“Terima kasih sudah mengantarkan Mikha pulang Tn. Deehan, dan maaf sudah merepotkan Anda..” ungkap Nana sopan.
“Iya.. sama-sama. Tolong jangan memarahi adik mu---sepertinya hari ini ia sangat bekerja keras demi mendapatkan bukti yang kamu inginkan” jelas Deehan.
Nana hanya mengangguk sembari tersenyum tipis. Ia pun mengambil alih Mikha dan mempersilahkan Deehan serta Theo meninggalkan rumahnya.
Deehan berpamitan pada Nana setelah menjelaskan semuanya agar Nana tak salah paham pada Mikha dan tak juga memarahinya melihat kondisinya saat ini yang belum sepenuhnya mendapatkan kesadarannya kembali.
Nana menopang Mikha masuk ke dalam rumahnya. Betapa terkejut Naura saat melihat kondisi Mikha yang pulang dalam keadaan mabuk.
“Astaga Nana! Kenapa dengan adik mu?” tanya Naura panik.
Nana terpaksa berbohong pada Naura demi melindungi Mikha. Nana menjelaskan pada Naura kalau dia meminta Mikha ikut menemaninya datang di acara ulang tahun rekan dokternya, lalu Mikha dengan kalap meneguk beberapa kaleng bir hingga membuatnya mabuk.
Melihat putrinya yang juga tak ingin mendapat amukan dari Nino, Naura meminta Nana dengan cepat membawa adiknya ke kemar sebelum Nino mendapatinya.
Nana menopang Mikha naik ke lantai atas dan berhasil tiba di kamar Mikha dan membaringkannya di atas tempat tidurnya.
Nana memandangi adiknya cukup lama dan merasa bersalah padanya. Di mana Nana merasa Mikha melakukan ini demi membuktikan omongannya kepadanya.
“Astaga Mikha! Kak Nana merasa bersalah melihat kamu seperti ini---harusnya kemarin kak Nana mempercayai perkataan mu saja!” ucap Nana merasa bersalah.
“Untung saja Tn. Deehan menolong mu hari ini---kalau saja tadi terjadi sesuatu pada mu di sana, kak Nana pasti tidak akan memaafkan diri kak Nana sendiri..” lanjut Nana sembari membelai puncak kepala adiknya.
Aroma alkohol itu masih terasa menyengat bahkan membuat Nana juga tak tahan melihat kondisi kacau Mikha saat ini. Nana mengganti semua pakaian yang saat ini Mikha kenakan dan menemaninya tidur di kamar sang adik.
***
Pagi telah kembali…
Mikha berusaha mendapatkan kembali kesadarannya, di mana rasa pusing di kepalanya masih saja terasa. Ia terkejut saat mendapati Nana yang tidur di kamarnya. Pupil matanya membulat bersamaan dengan otaknya yang kembali bekerja.
“Apa yang terjadi semalam?” batin Mikha menerka.
“Bukannya semalam Aku ada di---astaga! Apa yang terjadi sebenarnya?” lanjut Mikha.
Mikha terbangun dari tidurnya dengan kondisi rambut yang kacau. Ia melihat Nana yang masih tertidur pulas namun ia memaksanya bangun untuk menanyakan apa yang terjadi semalam.
Mikha menggoyangkan tubuh Nana hingga membuat kakaknya terbangun.
“Ada apa Mikha?” keluh Nana.
“Kak Nana! Apa yang terjadi semalam?” tanya Mikha panik.
“Tidak terjadi apapun” balas Nana yang masih sulit membuka kedua matanya.
Namun Mikha tetap tidak percaya dan mempercayai kalau sesuatu yang buruk telah terjadi semalam saat ia yang tidak sadarkan diri.
Mikha melihat keadaan dirinya dalam pantulan cermin sambil mencoba mengingat kembali kejadian semalam. Di mana ingatannya hanya mengingat setelah dirinya yang berhasil kabur dari jangkauan Jarvis saat bajunya ketumpahan koktail.
Di saat yang bersamaan di mana Mikha memaksa otaknya berpikir pagi ini, Naura mengetuk pintu kamar Mikha dan melihat putrinya yang sedang berdiri di depan cermin dengan wajah konyol.
“Ada apa Mikha?” tanya Naura.
“Ah! Hm.. tidak apa-apa, bu..” balas Mikha tersenyum kecut.
“Bangunkan kakak mu dan kita sarapan!” pinta Naura.
Melihat ibunya yang tidak melontarkan pertanyaan padanya membuat Mikha lega namun semakin penasaran.
Mikha membangunkan Nana dan menariknya turun untuk sarapan bersama.
Selama mereka sarapan. Mikha terus saja melirik kanan kiri demi mendapat jawaban atas pertanyaannya lewat ekspresi di wajah kakak, ibu dan juga ayahnya yang pagi ini terlihat tenang seolah tak terjadi apapun semalam.
Nana menyelesaikan sarapannya lebih dulu. Melihat kakaknya yang telah selesai lebih dulu, Mikha pun meninggalkan meja makan dan mengekor pada Nana.
“Kak Nana apa semalam memang tidak terjadi sesuatu?” tanya Mikha kembali memperjelas.
“Ingat yah! Kamu jangan ulangi lagi perbuatan mu semalam---kak Nana sudah percaya dengan ucapan mu” jelas Nana memegang pundak Mikha dengan kedua tangannya.
“Kan! Pasti terjadi sesuatu!” ungkap Mikha.
“Kak Nana akan ambil jarak dengan Jarvis kalau menurut kamu Jarvis memang bukan lelaki yang baik. Tapi kak Nana minta tolong, jangan melakukan apapun yang membahayakan diri mu.. Mikha!” tegas Nana.
Nana memberitahu Mikha betapa khawatir serta takutnya Nana semalam saat melihat kondisi adiknya yang rela melakukan hal berbahaya demi mendapat kepercayaannya.
Melihat wajah Nana yang benar terlihat takut dan cemas membuat Mikha juga merasa bersalah lalu memeluk Nana.
“Tolong maafkan Mikha kalau semalam sudah buat kak Nana khawatir dan takut” ucap Mikha tulus.
“Jangan lakukan hal itu lagi dan jangan ke tempat itu lagi---kamu paham?” pinta Nana.
Mikha mengannguk mengerti.
***
Suasana Capitaland tampak lebih sibuk dari biasanya menjelang hari pameran spektakuler yang semakin dekat. Di mana pameran itu akan di adakan di Capital Art Galery dalam kurun waktu seminggu. Sebelum pameran itu berakhir, Capital Art Galery harus di sterilkan terlebih dahulu. Hal itu juga membuat Mikha serta Earlene tidak dapat mengerjakan objek penelitian ke tiganya di Capital Art Galery. Deefan melarang segala aktifitas di Capital Art Galery sebelum pemaran itu selesai.
Tak dapat mengerjakan objek penelitiannya membuat tenaga Mikha serta Earlene di fokuskan untuk membantu para staff demi terselenggarakannya pameran itu dengan baik sesuai dengan pengharapan Deefan seperti yang di sampaikan saat pertemuan beberapa hari yang lalu.
Celine meminta Mikha serta Earlene memeriksa semua lukisan yang akan di pamerkan tepat di hari tersebut. Di mana segala macam lukisan ternama dan termahal akan terpajang di Capital Art Galery di hari pameran itu.
Mikha dan Earlene menerima pekerjaan tersebut. Di mana Mikha dan Earlene membagi tugas agar dapat terselesaikan sebelum pembukaan galeri.
“Lukisan dari seniman jepang ini kapan di kirimkan?” tanya Earlene pada Mikha.
“Ah iya.. Aku akan coba menanyakannya pada Celine” balas Mikha menuju ruangan Celine.
Seperti pertanyaan Earlene sebelumnya. Mikha menanyakan beberapa lukisan yang di kirimkan dari jepang, di mana lukisan itu berasal dari tangan seorang pelukis yang sangat terkenal di negara sakura tersebut.
“Dua hari lagi lukisan itu akan tiba di Capitaland” jelas Celine.
“Ingat! Lukisan itu sangat berharga! Tolong kalian sangat hati-hati” lanjut Celine memperingati.
Mikha mengangguk mengerti dan kembali meninggalkan ruangan Celine.
***
Di ruangan yang berbeda tepatnya di ruangan Deehan, di mana sejak tadi pagi ia belum melihat wajah Mikha di Capitaland. Ia juga menanyakannya pada Theo, namun sejak pagi tadi juga Theo bersamanya dan belum juga melihat wajah Mikha.
“Dia tetap datang ke kantor, kan?” tanya Deehan.
Namun Theo menggeleng tak tau.
Lalu suara deringan telepon membuyarkan lamunan Deehan.
“Selamat siang Tn. Deehan.. ini Celine---lukisan milik Tn. Yamusa akan di kirim dua hari lagi dan akan tiba di Capitaland” jelas Celine dalam panggilannya.
“Oh iya---siapa yang mengurusnya?” tanya Deehan.
“Aku meminta bantuan mahasiswi magang itu, Mikha dan juga Earlene” jelas Celine kembali.
Deehan mengulas senyum tipis saat mendengar bahwa Mikha lah yang mengurus lukisan tersebut.
“Baiklah kalau begitu---tolong suruh Mikha ke ruangan ku!” pinta Deehan sebelu menutup panggilannya.
Deehan meminta Theo untuk meninggalkannya selagi menunggu Mikha yang akan mendatangi ruangannya.
Kini hanya menyisahkan Deehan di dalam ruangannya.
Tidak menunggu waktu yang lama, suara ketukan pintu membuat Deehan bersemangat. Lalu kini di hadapannya terlihat seorang wanita yang sejak tadi ia cari. Mikha berdiri di depan meja Deehan sambil membawakan laporan lukisan yang akan di pajang di hari pameran tersebut.
Mikha menyodorkan berkas yang berisikan laporan tersebut kepada Deehan.
“Lukisan yang dari jepang itu kapan tiba?” tanya Deehan dengan pertanyaan yang sudah ia dapat jawabannya.
“Menurut Celine dua hari lagi” balas Mikha santai.
Mendengar nada suara Mikha yang terdengar acuh membuat Deehan mendongak ke arahnya.
“Apa Celine juga sudah menjelaskan betapa pentingnya lukisan itu? Aku tidak mau ada kesalahan!” pinta Deehan.
“Iya baik, Tn. Deehan” balas Mikha.
Deehan terlihat senang mendengar Mikha untuk pertama kalinya bersikap formal padanya. Namun tetap saja ia masih menyukai sikap Mikha yang seperti biasa padanya.
“Sepertinya kamu terlihat sangat sehat hari ini, Mikha..” ucap Deehan dengan nada mengejek.
Mikha menatap ekspresi wajah Deehan yang terlihat sedang meledeknya.
“Memangnya hari sebelumnya Aku tidak terlihat sehat?” tanya Mikha balik dengan nada jutek.
“Ya! Mungkin saja!” balas Deehan menahan tawa.
Mikha sama sekali tidak tau kalau orang yang membawanya semalam pulang ke rumah dengan selamat adalah Deehan.
“Apa kamu tidak ingin mengucapkan terima kasih pada ku?” ungkap Deehan.
“Terima kasih?” balas Mikha bingung.
“Kenapa Aku harus berterima kasih pada mu?” lanjut Mikha.
Deehan mengangguk tanpa ekspresi yang tidak dapat di tebak oleh Mikha dan itu hanya membuatnya semakin penasaran.
Baru saja Mikha ingin kembali melontarkan pertanyaan, namun tiba-tiba saja pintu ruangan Deehan terbuka dan memperlihatkan Noah yang datang bersama Sein.
Mikha menoleh ke belakang dan melihat Noah, begitupun dengan Noah yang terkejut melihat Mikha yang berada di ruangan Deehan.
Deehan kembali di buat cemburu melihat sikap Mikha yang secepat itu berubah saat melihat Noah, Mikha bahkan melambaikan tangannya sembari menyapa Noah dengan ramah.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Noah penasaran sembari melirik ke arah Deehan.
“Hm.. Aku hanya membawa laporan yang di suruhkan Celine kepada Dee---hm, Tn. Deehan” balas Mikha jujur.
Noah mengangguk sambil melemparkan senyum ramahnya kepada Mikha yang bahkan Deehan pun jarang melihat ekspresi wajah Noah seperti itu.
Hal itu tentu saja semakin memperkuat dugaan Deehan kalau Noah menaruh hati pada Mikha.
“Kamu bisa keluar, Mikha..” ucap Deehan.
Mikha meninggalkan ruangan Deehan dan kini hanya menyisahkan Deehan, Noah serta Sein di dalam ruangan tersebut.
*****