PART 20. SEMUA DI BUAT KHAWATIR

1553 Kata
Sein mengikuti Noah dari belakang menuju ruang penyimpanan lukisan tersebut. Betapa terkejutnya Noah dan juga Sein saat menarik kain putih yang menutupi lukisan tersebut dan mendapati lukisan milik Rio Yamusa di penuhi cat hingga tak dapat di kenali dan tak dapat di katakana sebagai sebuah karya yang luar biasa. Tak ada kata yang terucap dari bibir keduanya selain saling bertukar pandang. Sein mendekat dan ingin memastikannya secara detail. Namun lukisan satunya yang juga masih karya dari Rio masih sempurna seperti sebelumnya. “Apa ini alasan Mikha?” ucap Noah menerka-nerka. “Apa yang kau pikirkan?” tanya Noah pada Sein. Sein pun memberitahu Noah akan isi pikirannya. Yang berpikiran, Mikha sedang mencari cara untuk menyelesaikan permasalahan lukisan tersebut, namun ia tak tahu solusi yang ada di pikiran Mikha. Lalu Noah meminta Sein menghubungi Aiko kembali memastikan percakapan keduanya demi menebak apa yang mungkin saja akan di lakukan oleh Mikha. Aiko yang tak menaruh rasa curiga apapun memberitahu Noah semua percakapannya dengan Mikha. Setelah Aiko yang menjelaskan pada Noah kalau ia memberitahu alamat Rio pada Mikha, Noah seketika merasa dapat menebak kalau mungkin saja Mikha nekat untuk bertemu dengan Rio dan memohon padanya. “Walaupun Aku tidak yakin sepenuhnya, tapi Aku rasa Mikha memiliki keberanian melakukan hal tersebut” ucap Noah setelah mengakhiri panggilannya dengan Aiko. “Kita tunggu sampai besok saja, Tn. Noah untuk memastikannya” ungkap Sein. Noah mengangguk dan meninggalkan ruangan lukisan tersebut. Tak lupa ia meminta Sein untuk menutup kembali lukisan tersebut demi melindungi Mikha. Di mana Noah yang beranggapan kalau Mikha lah yang merusak lukisan tersebut, sedangkan kenyataan berbeda dengan anggapannya bahwa Earlene lah yang merusak lukisan milik Rio Yamusa. Noah juga memerintahkan Sein bahwa tak ada boleh satupun staff di Capitaland yang boleh masuk ke dalam ruang lukisan tersebut sampai permasalahan ini terselesaikan. “Ingat, Sein! Larang semua staff mendekati ruangan tersebut, kau paham!” pinta Noah tegas. “Aku tidak ingin permasalahan ini di ketahui oleh Tn. Deefan ataupun Deehan---tidak ada yang boleh memojokkan Mikha di Capitaland selama ada Aku!” lanjut Noah. “Baik, Tn. Noah” balas Sein mengangguk sambil berjalan di belakang Noah. Noah meninggalkan Capitaland dengan pikiran yang masih tertuju pada Mikha. Di mana Noah yang khawatir kalau permasalahan lukisan itu sampai di telinga Deefan, Deefan akan mendepak Mikha dari Capitaland dan membuat Noah jauh dari Mikha sekaligus mempengaruhi kinerjanya di hadapan Deefan. Sein mengemudikan mobil tersebut menuju apartemen Noah. *** Mikha mempersiapkan semuanya, di mana ia sudah terbangun saat hari masih gelap. Ia menatap jam yang melekat di dinding kamarnya yang kini menunjukkan pukul 03.40 dini hari lalu ia memastikan tiket penerbangannya pada pukul 05.20 pagi. Keberangkatannya kali ini tidak di ketahui oleh siapapun kecuali Earlene, bahkan Mikha juga tak mengatakan hal tersebut kepada Nana kakaknya. Mikha begitu gelisa menjalani aktifitasnya yang akan ia lakukan hari ini, Mikha terus memandang jam dinding itu yang terus berputar dan semakin mendekat pada waktu yang di mana ia harus berangkat menuju banndara. Berpakaian seperti biasanya saat ia akan berangkat ke Capitaland, namun yang berbeda hanya dengan tas yang ia pakai yang lebih besar dari sebelumnya. Mikha menuju kamar Nana untuk memberitahunya kalau ia akan berangkat lebih pagi dari