PART 18. MALAPETAKA

1702 Kata
Deehan membuang pandangannya dan melanjutkan langkahnya mengabaikan Mikha. Mikha yang saat itu juga melihat Deehan yang berjalan melewatinya sempat berpaling dari Noah. Ia menatap punggung Deehan yang perlahan menjauh darinya. “Hey!” tegur Noah. Mikha kembali fokus pada Noah yang sedang mengajaknya bercengkrama. “Jangan terlalu ramah pada ku---ini masih di kantor” bisik Mikha pada Noah. Noah tertawa tipis mendengar perkataan Mikha yang tak ingin mendapat gosip karena sikap wakil presiden direktur Capitaland padanya yang berbeda dari yang lainnya. “Aku harus bekerja, Tn. Noah” lanjut Mikha sembari tersenyum. Noah memperlebar senyumannya melihat paras cantik Mikha yang melempar senyuman kepadanya. Noah semakin tertarik dengan Mikha, rasa ingin memilikinya pun semakin besar hingga ia memerintahkan Sein agar selalu mengamati setiap pergerakan Mikha selama di Capitaland. Tak ada yang boleh menganggu ataupun menyakitinya. Noah melihat sekeliling loby dan mendapati beberapa staff yang melihat interaksinya dengan Noah. Namun setelah mendapat tatapan tajam dari Noah beberapa staff tersebut mengalihkan pandangannya dan cepat bergegas menghilang dari pandangan Noah. Mikha dan Earlene terlihat sibuk membantu Celine dan staff lainnya yang berada di lantai tersebut mengingat hari pembukaan pameran itu yang semakin dekat. Sambil bercanda, Mikha dan Earlene tampak nyaman dengan Celine serta staff lainnya. “Oh iya! Apa nanti mahasiswi magang seperti kita juga di perbolehkan datang di pameran itu?” tanya Earlene sembari bercanda. “Tentu saja! Kalian juga kan bagian dari Capitaland, tentu saja boleh!” balas Celine, namun tatapannya hanya tertuju kepada Mikha seorang saja. *** Keesokan harinya, beberapa lukisan yang akan ikut dalam pameran tersebut kembali berdatangan di Capitaland. Kini hanya Earlene yang menerima beberapa lukisan tersebut, sedangkan Mikha membantu Celine menyelesaikan urusan lainnya. Earlene meminta para pembawa lukisan itu untuk menyimpannya di ruangan lainnya. Ketiga lukisan dari Italia itu di simpan dengan begitu hati-hati mengingat jumlahnya yang dapat membuat seseorang pusing dengan digit yang di milikinya. Setelah memastikan lukisan itu aman, Earlene keluar dari ruangan tersebut. Di tengah perjalanannya untuk kembali ke ruangannya, ia tak sengaja bertemu dengan Deehan serta Theo. Earlene menyapanya dengan sopan sekaligus ramah. Deehan yang mengenali wajah Earlene yang tak lain adalah mahasiswi magang yang bersama Mikha membalas sapaannya dengan wajah biasa. “Kamu mahasiswi magang yang bersama Mikha, kan?” tanya Deehan memastikan. “Iya, Tn. Deehan” balas Earlene membenarkan. “Lalu di mana Mikha?” tanya Deehan melihat sekitar dan tak melihat kehadiran sosok Mikha bersama Earlene. Earlene menjelaskan kalau saat ini Mikha sedang bersama Celine menyelesaikan urusan lainnya. Hal itu di tanggapi Deehan dengan anggukan kepalanya. Lalu tiba-tiba saja seorang staff memanggil nama Deehan. Di mana staff tersebut meminta Deehan untuk menyambut kedatangan Tn. Romanof yang sebentar lagi akan tiba di Capitaland. Deehan mengurungkan niatnya untuk melihat kondisi lukisan dari seniman jepang tersebut, karena mendapat perintah dari Deefan. Karena tak sempat, Deehan meminta Earlene untuk memastikan kondisi lukisan tersebut lalu menyampaikan kepadanya. Earlene mengangguk patuh dan bergegas menuruti permintaan Deehan menuju lokasi ruangan lukisan tersebut. Deehan dan juga Theo bergegas menuju loby perusahaan untuk menyambut kedatangan Tn. Romanof siang ini. Di mana Deefan dan Noah yang tidak sempat menyapanya karena memiliki urusan lainnya. Sedangkan Earlene bergegas menuju ruangan lukisan tersebut. Gagang pintu itu di tarik oleh Earlene dan betapa kagetnya Earlene saat membuka pintu tersebut tiba-tiba saja sebuah kaleng cat jatuh dan mengenai lukisan dari seniman jepang tersebut. Mata Earlene membulat melihat lukisan indah itu seketika hancur dan tak terlihat seperti maha karya yang luar biasa seperti sebelumnya. Kakinya bergetar ia tak dapat mengatakan apapun selain berdiri mematung dengan jantung yang berdegub kencang. “Bagaimana ini?” ucap Earlene panik. Earlene dengan cepat menutup pintu ruangan itu agar taka da satupun yang melihatnya. Earlene panik dan ketakutan. Ia mendekat ke arah lukisan tersebut dan melihatnya secara detail. “Kenapa bisa kaleng cat ini ada di sana?” ucap Earlene bingung dengan posisi kaleng cat tersebut. “Apa yang harus ku katakana pada Tn. Deehan?” lanjutnya panik. Earlene mengambil ponselnya lalu menghubungi Mikha dengan nada suara yang panik. Mikha yang menerima panggilan itu pun juga di buat panik dengan nada suara Earlene dalam panggilannya. Tanpa membuang waktu, Earlene meminta Mikha untuk mendatanginya ke ruangan lukisan milik Tn. Yamusa tanpa memberitahu Mikha secara detail. Tidak membutuhkan waktu yang lama, suara ketukan pintu menyadarkan Earlene. Ia membuka pintu itu sedikit lalu menarik Mikha masuk dan menutupnya kembali. Sama seperti ekspresi Earlene sebelumnya, Mikha tampak kaget melihat kondisi lukisan itu yang hancur dan tak dapat di kenali. “Apa yang terjadi, Len?” tanya Mikha panik. Earlene menjelaskan pada Mikha, kalau tadi ia baru saja menerima lukisan lainnya lalu setelah itu ia tak sengaja bertemu dengan Deehan. Dan Deehan lah yang memintanya untuk memeriksa lukisan tersebut. “Tapi pas Aku buka pintu, Aku gak tau kenapa tiba-tiba ada kaleng cat yang melayang dan jatuh tepat di atas lukisan itu!----bagaimana ini, Mikha?” jelas Earlene semakin panik dan juga ketakutan. Melihat lukisan itu juga membuat otak Mikha stuck dan tak tau harus berbuat apa, mengingat perkataan Celine yang selalu memperingatinya mengenai lukisan milik Tn. Yamusa yang sangat penting dan juga mahal. Mikha memijit pelipisnya, kakinya juga terasa lemas hingga membuat dirinya terduduk di lantai yang dingin ruangan tersebut. “Ini lukisan penting, Len!” ucap Mikha. Earlene semakin panik dan ketakutan, ia juga menangis dan tak tau harus berbuat apa. Bahkan untuk keluar dari ruangan itu saja ia tidak sanggup. “Tn. Deehan juga pasti sedang menunggu laporan dari ku mengenai lukisan ini” ungkapnya panik di sela segukannya. “Ssstt!! Jangan menangis! Kalau kamu menangis, otak ku semakin tidak bisa berpikir!” keluh Mikha jujur. Mikha cukup lama memaksa otaknya berpikir sedangkan Earlene yang terus saja menangis dan tak tau mesti berbuat apa karena lukisan tersebut. “Okay sekarang, kamu tenang! Kamu sampaikan sama Tn. Deehan, kalau lukisannya baik-baik saja!” pinta Mikha sambil memegangi pundak Earlene dengan kedua tangannya. “Baik-baik saja bagaimana, Mikha? Kamu tidak lihat lukisannya hancur seperti itu?” balas Earlene. “Aku akan mencoba menghubungi senimannya, Tn. Rio Yamusa.. kan?---Aku akan coba memintanya untuk mempercayakan lukisan lainnya lagi” ungkap Mikha yang juga tak percaya diri dengan usulannya. “Kamu yakin bisa melakukannya?----Aku dengar Tn. Deefan, Tn. Noah dan juga Tn. Deehan saja sulit meyakinkan dia di awal, Mikha!” balas Earlene ragu. Mikha menghela napas kasar dan mencoba menenagkan kembali pikirannya. “Tapi kita tidak punya pilihan lain, Earlene! Setelah seperti ini memangnya kita hanya akan diam saja dan tidak melakukan apapun?” ucap Mikha frustasi. “Aku akan mencoba meminta nomor yang bisa Aku hubungi di Noah---untuk alasan kenapa Aku minta, Aku akan mencoba pikirkan---setelah itu, Aku akan hubungi Tn. Yamusa kalau perlu Aku akan ke Jepang mencarinya” lanjut Mikha yakin. Mikha juga harus melakukan hal tersebut mengingat ia yang juga sudah berjanji pada Nino untuk tidak membuat masalah selama masa magangnya di Capitaland. Mikha juga mengingat perkataan sang ayah beberapa hari yang lalu mengenai penggelegaran pameran kali ini yang sangat penting bagi Tn. Deefan. Hal tersebut juga akan menyangkut reputasi Nino di Capitaland. Earlene memeluk Mikha sembari menangis, ia juga mengucapkan terima kasih kepada Mikha karena berniat untuk membantu dan melindunginya. Lalu Mikha meminta Earlene untuk pergi memberitahu Deehan kalau lukisannya dalam keadaan yang baik seperti sebelumnya. Sebelum meninggalkan ruangan tersebut, Mikha dan Earlene mengambil tindakan untuk menutupi lukisan tersebut dengan sehelai kain. *** Mikha berusaha terlihat seperti biasanya setelah meninggalkan ruangan tersebut. Ia menyeka keringat yang memenuhi jidatnya karena kepanikan tadi yang ia rasakan bersama Earlene di ruang lukisan tadi. Mikha menekan tombol lantai untuk menuju ke ruangan Noah. Setibanya di sana ia melihat masuk ke dalam dan tak mendapati keberadaan Noah maupun Sein di sana. Memastikan tidak adanya keberadaan Noah dan juga Sein, Mikha beralih menuju lift kembali. “Apa kamu mencari Tn. Noah dan Sein?” tanya Theo yang baru saja muncul dari lift. Mikha menyapanya singkat dan menjawab pertanyaan Theo. “Tn. Noah dan Sein sedang tidak berada di kantor---ada apa kamu mencarinya?” tanya Theo kembali untuk memastikan. “Hm tidak apa” balas Mikha berbohong. Theo melanjutkan langkahnya melewati Mikha yang masih berdiri di depan pintu lift. “Tn. Theo, apa kamu mengenal seniman jepang Tn. Rio Yamusa?” tanya Mikha gugup. “Kenapa memangnya?” tanya Theo balik. “Tidak apa---Aku sangat kagum dengan maha karyanya, Aku ingin memujinya secara langsung” ungkap Mikha berbohong dengan mencari alasan agar Theo tidak curiga padanya. “Aku memang mengenalnya karena dia seniman yang berbakat---tapi tidak lebih dari itu. Kamu mungkin bisa meminta bantuan Tn. Deehan untu----” “Hm tidak perlu, terima kasih” sela Mikha mendahului sembari tersenyum kecut pada Theo. Theo mengangguk dan melanjutkan langkahnya meninggalkan Mikha yang juga bersamaan masuk ke dalam lift. Mikha menarik pasokan udaranya yang menipis karena perkataan Theo sebelumnya. Mikha membayangkan ekspresi Deehan kalau ia menyinggung soal Rio Yamusa padanya. *** Theo kembali setelah mendapat perintah dari Deehan untuk mengambil salinan berkas kerjasama antara Deehan dan juga Romanof. Sejak pertemuan Deehan dan Romanof tadi, Haiko wanita yang masih berstatus sebagai sekretarisnya itu tak berani menjatuhkan pandangannya kepada Deehan, mengingat kejadian beberapa hari yang lalu melibatkan dirinya dengan Deehan. Bahkan dalam lubuk hati Haiko, ia bermohon agar Deehan tidak menyinggung soal dirinya bersama Jarvis malam itu. Deehan masih mengumpulkan pion-pion yang akan ia jatuhkan bersamaan nanti. Melihat pergerakan Haiko yang jelas sudah ketar-ketir membuat Deehan semakin penuh percaya diri. Romanof yang aktif bercerita kepada Deehan membuat Haiko semakin cemas. Di mana sudah sangat jelas kalau Romanof sangat mempercayai serta akrab dengan Deehan. Romanof memutuskan untuk menyudahi pertemuannya hari ini dengan Deehan. Ia juga berjanji akan datang saat hari pameran tiba untuk melihat karya-karya dari seniman terkenal dan luar biasa. Deehan menjabat tangan Romanof sebelum meninggalkan ruangan pertemuannya hari ini. Lalu di saat yang bersamaan ketika Deehan, Romanof, Haiko serta Theo keluar dari ruangan itu, Jarvis yang di ikuti Maudy tepat di sebelahnya berjalan ke arah ruangan. Mata Jarvis tercekat saat melihat Haiko serta mendapat tatapan menyelidik dari Deehan. Jarvis hanya menunduk menyapa Romanof dengan sopan, aksi itu juga di ikuti oleh Maudy yang melakukan hal serupa saat berjalan melewati Deehan, Romanof, Theo serta Haiko. Setelah melewati Deehan serta Romanof, Jarvis melirik tipis ke sisi kirinya sambil melanjutkan langkahnya. Namun yang membingungkan ialah tarikan senyum Jarvis yang sulit di artikan. Ada apa dengan senyuman itu? *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN