Tak di pungkiri makan siang bersama dengan Mikha membuat suasana hati Deehan menjadi lebih baik. Ia tak menyangka kalau dirinya sendiri akan melakukan hal seperti ini kepada Mikha.
Berhasil menyelesaikan makan siangnya, Deehan kembali membawa Mikha ke kantor.
Mikha keluar dari mobil terlebih dahulu dan berjalan masuk menuju loby, namun ia kembali kepada Deehan yang baru saja turun dari mobil. Dengan wajah menahan malunya, ia harus kembali mengucapkan terima kasih atas makan siang yang di bayarkan oleh Deehan hari ini.
Dengan nada suara yang begitu kecil, Mikha mengucapkan terima kasih untuk makan siang hari ininya pada Deehan. Melihat sikap menggemaskan Mikha membuat suasana hati Deehan semakin bahagia berkali lipat.
Mikha kembali berbalik dan berlari masuk ke dalam loby Capitaland memencet tombol lift tanpa menunggu Deehan untuk bergabung dengannya.
***
Mikha melambaikan tangannya kepada Earlene sebelum ia masuk ke dalam mobilnya. Mobil Earlene melaju lebih dulu meninggalkan Capitaland dan juga Mikha. Baru saja ingin masuk ke dalam mobil, Mikha mendapati Jarvis yang terlihat tergesa-gesa masuk ke dalam mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan tinggi.
Melihat sikap yang mencurigakan di tambah dengan rasa penasarannya yang besar, Mikha kembali membuntuti Jarvis. Mikha menatap lama tempat yang di tuju Jarvis malam ini, di mana tempat tersebut adalah tempat yang beberapa hari yang lalu di kunjungi Mikha.
Dengan style yang sama pada saat ia mendatangi tempat tersebut. Mikha masuk ke dalam. Keadaan di dalam club malam itu tidak seramai saat ia kemarin mengunjunginya. Bahkan suara musik masih dapat di terima oleh telingannya.
Mikha terus berjalan masuk dan mengambil posisi di kursi bar tersebut. Ia melihat Jarvis sedang mengobrol dengan seorang lelaki yang sudah terlihat berumur, namun Mikha tidak dapat melihat wajah lelaki itu dengan jelas. Bahkan ia tak dapat mendengar apa percakapan dari keduanya.
Mikha memberanikan diri menayakan tentang Jarvis pada seorang pelayan bar yang lengannya di penuhi oleh berbagai macam gambar tatto. Walaupun ragu, namun Mikha tetap harus menanyakan hal tersebut.
Pelayan bar itu memandangi Mikha cukup lama menatap wajahnya lalu melihat baju yang di kenakan Mikha saat itu mendatangi club malam.
“Sepertinya kamu terlalu cepat datang ke tempat seperti ini, nona..” ucap pelayan bar tersebut.
“Ah iya.. Aku hanay ingin memastikan sesuatu” balas Mikha.
“Apa yang ingin kamu pastikan itu tentang kekasih mu?” tanyanya kembali.
Mikha tak memiliki pilihan lain selain membenarkan perkataan pelayan bar tersebut demi mendapatkan jawaban atas pertanyaannya.
Menyadari kepolosan Mikha, pelayan bar itu juga ingin mengambil kesempatan menggoda Mikha.
“Iya.. dia memang sering kemari” balas pelayan bar tersebut.
“Apa kamu kenal siapa lelaki yang bersamanya di sana?” tanya Mikha menunjuk ke arah Jarvis yang masih terlihat serius bercengkrama dengan lelaki paruh baya di hadapannya.
“Tentu saja Aku mengenalnya---dia adalah tamu khusus di sini” jelas pelayan bar.
“Siapa dia?” tanya Mikha semakin penasaran.
“Aku akan menjawab pertanyaan mu setelah pekerjaan ku selesai---bagaimana?” balas pelayan bar itu sambil melemparkan senyum tipis kepada Mikha.
Lagi dan lagi Mikha tak memiliki pilihan lain selain mengikuti permintaan pelayan bar tersebut demi mencari bukti tentang keburukan Jarvis. Di mana bukti itu akan ia perlihatkan pada Nana agar mempercayai ucapannya mengenai Jarvis.
Mikha tetap duduk di kursinya melihat pelayan bar itu mengerjakan pekerjaannya, melayani para tamu yang semakin banyak dan memenuhi club malam tersebut. Pelayan bar itu juga memperhatikan Mikha sembari mengulas senyum tipis.
Mikha melihat jam pada ponselnya, di mana ia yang telah menghabiskan waktunya hampir tiga jam menunggu pelayan bar tersebut selesai dengan pekerjaannya. Perhatian juga di bagi kepada Jarvis dengan lelaki tersebut.
“Hey! Tepati janji mu! Aku akan ke toilet sebentar..” ucap Mikha beranjak dari kursinya.
Mikha dengan hati-hati mendekati meja Jarvis, ia melihat sekitarnya yang sudah ramai. Dan memikirkan resiko dirinya yang di kenali Jarvis yang semakin tipis. Langkahnya semakin dekat dan kini ia berhasil mendekat serta mendengar dengan samar percakapan tersebut.
“Untuk urusan Tn. Nino, Anda serahkan saja pada ku! Aku sudah memiliki cara akan hal itu” ucapnya dengan begitu yakin.
Mendengar nama sang ayah di sebut membuat Mikha semakin marah dan yakin kalau Jarvis memiliki tujuan mendekati Nana. Namun ia tidak ingin gegabah, baru saja ingin mengeluarkan ponselnya untuk mengambil bukti, tiba-tiba saja seorang pengunjung di club malam tersebut tak sengaja menjatuhkan gelas koktail yang di peganginya hingga tertumpah dan mengenai baju Mikha.
“Aw, sorry!” teriak wanita tersebut.
Jeritan itu menarik perhatian Jarvis serta lelaki tersebut dan menoleh ke arah Mikha. Namun keberuntungan masih memihak pada Mikha, wajah Mikha terhalang oleh tubuh pengunjung wanita tersebut hingga membuat Jarvis tidak dapat melihat wajah Mikha dengan jelas.
Di sisi lain, wajah Mikha terekspos di kursi tempat Deehan serta Theo berada. Betapa terkejutnya Deehan saat melihat Mikha di tempat tersebut. Ia beranjak dari kursinya dan menuju ke arah Mikha tanpa memikirkan kalau aksinya itu dapat membuatnya terlihat oleh Jarvis.
Theo menarik tangan Deehan dan seketika itu Mikha juga hilang dari pandangannya, hal itu membuat Deehan menjadi panik.
“Di mana dia?” tanya Deehan melihat sekeliling dan tak mendapati Mikha.
“Kau melihatnya?” lanjut Deehan menanyakan pada Theo.
“Tadi dia masih ada di sana..” balas Theo yang juga bingung dengan pergerakan Mikha yang begitu cepat.
Deehan pun memerintahkan Theo untuk mengecek club malam tersebut dan harus mendapati Mikha agar ia memastikan keamanannya mengingat tempat yang di datanginya cukup berbahaya.
Theo mencari Mikha, begitupun dengan Deehan. Namun keduanya tidak menemukannya.
“Apa dia juga masih menyelidiki Jarvis----astaga Mikha! Kenapa kamu sangat berani seperti ini!” keluh Deehan sembari memijit pelipisnya.
“Bagaimana?” tanya Deehan saat Theo yang telah kembali mencari Mikha.
“Aku tidak menemukannya, Tn. Deehan” balas Theo.
“Di mana dia!” keluh Deehan kembali.
Waktu terus berputar, Deehan dan Theo masih saja mencari Mikha. Lalu Theo menegur Deehan dan memintanya untuk melihat kea rah meja bar, di mana seseorang menopang Mikha yang berjalan tampak sempoyongan.
Deehan terperanjat dari kursinya dan bergegas menuju ke arah Mikha yang kini sudah hampir mencapai pintu keluar club malam tersebut.
Pelayan bar bertatto tadi terkejut saat tiba-tiba saja seseorang menarik Mikha dari arah belakang.
“Siapa kau?!” tanyanya dengan wajah marah.
“Kau yang siapa?!” balas Deehan mengambil alih tubuh Mikha.
“Aku kekasihnya!” jelas pelayan bar kembali.
“Kekasihnya sejak kapan? Aku kakaknya! Dan Aku tidak mengenal mu!” tegas Deehan dengan wajah tegasnya.
Pelayan bar itu terdiam sambil mengamati ekspresi wajah Deehan kalau saja ia berbohong dengan perkataannya sebagai kakak dari Mikha, wanita yang menjadi incarannya malam ini.
*****
Pelayan bar itu terdiam sambil mengamati ekspresi wajah Deehan kalau saja ia berbohong dengan perkataannya sebagai kakak dari Mikha, wanita yang menjadi incarannya malam ini.
“Apa benar dia kakak dari wanita ini?” batin pelayan bar tersebut.
“Aku tau wajah kekasihnya! Dan kau bukan kekasihnya!” lanjut Deehan semakin percaya diri.
Pelayan bar itu terdiam hingga membuat Deehan yang memenangkan perdebatan tersebut.
“Jika kau masih ingin meneruskan permasalahan ini---asisten ku yang akan membawa mu ke pihak yang berwajib!” tutup Deehan.
Pelayan bar itu mundur dan mempersilahkan Deehan membawa Mikha keluar dari club malam tersebut. Wajah frustasi serta marah terlihat jelas pada wajah lelaki tersebut, di mana sejak tadi ia sangat bersemangat telah berhasil membodohi Mikha.
Deehan mengangkat tubuh Mikha yang sudah kehilangan kesadarannya, bahkan aroma alkohol terasa begitu lekat di tubuh Mikha.
Theo membukakan pintu mobil untuk Deehan.
Mobil itu melaju menuju rumah Nino, di mana Deehan yang terus saja menatap wajah Mikha sepanjang perjalanannya.
“Kenapa ada wanita se-berani dia?!” ucap Deehan.
“Untung saja tadi kita berada di sana, Theo” lanjut Deehan.
Theo berhasil menepikan mobilnya tepat di depan rumah Nino. Deehan perlahan-lahan membangunkan Mikha dengan tingkat kesadarannya yang masih sangat rendah.
Mata itu perlahan terbuka walaupun masih sangat sayu. Deehan membantu Mikha berjalan masuk ke dalam rumahnya.
“Apa yang akan Anda katakan pada Tn. Nino?” tanya Theo.
“Aku akan bilang kalau kita tidak sengaja bertemu dengan Mikha di club malam” balas Deehan.
Di saat yang bersamaan sebuah mobil juga berhenti tepat di depan mobil Deehan. Pencahayaan yang silau dari lampu mobil tersebut membuat pandangan Deehan serta Theo mengabur.
Seseorang mendekat ke arah Deehan dan juga Theo. Lalu langkahnya berubah cepat dengan suara yang menyebutkan nama Mikha.
“Mikha!” ucapnya.
Semakin jelas, Deehan menyadari bahwa seseorang tersebut adalah Dr. Nana, kakak dari Mikha sekaligus dokter yang juga menangani Ezra di rumah sakit.
Deehan sedikit membungkuk menyapa Nana sambil menopang tubuh Mikha .
Nana pun juga menyadari kalau lelaki yang bersama Mikha adalah Deehan anak dari pemilik Capitaland yang telah di beritahukan oleh Nino. Di mana sebelumnya Nino yang telah memberitahu Nana tentang identitas Ezra yang tak lain adalah anak dari salah satu pemagang saham di Capitaland. Bahkan Nino berpesan pada Nana untuk selalu menunjukkan sikap sopannya pada Deehan serta Ezra .
“Kenapa dia bisa seperti ini?” tanya Nana mengkhawatirkan sang adik.
“Sepertinya adik mu sangat mengkhawatir diri mu, Dr. Nana” balas Deehan jujur mengingat sepanjang perjalanannya tadi Mikha yang terus saja mengigau mencarikan bukti tentang keburukan Jarvis untuk kakaknya.
Nana pun teringat dengan perkataan Mikha beberapa hari yang lalu. Di mana ia yang menyinggung soal Jarvis, dan Nana juga yang meminta Mikha untuk mencarikan bukti atas perkataannya. Namun Nana tak menyangka kalau Mikha akan bertekad seperti itu untuk mendapatkan bukti tersebut.
“Terima kasih sudah mengantarkan Mikha pulang Tn. Deehan, dan maaf sudah merepotkan Anda..” ungkap Nana sopan.
“Iya.. sama-sama. Tolong jangan memarahi adik mu---sepertinya hari ini ia sangat bekerja keras demi mendapatkan bukti yang kamu inginkan” jelas Deehan.
Nana hanya mengangguk sembari tersenyum tipis. Ia pun mengambil alih Mikha dan mempersilahkan Deehan serta Theo meninggalkan rumahnya.
*****