sebelumnya. Mengetuk kamar sang kaka dan masih mendapati Nana tertidur pulas di atas tempat tidurnya. Mikha menggoyangkan tubuh Nana hingga perlahan mata itu sedikit terbuka. “Ada apa, Mikha?” tanya Nana yang belum sepenuhnya sadar. “Kak.. Aku ada urusan sama penelitian ku---nanti tolong sampaikan sama ibu dan ayah kalau sarapan nanti, Aku di jemput Earlene dia sudah ada di depan, okay!” jelas Mikha berbohong. Nana yang tak curiga sama sekali dengan adiknya hanya membalasnya dengan anggukan dan melanjutkan kembali tidurnya. Setelah menyampaikan kepada Nana agar tidak membuat Naura dan Nino khawatir pagi nanti yang tidak melihatnya sarapan bersama, Mikha dengan lega meninggalkan rumahnya yang masih sepi. Menuju ke bandara seorang diri di mana langit yang masih terlihat gelap. Mikha menghela napas kasar sambil berdoa berharap semuanya berjalan sesuai dengan pengharapannya. Ia mengecek kembali alamat Rio Yamusa yang ia simpan di note dalam ponsel miliknya. Mikha juga tak lupa mengirimkan pesan kepada Earlene yang memberitahu kalau saat ini dirinya sedang menuju ke bandara. Setibanya di bandara, Mikha bersyukur kalau penerbangannya tidak mengalami keterlambatan dan sesuai dengan jadwal yang ia pesankan. *** Earlene telah tiba di Capitaland, tak seperti biasanya ia yang terlihat ceria saat berada di Capitaland. Hari ini ia terlihat mencurigakan karena pandangannya yang terus saja mengamati di sekitarnya, ia mempercepat langkahnya agar tak ada satupun yang menanyakan Mikha kepadanya. Perasaannya lega setelah berhasil tiba di dalam ruangannya, ia membuka laptopnya mengamati dua objek penelitiannya yang telah ia selesaikan bersama dengan Mikha. Lalu tiba-tiba saja ia di kejutkan dengan kedatangan Noah dan juga Sein. Mata Earlene membulat, bibirnya berubah pucat serta detak jantungnya yang berdegub kencang melihat Noah serta Sein di hadapannya dengan wajah yang terlihat sangat serius. “Di mana Mikha?” tanya Noah tanpa basa-basi. “Ah---hm, Mikha sedang sakit di rumah” balas Earlene gugup. “Sakit? Sakit apa?” tanya Noah kembali yang masih curiga. “Katanya dia terserang flu---dia tadi pagi mengirimkan ku pesan” balas Earlene semakin gugup. “Kamu jangan bohong!” tegas Noah. Namun Earlene tetap kekeuh dengan jawabannya mengingat Mikha yang memintanya untuk melindunginya. “Aku tadi ketemu dengan Tn. Nino---dia mengatakan kalau Mikha berangkat lebih dulu sama kamu untuk menyelesaikan penelitian ketiganya!” ungkap Noah yang sudah kesal karena Earlene yang tak mengatakan sejujurnya padanya. Melihat ekspresi Noah yang berubah kejam yang tak pernah ia lihat sebelumnya membuat nyali Earlene menciut dan mengatakan semuanya pada Noah. Earlene berlutut di hadapan Noah sembari menangis dan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Earlene meminta maaf dan bermohon agar tidak melibatkan Mikha dalam permasalahan lukisan tersebut. Earlene memberitahu Noah kalau dia lah yang merusak lukisan Rio Yamusa tersebut. Ia juga menjelaskan pada Noah kalau Mikha melakukan ini juga demi melindungi reputasi Nino di Capitaland, di mana ia yang tak ingin membuatkan Nino masalah karena kehadirannya di sini. Namun Noah tak ingin mendengar banyak penjelasan Earlene. “Aku hanya ingin tau di mana sekarang keberadaan, Mikha!” pinta Noah kesal dan juga khawatir pada Mikha. Earlene kembali jujur mengatakan kalau subuh tadi Mikha berangkat ke Jepang untuk bisa bertemu dengan Rio Yamusa dan memintanya untuk membuat lukisan baru lagi sebagai pengganti lukisan untuk hari pameran tersebut. Noah