditanggepin nanti dikira gak sopan" jawab Fauzan panjang lebar. Ia seakan tau ada banyak pertanyaan dalam otak cantik Nayla. "Jangan mikir macem-macem!! dia bukan tipe aku" lanjut Fauzan. "Emang tipe mas Fauzan seperti apa?" Tanya Nayla penasaran. "Seperti kamu" jawab Fauzan cepat. Nayla terkejut dengan jawaban Fauzan. "Maksudnya Janda?" Nayla ingin mendengar alasan Fauzan memilihnya. "Pokoknya tipe aku, kamu, Nayla Persada Utami, mau kamu janda atau gadis aku gak peduli" jawab Fauzan. Nayla tentu saja tersipu mendengar ucapan Fauzan. Segitu cintanya kah Fauzan dengan dirinya. Nayla masih tidak mengerti. "Mas, apa kamu gak malu punya istri seorang janda beranak dua? Bagaimana dengan pendapat orang-orang? Terlebih aku ini dulunya istri kakakmu" tanya Nayla yang menatap lekat Fauzan. "Gak!! aku gak malu dan aku gak peduli dengan omongan orang lain" jawab Fauzan tegas dan yakin. Mereka berdua saling menatap satu sama lain. "Mas, aku merasa gak pantas buat kamu" ucap Nayla lirih. "Nay. Aku sayang dan cinta sama kamu. Aku menerima kamu apa adanya. Jadi kamu tidak perlu berkecil hati atau merasa gak pantas buat aku" balas Fauzan yang menatap lembut Nayla. Fauzan tidak mengerti kenapa Nayla merasa tidak percaya diri. Fauzan hanya manusia biasa dan punya banyak kekurangan. Mereka bisa saling melengkapi terlepas dengan segala embel-embel status. "Baik kalau gitu, aku akan menerima lamaran mas asal mas mesti ijin dulu sama bapak dan ibu mas serta kakak-kakakku. kalau mereka memperbolehkan kita menikah aku bakalan nikah sama mas" tantang Nayla. Kalau memang Fauzan serius pasti ia akan meminta izin kepada kedua orang tuanya serta mas dan mbak Nayla. "Oke persiapkan dirimu kita bakalan nikah secepatnya" ucap Fauzan dengan seringai yang membuat Nayla ketar ketir. Fauzan tentu saja menerima tantangan dari Nayla. Lagipula Fauzan pasti akan bicara dengan kedua orang tuanya serta kakak-kakak Nayla. Tidak mungkin Fauzan akan diam-diam menikahi Nayla.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN