Sudah nyaris sepuluh menit mobil yang Dewa kendarai terparkir di depan teras rumah besar Rhea. Tapi tak ada tanda-tanda jika wanita itu berniat untuk turun.
Mencuri pandang, Dewa mengela napas diam-diam saat di dapatinya sang kekasih yang hanya bungkam sembari bersedekap tangan. Ketika hendak membuka suara, bibir pria itu kembali terkatup saat Rhea merubah posisi duduknya menjadi menyamping hingga bisa berhadapan langsung dengannya. Membuat Dewa harus segera menyiapkan hati karena tak lama lagi sudah pasti ia akan mendapat konfrontasi.
"Jadi?" Tanya Rhea menggantung dengan satu alis terangkat, menatap lekat wajah tampan kekasihnya yang justru mengernyitkan kening bingung. Mendengkus, meski harus ogah-ogahan ia memperjelas perkataannya, "apa maksud mama kamu tadi? Kita akan tinggal di rumah orangtua kamu setelah menikah nanti? Oh, yang benar saja? Kalau kamu nggak sanggup kasih aku rumah setelah menikah, biar aku sendiri yang beli." Kesal Rhea yang masih tak bisa mengendapkan tumpukan emosi karena konfrontasi sengit yang mama Dewa lakukan padanya. Jika tak ingat siapa wanita paruh baya itu, Rhea sudah pasti tak akan segan untuk menjambak rambutnya untuk menyalurkan rasa kesal yang membuatnya nyaris meledak tadi.
Sesuai yang Dewa duga. Rhea tak akan menunggu lama untuk membicarakan masalah ini. Membuatnya harus menunda waktu pulang karena harus menenangkan kekasihnya lebih dulu.
"Sayang," panggil Dewa lembut sembari mengurai tangan Rhea yang sebelumnya dalam posisi bersedekap, menjadi ia genggam hangat. Mencoba memberi ketenangan karena ingin berbicara dengan kepala dingin, "aku benar-benar nggak tau tentang rencana mama itu," ungkapnya jujur. Ya, Dewa memang tak tau menahu jika mamanya berkeinginan agar Dewa dan istrinya nanti harus tinggal di rumah orangtuanya. Karena sebelumnya Dewa tak pernah membicarakan persoalan hubungannya dengan Rhea pada sang mama. Dia hanya terlalu bingung, karena merasa jika sang mama tak menyukai hubungan yang tengah ia jalani saat ini.
Rhea terkekeh hambar, "nggak tau?" Tanyanya sangsi, "yang benar saja? Nggak mungkinlah kamu nggak tau?!"
"Serius sayang, aku benar-benar nggak tau. Mama nggak pernah bilang soal itu." Yakin Dewa yang sedikit terusik karena Rhea tak mempercayainya.
"Baiklah, nggak penting kamu tau atau nggak soal itu. Yang penting sekarang, kamu harus bilang sama mama kamu, aku-nggak-mau-tinggal-serumah-sama-dia! Ngerti?!" Tekan Rhea sengit, sebelum kemudian melepas paksa kedua tangannya yang masih dalam genggaman Dewa. Membuka pintu mobil kekasihnya dan turun keluar tanpa peduli pada pria yang hanya bisa diam di balik kemudi. Terdiam dengan tatapan yang tak lepas darinya.
Membanting pintu mobil Dewa dengan keras, Rhea menghentak-hentakkan kaki kesal sebelum berjalan memasuki kediaman orangtuanya. Mengabaikan beberapa asisten rumah tangga yang menanyakan apa yang sekiranya ia butuhkan atau inginkan sekarang?
Karena moodnya sedang kacau, Rhea menjadi sangat sensitif dan mudah marah. Dia menjawab ketus dan tak bersahabat orang-orang yang bertanya padanya. Membuat para asisten rumah tangga mengekeret takut, tak berani mengusik nona mudanya yang terlihat menyeramkan.
"Akh! Sial!" Teriak Rhea setelah membanting pintu kamarnya, "wanita tua itu selalu saja bikin gue darah tinggi. Kalau bukan mamanya Dewa, nggak akan segan gue cakar muka songongnya itu!" Racau Rhea sembari berkacak pinggang, berjalan bolak-balik di dalam kamar, ia terus mengomel dan memuntahkan kekesalannya pada mama Dewa yang membuat Rhea merasa direndahkan.
Jika yang dulu-dulu, Rhea tak akan sudi merepotkan diri seperti ini. Sudah pasti akan langsung memutuskan hubungan tanpa perlu repot-repot bersikap selayaknya calon menantu idaman di depan calon ibu mertua yang tetap memandangnya sebelah mata. Oh, ayolah? Seharusnya mama Dewa itu bangga karena anaknya berhasil mendapatkan seorang Rhea Anindita Hartanto!
"Liat aja, gue bakal bikin putra kesayangan lo makin bertekuk lutut sama gue! Dan lebih memilih gue ketimbang lo, wanita tua menyebalkan!" Tersenyum sinis, Rhea mulai bisa mengendalikan diri. Bersamaan dengan suara ketukan pintu dari luar kamarnya.
Berdecak kesal, Rhea berderap menuju pintu dan membukanya kasar, hingga memperlihatkan wajah pucat asisten rumah tangganya yang berusia masih muda. Nini, seorang gadis yang baru menginjak usia sembilan belas tahun. Bekerja di kediaman orangtua Rhea bersama ibunya yang juga bekerja sebagai asisten rumah tangga. Gadis muda itu memang ditugaskan mengurusi keperluan Rhea di rumah.
"Ada apa?!" Judes Rhea yang membuat Nini gemetar dan kian menundukkan kepala dalam. Menatap lantai jauh lebih menenangkan dari wajah cantik tapi menyeramkan milik nona mudanya, "wake up! Nini, wake up!" Rhea menjentikkan jari di depan wajah Nini yang sudah terangkat kembali. Gadis itu mengerjap-ngerjap sebelum membuka mulut, tapi kemudian tertutup lagi. Terus seperti itu beberapa kali hingga membuat Rhea kembali termakan emosi, "astaga ... Lo benar-benar ya! Buang waktu gue banget!" Kesalnya sebelum kemudian menutup pintu dengan keras di depan hidung Nini yang seolah kembali mendapatkan kesadarannya.
"Loh, Non? Kok ditutup lagi? Kan saya belum bilang apa-apa?" Racaunya setelah berhasil mendapat suaranya lagi, "Non? Non Rhea? Buka dulu pintunya, Non, saya mau menyampaikan sesuatu," cerocos Nini sembari mengetuk-ngetuk pintu kamar Rhea yang bergeming di depannya.
"Nini?"
Suara yang sangat dihafalnya membuat Nini kian terkungkung takut. Membalikkan tubuh, gadis itu meringis saat mendapati wajah sang ibu yang kini sudah berada di hadapannya, "Ibu?" Cicitnya sembari memilin baju khusus asisten rumah tangga yang ia kenakan. Berupa rok hitam dengan apron yang terikat dipinggang. Sementara untuk atasan mengenakan kemeja putih lengan pendek.
"Kenapa lama sekali?" Tanya Yuyun pada putrinya yang ia tugaskan memanggil nona muda mereka untuk turun.
"Ma—Maaf Bu, non—nona Rhea sepertinya sedang marah, aku takut buat ngomong."
Mengela napas, Yuyun akhirnya menggantikan tugas putrinya yang memang sangat takut pada nona muda mereka. Tapi sial karena ditunjuk oleh Rhea untuk mengurusi kebutuhan nona muda yang paling ditakuti di rumah ini.
"Yasudah, biar Ibu yang panggil," Yuyun maju ke depan pintu kamar Rhea dengan Nini yang memilih untuk bersembunyi di balik tubuh Ibunya.
Setelah mengetuk pintu beberapa kali, pintu yang sedari tadi bergeming akhirnya terbuka kasar dengan tiba-tiba. Membuat Nini tanpa sadar mencengkram baju ibunya dari belakang. Sementara Yuyun tetap tenang menghadapi wajah murka nona mudanya.
"Apa?! Awas saja kalau bukan hal penting yang akan di sampaikan!" Teriak Rhea dengan tangan bersedekap, "astaga ... Kenapa semua orang sangat menyebalkan hari ini?" Gerutunya sembari membenahi rambut. Ia sudah membersihkan diri dan berganti mengenakkan gaun tidur. Baru saja selesai mengoleskan krim malam di wajahnya dan bersiap tidur tapi pintunya lagi-lagi diketuk yang membuatnya kembali tersulut emosi.
Yuyun menggumamkan maaf dan menundukkan kepala, di ikuti oleh Nini yang tergesa-gesa mengikuti apa yang ibunya lakukan.
"Saya hanya ingin menyampaikan pesan dari nyonya, yang meminta nona muda turun ke bawah untuk menemui tuan dan nyonya."
Rhea yang tadinya ogah-ogahan dan bersiap membanting pintu kamar dengan keras jika apa yang disampaikan asisten rumah tangganya bukan hal yang penting baginya. Kini mengalihkan atensi sepenuhnya pada Yuyun yang merupakan senior di antara semua asisten rumah tangga di rumah orangtuanya.
"Mama sama Papa sudah pulang?" Tanya Rhea antusias. Akhirnya ... Ada hal menggembirakan hari ini. Tanpa menunggu jawaban dari Yuyun, Rhea segera beranjak turun ke lantai bawah. Dan mendapati mama dan papanya yang sedang berbincang santai di sofa panjang. Tanpa kata, dia berlari dan mendudukkan diri di tengah-tengah orangtuanya. Membuat sang papa terkekeh sementara mamanya mengomel karena Rhea mengganggu kemesraan mereka. Meski kemudian memeluk erat putri kesayangannya.
"Kenapa pulang nggak bilang-bilang?" Rajuk Rhea manja dipekukan sang mama.
"Kejutan Sayang," kekeh Karina sembari mengecup pipi kanan putri cantiknya.
"Bagaimana harimu selama kami pergi, Sayang?" Kali ini Damar yang membuka suara, menanyakan putri semata wayang keluarga mereka.
Rhea terdiam sejenak, apa dia harus mengatakan tentang jamuan makan malamnya hari ini dengan keluarga Dewa? Ya ... Meski harus berakhir menyebalkan!
Tapi mungkin, sebaiknya Rhea berbicara sekarang. Siapa tau, dengan bantuan mama dan papanya, dia bisa menekan keinginan konyol mama Dewa yang bersikeras agar setelah menikah harus tinggal di kediaman wanita paruh baya itu. Hah, yang benar saja? Bahkan dibandingkan dengan kediaman rumah kedua orangtuanya, jauh lebih besar dan mewah.
"Ma, Pa, aku mau bicara," ucap Rhea setelah melepaskan diri dari pelukan mamanya dan menegakkan posisi duduknya.
"Bicara? Bicara apa? Sepertinya serius sekali?" Tanya Damar yang penasaran dengan perubahan raut wajah putrinya.
"Iya ya Pa, Mama juga jadi deg-degan. Kamu nggak melakukan hal yang aneh-aneh terus direkam orang dan viralkan, Sayang?" Sahut Karina yang juga dibuat penasaran dengan hal yang akan Rhea sampaikan kepada mereka.
"Ck, ya nggaklah Mama," bantah Rhea cepat saat mendapat tuduhan tak masuk akal dari mamanya yang kadang suka berlebihan.
"Ya kan, siapa tau? Zaman sekarang apa-apa mudah jadi viral. Kan mama jadi takut tiba-tiba ada yang diam-diam merekam kita tanpa sadar, terus menyebarkan video itu ke orang-orang."
"Ma ... Kita bukan artis," sahut Damar yang menanggapi celotehan istrinya.
"Ih, Papa, makanya bikin medsos. Zaman sekarang yang bisa viral itu bukan cuma artis," bantah Karina sebal, "eh, jangan deh, Papa nggak usah bikin medsos. Bisa bahaya kalau ada yang tertarik sama Papa terus nanti Mama dilupakan sama yang baru itu. Zaman sekarang hal-hal begitu juga sering kejadian. Jangan sampai menimpa keluarga kita."
"Ma ... Ini kok ngomongnya jadi keluar jalur?" Keluh Rhea karena sedari tadi sang Mama sibuk berceloteh sendiri.
"Eh, iya, maaf Sayang. Oke, mau bicara apa tadi?" Tanya Karina yang terkekeh karena putrinya merajuk.
Meneguhkan hati, Rhea akhirnya menceritakan tentang makan malamnya dengan orangtua Dewa. Membicarakan soal hubungan mereka kedepannya dan keinginan orangtua Dewa yang ingin bertemu dan berbicara dengan orangtuanya. Tanpa menambahkan soal perdebatan sengit antara Rhea dan mama Dewa tentunya. Ia tak mau terlihat bar-bar dan mendapat omelan dari sang mama karena dianggap tak sopan. Apalagi berkonfrontasi dengan calon mertua sendiri.
Wajah Karina berbinar, wanita paruh baya itu sangat antusias setelah mendengar cerita putrinya yang baru saja makan malam dengan keluarga kekasihnya, "astaga Pa, Mama nggak sabar ketemu calon besan!" Pekiknya girang sembari mengguncang-guncang bahu Rhea yang hanya bisa meringis, "jadi, kapan Mama sama Papa ketemu orangtua Dewa, Sayang? Besok? Lusa? Kapan?" Tanyanya menggebu-gebu. Sementara sang suami hanya bisa mengela napas dan menggeleng-gelengkan kepala.
"Sabar dong Ma, kan aku juga belum kasih tau Dewa. Aku bahkan baru tau Mama sama Papa pulang sekarang." Jelas Dewa yang membuat Mamanya terkekeh geli.
"Maaf ya Sayang, Mama nggak sabar soalnya ketemu calon besan. Apalagi ketemu calon mantu Mama yang ganteng itu."
"Ekhm!" Damar berdeham keras, membuat Rhea tergelak puas karena sang Mama langsung tersenyum salah tingkah sembari melirik ke arah suaminya.
"Maksud Mama, yang gantengnya masih di bawah Papa kamu, Rhe ...." Elak Karina yang hanya mendapat dengkusan dari suami dan putrinya.
Ketiga orang itu berbincang santai dengan sesekali melepaskan kekehan hingga gelak tawa. Sampai kemudian, malam yang kian larut terpaksa menghentikan sejenak kebersamaan mereka. Memilih untuk kembali ke kamar masing-masing dan mengistirahatkan diri.
Rhea kembali masuk ke dalam kamarnya, nyaris merebahkan tubuh tapi terinterupsi teriakan ponsel yang ia letakkan di atas nakas.
Mendengkus sebal, wanita itu memilih untuk mengabaikan panggilan dari kekasihnya. Hingga ponselnya tak lagi berteriak nyaring meminta perhatian. Saat layar tak lagi menampilkan nama Dewa, terdapat lima belas panggilan tak terjawab, serta dua puluh satu pesan yang pria itu kirimkan dan menyesaki layar ponselnya.
Biar saja kekasihnya itu resah dan uring-uringan. Siapa suruh membuat moodnya rusak. Untung saja orangtuanya pulang. Setidaknya, mood Rhea sudah lebih baik setelah bercengkrama dengan mereka.
Soal orangtuanya yang setuju untuk bertemu dengan orangtua Dewa, mungkin akan Rhea bicarakan nanti. Untuk saat ini, yang dia inginkan adalah mengistirahatkan tubuh karena kantuk sudah semakin menggelayuti matanya. Tapi sial, karena lagi-lagi ponselnya berteriak dengan kurang ajar.
Kesal, Rhea meraih ponselnya. Bukan untuk menjawab panggilan, tapi mematikan benda tersebut agar tak lagi mengusik rencananya untuk tidur. Setelah selesai mematikan ponsel, Rhea meletakan kembali ke atas nakas dengan gerakan kasar. Sebelum kemudian merebahkan diri di atas tempat tidur. Menarik selimut hingga sebatas d**a dan mematikan lampu hingga gelap yang kini melingkupinya.