Kembar Tapi Beda - 8

1566 Kata
Dewa mengayunkan langkah memasuki rumah, pria itu baru saja pulang dari kantor. Rasa penat masih merongrongnya. Alih-alih menuju kamar seperti biasa untuk membersihkan diri dan bersiap ikut makan malam. Dewa justru menunggu salah seorang asisten rumah tangganya yang tengah mengunci pintu. "Bik, mama ada di mana?" Tanyanya pada wanita paruh baya yang sudah cukup lama bekerja di kediaman orangtuanya. "Ibu ada di perpustakaan, Den. Mau saya beritahu kepulangan Aden?" "Nggak usah Bik, biar aku aja yang temuin mama di perpustakaan," ucap Dewa, sebelum kemudian mengayunkan langkah menuju ruang perpustakaan keluarga yang sering dijadikan tempat bersantai sembari membaca atau mengerjakan pekerjaan oleh anggota keluarganya. Tanpa mengetuk pintu, Dewa masuk ke dalam. Dan tatapannya langsung tertuju pada sang mama yang tengah duduk santai di sofa panjang yang ada di sana. Berselonjor kaki dengan setengah wajahnya yang tertutupi buku yang cukup tebal. Ada sebuah cangkir yang Dewa tebak berisi teh hijau favorit mamanya saat bersantai, juga beberapa camilan di atas meja. "Ma," panggil Dewa yang berhasil mengalihkan atensi mamanya dari buku yang tengah dibaca. Salma menurunkan buku yang entah sudah berapa lama ia habiskan untuk membaca lembar demi lembar halamannya. Menurunkan kakinya yang tadi dalam posisi berselonjor, wanita paruh baya itu menegakan posisi duduknya dan menatap putra sulungnya yang sudah berdiri menjulang di samping sofa panjang yang ia tempati. "Sudah pulang?" Tanya Salma setelah Dewa selesai mencium punggung tangannya, "sudah waktunya makan malam ya? Mama keasyikan baca sampai nggak sadar sudah waktunya makan malam," ucapnya sembari terkekeh. Tapi kemudian, senyuman yang menghiasi wajahnya memudar ketika melihat raut serius yang Dewa perlihatkan. Terlebih, putranya itu mengambil tempat duduk di sampingnya. Jelas, akan ada pembicaraan serius dan mungkin diselipi perdebatan yang akhir-akhir ini sering terjadi di antara mereka berdua, "ada apa?" Tanya Salma yang bersiap memulai konfrontasi dengan putranya sendiri, jika pembicaraan berakhir alot. "Ma," Dewa ragu, apakah sekarang saat yang tepat untuk membicarakan hal yang berpotensi membuatnya terlibat perdebatan lagi dengan sang mama. Tapi, ia bingung dan nyaris frustasi karena sikap merajuk yang Rhea lakukan saat ini. Menyingkirkan ragu, Dewa mengais keberanian yang sempat tercecer, "apa maksud mama dengan bilang, jika setelah aku dan Rhea menikah nanti, kami harus tinggal di rumah ini?" Meski tau apa yang ingin Dewa tanyakan. Salma tetap saja merasa kesal setelah mendengarnya sendiri. Apa putranya itu sudah tak lagi betah satu atap dengannya? Mamanya sendiri? Sosok yang merawatnya sedari dalam kandungan hingga sedewasa sekarang? Dia tak bermaksud mengekang. Hanya saja, waktu seolah begitu cepat berlalu. Bayi mungil nan tampan yang ia timang dulu, kini sudah berniat meminang seorang perempuan. "Kamu tidak mau, setelah menikah tetap tinggal di sini? Menemani Mama dan Papa yang akan kian menua nanti?" Ada tangan tak kasat mata yang meremas d**a Dewa hingga membuatnya diserbu rasa sesak. Ketika mendapati wajah sendu wanita pertama yang paling ia cintai di dunia ini. Astaga, lagi-lagi dia melukai perasaan mamanya sendiri. Apa dia sudah berbuat egois? Terlalu larut memikirkan kebahagiaannya sendiri, sampai lupa, apakah orangtuanya juga merasakan kebahagiaan yang sama? "Maafkan Dewa, Ma. Tentu sama sekali nggak keberatan jika nantinya akan tetap tinggal di sini, tapi ...." "Tapi calon istrimu yang tidak mau kan?" Tanya Salma tepat sasaran. Hingga membuat putranya tak berkutik sama sekali. Tanpa harus mengorek lebih dalam, dia tau kekasih anaknya itu tak suka dengannya. Meski saat jamuan makan malam, wanita muda itu berusaha keras untuk menunjukkan kelasnya di mata Salma. Tapi, hanya karena satu permintaan yang ia lontarkan. Sudah berhasil mengoyak ketenangan Rhea hingga tak lagi segan menentangnya secara terang-terangan. Mengangguk kaku, Dewa menatap mamanya meminta pengertian, "maaf ma, tapi Dewa janji. Nantinya akan sering berkunjung ke rumah ini dan menginap sesekali. Jadi, bolehkan kalau setelah menikah, Dewa sama Rhea tinggal di rumah sendiri? Kalau perlu, Dewa akan cari lokasi rumah yang dekat dengan rumah keluarga kita, jadi nggak harus menempuh perjalanan lama jika ingin datang berkunjung." Mengusap lembut surai hitam putra semata wayangnya, Salma menyunggingkan senyuman hangat penuh rasa sayang, "maaf ya, tapi kamu tau sendiri, gimana mama ketika mengambil sebuah keputusan bukan?" Dewa meneguk ludah kelu. Tentu saja ia tau, mamanya adalah orang yang sangat memegang teguh kata-katanya. Tak akan bisa digoyahkan dengan mudah. Itu juga alasan yang membuat Dewa selalu menuruti apa pun perkataan mamanya sedari kecil. Karena merengek dengan cucuran air mata sekalipun, mamanya akan tetap bergeming dengan keputusannya sedari awal. Tapi kali ini sangat sulit. Karena ia harus dihadapkan oleh dua wanita yang sama-sama sangat di cintainya. "Ayo makan malam, papa kamu pasti bingung mencari kita. Atau sebelum itu, kamu mandi dulu supaya lebih nyaman." Berdiri dari duduknya, Salma mengusap puncak kepala putranya yang hanya diam sembari menunduk dalam. Menekuri lantai yang sepertinya terlihat lebih menarik dari ajakannya barusan. Mengela napas, Salma memilih untuk berlalu lebih dulu. Membiarkan Dewa berkelana dengan pikirannya sendiri. Memberikan putranya ketenangan dari kalut yang pasti kini tengah merongrongnya. Dia tak bermaksud bertindak egois. Jika mau, dia tak akan perlu mengajukan syarat atau hal lainnya yang terlalu bertele-tele. Cukup meminta Dewa memutuskan hubungan dengan Rhea yang tak pernah disukainya. Meski sulit, putranya itu pasti akan tetap patuh menjalankan keinginannya. Tapi Salma menahan diri, demi kebahagiaan Dewa yang ia lihat setiap bersama Rhea. Alasannya tak menyukai Rhea? Meski wanita muda itu merupakan sosok yang cantik, berkelas, dan dari kalangan atas? Entahlah, Salma juga heran. Sedari awal Dewa dekat, hingga menjalin hubungan, bahkan sampai dua tahun telah berjalan. Ia tak pernah bisa menyukai kekasih putranya sendiri. Mungkin terdengar mengada-ada, tapi anggap saja, ini adalah feeling seorang ibu yang selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk setiap anaknya. Terutama Salma yang hanya memiliki satu-satunya putra. Yang akan selalu ia jaga, tak peduli jika anak laki-lakinya sudah beranjak dewasa. Karena seperti kata pepatah, kasih ibu sepanjang masa. Tak akan pernah terkikis hingga anaknya ikut menua dan ia telah renta hingga menunggu untuk menutup mata selamanya. *** Dentuman musik membuat Rhea kian lepas menggoyangkan tubuhnya, bersama pengunjung lain yang juga asyik menikmati malam yang kian larut. Sebelum kemudian, tubuhnya dikejutkan dengan sentuhan lengan kekar yang melingkari pinggangnya dari belakang, meski hal itu tak bisa menghentikan pergerakan Rhea yang kian menggila. Sesekali tertawa-tawa yang membuatnya berpikir, apa dia sudah gila? Oh, tentu saja tidak. Dia masih waras, hanya saja, empat gelas Vodka yang diteguknya sedikit mengikis kewarasannya. "Bagaimana kalau kita lanjutkan di tempatku?!" Ucap sosok dibelakangnya yang masih merengkuh erat. Sesekali meninggalkan kecupan dibahu terbuka karena mini dress yang Rhea kenakan memang tanpa lengan. Rhea berdecak dan melepas pelukan pria di belakangnya. Memutar tubuh, wanita itu merubah posisi menjadi berhadapan dengan sosok yang ia kenali meski di tengah keremangan, "gue mau joged sampai pagi," ucapnya sembari menekan-nekan d**a bidang yang terbalut kemeja yang warnanya tak bisa Rhea lihat dengan jelas, menggunakan telunjuknya, "jadi, jangan ganggu gue George!" "Di tempat gue juga lo bisa lanjut joged kok Sayang," kekeh pria itu yang lagi-lagi menarik pinggang Rhea dan direngkuhnya erat, "lo lagi suntuk kan? Biar gue bantu buat lebih rileks," bisiknya tepat di telinga Rhea. Dengan sengaja mengembuskan napas hangatnya ditengkuk terbuka wanita yang masih berada dalam dekapannya. Rhea melepaskan diri sebelum terbawa permainan pria di depannya yang memang mahir meluluhkan para wanita. Sebelum kemudian berlalu pergi tanpa kata, mengabaikan Gorge yang ikut mengekor di belakangnya. Mendudukkan diri atas stoll bar, Rhea meminta satu minuman pada bartender yang dengan sigap meracikan untuknya. "Tolong samain buat gue juga," ucap Gorge yang ikut duduk di samping Rhea yang berdecak sebal melihat kehadirannya. Tapi pria itu justru terkekeh dan tanpa malu mengecup pipi Rhea yang menggembung lucu karena kesal, "jangan pasang muka seperti itu Sayang, nanti aku nggak bisa nahan buat makan kamu sekarang." "Lo ngapain sih ngikutin gue mulu? Nggak ada mangsa lain yang bisa lo terkam?" Tanya Rhea sebal, sembari meneguk minuman pesanannya yang sudah tersuguh. "Kan tadi gue udah bilang. Malam ini, gue mau bawa lo pulang." "Lo pikir gue nasi bungkus yang bisa lo bawa pulang?" Sebal Rhea yang merasa terusik. Niatnya untuk menghabiskan malam sendirian diganggu pria yang terus mengekorinya bak anak itik. "Lo malam ini memang cantiknya kebangetan, bikin gue mau bungkus dan bawa pulang." "Gue udah kebal sama mulut lo yang berbisa itu. Mending cari mangsa lain yang bisa lo jejali gombalan yang nggak bermutu itu." Omel Rhea yang sudah pusing mencari cara untuk menjauhkan Gorge darinya malam ini. Karena pria itu memang sosok yang bebal dan tak akan mempan sekalipun ia lempari dengan makian. Membuka tas yang ia letakkan di atas pangkuan, Rhea mengernyitkan kening melihat ada dua puluh panggilan tak terjawab, serta tumpukan pesan yang dikirimkan oleh orang yang sama. Sosok yang tak henti meneror ponselnya hingga ia silent karena masih merasa sebal. Ya, siapa lagi yang tak pernah lelah menghubunginya nyaris setengah jam sekali, kalau bukan Dewa? Kekasihnya yang sedang ia abaikan. Permintaan mamanya yang menyuruh Rhea berbicara pada Dewa, soal pertemuan keluarga untuk membicarakan masalah hubungan keduanya ke jenjang yang lebih serius pun, belum ia lakukan. Ck, besok sajalah ia gencatan senjata dengan kekasihnya itu. Untuk malam ini, mungkin Rhea butuh untuk bersenang-senang tanpa harus dipusingkan dengan hubungannya dengan sang kekasih. Mematikan ponselnya, Rhea berdiri dengan tiba-tiba setelah meletakkan uang di atas meja untuk membayar minumannya. Pergerakannya tentu saja mencuri perhatian Gorge yang tak pernah lepas mengintainya seperti cita yang siap mengoyak mangsanya. "Ayo ke tempat lo sekarang!" Seru Rhea mengeraskan suara karena suara musik yang kian menghentak keras. Menyeringai, Gorge membayar minumannya dan ikut berdiri dari tempat duduknya, "berubah pikiran?" Godanya pada Rhea yang mendengkus sebal. "Nggak usah banyak omong, atau gue batalin karena kehilangan minat gara-gara mulut cerewet lo!" Terkekeh, George merengkuh tubuh Rhea, "siap Sayang, apa pun untukmu," ucapnya lalu memberi kecupan pada Rhea yang hanya menatap datar. Tapi mengikuti langkah George yang membelah kerumunan orang-orang yang asyik dengan kesibukan mereka sendiri. Di tempat yang biasa menjadi pilihan untuk melepas penat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN