Hari menjelang siang dimana seperti percakapan sore kemarin, Anastasia yang akan menggantikan Nana hari ini untuk melakukan pemeriksaan rutin kepada setiap pasien. Dan kali ini Anastasia akan menggantikan Nana untuk memeriksa kondisi kesehatan pasien yang kemarin di ceritakannya, pasien yang selalu saja menggodanya.
Anastasia di ikuti seorang perawat di sebelahnya masuk ke dalam kamar rawat Ezra. Ezra yang sedang terbaring menatap Anastasia yang sedang berjalan mendekat kearahnya.
Anastasia mengukir senyum tipis di sudut bibirnya. Ia menatap Ezra dan memuji ketampanannya. Terkaan yang sebelumnya kini berubah setelah melihat wajah Ezra secara langsung yang benar tampan.
"Apa Anda dokter yang akan memeriksa ku?" tanya Ezra memastikan.
"Ya" balas Anastasia singkat sembari mengangguk.
"Dimana dokter Nana?" tanyanya kembali penasaran.
"Dr. Nana sedang ada operasi hari ini, jadi Aku yang menggantikannya untuk memeriksa Anda" balas Anastasia sembari menyuntikan antibiotik ke dalam selang infus Ezra.
Ezra hanya dapat mengangguk mengerti mendengar penjelasan Anastasia. Tak seperti yang di katakan Nana sebelumnya, sikap Ezra tak memperlihatkan sedang menggoda Anastasia. Ezra hanya memperhatikan Anastasia yang juga melemparkan tatapan menyelidik kearahnya.
Setelah ia selesai menyuntikkan anti biotik tersebut, Anastasia kembali meninggalkan kamar rawat Ezra.
Kepergian Anatasia membuat Ezra berpikir apakah sikapnya yang sering menggoda Nana membuat dokter tersebut risih dan tak lagi ingin merawatnya. Pikiran itu terus memenuhi kepala Ezra, hingga membuatnya sulit berkonsentrasi siang ini.
Anastasia berhasil meninggalkan kamar rawat Ezra, setelah kepergiannya ia terlihat bersemangat untuk mendatangi ruangan Nana. Berjalan dengan langkah besar membuat Anastasia tiba di ruangan Nana. Namun ruangan tersebut masih saja kosong, mengingat ia dan Nana sudah bertukar jadwal. Nana belum selesai dengan jadwal operasinya.
Anastasia menunggu Nana diruangannya, hampir satu jam ia menunggu dimana jadwalnya yang memang lowong hingga pada akhirnya Nana tiba diruangannya.
Melihat Nana yang membuka pintu ruangannya, wajah lesu Anastasia yang sejak tadi menunggunya berubah menjadi lebih bersemangat. Ia beranjak dari kursinya dan tiba-tiba saja bersorak membuat Nana bingung dan tertawa melihat tingkah konyolnya.
"Kamu kenapa?" tanya Nana.
"Aku sudah melihat pasien yang sering menggoda mu itu---dia benar-benar tampan, Nana! Apa kamu tidak merasakan ketampanannya?" ungkap Anastasia terpesona pada Ezra.
Nana kembali tertawa melihat respon Anastasia yang tak disangkanya.
"Jujur Aku akan mendukung mu kalau kamu bersama dia" lanjutnya.
Nana tertawa terpingkal-pingkal mendengar perkataan Anastasia yang terlalu bersemangat.
"Hey.. kamu ini kenapa?! Aku tidak mungkin sama dia, Ana! Kamu ini aneh-aneh saja" sela Nana.
"Apa yang tidak mungkin?---dia juga tidak menggoda ku tadi saat Aku memeriksanya, sepertinya benar yang di katakan Joanna dia hanya tertarik pada mu saja" jelas Anastasia
Nana terdiam mendengar perkataan Anastasia, namun tetap saja yang membuat jantungnya berdebar-debar saat ini hanya Jarvis.
"Sudahlah.. jangan membahasnya lagi---lagi pula kamu sudah melihatnya kan? Rasa penasaran mu sudah terpenuhi kan sekarang?" tanya Nana sembari tertawa.
Anastasia mengangguk dan kembali melontarkan kalimat yang sama, berharap lelaki itu memang menaruh hati pada sahabatnya.
***
Nana mengemudikan mobilnya menuju rumah setelah menyelesaikan jadwal operasinya hari ini. Mengingat Naura yang tadi menghubunginya dan memberitahunya kalau Nino sudah pulang dari Jepang.
Nana mempercepat laju mobilnya hingga ia berhasil tiba dirumahnya. Mikha juga sudah berada dirumah setelah menyelesaikan penelitiannya. Mikha yang enggan turun karena hatinya yang masih ragu untuk memberitahu ayahnya kalau ia sedang melakukan penelitian di capitaland. Bahkan Nana dan juga Naura belum mengetahui hal tersebut.
"Mikha!" teriak Nana sambil mengetuk pintu kamar adiknya.
"Ibu dan ayah memanggil mu makan malam bersama---cepat turun!" lanjut Mikha meneriaki Mikha dari balik pintu kamarnya.
Tak memiliki pilihan lain, Mikha memberanikan turun sambil memikirkan kalimat apa yang akan ia katakan pada ayahnya.
Naura terlihat sedang menyiapkan meja makannya, dimana Nino sudah duduk menunggu kedua putrinya untuk makan malam bersama, setelah hampir seminggu ia tidak makan malam bersama istri dan anak-anaknya.
"Bagaimana kemarin di Jepang?" tanya Naura.
"Pekerjaannya lancar?" lanjut sang istri.
"Iya.. semua investor menyetujui isi kontraknya" balas Nino puas.
"Bagaimana dengan operasi mu, Nana?" lanjut sang Ayah menanyakan pekerjaan putri sulungnya.
"Lancar juga.. hanya saja mulai besok Aku sangat sibuk di rumah sakit mungkin akan selalu terlambat pulang kerumah" jelas Nana dengan wajah lesunya.
Mendengar penjelasan Nana membuat Nino terlihat menyemangati putri sulungnya. Walaupun terlihat keras dan juga tegas, Nino begitu mencintai kedua putrinya. Mikha yang selalu bersitegang dengan ayahnya, namun Nino selalu mengkhawatirkan putri bungsunya tersebut.
"Bagaimana dengan kamu, Mikha? Kuliah kamu?" tanya Nino beralih pada Mikha.
"Hm.. baik-baik aja----sangat baik!" balas Mikha sembari mengangguk menatap kearah Nino.
Nino melanjutkan makan malamnya di ikuti Naura dan kedua putrinya. Mikha yang terlihat gelisah dengan isi kepala yang terus mengganggunya. Dimana ia bingung apakah ia harus jujur pada ayahnya malam ini atau menunggu waktu yang pas untuk mengatakan sejujurnya.
Mikha menyelesaikan makan malamnya lebih dulu dan meninggalkan meja makan lalu disusul oleh Nana.
Dengan perasaan yang gelisah Mikha menuju kamarnya, bahkan ia mengabaikan panggilan Nana yang sejak tadi memanggilnya. Nana merasakan ada yang disembunyikan Mikha darinya hingga ia memutuskan untuk masuk ke dalam kamar adiknya.
Nana mengetuk pintu kamar Mikha lebih dulu sebelum ia masuk ke dalamnya.
"Ada apa?" tanya Mikha terkejut.
"Apa kamu ada masalah?" tanya Nana duduk disamping adiknya.
"Tidak ada" balas Mikha berbohong.
"Lalu kenapa kamu tampak gelisah?" tanya kembali.
"Aku hanya memikirkan tugas ku saja---proposalnya sangat sulit" jelas Mikha yang masih saja berbohong pada kakaknya.
Setelah mendapat jawaban dari sang adik, Nana kemudian keluar dan meninggalkan kamar Mikha. Mikha mengelus dadanya setelah melihat kepergian Nana meninggalkan kamarnya.
***
Tepat seminggu Mikha menjalani penelitiannya di capitaland. Mikha berangkat lebih awal dari pada Nino menuju capitaland, sepanjang jalan ia sangat gelisah dengan pikiran buruk yang memenuhi kepalanya.
"Bagaimana kalau ayah melihat ku disana?"
"Bagaimana kalau ayah menyuruh ku berhenti melakukan penelitian itu?"
"Bagaimana kalau ayah membuat ku malu di depan Earlene?"
"Astaga.. bagaimana ini, Mikha! Apa yang akan kamu lakukan sekarang?"
Pikiran itu terus saja memenuhi kepala Mikha sepanjang perjalanannya menuju capitaland. Setibanya disana, Mikha dengan cepat menuju ruangannya. Ia juga mendengar percakapan para staff yang membicarakan tentang kepulangan Nino dari Jepang.
"Tn. Nino sudah kembali dari Jepang---kamu bisa membawa laporan mu untuk di periksa beliau" ucap salah seorang staff yang sedang berbincang di dalam lift bersama Mikha.
Mikha lebih dulu mencapai ruangannya dan masih belum mendapati Earlene disana. Mikha menghela napas kasar memikirkan caranya berkeliaran di capitaland tanpa sepengetahuan ayahnya.
Kedatangan Earlene mengejutkan Mikha dan membuatnya menatap bingung dengan ekspresi sahabatnya.
"Ada apa dengan mu?" tanya Earlene sembari duduk di kursinya.
"Oh iya, tadi Aku melihat Tn. Nino baru saja datang---Aku ingin menyapanya tapi terlihat beberapa staff berjalan dengannya.." lanjut Earlene.
Mata Mikha membulat, mulutnya terbuka serta napasnya yang tercekat mendengar ucapan Earlene. Namun ia di buat lega setelah Earlene yang tak sempat menyapa ayahnya. Dimana jika Earlene melakukan hal tersebut, Nino sudah pasti akan menanyakan apa yang di lakukan Earlene di capitaland.
Mikha dibuat tidak fokus dengan kembalinya Nino di capitaland setelah perjalanan bisnisnya selama seminggu di Jepang.
"Bagaimana Aku akan melewati hari-hari ku di capitaland?" batin Mikha gelisah.
Di ruangan yang berbeda tepatnya diruangan Nino, terlihat beberapa map yang harus diperiksa serta ditandatangani oleh Nino selaku manajer keuangan di capitaland. Nino yang selalu fokus pada pekerjaannya, bahkan ia selalu saja berhasil mendapatkan kesalahn kecil dari laporan keuangan perusahaan raksasa tersebut.
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Nino. Deehan yang muncul dibalik pintu tersebut bersama dengan Theo asisten pribadinya membuat Nino menyingkirkan berkas tersebut dan beranjak dari kursi kerjanya menuju Deehan yang kini sudah duduk di sofa ruangannya.
"Selamat pagi Tn. Deehan" sapa Nino sopan.
"Ya.. selamat pagi, Tn. Nino---Aku kesini hanya ingin mengetahui hasil akhir dari perjalanan bisnis mu kemarin di Jepang? Apakah semuanya berjalan dengan baik?" tanya Deehan pada inti kedatangannya keruangan Nino.
"Iya. Semua investor menyetujui perjanjian tersebut. Tn. Kelsey juga meminta ku untuk membuat sebuah pameran yang akan mengundang beberapa investor perusahaan kita" jelas Nino.
Deehan mengangguk mengerti. Deehan juga berterima kasih atas kerja keras Nino yang selalu berhasil memuaskannya dan juga Deefan, ayahnya.
Lalu Deehan tiba-tiba saja menyinggung soal putri Nino, setelah ia yang tak sengaja kembali melihat potret Nino bersama kedua putrinya di atas meja kerjanya. Setelah melihat lebih seksama wanita yang disamping Mikha, Deehan menyadari wajah familiar itu.
"Aku ingin menanyakan sesuatu pada mu, tapi mungkin ini di luar konteks mengenai pekerjaan" ungkap Deehan.
"Silahkan saja, Tn. Deehan.." pinta Nino mengijinkan.
"Apa salah satu putri mu seorang dokter?" tanya Deehan memastikan terkaannya.
Mendengar pertanyaan Deehan yang menanyakan tentang putrinya, Nino juga menoleh kearah potret tersebut mengikuti arah pandangan Deehan. Nino membenarkan pertanyaan Deehan mengenai pekerjaan Nana yang merupakan seorang dokter di rumah sakit Elizabeth. Setelah mendapat pernyataan dari Nino, Deehan sangat yakin kalau dokter yang sering di goda Ezra adalah salah satu putri Nino.
Karena Deehan yang sudah terlanjur membahasnya, ia kemudian beralih menanyakan pekerjaan putri Nino yang lainnya. Nino juga memberitahu Deehan kalau putri bungsunya masih sedang berkuliah saat ini, mendengar pernyataan Nino, Deehan menyakini kalau saat ini Nino masih belum mengetahui kalau Mikha sedang melakukan penelitiannya di capitaland.
"Apa Tn. Nino tau kamu melakukan penelitian di kantor?"
"Mana mungkin? Kalau ayah ku tau, dia pasti akan memarahi ku---bagaimana tidak? Tapi, Aku tidak memiliki pilihan lain selain---"
"Selain apa?"
"Hm, tidak. Tidak apa"
Deehan kembali teringat dengan percakapannya dengan Mikha beberapa hari yang lalu saat keduanya berada di Capital Art Gallery.
Setelah menjawab semua pertanyaan dari Deehan, Nino kembali menanyakan alasan Deehan menanyakan hal tersebut padanya.
Deehan memberitahu Nino kalau saat ini Ezra sedang di rawat dirumah sakit Elizabeth dan kebetulan putri sulung Nino yang menjadi salah satu dokter yang tengah merawatnya. Mendengar perkataan Deehan, Nino baru mengetahui kalau Ezra mengalami kecelakaan setelah kepergiannya seminggu lalu di Jepang.
Nino juga mengenali Ezra mengingat Ezra yang juga sering hadir jika capitaland sedang mengadakan pameran ataupun acara lain. Dimana ayah Ezra juga yang merupakan salah satu pemegang saham di capitaland.
"Aku tidak tau kalau Tn. Ezra sedang di rawat dirumah sakit" ungkap Nino jujur.
"Apa Anda sudah bertemu dengan putri ku?" lanjutnya.
"Hm iya.. Aku tak sengaja melihat foto di atas meja itu lalu teringat dengan wajah dokter yang selalu datang di kamar rawat Ezra----ternyata dia adalah putri mu.." jelas Deehan.
"Apa mungkin ada sikap putri ku yang menying---"
"Tidak! Tidak, Tn. Nino. Sikap putri mu sangat baik, dia juga terlihat ramah pada setiap pasiennya. Aku menanyakan ini memang karena ingin memastikan saja foto yang di atas sana" sela Deehan.
Mendengar perkataan Deehan membuat Nino mengerti. Dimana sikap Nana memang seperti yang disebutkan Deehan, berbeda dengan Mikha yang selalu membuat kepalanya pusing.
"Sikap putri sulung ku memang sedikit lebih bisa pahami dari pada putri bungsu ku lagi.." ucap Nino sembari tertawa.
Deehan sedikit terkejut mendengar Nino yang tiba-tiba saja menyinggung soal putri bungsunya. Deehan mengambil kesempatan itu untuk mencari tahu lebih banyak tentang sikap Mikha.
"Putri bungsu ku lebih susah di atur, dia juga sering membuat kepala ku sakit---tapi dia anak yang sangat ceria, dia selalu seakan bisa menjaga kakaknya. Padahal dia juga sedikit ceroboh" jelas Nino tertawa kecil.
"Aku selalu tertawa setiap mengingat tingkahnya terkadang juga marah dan kesal" lanjutnya.
Deehan terlihat tertarik mendengar ucapan Nino yang menceritakan tentang Mikha, namun kisah itu harus terhenti saat seorang staff datang mengingatkan Nino kalau beberapa laporan yang ada di mejanya sudah harus di terima oleh Tn. Noah sebelum jam makan siang.
Karena hal tersebut, Deehan harus mengakhiri rasa penasarannya dengan meminta Nino untuk menyelesaikan tanggung jawabnya.
Deehan meninggalkan ruangan Nino dengan kisah menarik tentang kehidupan Mikha sebagai anak bungsu dari keluarga Nino Azel Ruby.
Disaat yang bersamaan saat Deehan yang akan naik menuju ruangannya, ia mendapati Mikha yang sedang berada di dalam lift lebih dulu dengan sebuah kertas yang menutupi wajahnya, alih-alih mewaspadai kalau saja dirinya akan bertemu dengan Nino saat berada di lift.
Setelah memastikan kalau yang baru saja masuk ke dalam lift bukan ayahnya, Mikha menurunkan kertas itu sembari menghela napas kasar.
Deehan menoleh kebelakang dan mendapati Mikha, wanita yang tengah memegang kertas tadi menutupi wajahnya.
"Apa kamu melakukannya karena takut kalau saja Tn. Nino yang memencet tombol lift itu?" ucap Deehan dengan wajah datarnya.
Mikha hanya menatap Deehan dengan wajah kesal. Karena Deehan berhasil mengetahui apa yang dilakukan Mikha saat ini.
"Aku baru saja keluar dari ruangan Tn. Nin---"
"Apa kamu memberitahunya Aku melakukan penelitian di kantornya?" sela Mikha mendahului.
"Menurut mu apa yang akan ku katakan padanya?" tanya Deehan kembali yang membuat Mikha semakin kesal.
"Ih... kamu ini!" keluh Mikha.
"Apa yang kamu pegang itu?" tanya Deehan.
Mikha memberitahu Deehan kalau Noah memintanya untuk mengantarkan berkas yang baru saja di ambilinya pada salah seorang staff. Mendengar jawaban dari Mikha, Deehan meminta Theo untuk mengambil berkas tersebut dan menyuruhnya membawa kepada Noah.
"Aku dan Theo kebetulan memang mau keruangan Noah---biar Aku saja yang membawanya" ucap Deehan.
Namun Mikha enggan memberikan berkas tersebut pada Deehan mengingat Noah sendiri yang meminta hal tersebut padanya. Deehan menghela napas kasar setelah melihat aksi Mikha yang ingin membawa berkas tersebut pada Noah.
"Baiklah terserah kamu saja! Lagi pula Tn. Nino juga sedang bergegas ke ruangan Noah---tadi dia memberitahu ku untuk menunggunya di----"
Tanpa mendengarkan akhir dari perkataan Deehan, Mikha tanpa berpikir menyodorkan berkas tersebut pada Theo. Hal itu membuat Deehan merasa puas dan berusaha menahan raut wajahnya yang seakan ingin menertawai aksi dari Mikha.
"Dengar! Kamu tidak boleh memberitahu ayah ku kalau Aku sedang melakukan penelitian disini---hm, Aku mempunyai alasan mela---"
"Alasan apa?" sela Deehan penasaran.
Namun sayangnya percakapan itu harus di hentikan keduanya melihat lift yang sudah berada di lantai dua belas tepat ruangan Noah berada. Mikha mendorong Deehan serta Theo keluar dari lift, mewaspadai kalau Nino tiba-tiba saja muncul dari lift di depannya.
Deehan menatap wajah Mikha yang perlahan-lahan hilang dari balik pintu lift itu yang akan tertutup dan kembali turun menuju lantai tujuh tempat dimana ruangannya berada.
"Apa anak itu tidak tau kalau Anda seorang CEO perusahaan ini dan anak tunggal dari Tn. Kelsey?" ucap Theo yang terlihat kesal dengan sikap tidak sopan Mikha pada Deehan.
"Biarkan saja---nanti juga dia akan mengetahuinya sendiri" balas Deehan sembari tersenyum tipis.
Deehan memberikan berkas tersebut pada Theo dan memintanya untuk memberikannya pada Noah.
"Kau cari saja alasan yang pantas untuk memberikan berkas ini padanya" ucap Deehan berjalan lebih dulu meninggalkan Theo yang masih berdiri di depan pintu lift.
*****