"Gimana?" Mira melempar tanya, di saat sang suami yang baru saja duduk seusai pulang dengan wajah masam. "Apanya?" Indra bertanya sewot, "setidaknya, biarin gue duduk sambil nikmatin kopi manis. Mulut gue pahit, kaya hidup!" Mendengkus, alih-alih mempersiapkan apa yang suaminya minta. Mira justru bersedekap tangan. "Nggak ada! Gulanya abis!" "Yaudah, kopi tanpa gula nggak apa-apa. Biar beneran sama kaya hidup gue! Pahit!" "Nggak ada juga! Kopinya abis!" "Astaga, terus adanya apa?" "Ya, nggak ada apa-apa. Uang belanja aja dari kemarin gue belum dapat! Gimana bisa beli? Tukar sembako pakai batu?" "Masa nggak ada?" "Ya emang nggak ada! Kenapa lo maksa?!" Mengela napas demi mengais kesabaran, Indra akhirnya melunakkan nada suaranya. Jika ia ikut bersuara keras. Mereka hanya akan berak