menghela napas kasar lalu meninggalkan Earlene begitu saja yang masih berlutut di hadapannya. Perasaan khawatir itu sangat menyiksa Noah, Sein mengikuti Noah. Noah memerintahkan Sein untuk segera mengantarkannya ke bandara demi menyusul Mikha ke Jepang. Noah juga berpesan pada Sein bahwa kepergiannya kali ini tidak boleh di ketahui oleh siapapun termasuk Deefan. “Kau cari saja alasan kalau Tn. Deefan ataupun Deehan mencari ku! Dan ingat Aku tidak ingin mereka berdua tau soal lukisan tersebut selagi Aku menyusul Mikha ke Jepang” jelas Noah. “Kau selesaikan semua urusan ku di sini selagi Aku pergi----dan yah! Bantu Aku berpikir bagaimana cara untuk mengulur waktu pembukaan pameran nanti—Aku khawatir permasalahan ini akan memakan waktu” lanjut Noah. Sein mengangguk mengerti sembari mengikuti Noah menuju basement Capitaland. Sekilas keduanya berpapasan di antara pintu basement, di mana Deehan yang baru tiba di Capitaland bersama Theo. Deehan hanya melirik tipis namun tetap melanjutkan langkahnya masuk. Sein mengantarkan Noah menuju bandara setelah memesankan tiket untuknya. “Apa Anda yakin, Aku tidak perlu ikut bersama Anda?” tanya Sein. “Iya tidak perlu! Kau hanya perlu di sini menyelesaikan urusan ku! Aku bisa sendiri menyelesaikan urusan Mikha” jelas Noah. Sein mengangguk patuh dan berhasil mengantarkan Noah tiba di bandara. “Tolong hati-hati, Tn. Noah” ucap Sein sebelum membiarkan Noah pergi meninggalkannya. “Kabari Aku setiap perkembangan di Capitaland okay!” balas Noah. Sein menatap kepergian Noah hingga punggung lebar itu berhasil hilang dari pandangannya. Setelah kepergian Noah, Sein kembali melajukan mobil dan menuju ke Capitaland. Berbeda dengan Deehan, ia baru saja tiba di Capitaland di ikuti Theo menuju ruangannya. Suasana Capitaland terlihat seperti biasanya, Deehan mengerjakan pekerjaan serta tanggung jawabnya. Ia memeriksa beberapa berkas serta laporan, ia juga menanyakan prosesi pameran seni itu yang semakin mendekat. Deehan menghubungi Celine untuk menanyakan semuanya. Dalam panggilan tersebut, Celine menjelaskan lebih detailnya. Namun ada beberapa yang masih belum mencapai tahap akhir, tentu saja Deehan menanyakan kendala tersebut mengingat keberhasil pameran ini sangat penting baginya agar mendapat pengakuan dari sang ayah. Celine menjelaskan kalau beberapa belum dapat terselesai hari ini karena salah satu mahasiswi magang itu tidak masuk sehingga membuat Celine sendiri yang kembali mengambil alih pekerjaan tersebut. Mendengar penjelasan Celine akan salah satu mahasiswi magang membuat Deehan meminta kejelasan siapa yang di maksudkan Celine. Mendengar nama Mikha yang terdengar dari bibir Celine membuat Deehan seketika khawatir dan mengakhiri panggilannya. Deehan memanggil Theo memintanya ke ruangan Mikha dan memperjelas semuanya pada Earlene. Mendapat perintah dari Deehan membuat Theo menuju ruangan Mikha serta Earlene. Tidak memakan waktu yang lama, Theo pun kembali dan membenarkan perkataan Celine. “Mikha sakit?” tanya Deehan memperjelasnya kembali. “Menurut Earlene seperti itu, Tn. Deehan---Mikha terserang flu” jelas Theo. Deehan yang ingin memastikan hal tersebut menuju ruangan Nino sambil membawa map laporan yang akan ia jadikan alasan kedatangannya ke ruangan Nino. Seperti biasanya, Theo mengikuti Deehan tepat di belakangnya. Setibanya di ruangan Nino yang juga terlihat sedang sibuk dengan pekerjaannya, namun Deehan tidak dapat mengurungkan niatnya demi mendapat kejelasan dari Nino. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN