PART 15. BERSITEGANG

1665 Kata
Mikha di sela aktifitasnya saat di kantor juga menyempatkan dirinya untuk tetap memantau setiap pergerakan Jarvis. Kali ini ia diam-diam mengikuti Jarvis ke salah satu ruangan setelah mendengarkan percakapannya dengan seseorang dalam panggilannya. Baru saja ingin membuka pintu ruangan itu, Mikha di kejutkan dengan salah satu staff yang tampak terburu dan mendahuluinya membuka pintu tersebut. Menyadari kehadiran Mikha di samping pintu ruangan itu, staff tersebut meminta untuk Mikha membantunya membawa beberapa berkas yang menumpuk di tangan kanannya. “Tolong bantu Aku menaruhnya di dalam” pinta staff tersebut. Mikha yang kebetulan ingin masuk ke dalam ruangan itu menerima permintaan staff tersebut. Di mana ia dengan jelas melihat Jarvis yang sedang berbicara dengan staff lainnya. Staff yang meminta bantuan Mikha tadi kembali memanggilnya dan meminta bantuannya lagi dengan mengikutinya mengambil beberapa berkas lagi di lantai empat Capitaland. Di saat yang bersamaan ketika Mikha selesai menyimpan berkas tersebut, ia di kejutkan dengan sebuah papan nama yang terpajang di atas meja dengan menuliskan “Noah Arthur Kelsey” nama lengkap Noah sekaligus jabatan yang ia miliki di Capitaland sebagai wakil presiden direktur. Mata Mikha membulat, mulutnya terbuka membaca papan nama tersebut yang sangat mengejutkannya. “Apa mungkin Aku salah baca?” batin Mikha. Mikha memberanikan diri untuk mendekat ke arah papan nama tersebut, namun baru saja melangkah dua langkah staff tadi kembali memanggilnya dan memintanya untuk segera bergegas. Mikha mengurungkan niatnya dan meninggalkan ruangan itu lalu mengikuti staff tersebut ke lantai empat. Di dalam lift, Mikha memberanikan diri untuk mengajukan pertanyaan mengenai Noah. “Hm, Apa sebentar ada pertemuan penting?” tanya Mikha memancing. “Iya.. pameran kan semakin dekat, jadi Tn. Noah meminta beberapa staff yang di pilihnya untuk bertemu dengannya” balas staff tersebut yang akrab di sapa dengan Maudy. “Bukannya yang berhak hanya Tn. Deefan saja?” tanya Mikha kembali. “Tn. Deefan dan Tn. Noah sama saja. Tn. Noah kan memang tangan kanannya Tn. Deefan” jelas Maudy santai. Mendengar hal tersebut Mikha semakin yakin kalau kali ini ia tidak salah melihat ataupun membaca papan nama tersebut. Mikha speechlees dengan apa yang di ketahuinya baru saja. Di mana sejak pertama kali ia bertemu dengan Noah ia tak menyangka kalau Noah adalaha wakil presiden direktur Capitaland. Suara dentingan lift membuyarkan lamunan Mikha, Maudy menegur Mikha setelah menyadari kalau Mikha belum keluar dari lift itu yang sebentar lagi akan kembali menutup. “Kamu sudah pernah ketemu dengan Tn. Deefan , kan?” tanya Maudy ramah. “Bertemu secara langsung dan menyapanya belum---hanya saja waktu itu pernah gak sengaja bertemu di loby kebetulan Tn. Deefan baru saja tiba di kantor” balas Mikha jujur. “Itu pertama kalinya Aku melihat Tn. Deefan “ lanjut Mikha bersemangat. “Kalau Tn. Deehan kamu sudah pernah bertemu dengannya?” tanya Maudy kembali sambil memberikan beberapa berkas itu kepada Mikha. “Kalau Tn. Deehan, Aku sudah sering bertemu dengan dia---dia orangnya sedikit menyebalkan” balas Mikha jujur sembari berbisik. Mendengar pandangan Mikha pada Deehan membuat Maudy tertawa, namun tak membenarkan penilaian Mikha pada Deehan. Maudy malah memuji sikap tegas Deehan. Walapun memang dia acuh tapi terkadang juga hangat pada semua staff. “kalau Tn. Noah?” tanya Mikha penasaran. Maudy menjelaskan perbedaan sikap Noah dan Deehan yang cukup banyak memiliki perbedaan. Mikha mendengarkan perkataan Maudy yang mendeskripsikan tentang sikap yang di miliki Noah yang sangat jauh berbeda dengan apa yang ia rasakan saat pertama kali mengenal Noah hingga sampai saat ini. Sedangkan Deehan, Mikha sama sekali tidak mempercayai perkataan Maudy kalau Deehan memiliki sifat seperti itu kepada orang lain. Mikha dan Maudy tiba di ruangan yang tadi dan meletakkan beberapa berkas itu di setiap meja. Kini Mikha tak lagi melihat keberadaan Jarvis di ruangan itu. “Oh iya---bagaimana dengan Tn. Jarvis?” tanya Mikha. “Jarvis? Hm---Aku tidak terlalu dekat dengannya, hanya saja dia selalu pintar untuk mendapatkan hati para atasan di Capitaland” jelas Maudy. “Akhir-akhir ini Aku lihat dia sudah bisa mengambil hati Tn. Nino, padahal sebelumnya hubungan keduanya sama sekali tidak akrab” lanjut Maudy. Mikha kembali menggeram mendengar perkataan Maudy. Di mana ia semakin yakin kalau tujuan dia mendekati Nana hanya ingin mendapatkan hati ayahnya saja di Capitaland. Lalu tiba-tiba saja di saat yang bersamaan, Mikha tercekat saat melihat ayahnya yang baru saja masuk ke dalam ruangan tersebut dan juga menyadari kehadirannya. Kedua pasang mata itu saling berpaut, Mikha tercekat bibirnya mengatup sedangkan Maudy masih menunggu jawaban atas pertanyaannya untuk Mikha. Sedangkan Nino semakin mendekat lalu menegur Maudy. “Bagaimana? Apa semuanya sudah di siapkan?” tanya Nino. “Sudah, Tn. Nino, Aku sudah meletakkan di setiap meja” balas Maudy. Nino mengangguk mengerti lalu mengambil posisinya yang berada di barisan kanan deretan kursi tersebut. “Tolong panggil yang lainnya lalu kamu infokan ke Tn. Noah” pinta Nino. Maudy mengangguk dan menarik tangan Mikha untuk meninggalkan ruangan tersebut, di mana Maudy yang tak mengetahui tentang identitas Mikha sebagai putri bungsu dari Nino. Maudy pun berterima kasih pada Mikha yang sudah membantunya mempersiapkan kelengkapan berkas untuk pertemuan kali ini. *** Mikha kembali ke ruangannya, ia sedang berdiri di depan pintu lift yang akan membawanya ke lantai ruangannya berada. Suara dentingan lift menyadarkan Mikha untuk segera masuk, namun baru saja ingin masuk, Noah yang baru saja keluar dari lift sebelahnya menegur Mikha hingga membuat langkahnya terhenti dan membalas sapaan dari Noah. Seperti biasanya sikap Mikha kepada Noah, namun ia kemudian teringat dengan kejadian tadi. Di mana ia telah mengetahui jabatan Noah yang sesungguhnya di Capitaland. Ekspresi serta nada suara Mikha seketika berubah dan membuat Noah menyadari hal tersebut. “Ada apa?” tanya Noah bingung. “Tidak apa-apa” balas Mikha canggung. “Kenapa kamu jadi seperti ini? Biasanya tidak seperti ini, Mikha..” ungkap Noah penasaran. Mikha lalu memberitahu Noah kalau ia baru saja mengetahui identitas Noah sebenarnya di Capitaland sebagai wakil presiden direktur perusahaan. Mikha juga meminta maaf atas semua sikapnya yang tak sopan saat pertama kali bertemu hingga sampai saat ini. Mendengar pengakuan Mikha, Noah malah meminta Mikha untuk tidak terbebani dengan jabatan Noah di perusahaan. Justru Noah meminta Mikha untuk tetap bersikap seperti itu padanya. “Aku nyaman dengan sikap mu itu pada ku!---jangan permasalahkan jabatan ku di sini” ungkap Noah sembari memegangi pundak Mikha dengan kedua tangannya. “Justru Aku malah canggung kalau kamu berbeda dari karakter kamu waktu kita pertama kali bertemu” lanjut Noah. “Tapi rasanya Aku tidak pantas bersikap seperti itu pada----” “Ssstt!! Kalau begitu---hm, baiklah! Kamu bisa bersikap seperti itu pada ku saat berada di kantor saja, tapi kalau berada di luar kantor kamu harus tetap menjadi seperti Mikha yang Aku kenal sebelumnya, bagaimana?” sela Noah menawarkan perjanjian pada Mikha. Tanpa berpikir panjang Mikha menyetujui penawaran tersebut. Di mana ia akan bersikap formal pada Noah saat berada di Capitaland, namun jika keduanya berada di luar Capitaland, Mikha dapat berbicara santai kepada Noah. Suara dentingan lift kembali terdengar, kini giliran Deehan dan juga Theo yang baru saja keluar dari lift tersebut. Deehan menatap tangan Noah yang masih memegangi pundak Mikha, namun melihat Deehan dan Theo yang keluar dari lift, Noah melepaskan kedua tangannya. Tatapan yang tak biasa di arah kan Deehan ke Noah membuat Noah kesal dan bertanya-tanya dalam hatinya. Deehan terus saja berjalan, ia bahkan mengabaikan Mikha yang melempar pandangan ke arahnya. Setelah kepergian Deehan dan juga Theo, Noah pun menyudahi percakapannya dengan Mikha. Mikha masuk ke dalam lift, sedangkan Noah dan juga Sein mengikuti Deehan menuju ruangan pertemuan kali ini. Suasana hati Deehan berubah menjadi buruk setelah melihat adegan Noah dan Mikha tadi di depan lift. Deehan mengambil posisinya duduk tepat di sebelah Nino. Nino menyapa Deehan yang baru saja duduk di sebelahnya. Noah memulai pertemuan tersebut. Di mana dalam pertemuan itu sikap Deehan yang biasa tak banyak bicara kini menjadi lebih aktif dan terlihat beberapa kali ia bertentangan dengan pendapat Noah. Tak mau kalah Deehan tetap dengan pendapatnya, hal itu tentu saja membuat suasana di dalam ruangan tersebut menjadi lebih panas. Semua pasang mata menatap secara bergilir pada Noah serta Deehan yang tak ada yang mau mengalah di pertemuan kali ini. Bahkan semuanya di buat bingung dengan pilihan yang mana harus mereka pilih antara Deehan dan juga Noah. Bahkan Nino juga berada dalam pilihan sulitnya kali ini. Theo menegur Deehan untuk tidak terlalu berambisi yang akan membuat posisinya sulit di hadapan Deefan nanti. Di mana Deefan yang selalu berpihak pada Noah. Sikap memberontak Deehan kali ini sudah pasti di picu oleh adegan Noah dan Mikha tadi yang tak sengaja ia lihat di depan lift. Berusaha mengontrol emosinya agar pikirannya bisa dapat kembali terbuka, Deehan menuruti perkataan Theo untuk mengalah pada Noah lagi dan lagi. Suasana di ruang pertemuan tersebut perlahan mencair setelah Deehan mengalah dan mengikuti pendapat Noah mengenai acara pameran yang semakin dekat. Namun Noah masih saja tidak terima dengan sikap serta tindakan Deehan siang ini padanya. Noah mengakhiri pertemuan tersebut dan meminta semuanya untuk bergegas meninggalkan ruangan tersebut. Deehan beranjak dari kursinya dan berniat untuk meninggalkan ruangan setelah Noah memerintahkan semuanya untuk keluar. “Aku ingin bicara dengan mu…” ucap Noah. Mendengar perkataan Noah, Nino yang tadinya ingin bercakap dengan Deehan mengurungkan niatnya dan bergegas meninggalkan ruangan tersebut. Kini hanya menyisahkan Noah, Deehan serta asisten pribadi masing-masing yaitu Sein dan juga Theo. “Apa kau ada masalah dengan ku, Deehan?” tanya Noah dengan wajah seriusnya. “Masalah apa? Aku tidak ada masalah dengan mu..” balas Deehan santai. “Kau tidak biasanya seperti tadi! Katakan saja!” pinta Noah kembali. “Tidak ada masalah Noah! Tadi Aku pikir yah—Aku memang harus mempertahankan pendapat ku, tapi setelah ku pikir pendapat ku rasa lebih efektif dan efisien” jelas Deehan berbohong. Noah menatap lekat kepada Deehan, mencoba membaca pikiran Deehan lewat ekspresi wajah yang ia tampilkan saat ini. Namun Deehan berusaha terlihat santai hingga ia berhasil tidak terintimidasi di hadapan Noah. “Apa ada lagi yang ingin kau tanyakan?” tanya Deehan. Noah menggeleng dengan tatapan yang masih tajam ke arah Deehan. Deehan meninggalkan Noah dan juga Sein yang masih berada di dalam ruangan tersebut. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN