Part 13: Bimbang

835 Kata
Sudah seminggu sejak Fauzan menyatakan perasaanya pada Nayla. Begitupun Nayla, berusaha menghindarinya karena ia bingung dengan perasaanya sendiri. Jika saat ini masih ada abahnya ia pasti akan meminta pendapat sang abah. "Ngelamun aja Nay" sapa Salsa yang baru saja masuk ke ruang kerjanya. "Ada masalah?" tanya Salsa lagi. Apa Nayla harus cerita dengan Salsa saja. Nayla menghela nafas berat. "Fauzan melamar aku Sal" jawab Nayla. Dahi Salsa berkerut penuh tanda tanya. "Terus?" "Ya terus dia minta aku buat nikah sama dia" kata Nayla. "Lalu jawaban kamu?" "Aku bingung Sal, dia itu adik ipar aku,gimana pendapat orang-orang, adik ipar menikahi janda kakaknya?" Nayla tersenyum miris. "Kamu cinta sama dia?" Tanya salsa. "Aku gak tau Sal, aku bingung sama perasaanku, satu tahun ini kita memang dekat, dia laki-laki yang baik dan bertanggungjawab, sayang sama anak-anak tapi ini terlalu cepat" Salsa mengangguk paham "menurut aku jangan dengerin omongan orang Nay, mungkin dia adik ipar kamu, tapi kan itu dulu, sekarang kamu gak ada hubungan ipar sama dia, jadi kalau kamu mau nikah sama dia sah-sah saja, aku sebagai sahabat kamu hanya bisa mendukung. semua keputusan ada ditangan kamu, kalau yang aku lihat selama ini, Fauzan laki-laki yang baik nyatanya dia langsung ngajak kamu nikah. aku udah kenal dia sejak lama Nay, kalau kamu masih ragu coba sholat istikharah minta petunjuk sama Allah. Pikirin juga anak-anak, mereka butuh sosok ayah." Nayla selalu pulang dari yayasan pukul 4 sore. Tapi karena ada acara seminar di luar, akhirnya Nayla pulang pukul 7 malam. Saat ini, ia bersama Danar di dalam mobil. Sopir yang biasa mengantar mereka sedang sakit. Saat ditengah perjalanan tiba-tiba ada dua orang pria asing turun dari motor dan mengetuk jendela mobil Nayla. Dua orang itu memakai topeng hitam. Kondisi jalan memang sepi. Nayla panik karena dua orang itu terus mengetuk jendela mobilnya. Ia memejamkan mata dan mengambil handphonenya dengan tangan bergetar. Ia men-dial nomor panggilan terakhir yang ada di handphonenya,Fauzan. Ia berusaha menelepon Fauzan. Akhirnya Fauzan mengangkat teleponnya. Karena panik Nayla tidak sempat mengucapkan salam. "mas tolong aku, ada dua orang pria bertopeng yang lagi gedor-gedor jendela mobil. Aku takut mas" ucap Nayla panik. "Oke,kamu jangan panik, sekarang kamu dimana? Share lokasinya, aku bakalan langsung kesana" kata Fauzan. Nayla tau Fauzan khawatir padanya. Terdengar dari nada bicaranya. Tapi ia berusaha untuk tenang. "Aku ada di jalan mawar II setelah pertigaan belokan pertama mas" "Tunggu mas ya" Fauzan mematikan panggilan. Nayla berdoa semoga saja Fauzan cepat sampai. Ia sangat ketakutan apalagi sekarang ada Danar bersamanya. Ia tidak ingin mengambil resiko. "Buka pintunya!! Serahkan barang-barang kamu kalau kamu mau selamat!!" Kata pria bertopeng itu. "Buka pintunya atau aku pecahkan kacanya!!" Ya Allah apa yang harus Nayla lakukan. Batinnya Ia sangat ketakutan dan panik luar biasa. Nayla hanya bisa berdoa dan memeluk Danar. Tak lama kemudian sebuah mobil putih datang. Seorang pria yang Nayla kenal berusaha menghajar dua orang itu sendirian. Nayla mengkhawatirkan Fauzan. Takut Fauzan terkena pukulan. Untungnya Fauzan sangat lihai mungkin saja ia dulu sering ikut bela diri. Tak lama polisi datang dan meringkus ke dua tersangka yang ternyata merupakan buronan dan masuk daftar DPO (Daftar Pencarian Orang). Fauzan mengetuk pintu mobil Nayla. Nayla segera membukakan dan dengan refleks langsung memeluk Fauzan. "Aku takut mas" kata Nayla yang masih terisak. "Sudah, tidak akan ada yang terjadi pada kalian, semua akan baik-baik saja" kata Fauzan menenangkan Nayla dengan mengelus kepalanya. "Aku antar pulang ya, kasihan Danar" Nayla melihat putranya yang sedang menangis di kursi penumpang. Nayla segera masuk ke dalam mobilnya. Sementara Fauzan menelepon seseorang untuk mengambil mobilnya dan diantar ke apartemennya. "Pak Kamto gak nganter tadi?" tanya Fauzan setelah Nayla tenang. "Beliau sakit jadi aku yang nyetir sendiri" jawab Nayla. "Kenapa gak minta tolong aku Nay? Kamu menghindari aku?" Nayla merasa tertohok dengan perkataan Fauzan. Ia memang menghindari Fauzan. "Kamu tau, betapa khawatirnya aku, gimana kalau sampai orang itu melakukan sesuatu sama kamu dan Danar. Aku gak bakalan maafin diriku. Aku janji buat jaga kalian bertiga meskipun kamu gak nerima lamaran aku Nay. Jadi kamu jangan menghindari aku lagi" kata Fauzan. Nayla menatap Fauzan dengan perasaan bersalah. "Maafin aku ya mas, aku masih bingung sama perasaanku, ini semua terlalu cepat buat aku" ucap Nayla jujur. "Iya aku ngerti, sampai saat ini kamu belum bisa lupain mas Ridwan,Aku bakalan bersabar sampai kamu buka hati kamu buat aku Nay" "Sekarang kamu istirahat, jangan mikir macem-macem dulu, kalau besok pak Kamto belum bisa kerja, aku bakalan antar jemput kamu dan anak-anak" belum juga Nayla bicara Fauzan menyelanya "Gak ada penolakan!! Ini untuk keselamatan kamu dan anak-anak" Nayla hanya mengangguk pasrah. Fauzan hanya mengantar Nayla dan Danar saja, ia tidak ikut masuk kedalam rumah dan langsung pulang naik taxi karena hari sudah malam. Sebelum pulang Fauzan berpesan " kalau ada apa-apa kamu hubungi aku, aku tau kamu wanita yang kuat, tapi aku mau jadi tempat kamu bergantung, karena aku sayang kamu dan anak-anak, aku merasa bertanggungjawab atas kalian bertiga." Malam ini Nayla bertekad untuk melakukan sholat Sunnah istikharah untuk meminta petunjuk Allah. Meyakinkan dirinya kalau memang Fauzan pilihan yang tepat untuknya dan anak-anak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN