PART 16. KEISTIMEWAAN SEORANG MIKHA

1772 Kata
Hari yang melelahkan bagi Mikha dan Earlene berhasil mereka lewati. Earlene meninggalkan Mikha lebih dulu karena memiliki urusan pribadi yang harus ia selesaikan sebelum besok. Mikha merapikan meja miliknya serta ruangannya sebelum meninggalkannya. Lagi dan lagi Mikha mendapati Jarvis yang terlihat tergesa-gesa masuk ke dalam mobilnya saat keduanya berada di dalam loby kantor. Mikha mengambil kunci mobilnya yang berada di dalam tas lalu mengikuti mobil Jarvis yang melaju meninggalkan Capitaland. Mata yang begitu fokus membuat Mikha enggan berpaling dari mobil milik Jarvis yang berada di hadapannya saat ini, mengingat perkataan Maudy siang tadi mengenai hubungan Jarvis dan ayahnya yang semakin dekat. Mikha mengkhawatirkan ayahnya kalau Jarvis memiliki niat yang buruk pada Nino. Mikha terus saja membuntuti Jarvis hingga ia terkejut saat mobil Jarvis masuk ke dalam basement sebuah hotel. “Apa yang dia mau lakukan di sini?” tanya Mikha penasaran. Mikha turun dari mobil setelah Jarvis, mengikutinya dari belakang. Tepat di loby hotel, seorang wanita berambut hitam legam sebahu menghampiri Jarvis lalu memeluknya dan mengecup pipinya. Mikha pun tidak melewatkan kesempatan itu dengan memotret adegan tersebut, awalnya Mikha tidak mengenali wanita tersebut. Namun setelah ia memperbesar gambar Jarvis dan wanita itu pada layar kameranya, ia teringat dengan wanita yang beberapa hari lalu yang pernah ia lihat di club malam bersama Jarvis. “Wanita itu lagi? Memangnya siapa dia?” batin Mikha. Mikha masih saja membuntuti Jarvis dengan wanita itu. Ia masuk ke dalam lift yang berbeda setelah mendapat nomor lantai yang di tekan Jarvis di dalam lift tersebut. Setibanya di lantai tersebut, keberuntungan masih memihak pada Mikha. Ia masih melihat Jarvis berjalan sembari menggandeng wanita tersebut menyusuri koridor hotel. Mikha pun masih siaga dengan kamera ponselnya yang mengambil video Jarvis dengan wanita tersebut. Percakapan keduanya juga terekam dalam video tersebut, di mana Jarvis yang membahas soal penjebakannya dengan Tn. Romanof yang merupakan salah satu investor terbesar di Capitaland. Mata Mikha membulat saat tiba-tiba saja ponselnya berdering dengan menampilkan nama Nana di dalam layarnya. Sontak saja Jarvis serta wanita itu juga terkejut dan langsung berbalik ke arah Mikha. Mikha yang gesit berbalik memunggungi Jarvis dengan wanita itu yang kini menyadari kehadirannya. Jarvis yang curiga dengan ciri-ciri wanita yang ada di hadapannya saat ini mengambil langkah untuk mendekat kepada Mikha. Jantung Mikha berdegub dengan begitu kencang, kakinya bergetar dan memaksanya terus berjalan. Matanya membulat saat tangan Jarvis memegangi pundaknya dan memintanya berbalik. Mikha enggan berbalik dan membuat Jarvis semakin curiga. “Kamu!!!” ucap Jarvis terkejut. Pandangan Jarvis langsung saja tertuju pada ponsel yang saat ini di pegangi Mikha. Jarvis berusaha merampas ponsel Mikha, namun Mikha juga tetap kekeuh melindungi ponsel miliknya. “Kamu memata-matai ku yah?” tanya Jarvis marah. “Tidak!” balas Mikha mengelak. “Lalu apa yang ingin kamu lakukan di sini?” tanya Jarvis. “Aku juga ingin bertemu dengan ku di sini!” balas Mikha tak mau kalah. Namun Jarvis tetap tak percaya di mana ia juga kembali teringat dengan samar kejadian beberapa hari yang lalu di club saat pelayan bar bertatto itu memberitahunya kalau ada seorang wanita yang menanyakan soal dirinya. Jarvis menjadi semakin yakin kalau wanita yang di maksudkan pelayan bar itu adalah Mikha. “Berikan ponsel mu!” pinta Jarvis. “Tidak! Kenapa Aku harus memberikan punya ku pada mu?” balas Mikha. Karena tidak tahan serta amarah Mikha yang sudah meluap. Ia memaki Jarvis yang telah mempermainkan perasaan Nana kakaknya. Ia juga bahkan menyebutkan nama Nino hingga membuat Jarvis terkejut dan juga semakin marah. “Kamu pasti hanya memanfaatkan kak Nana demi kepentingan mu di Capitaland!” ungkap Mikha jujur. Tak terima dirinya di remehkan membuat Jarvis mendorong Mikha hingga ia tersungkur di lantai. Ponsel yang tadi di pegangi Mikha pun terlempar ke lantai. Merasa ada sesuatu dalam ponsel itu, Jarvis pun merusak ponsel milik Mikha dengan menginjak layar ponsel tersebut. Melihat Jarvis melakukan hal itu pada ponselnya, Mikha berusaha mengambil kembali ponsel itu. Namun Jarvis yang tega malah menginjak tangan Mikha saat berusaha menyelamatkan ponselnya. Mikha merintih kesakitan saat punggung tangannya di injak kasar oleh Jarvis. Jarvis mengancam Mikha, ia tidak akan melepaskan injakannya kalau saja Mikha berjanji untuk tidak memberitahukan siapapun mengenai pertemuannya malam ini dengan pertemuan sebelumya. Namun Mikha tetap tak mau kalah. Ia tetap kekeuh akan mengatakannya pada Nana serta Nino. Tentu saja hal itu semakin memicu kemarahan Jarvis dengan menginjak lebih keras tangan Mikha. Di saat injakan itu semakin keras hingga membuat air mata Mikha menetes karena kesakitan. Tiba-tiba saja Jarvis tersungkur di lantai dengan sudut bibir yang sudah berdarah. Mikha sangat terkejut melihat Jarvis yang kini tersungkur di lantai, lalu seseorang memegangi pundaknya dan membantunya berdiri. Mikha menoleh dan mendapati wajah Deehan di sana. “Deehan?” ucapnya tipis. “Aw!” rintihnya. Theo mengambil ponsel Mikha yang rusak atas perintah dari Deehan. Jarvis sangat terkejut melihat kehadiran Deehan serta Theo di hotel tersebut, di mana ia juga yang sedang menginjak tangan Mikha. “Tn. Deehan?---hm, ini tidak seperti yang Anda pikirkan..” ucap Jarvis panik. “Memangnya apa yang Aku pikirkan?” tanya Deehan sinis. Jarvis terdiam karena perkataannya sendiri. Deehan melirik tangan Mikha yang merah dan juga lecet karena telapak sepatu dari Jarvis yang begitu kencang menginjaknya. “Kau akan menerima akibatnya, Jarvis! Jangan pikir selama ini Aku tidak tau kelicikan mu di Capitaland! Aku hanya menunggu waktu yang pas saja untuk mendepak mu dari sana, kau paham?!” ancam Deehan. Jarvis menelan salivanya, jantungnya berdegub hebat serta wajahnya yang memucat mendengar perkataan Deehan yang seolah tau semua perbuatan buruknya selama ini. Namun Jarvis masih mengelak di hadapan Deehan. “Terus saja mengelak---kau pikir Aku mengatakan seperti ini tidak memiliki bukti?---oh iya, nona Haiko sepertinya Tn. Romanof akan sangat menyesal karena sangat mempercayai mu” jelas Deehan. Wanita berambut hitam legam itu yang tidak lain adalah Haiko, sekretaris Tn. Romanof menjadi ketakutan setelah Deehan yang mengenalinya sekaligus menyinggungnya dengan halus. Melihat Mikha yang sudah kesakitan membuat Deehan tak ingin berlama-lama berhadapan dengan Jarvis. Di mana ia telah cukup mengancam Jarvis. Deehan memegangi tangan Nana menuntunnya masuk ke dalam lift yang di susul oleh Theo. Sejak tadi tak ada satu katapun yang keluar dari mulut Mikha, ia masih tak percaya dengan keberadaan Deehan di saat waktu yang tepat. Mikha terus melirik ke arah Deehan, namun lirikan itu beberapa kali juga di rasakan Deehan saat keduanya masih berada di dalam lift. “Apa yang kamu lakukan di sini dengan Jarvis?” tanya Deehan. Mikha membeberkan semuanya pada Deehan, kalau selama ini dia sering membuntuti Jarvis. “Aku membuntutinya bukan karena masalah pekerjaan saja---ini karena menyangkut dengan perasaan kakak ku! Aku tidak terima kalau dia hanya mempermainkan kak Nana!” jelas Mikha jujur. “Apa kamu bisa menyetir?” tanya Deehan. Mikha melihat kondisi tangan kanannya yang terluka. Lalu menatap kembali ke arah Deehan. “Theo tolong kamu bawa mobilnya dan ikuti saja Aku dari belakang. Aku akan membawa mobil Mikha pulang sekalian dengan orangnya juga..” pinta Deehan. Mikha kembali melirik tipis dengan bibir yang sedikit manyun mendengar perkataan Deehan. Namun ia tidak dapat menolak karena memang kondisi tangannya saat ini tidak memungkinkannya membawa mobilnya sendiri. Theo menerima perintah Deehan. Deehan mengambil alih mobil milik Mikha, di mana kini Mikha duduk di samping kursi pemudi yang di tempati oleh Deehan. “Jadi kamu membuntuti Jarvis karena Dr. Nana?” tanya Deehan. “Kamu tau kakak Aku?” tanya Mikha balik. Deehan mengangguk membenarkan pertanyaan Mikha. “Kenapa kamu bisa kenal dengan kak Nana?” tanya Mikha. Deehan pun menjelaskan pada Mikha kalau Nana adalah dokter yang merawat Ezra sahabatnya yang saat ini masih berada di rumah sakit Elizabeth setelah mengalami kecelakaan pada saat itu. “Kamu sudah memberitahu kakak kamu kalau Jarvis bukan lelaki yang baik?” tanya Deehan. “Aku sudah memberitahunya sejak lama, tapi kak Nana tidak percaya! Dia juga minta bukti atas perkataan ku” jelas Mikha. “Lalu kamu sudah punya buktinya?” tanya Deehan kembali. “Ah! Di ponsel ku tadi---apa tadi Aku tinggalkan di sana?” ungkap Mikha yang teringat dengan ponselnya. “Theo sudah mengurusnya---memangnya kamu punya bukti di sana?” tanya Deehan penasaran. Mikha pun memberitahu Deehan kalau dia juga memiliki bukti di mana Jarvis mempunyai niatan jahat Tn. Romanof. “Padahal Aku tidak bermaksud mendapatkan hal tersebut, tapi Jarvis sendiri yang mengatakannya” ucap Mikha sembari mengidikkan bahunya. Deehan melirik tangan Mikha yang masih merah, lecet dan berdarah di bagian jarinya. “Apa kamu tidak ingin mengobati tangan mu dulu?” tanya Deehan. “Tidak perlu---nanti di rumah saja” balas Mikha santai. Deehan kembali melayangkan lirikan tipisnya ke arah Mikha yang selalu berusaha untuk tidak ingin terlihat lemah di hadapan siapapun, Deehan juga teringat dengan ucapan Nino yang mengatakan kalau Mikha adalah anak yang selalu ceria dan tak ingin membuat siapapun mengkhawatirkannya. Ia selalu berusaha terlihat baik-baik saja dan tak butuh bantuan siapapun. Deehan merasa kagum dengan karakter yang di miliki Mikha. Ia tak menyangka kalau sosok Mikha memiliki karakter yang mampu membuat dirinya tertarik. “Kamu tidak perlu membuntuti Jarvis atau berhubungan lagi dengannya---serahkan saja semua pada ku. Aku sudah mempersiapkan imbalan yang setimpal untuknya nanti” jelas Deehan yakin. “Memangnya kamu juga selama ini mencurigai dia?” tanya Mikha polos. Di mana Mikha yang tak tau kalau selama seminggu ini semua pergerakannya yang berhubungan dengan Jarvis telah di ketahui oleh Deehan. “Seperti itu lah!” balas Deehan singkat. “Tapi memang orang seperti Jarvis harus di berikan pelajaran---Aku akan mendukung mu!” ungkap Mikha bersemangat. Deehan tertawa tipis melihat tingkah menggemaskan Mikha yang jarang ia lihat sebelumnya. Begitupun Mikha yang tak pernah melihat Deehan tertawa seperti apa yang ia lihat malam ini. Waktu seakan berhenti di mana Mikha yang tak berpaling melihat tawa Deehan yang seketika membuat jantungnya berdegub kencang. Namun ia berusaha mengembalikan kesadarannya sebelum Deehan menyadari tatapannya. Deehan berhasil tiba di rumah Mikha. Hal yang mengejutkan lainnya, di mana Mikha yang terkejut karena Deehan yang mengetahui rumahnya. “Bukannya ini pertama kalinya kamu mengantar ku pulang? Kenapa kamu bisa tau rumah ku?” tanya Mikha polos. “Itu salah satu kelebihan ku..” balas Deehan bercanda. “Bukannya ini juga rumah Tn. Nino, kan?” lanjutnya. Tampaknya tawa Deehan membuat otak Mikha menjadi macet. Tentu saja Deehan mengetahui rumah Nino yang juga merupakan orang terpenting di Capitaland. Mikha mengucapkan terima kasih pada Deehan. Kali ini mulutnya sudah dapat terbuka lebar mengucapkan kalimat tersebut. Di mana sebelumnya ia masih canggung mengatakan ucapan terima kasih pada Deehan. Deehan mengukir senyum tipis melihat tingkah menggemaskan Mikha padanya. “Mikha!” panggil Deehan. “Jangan lupa obati tangan mu..” lanjutnya saat Mikha kembali berbalik ke arahnya. Mikha masuk terlebih dahulu di rumahnya bersamaan dengan Theo yang baru saja tiba membawa mobil milik Deehan. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN