Pameran di Capital Art Galery semakin mendekati harinya, Mikha dan Earlene semakin ketar-ketir karena permasalahan lukisan tersebut yang belum terselesaikan. Mengingat kemarin Mikha yang tak berkesempatan untuk melihat kehadiran Noah di Capitaland. Namun hari ini, ia kembali memberanikan diri untuk bertemu dengan mendatangi ruangannya.
Tampaknya keberuntungan hari ini memihak Mikha, ia melemparkan pandangannya ke arah ruangan kerja Noah. Di mana aksi itu di dapati oleh Sein dan mengadukannya pada Noah.
Sein membuka pintu ruangan Noah dan mendapati Mikha yang sedang berdiri di depan pintu sembari berpikir dengan apa yang akan ia lakukan serta katakana pada Noah untuk menghindari kecurigaan.
Mikha tercekat saat Sein menyadari kehadirannya dan memintanya untuk masuk ke dalam ruangan Noah.
Noah menyambut hangat kedatangan Mikha ke dalam ruangannya, di mana biasanya hanya orang-orang yang berkepentingan memiliki akses untuk bertemu dengannya. Namun Noah mengecualikan Mikha dari orang-orang tersebut.
“Hai, Mikha..” sapa Noah terlebih dahulu.
Mikha hanya melempar senyum tipis ke arah Noah yang mengambil posisi duduk tepat di sebelahnya.
“Ada apa?” tanya Noah kembali.
“Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin melihat mu saja hari ini” balas Mikha yang masih mencari topik untuk membahas permasalahannya.
Noah tertawa mendengar balasan atas pertanyaan yang ia layangkan kepada Mikha. Perkataan itu mampu membuat suasana hati Noah berbunga-bunga. Namun ia merasakan hal lain mengingat Mikha yang tak biasanya mengatakan hal semanis itu kepadanya.
“Kamu memang pintar membuat orang senang, Mikha----tapi, Aku yakin bukan itu tujuan mu ke sini, kan?” tanya Noah kembali mempertanyakan kedatangan Mikha di ruangannya.
“Ayo! Ada apa? Cerita saja dengan ku” lanjutnya merayu Mikha.
Mikha melirik kanan dan kiri dengan wajahnya yang canggung dan menahan malu. Melihat pergerakan Mikha membuat Noah beranggapan kalau Mikha tidak ingin membahasnya karena kehadiran Sein yang juga berada di dalam ruangannya.
Namun Mikha dengan cepat meluruskannya kalau kehadiran Sein tidak berpengaruh sama sekali dengan dirinya. Dengan menunjukkan wajah yang malu demi memperlancar rencananya hari ini, Mikha pun mulai memberitahu Noah mengenai Rio Yamusa.
“Kenapa dengan Tn. Yamusa?” tanya Noah penasaran.
“Sebenarnya Aku sangat menyukai semua karya Tn. Yamusa---tapi rasanya kalau Aku memberitahu mu rasanya Aku seperti orang yang tidak tau diri” jelas Mikha.
“Kenapa kamu beranggapan seperti itu?” tanya Noah bingung.
“Awalnya Aku memang ingin memberitahu mu, hanya saja kemarin Aku sudah mengetahui identitas mu yang sebenarnya.. Aku----”
“Ah, kamu takut merasa akan memanfaatkan ku?” sela Noah sembari tertawa.
Mikha mengangguk membenarkan perkataan Noah walaupun dalam hatinya ia sedang berbohong demi melindungi dirinya dan juga Earlene.
Noah terlihat sangat puas dengan jawaban yang di berikan Mikha. Ia meminta Sein untuk menghubungi pihak dari Rio Yamusa dan memberitahunya kalau salah satu orangnya sangat mengagumi pelukis tersebut.
Noah pun memberikan ponsel itu pada Mikha, namun Mikha enggan berbicara mengingat ia yang tak mungkin membahas soal lukisan tersebut di hadapan Noah serta Sein.
Pihak dari Rio pun terdengar sedang menyahut dalam panggilannya menunggu Mikha berbicara, Noah pun juga meminta Mikha untuk menyampaikan apa yang ingin ia sampaikan kepada Rio Yamusa.
Namun tiba-tiba saja seseorang mengetuk pintu ruangan Noah dan memberitahu kalau Deefan meminta untuk mendatangi ruangannya. Mendengar hal itu Noah tak punya pilihan lain selain meninggalkan Mikha di ruangannya.
“Iya.. kamu pergi saja” ucap Mikha.
“Aku akan kembali, okay!” balas Noah sembari beranjak dari sofanya.
“Kamu mengobrol saja dengannya” lanjutnya.
Noah dan Sein meninggalkan Mikha di ruangannya. Di mana panggilan itu masih terhubung dengan pihak Rio Yamusa. Mikha pun mengambil kesempatan itu untuk mengelabuhui lelaki yang berada di panggilan tersebut.
Mikha berbohong kalau pihak Capitaland akan mengirimkan sebuah lukisan untuk Rio Yamusa dan meminta alamatnya. Lelaki dalam panggilan itu sebagai asisten pribadi Rio memberikan alamat rumah Rio Yamusa yang berada di kota Tokyo. Dengan gesit Mikha mengetik alamat itu pada note di ponselnya.
Mikha pun berterima kasih lalu mengakhiri panggilannya, ia juga mencatat nomor tersebut yang akan ia hubungi nanti saat mendatangi Rio di Jepang.
Mikha meninggalkan ponsel itu di dalam ruangan Noah dan kembali ke ruangannya. Di tengah perjalanannya ia tak sengaja bertemu dengan Deehan yang baru saja kembali dari ruangan ayahnya.
“Kamu?” ucap Deehan menegur Mikha.
“Kenapa?” tanya Mikha dengan wajah yang gugup.
“Apa yang kamu lakukan di lantai ini?” tanya Deehan mengamati wajah mencurigakan Mikha.
“Oh—hm, tadi Aku mencari Tn. Noah hanya saja ternyata dia tidak ada di ruangannya” balas Mikha berbohong.
Deehan hanya mengangguk dan tak menanyakannya lagi setelah Mikha menyebutkan nama Noah. Lalu di saat yang bersamaan juga Noah dan Sein pun muncul dan menegur Mikha. Menyadari kehadiran Noah juga, Deehan lebih menarik diri dan meninggalkan Mikha di ikuti Theo di belakangnya.
“Bagaimana tadi? Kamu sudah berbicara dengan sekretarisnya Tn. Yamusa?” tanya Noah.
Langkah Deehan tercekat mendengar perkataan Noah yang tak selaras dengan jawaban Mikha tadi atas pertanyaannya. Ia memperlambat langkahnya untuk mencapai ruangannya demi mendengar percakapan Mikha bersama Noah.
“Ah iya---sudah tadi, terima kasih… Tn. Noah” balas Mikha bohong.
“Bagus lah! Kamu mau kembali ke ruangan mu?” tanya Noah mencegat tangan Mikha yang sudah terburu-buru ingin cepat menghindari Noah dan juga Deehan.
“Iya---Earlene sudah mencari ku, dia juga sudah menghubungi ku!” balas Mikha.
“Baiklah!” tutup Noah pada percakapan keduanya.
Deehan kembali mempercepat langkahnya setelah memastikan keduanya telah menyelesaikan obrolannya. Begitupun dengan Noah yang melanjutkan langkahnya setelah Mikha masuk ke dalam lift.
Setibanya di ruangan, Deehan meminta Theo untuk mencari tahu alasan Mikha menghubungi sekretaris Rio Yamusa. Di mana ia yakin kalau ada sesuatu yang menjanggal setelah melihat gerak-gerik Mikha serta Mikha yang berbohong kepadanya.
Theo mengangguk mengerti sebelum meninggalkan ruangan Deehan.
***
Mikha berhasil tiba di ruangannya, di mana Earlene terlihat sedang merapikan arsip yang di pintahkan oleh Celine.
“Bagaimana?” tanya Earlene.
Mikha mulai memaksa otaknya kembali berpikir setelah mendapat alamat milik Rio Yamusa di Jepang.
Mikha meminta Earlene berbohong untuk dirinya. Mikha pun menjelaskan pada Earlene kalau besok subuh ia akan terbang ke Jepang demi bertemu dengan Rio Yamusa. Mikha meminta Earlene berbohong bahwa besok dirinya tidak masuk kantor karena sedang terserang flu. Sedangkan untuk alasan yang akan di berikan pada Nino akan ia pikirkan malam nanti.
“Apa kamu yakin, Mikha?---Aku takut kalau kita nanti akan ketahuan..” ungkap Earlene jujur.
“Hanya ini jalan satu-satunya, Len!” balas Mikha yakin.
“Aku juga tidak mungkin membiarkan hal ini ketahuan oleh Noah ataupun Deehan---Aku bisa di amuk sama ayah ku juga!” lanjut Mikha khawatir.
“Maafkan Aku, Mikha---semua ini karena kecerobohan ku..” ucap Earlene merasa bersalah.
“Ssstt!! Semuanya sudah terjadi, tidak ada yang boleh di sesal kan----yang harus kamu lakukan besok hanya melindungi ketidakhadiran ku di Capitaland, okay?” pinta Mikha.
“Kalaupun tidak ada yang mempertanyakannya, diam saja!” lanjut Mikha.
Earlene mengangguk patuh dan melanjutkan kembali pekerjaanya yang di pintakan oleh Celine. Sedangkan Mikha membuka laptopnya dan mencari tiket penerbangan subuh besok menuju Jepang setelah mengantongi alamat dari Rio Yamusa.
Sepanjang hari Mikha terlihat gelisah menanti hari esok berharap semuanya berjalan sesuai dengan pengharapannya.
Mikha dan Earlene berpisah setelah melakukan kewajibannya di Capitaland. Sebelum berpisah Earlene meminta Mikha untuk terus menghubunginya sebelum keberangkatannya besok subuh ke Jepang.
“Ingat pesan Aku, Len!” ucap Mikha pada Earlene.
Earlene mengangguk sebelum masuk ke dalam mobilnya.
***
Di tempat lain, Sein memberitahu Noah kalau sekretaris Rio Yamusa menanyakan lukisan apa yang akan di kirim pihak Capitaland kepadanya. Mendengar hal tersebut tentu saja membuat Noah bingung dan tak mengerti.
“Apa yang kau bicarakan?” tanya Noah.
“Aku hanya menyampaikan apa yang di katakan Ms. Mizuhara di panggilan tadi” balas Sein.
“Lukisan? Lukisa apa? Coba kau sambungkan lagi dengannya!” pinta Noah.
Sein mengikuti perintah Noah dengan menghubungi Aiko Mizuhara untuk memperjelas semuanya, di mana Noah yang tak ingin ada kesalahan sekecil apapun menjelang hari pameran tersebut dan kehilangan valuenya di hadapan Deefan.
Panggilan itu berhasil terhubung, Noah meminta Aiko menjelaskan secara detail kepadanya. Sesuai dengan permintaan Noah, Aiko memberitahunya kalau wanita yang dalam panggilan tadi yang mengatakan hal tersebut padanya.
Noah tercekat dan terdiam sembari berpikir sejenak kenapa Mikha menyembunyikan hal ini padanya. Tak ingin memojokkan Mikha di depan Aiko, ia pun berusaha mengikuti alur tersebut sembari meminta Sein untuk mencari tahu alasan Mikha melakukan hal tersebut.
Noah mengakhiri panggilannya dengan Aiko dan membenarkan kalau pihak Capitaland memang akan mengirimkan sebuah lukisan pada Rio Yamusa demi melindungi Mikha.
Tanpa membuang waktu, Noah meminta Sein untuk mencari tahu kebenarannya. Lalu tiba-tiba saja ia teringat dengan lukisan tersebut.
“Sein ikut Aku!” pinta Noah yang saat itu masih berada di Capitaland.
Sein mengikuti Noah dari belakang menuju ruang penyimpanan lukisan tersebut.
Betapa terkejutnya Noah dan juga Sein saat menarik kain putih yang menutupi lukisan tersebut dan mendapati lukisan milik Rio Yamusa di penuhi cat hingga tak dapat di kenali dan tak dapat di katakana sebagai sebuah karya yang luar biasa.
Tak ada kata yang terucap dari bibir keduanya selain saling bertukar pandang. Sein mendekat dan ingin memastikannya secara detail. Namun lukisan satunya yang juga masih karya dari Rio masih sempurna seperti sebelumnya.
*****