Kembar Tapi Beda - 7

2198 Kata
Ranu mengerjap-ngerjapkan mata, menatap takjub rumah mewah yang tertangkap penglihatannya saat ini. Bahkan dengan rumah yang dulu ditempatinya saat perusahaan sang ayah belum bangkrut. Rumah ini jauh lebih besar dan mewah. Tapi yang menjadi pertanyaan, siapa pemilik rumah ini? Dan ... Untuk apa Ranu dan kedua orangtuanya datang ke sini? Mengingat, sejak bankrut, kedua orangtuanya seolah menjadi momok menakutkan bagi orang-orang yang dulu dekat dengan mereka. Tak ada satu pun yang mau membantu. Jangankan mereka yang berlebel teman, sanak saudara pun tiba-tiba menjadikan Ranu dan kedua orangtuanya sosok asing yang tak sudi untuk diakui. "Ranu!" Teriakan sang Ayah, menyadarkan Ranu yang sedari tadi terdiam di depan teras yang bahkan terdapat anak tangga yang cukup tinggi untuk menuju pintu utama yang terlihat besar. Tak ingin mencari masalah dengan membuat sang ayah murka. Ranu bergegas menyusul kedua orangtuanya yang entah sejak kapan sudah berdiri di depan pintu. "Jangan bikin malu di sini, mengerti?" Bisik Mira tajam saat Ranu sudah berdiri di sampingnya. "Bu, sebenarnya kita mau bertemu siapa? Terus, untuk apa datang ke sini?" Tanya Ranu yang tak bisa menahan rasa penasarannya. Mendengkus, Mira menatap nyalang Ranu yang meringis dan langsung mengekeret takut, menyesal sudah menyuarakan rasa penasarannya pada sang ibu yang sudah pasti tak sudi menjawab apa yang ia tanyakan. "Diam, dan lakukan apa pun yang ibu dan ayah perintahkan, mengerti?!" Mengangguk kaku, Ranu memilih untuk menelan paksa semua rasa penasaran yang sedari tadi bercokol di kepala. Tak lama, pintu besar di hadapan mereka terbuka lebar. Seorang pria tinggi dengan otot-otot besar ditubuhnya yang hanya terbalut kaus hitam lengan pendek. Memperlihatkan bisepnya yang kekar. Tanpa senyuman ramah, membuat wajahnya tampak kian bengis, meminta Ranu dan kedua orangtuanya untuk mengikutinya. Ranu sempat takut-takut pada sosok pria asing itu karena sempat mencuri pandang ke arahnya dengan seringai yang membuat bulu kuduknya meremanng seketika. Rumah besar yang mereka masuki membuat sang ibu berdecak kagum dan kembali berceloteh seperti saat menaiki mobil mewah menuju ke tempat ini. Mulai mengkhayalkan jika nantinya bisa tinggal di sini, agar tak lagi harus menempati rumah kecil yang dimatanya bak gubuk derita. Ocehan Mira berhenti saat mereka semua memasuki sebuah ruang tamu. Di sana, pada sofa tunggal, tampak seorang pria tua mengenakan jas yang begitu necis. Kepalanya sudah di sesaki uban dengan bagian tengah yang sudah botak. Sebuah jam tangan berwarna emas, serta cincin batu permata besar menghiasi ke enam jemarinya. Hanya dua jari jempol dan kelingking yang tak terlingkari cincin. Saat menyadari kehadiran Ranu dan kedua orangtuanya, pria tua itu mencoba berdiri meski sedikit kepayahan hingga dibantu sebuah tongkat kayu dengan ukiran yang tak Ranu tau. "Selamat datang dikediamanku," ucapnya sembari terkekeh hingga deretan beberapa gigi emasnya terlihat, "ayo, silakan duduk, tidak usah sungkan." Dengan gesit Indra dan Mira mengambil tempat pada sofa panjag, disusul Ranu yang tiba-tiba merasa begitu berat untuk mengayunkan langkah. Dia tak tau apa sebenarnya tujuan kedua orangtuanya mengajak ke tempat asing ini, bertemu dengan orang-orang yang tak ia kenal. Tapi firasat buruknya seolah kian menguat. Terutama, setelah ikut mendudukkan diri di samping ibu dan ayahnya yang sibuk berbincang dengan pria tua yang terus melempar tatapan kearahnya. Membuat Ranu ingin sekali merengek minta pulang. Tapi mana berani dia melakukan itu? Yang ada, bukannya pulang, dia bisa dihajar ibu dan ayahnya yang tampak nyaman dirumah besar ini. "Bagaimana, kalian suka rumah ini?" Tanya Pak Tua yang membuat Ranu mengernyitkan kening. Apa hubungannya rumah besar ini terasa nyaman atau tidak bagi kedua orangtuanya? Terkekeh sok malu-malu, Mira segera menjawab, "ini sangat bagus, baru melihat gerbang depannya saja kami sudah suka. Apalagi Ranu, dia bilang, sangat menyukai rumah ini." Ranu menoleh cepat pada sosok ibunya yang berceloteh ini dan itu tapi selalu mengatas namakan dirinya. Astaga, kapan ia pernah berkata seperti itu? Bahkan selama perjalanan menuju ke sini, ia lebih sering memilih diam. "Benarkah?" Tanya Pak Tua yang lagi-lagi melempar senyum yang ... Di mata Ranu tampak m***m, "jika begitu, semua sudah sepakat bukan?" "Maaf tap—" Ranu nyaris membuka suara, tak tahan menjadi satu-satunya pihak yang tak tau apa pun. Tapi ibunya lebih dulu sigap, meraih tangan Ranu dan meremasnya dengan kencang. Membuat gadis itu terpaksa kembali bungkam. Mengigit bibir bawahnya agar tak mengeluarkan teriakan kesakitan. "Jadi ... Sesuai perjanjian semua hutang saya lunas kan Bos?" Indra mengusap-usap tangan tak sabar. Jika tau begini, sudah sedari dulu ia sodorkan putrinya pada bandot tua yang doyan kawin di depannya ini. Tertawa hingga deretan gigi emasnya berkilauan tertempa sinar lampu, Pak Tua itu menatap Indra yang dengan mudahnya menyerahkan putri cantiknya untuk ditukar sebagai membayar tumpukan hutang. Tak apa ia kehilangan tiga puluh juta, jika nantinya digantikan gadis muda yang ... Entah siapa yang mendandaninya aneh seperti itu? Tapi dibalik makeup tebal yang membuatnya geleng kepala, mata jelinya sebagai pria yang mampu mendeteksi kecantikan seorang wanita, masih berfungsi dengan baik. Putri Indra sangat cantik, sesuai seleranya. Ia memang ahli soal wanita, bahkan kemampuannya itu seolah tak termakan usia, meski kini sudah berusia enam puluh tiga tahun. "Masih belum," ucap Pak Tua yang berhasil meluruhkan senyuman pasangan suami istri di depannya. Sementara gadis muda yang akan menjadi calon wanitanya hanya duduk dengan tubuh kaku. Wajahnya bahkan sudah sepucat warna kapas. "Kenapa belum Bos?" Tanya Indra yang tak bisa menyembunyikan kegusarannya, "bukankah Bos sudah janji? Saya serahkan putri saya, tapi semua hutang saya sama Bos dianggap lunas?" Ranu menelan ludah kelu. Seketika gemetar dengan keringat dingin yang menjamah sekujur tubuh. Jadi, dia di sini tak ubahnya barang? Di jadikan jaminan untuk membayar hutang-hutang ayahnya pada pak tua itu? Ranu ingin sekali melarikan diri. Tapi tubuhnya hanya bergeming, tak ubahnya sekaku batang kayu. Hanya lelehan air mata yang kemudian meluncur turun. "Heh! Jangan nangis! Nanti si Bos kira kamu terpaksa!" Hardik Mira kesal sembari berbisik-bisik, saat mendapati Ranu menangis dalam diam. Dia mencubit keras paha terbuka gadis itu. Menyuruhnya segera menghapus lelehan air mata yang bisa merusak makeup yang sudah susah payah ia buat, "Ranu!" Peringat Mira sekali lagi. Dengan tangan gemetar, Ranu menghapus air matanya yang seperti keran air yang rusak. Tak bisa berhenti meski ia usap berkali-kali. "Ada apa? Kenapa calon wanitaku menangis?" Tanya Pria Tua yang mendapati Ranu menangis. "Oh, bukan apa-apa Bos. Putri kami ini, sangat manja," ucap Mira sembari merangkul bahu terbuka Ranu, "dia tidak bisa berpisah dengan kami. Belum apa-apa sudah sedih. Tapi di sisi lain juga bahagia karena bisa menjadi wanita orang kaya seperti anda." Ungkapnya yang penuh dengan omong kosong. Meski terus mengumbar senyuman di depan pria tua, Mira diam-diam berbisik dengan kata-kata tajam di telinga kanan Ranu, "ingat kata-katamu di mobil. Jika sayang ayah dan ibu, harus nurut! Ayah kamu hutang sama si tua itu banyak! Jika kamu mau jadi salah satu simpanannya, bukan cuma hutang ayah kamu yang dianggap lunas. Hidup kita juga bakal dia jamin. Harusnya kamu terima kasih bakal dikasih hidup enak, nggak perlu susah-susah kerja tapi nggak kaya-kaya." Ranu meremas gaun yang kini ia kenakan. Tak bisa berpikir selain rasa takut yang menyerbu masuk. Dia tidak mau menjadi simpanan pria tua itu. Lebih baik bekerja membanting tulang dan memeras keringat, meski hasil yang di dapat hanya cukup untuk makan. Daripada dijadikan jaminan hutang orangtuanya. Entah apa yang pria tua itu dan orangtuanya bicarakan. Suara mereka bak dengungan di pendengaran Ranu. Ia hanya bungkam dengan tatapan menerawang. "Baiklah, mulai besok, kamu tinggal di sini ya cantik?" Tanya Pak Tua sumringah. Ranu meringis sakit saat ibunya kembali mencubit keras pahanya yang mungkin sudah berubah menjadi lebam. "Jawab dengan manis, jangan bikin malu!" Bisik Mira tajam, memperingatkan. Mengangguk kaku, Ranu memilih menatap lantai daripada wajah pria tua itu, "ya," ucapnya serak dengan sangat pelan. "Jangan sedih, orangtua kamu bisa ikut tinggal di sini. Biar kamu nggak kesepian dan sedih lagi. Mas juga hanya bisa datang seminggu sekali, soalnya harus bergantian sama wanita Mas yang lain. Kadang mereka suka cemburu jika sibuk sama satu orang," kekehnya di ikuti tawa Indra dan Mira yang kentara sekali sekadar basa-basi dan berusah menyenangkan saja, "tapi jangan khawatir. Karena kamu masih baru, Mas akan temenin selama satu minggu. Kita nanti ke Maldives ya cantik. Liburan sekaligus pendekatan." Ranu tak menjawab semua ocehan pria tua itu. Dia sibuk menenangkan perutnya yang tiba-tiba bergolak hingga membuatnya merasa mual. Berusaha ia tahan agar tak sampai mengeluarkan isi perutnya di depan pria tua yang sekarang mulai berbicara m***m. Tapi ditanggapi tawa kedua orangtuanya. Setelah sekian lama menguatkan diri. Akhirnya pertemuan itu usai. Pak tua memerintahkan agar besok pagi Ranu dan kedua orangtuanya bersiap-siap untuk pindah ke rumah besar yang sudah ia siapkan ini. Indra dan Mira sumringah bukan main. Mereka tak sabar untuk pindah dari rumah reyot yang saat ini di tempati. Pak tua ikut mengantar kepergian Ranu dan orangtuanya menuju mobil yang sengaja ia siapkan untuk menjemput dan mengantarkan mereka. Meski berjalan dengan tertatih-tatih menggunakan tongkat dan di awasi dua bodyguard bertubuh besar di sisi kanan dan kirinya. Ranu sudah bersiap masuk ke mobil, ingin segera pergi dari rumah mewah yang dimatanya bak neraka yang siap menghancurkannya. Tapi belum sempat menyusul orangtuanya yang sudah di dalam mobil. Pria tua itu menahan lengannya, membuat Ranu terkejut bukan main. "Kamu masih malu-malu ya cantik, tenang, nanti juga terbiasa dengan sentuhan Mas," kekeh pria tua yang mengusap pipi Ranu yang terasa dingin dengan tangan keriputnya, "sampai besok ya cantik. Mas sudah tidak sabar kita menghabiskan waktu bersama." Sambil menahan napas, Ranu hanya mengangguk kaku dan segera masuk ke dalam mobil. Tak peduli pada pelototan yang dilayangkan ibunya. Setelah berbasa-basi sebentar, mobil akhirnya berjalan. Meninggalkan rumah besar yang tak sudi Ranu injakan kaki lagi di sana. Menyandarkan kepala di jendela mobil, Ranu sibuk menggosok-gosok pipinya yang tadi di sentuh pria tua yang terus menatapnya tak senonoh. Air matanya yang tadi terpaksa ia tahan karena mendapat omelan ibunya. Kini kembali mengalir deras. Gadis itu memilih memejamkan mata, meski pendengarannya terusik oleh ibunya yang lagi-lagi berceloteh heboh tentang rumah besar yang besok akan ditinggali. Sayangnya, Ranu tak sudi. Sesampainya di rumah, Ranu ingin segera masuk ke kamar. Ingin cepat membersihkan tubuh terutama makeup yang membuat wajahnya mulai gatal-gatal. Sebelum kemudian mengistirahatkan tubuhnya yang lelah. Ah, bukan, mungkin lebih tepat jika batinnya yang kini kelelahan. Dia lebih baik kerja hingga lelah fisik daripada harus tertekan batin seperti saat ini. Sayangnya, keinginan Ranu belum bisa terealisasi karena sang ibu sudah lebih dulu mencengkram tangannya saat ia hendak memasuki kamar. "Mau ke mana lo? Gue mau ngomong!" Sentak Mira yang menyeret Ranu ke ruang tengah, sebelum kemudian menghempasnya kasar ke sofa usang yang biasa ia tempati saat menonton tv. Sembari berkacak pinggang, Mira menatap sengit Ranu yang tampak kacau dengan lelehan air mata hingga menghancurkan makeup hasil karyanya. "Ck, cengeng banget sih! Nggak usah nangis! Lo itu harusnya bersyukur bakal hidup enak setelah ini." Ranu memperbaiki posisi duduknya, menundukkan kepala, ia tak menjawab ucapan ibunya. Memilih untuk menatap remasan tangannya yang berada di atas pangkuan. "Udah, pokoknya lo nurut aja. Demi kebaikan kita semua. Nggak usah geli sama si bandot tua. Dia mah bentar lagi juga the end kemakan umur," kekeh Mira yang geli dengan ucapannya sendiri, "nah, itu bisa jadi peluang besar! Kesempatan lo buat ambil semua kekayaannya!" Ucapnya menggebu-gebu. "Nggak semudah itu, Ma," sahut Indra yang baru muncul dari arah dapur, "si tua itu masih punya istri sah dan lima simpanan. Ranu harus bersaing sama mereka kalau mau garap semua harta itu kakek-kakek gatal." Mengibaskan tangan sambil lalu, Mira memasang wajah meremehkan, "ck, gampang itu mah Pa. Pintar-pintar kita aja gimana nanti. Yang penting main cantik biar bisa tendang satu persatu itu semua perempuan si bandot tua." Ranu tak berminat untuk ikut masuk ke dalam obrolan kedua orangtuanya. Pikirannya kacau. Tubuhnya bahkan masih gemetar karena rasa takut. Apalagi, setiap kali mengingat hari esok. Masa depannya seolah dipertaruhkan. Dijadikan jaminan untuk melunasi hutang judi ayahnya. Dia kebingungan, apa yang harus ia lakukan? Memilih diam dan membiarkan dirinya menjadi simpanan pria tua yang memiliki banyak wanita? Tapi kehidupannya dan orangtuanya terjamin. Tak perlu lagi pusing memikirkan uang dan tak perlu lagi capek karena harus bekerja. Atau ... Untuk kali pertama ia memilih berontak? Meski sudah dipastikan, tubuhnya akan berakhir babak belur. Karena tak hanya ayahnya, ibunya juga pasti ikut murka. Tak akan segan melayangkan tangan padanya hingga tak lagi berdaya. "Masuk sana! Tidur yang cukup biar wajah lo cerah. Nggak kusam kaya sekarang. Nanti si tua itu berubah pikiran lagi!" Cerocos Mira sembari menguap karena kantuk yang mulai menggelayuti. "Gue juga mau ke markas, mau rayakan sama teman-teman madesu sebelum besok kembali lagi jadi orang kaya!" Gelak Indra puas sebelum kemudian berjalan keluar. Mendengkus, Mira memilih tak menggubris suaminya. Wanita paruh baya itu mengayunkan langkah menuju kamarnya. Ingin segera tidur dan menyambut pagi. Karena malam ini, bisa jadi malam terakhir ia tidur dikasur keras dan ranjang usang di kamarnya. Mulai besok, tubuhnya akan tidur dikasur empuk dan kamar mewah. Astaga ... Dia benar-benar sudah tak sabar menunggu matahari terbit. Setelah kepergian kedua orangtuanya. Ranu mengusap wajah basahnya dan menyeret langkah menuju kamar. Mengunci pintu, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh isi kamarnya. Alih-alih membersihkan diri atau langsung merebahkan tubuh ke atas tempat tidur. Ranu justru berderap menuju lemari pakaian. Meraih tas yang berukuran cukup besar. Tergesa-gesa menjejalkan pakaian miliknya ke dalam tas. Sembari sesekali mengusap lelehan air mata yang kembali menganak sungai di kedua pipinya. Dalam hati menggumamkan maaf pada kedua orangtuanya. Ia selalu berusaha jadi anak yang berbakti. Tapi tidak untuk kali ini. Ia tidak mau, jika dijadikan jaminan hutang ayahnya dengan menjadi simpanan pria tua. Karena bingung dan terburu-buru, Ranu hanya menjejalkan barang-barang yang ia butuhkan. Lalu segera mengganti pakaian. Gadis itu bahkan tak sempat sekadar mencuci wajahnya untuk menghilangkan makeup yang sudah kacau. Berjinjit agar tak mengusik ibunya yang mungkin sudah tidur. Ranu menggenggam handle pintu depan rumahnya dengan perasaan gamang. Apakah keputusan yang ia pilih ini sudah benar?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN