Celine memperingati Mikha dan juga Earlene mengenai lukisan seniman jepang Tn. Yamusa yang akan di terima hari ini di Capitaland. Di mana lukisan itu adalah salah satu hasil karya yang penting saat hari pameran nanti.
Mikha dan Earlene menerima lukisan tersebut dan memintanya untuk di masukkan ke dalam salah satu ruangan yang berada di Capitaland agar tak ada yang boleh menyentuh ataupun merusaknya.
Deehan yang berada juga saat itu meminta para pembawa lukisan itu menaruhnya dengan begitu hati-hati. Terdapat dua lukisan yang berbeda, di mana setiap lukisan itu memiliki arti masing-masing.
“Terima kasih…” ucap Mikha setelah kedua lukisan itu di letakkan dengan aman di ruangan tersebut.
Earlene di buat takjub dengan maha karya yang begitu luar biasa milik Rio Yamusa, salah satu seniman yang sangat terkenal di negeri sakura tersebut. Earlene memperhatikannya dengan detail memuja setiap tarikan kuas dari lukisan tersebut.
“Apa boleh Aku mengambil foto lukisannya?” tanya Earlene menatap kepada Deehan.
“Ya! Asal jangan sampai tersebar sebelum launchingnya nanti saat pemeran” balas Deehan memperbolehkan.
Tanpa menunggu lama, Earlene mengambil ponselnya lalu mengutip dari beberapa sisi lukisan tersebut sambil memujanya.
“Masih ada berapa lagi yang belum datang?” tanya Deehan pada Mikha.
Mikha menatap map yang di peganginya sambil menghitung sekitar lima lukisan yang belum tiba di Capitaland.
“Kata Celine kapan lukisan itu tiba?” tanya Deehan kembali memastikan.
“Besok atau lusa katanya” balas Mikha santai.
Deehan mengangguk mengerti sebelum meninggalkan Mikha serta Earlene yang masih berada di ruangan tersebut.
Setelah kepergian Deehan, Mikha pun menarik Earlene keluar dari ruangan itu untuk kembali ke ruangannya.
Sebelum memasuki ruangannya, Mikha lebih dulu mendatangi ruangan Celine dengan memberitahunya kalau lukisan milik Tn. Yamusa telah tiba hari ini dan sudah berada di ruangan yang di perintahkan Celine sebelumnya.
Kemudian Celine juga mengingatkan Mikha dengan lukisan dari seniman lainnya yang di mintanya di simpan di ruangan yang berbeda.
Mikha mengangguk patuh dengan permintaan Celine sebelum ia meninggalkan ruangannya.
Di ruangan yang berbeda. Deehan baru saja ingin menarik pintu ruangannya, tiba-tiba saja Theo menegurnya dan memintanya untuk ke ruangan Deefan. Di mana Deefan meminta Theo untuk memberitahu Deehan.
Deehan melanjutkan langkahnya menuju ruangan Deefan. Di mana di dalam ruangan tersebut terlihat kehadiran Noah, Nino serta Jarvis. Ekspresi Deehan seketika berubah saat melihat Jarvis yang berada di ruangan Deefan untuk pertama kalinya.
Deehan melirik sinis kepada Jarvis yang terlihat menunduk dan tak berani menatap wajah Deehan setelah kejadian semalam yang menimpa keduanya.
“Ada apa memanggil ku?” tanya Deehan.
“Bagaimana progress pengiriman karya-karyanya? Sudah sampai semua?” tanya Deefan balik.
“Baru lukisan milik Tn. Yamusa yang tiba---selebihnya besok dan juga lusa” jelas Deehan.
Deefan meminta Deehan untuk berhati-hati dengan karya dari Rio Yamusa. Di mana Deefan yang sangat tahu karakter Rio yang begitu tegas dan tidak mudah luluh. Cukup lama bagi Deefan, Noah serta Deehan untuk membujuk Rio menyalurkan karyanya dalam pameran tersebut.
Deehan mengangguk mengerti dan mengatakan akan berhati-hati dengan lukisan tersebut.
Deefan meminta Jarvis dan Nino untuk keluar lebih dulu setelah menyampaikan perintahnya. Di mana kini hanya menyisahkan Noah serta Deehan yang berada di dalam ruangannya.
Noah memberitahu Deefan kalau kemarin ia baru saja berhasil menemui Tn. Romanof dan membicarakan mengenai kontrak kerjasamanya. Deefan kembali memuji hasil kerja Noah, sedangkan ia yang sangat jarang memuji hasil kinerja putranya sendiri. Hal itu membuat Deehan kembali harus berusaha menahan diri di depan ayahnya.
“Oh iya---ibu mu baru saja pulang dari London, dia mencari mu” ungkap Deefan pada Deehan.
“Ya! Aku akan menemuinya nanti” balas Deehan acuh.
“Kamu boleh keluar!” pinta Deefan.
Deehan beranjak dari sofanya melirik tipis ke arah Noah lalu ayahnya sebelum ia meninggalkan ruangan Deefan. Dengan kepalan tangan Deehan berhasil keluar sembari menahan emosinya serta rasa kesalnya pada sang ayah.
Deehan kembali ke ruangannya, di mana Theo yang sudah berada di sana lebih dulu menunggu kembalinya Deehan dari ruangan ayahnya.
“Tn. Deehan---Ny. Jannie mencari Anda, beliau sedang menunggu di restoran terkahir Anda bertemu dengannya sebelum beliau berangkat ke London” ungkap Theo.
Deehan menghela napas sembari memijit pelipisnya, di mana sudah cukup lama bagi Deehan tidak bertemu sang ibu serta hubungan keduanya yang sejak dulu dingin dan tak hangat seperti layaknya hubungan ibu dan anak seperti pada umumnya.
“Apa dia sudah lama di sana?” tanya Deehan.
“Mungkin sudah hampir satu jam---karena Aku juga menjelaskan pada beliau kalau Anda sedang sibuk dengan urusan pekerjaan di Capitaland” balas Theo.
Deehan kembali beranjak dari kursinya dan meminta Theo ikut bersamanya untuk bertemu dengan Jannie.
Deehan dan Theo masuk ke dalam lift untuk turun ke loby perusahaan. Suara dentingan lift mengalihkan perhatian Deehan serta Theo, di mana ia mendapati Jarvis yang sedang berdiri menunggu lift.
“Kenapa kau tidak masuk?” tanya Deehan saat melihat Jarvis yang tak bergeming dari posisi berdirinya setelah lift terbuka.
Mendengar perkataan itu, Jarvis kemudian mengambil langkah dan bergabung bersama Deehan serta Theo.
Jarvis berdiri di depan Deehan serta Theo dengan wajah tanpa ekspresinya. Deehan menatap Jarvis dari ujung kepala hingga ujung kakinya. Pandangannya tercekat pada jas bagian belakang di kenakan Jarvis yang terlihat bernoda, namun Deehan tak mengambil pusing dan mengabaikan hal tersebut.
Lift kembali terbuka dan Jarvis keluar lebih dulu setelah tiba di lantai ruangannya berada. Lift kemudian menutup lalu membawa Deehan serta Theo di loby Capitaland.
Theo mengambil alih kemudi mobil dan membawa Deehan menuju restoran tempat ia akan bertemu dengan Jannie yang sudah sejak tadi menunggunya.
Theo menepikan mobil. Deehan berjalan masuk mencari di mana Jannie berada. Berjalan dengan langkah kecil pandangannya tercekat pada tubuh seorang wanita yang sangat di kenalinya. Deehan perlahan mendekat dan memastikan bahwa wanita itu adalah Jannie, ibunya.
Deehan berdiri di depan Jannie sedikit membungkuk untuk menyapanya dengan sopan. Betapa bahagianya Jannie saat melihat putranya kembali. Wajah yang sendu itu terlihat jelas di wajah Jannie yang sedang menahan haru.
Deehan mengambil posisi duduk di hadapan Jannie. Ibunya terus saja menatap Deehan dengan penuh kerinduan, sedangkan Deehan terlihat canggung dan menghindari kontak mata dengan ibunya.
“Bagaimana kabar mu, Deehan?” tanya Jannie lembut.
“Baik-baik saja” balas Deehan dingin.
Melirik sekilas wajah ibunya yang sedang menahan tangis membuat hati Deehan sedikit mencair.
“Bagaimana dengan mu?” lanjut Deehan canggung.
“Ibu juga sangat baik---kalau pekerjaan mu bagaimana?” tanya Jannie kembali.
“Lancar juga” balas Deehan singkat.
Jannie mengangguk sambil meremas rok yang di kenakannya. Di mana ia harus menahan dirinya di depan Deehan. Rasa rindu itu seakan menyayat hati Jannie harus menahan diri untuk tidak memeluk putranya, mengingat hubungan keduanya yang tak sehangat ibu dan anak pada umumnya.
“Oh iya.. kapan kamu kembali dari London?” tanya Deehan.
“Baru saja---dan ibu langsung meminta Theo untuk bertemu dengan mu” balas Jannie jujur.
Baru saja Jannie ingin menawarkan menu makanan dari restoran tersebut, Deehan lebih dulu beranjak dari kursinya dan berpamitan pada Jannie.
Jannie kembali meremas roknya menahan air matanya melihat sikap Deehan yang masih dingin kepadanya.
“Sepertinya Aku sudah harus kembali ke kantor---masih banyak pekerjaan yang harus Aku lakukan” ucap Deehan.
“Ah iya! Ibu lupa kalau kamu juga memiliki tanggung jawab di perusahaan---baiklah! Pergi saja, selesaikan pekerjaan kamu, nak” ucap Jannie berusaha tegar.
Deehan hanya menundukkan kepalanya tanpa membalas perkataan Jannie sebelum meninggalkannya.
“Theo..” tegur Jannie pada Theo yang bersiap ikut dengan Deehan.
“Iya, Ny. Jannie?” balas Theo sopan.
“Tolong jaga Deehan---kalau terjadi sesuatu padanya, tolong kamu hubungi Aku” pinta Jannie tulus.
“Baik.. Ny. Jannie---Anda tidak perlu mengkhawatirkan Tn. Deehan, Aku akan terus berada di sampingnya” balas Theo.
“Baiklah.. kamu bisa susul dia sekarang---dia pasti sudah menunggu mu” tutup Jannie.
Theo menundukkan kepalanya sebelum meninggalkan Jannie.
Jannie menghela napas kasar. Kini ia tak perlu lagi menahan air matanya, kepergian Deehan serta Theo membuat Jannie tak perlu lagi menahan air matanya. Kini air mata yang sejak tadi tertahan itu sudah membasahi pipinya, namun dengan cepat Jannie menyekanya.
Jannie menatap kursi yang di tempati oleh putranya tadi dengan cukup lama. Di mana rasa sesak tak bisa menyentuh putranya sangat membuat hatinya hancur. Jannie kembali mengingat penyesalannya atas sikap serta perilakunya kepada Deehan pada saat itu. Ia tak menyangka kalau sikap serta perilakunya membentuk karakter baru dalam diri putranya.
Jannie meninggalkan restoran tersebut setelah menyimpan beberapa lembar uang di atas meja yang di dudukinya tadi.
***
Deehan berhasil tiba di kantor bersama Theo. Langkahnya tercekat saat melihat Mikha yang tampak sibuk lalu lalang di loby kantor. Baru saja ingin menyapa dan mendekat ke arah Mikha, Deehan lebih dulu mencegat langkahnya setelah Noah yang lebih dulu menghampiri Mikha.
Theo berdiri tepat di belakang Deehan. Di mana ia juga melihat interaksi Mikha bersama Noah, Theo mengalihkan tatapannya kepada Deehan yang terlihat kesal melihat interaksi Mikha bersama Noah yang berbeda dengannya.
Deehan membuang pandangannya dan melanjutkan langkahnya mengabaikan Mikha. Mikha yang saat itu juga melihat Deehan yang berjalan melewatinya sempat berpaling dari Noah. Ia menatap punggung Deehan yang perlahan menjauh darinya.
“Hey!” tegur Noah.
Mikha kembali fokus pada Noah yang sedang mengajaknya bercengkrama.
“Jangan terlalu ramah pada ku---ini masih di kantor” bisik Mikha pada Noah.
*****