Raungan suara tangis mengusik pendengaran Ranu, matanya yang masih memberat terpaksa terbuka. Gadis itu meringis saat lehernya terasa pegal dan kaku. Tentu saja, entah sudah berapa jam dia tertidur dalam posisi duduk. Menolehkan wajah, Ranu mendapati seorang anak perempuan, berusia sekitar lima tahun tengah meronta-ronta di dekapan sang ibu yang berusaha menenangkannya. Wajah anak itu memerah dan basah karena dibanjiri air mata. Mungkin karena sadar diperhatikan oleh Ranu, sang ibu yang memang menempati kursi di samping gadis itu meringis dan menggumamkan permintaan maaf karena sudah mengusik dengan suara berisik tangisan anaknya. Ranu menggelengkan kepala sembari tersenyum, "tidak apa-apa, Mbak. Namanya juga anak kecil," ucap Ranu mencoba memaklumi, "adek cantik kenapa nangis?" tanya Ra

