"ITU, MAS DEWA, YANG SEBELAH KANAN! ATASAN DIKIT, NAH, NAH, IYA, IYA YANG ITU." Mengikuti instruksi, Dewa memanjat sedikit lebih tinggi, agar bisa mendapat segerombolan jambu air yang tampak bergelantungan dan tampak menggiurkan. Meski untuk mendapatkannya harus dengan perjuangan. Masih dini hari. Matahari bahkan enggan memunculkan diri menebarkan terik. Membuat semua orang betah bergelung dengan selimut, agar tak tercubit dinginnya angin pagi. Tapi, hal itu tak berlaku dengan Dewa. Membunuh kantuk yang sejujurnya masih menggelayut. Ia paksakan langkah menuju rumah kediaman Bu Tia. Tetangganya yang memiliki pohon jambu air, hingga membuat istrinya uring-uringan. Sejujurnya, Dewa sangat segan. Terlebih, masih pagi buta untuk mengetuk pintu tetangganya. Tapi mau bagaimana lagi? Di ruma

