Seperti biasanya ruangan kerja Nino dipenuhi dengan beberapa map file yang sudah menjadi tanggung jawabnya. Nino terlihat begitu serius memeriksa satu per satu map file serta laporan yang diberikan padanya. Namun tampaknya salah satu berkas laporan mengalihkan perhatiannya, dimana di dalam laporan tersebut menuliskan nama putri bungsunya yang sedang melakukan penelitian di Capital Art Gallery. Melihat hal tersebut, Nino membaca laporan tersebut hingga dua kali untuk memastikannya.
Wajah Nino seketika itu berubah, ia terlihat marah setelah membaca isi laporan tersebut. Ia menghubungi sekretarisnya untuk memastikannya langsung. Setelah ia menunggu kabar, sekretarisnya juga tak menyangka kalau Mikha berada di capitaland menjalankan penelitiannya bersama dengan teman kampusnya.
Setelah memastikan hal tersebut, Nino beranjak dari kursinya untuk pergi menemui Mikha diruangan yang telah di beritahu oleh sekretarisnya.
"Kau tunggu saja disini.." pinta Nino pada sekretarisnya.
Dengan langkah yang jenjangnya, Nino berjalan menuju lift yang akan membawanya menuju lantai tujuh dimana ruangan Mikha dan juga Earlene berada. Di saat yang sama dimana Nino sedang masuk ke dalam lift, Deehan baru saja keluar dari lift yang berbeda bersama dengan Theo untuk menuju ruangannya.
Deehan menyisiri ruangan Nino dan hanya mendapati sekretarisnya saja disana.
"Kemana Tn. Nino?" tanya Deehan.
Sekretaris itu menjelaskan pada Deehan kalau putri bungsu Nino sedang melakukan penelitian di capitaland tanpa sepengetahuannya. Mendengar hal tersebut, Deehan sangat terkejut dan berlari menuju lift.
"Tn. Deehan!" teriak Theo.
Namun sayangnya lift itu sudah menutup saat Theo mengejar Deehan.
Lift itu berhasil membawa Deehan tiba di lantai tujuh. Dengan langkah besar ia berjalan dengan cepat menuju ruangan Mikha. Semua staff yang berada di lantai tersebut tengah berdiri dan melihat masuk kearah ruangan Mikha, setelah mereka mendapati Nino yang masuk ke dalam ruangan tersebut. Mengingat Nino yang tak pernah menginjakkan kakinya pada lantai tujuh sebelumnya.
Melihat ekspresi para staff Deehan sangat yakin dengan apa yang dipikirannya saat ini.
Wajah para staff kembali melongo setelah melihat Nino yang masuk kedalam ruangan mahasiswa magang itu, lalu di susul oleh Deehan.
Deehan menarik pintu itu dan mendapati Nino yang sedang memarahi Mikha dan juga Earlene. Kedatangan Deehan diruangan itu mengejutkan Nino, Mikha dan juga Earlene.
"Tn. Deehan?" ucap Nino.
Mikha menoleh kearah Deehan dengan wajah malu.
"Apa yang Anda lakukan disini?" lanjut Nino.
Deehan berusaha mengantur napasnya yang tersegal-segal bersamaan dengan Theo yang juga baru bergabung dalam ruangan tersebut.
"Aku kesini ingin bertemu dengan nona Mikha.." balas Deehan berbohong.
Mendengar perkataan Deehan tentu saja membuat Mikha serta Nino bingung.
"Aku?" tanya Mikha memastikan.
"Iya. Aku ingin menanyakan tentang permintaan Tn. Edward kemarin dengan mu" jelas Deehan kembali berbohong.
Mikha mendapatkan kode yang diberikan Deehan. Ia kemudian menoleh ke arah ayahnya yang masih memperlihatkan wajah kemarahannya, melihat hal tersebut Mikha tanpa pikir panjang ikut dalam kebohongan Deehan demi menolongnya dari amukan Nino. Mengingat Nino yang tak mungkin memperlihatkan amukannya di depan Deehan.
"Apa maksud Anda, Tn. Deehan?" tanya Nino bingung.
Deehan menjelaskan kalau dirinya lah yang meminta Mikha dan juga Earlene melakukan penelitian di Capital Art Gallery. Deehan juga memberitahu Nino Tn. Edward selaku investor perusahaannya begitu menyukai kepintaran Mikha mengenai pengetahuannya tentang beberapa karya seni.
"Aku minta maaf sebelumnya dengan mu, Tn. Nino. Sebelumnya Aku tidak tau kalau nona Mikha adalah putri bungsu mu, Aku baru menyadari hal tersebut setelah kau menjelaskannya beberapa hari yang lalu. Lalu Aku meminta Theo untuk memastikannya.." jelas Deehan.
Mendengar penjelasan Deehan, Nino tak memiliki pilihan lain selain mengendalikan kemarahannya.
Nino menghela napas kasar menatap kearah putrinya yang kini tertunduk patuh tak berani menatapnya.
"Sebelumnya, Aku minta maaf kalau Anda merasa tersinggung melihat sikap ku kepada anak ini..." ungkap Nino tak enak setelah Deehan melihat amukannya kepada Mikha.
"... Aku marah karena dia tidak mengatakan hal ini dari awal pada ku. Pantas saja beberapa hari ini kamu gelisah dirumah, ternyata karena masalah ini!" lanjut Nino mengarah kepada Mikha.
Earlene yang juga ikut dalam pertengkaran itu hanya bisa diam dan merasa bersalah pada Mikha. Earlene menjadi tau alasan Mikha merasa terbebani dengan proposal penelitian miliknya. Bahkan Earlene juga baru tau kalau keberadaan Mikha di capitaland tanpa sepengetahuan Nino.
"Tn. Nino ini semua salah ku... Aku meminta Mikha meloby proposal penelitian ku disini, tapi Aku tidak tau kalau Mikha sebegitu berjuangnya demi penelitian ku kali ini---tolong maafkan kami, Tn. Nino.." sela Earlene yang kini membungkuk dihadapan Nino.
Melihat Earlene yang juga merasa bersalah dan menunjukkan sikap hormat padanya membuat perasaan Nino menjadi lebih tenang.
Mikha masih terlihat takut dan tak berani menatap mata ayahnya. Tangannya juga masih terlihat gelisah, hal itu di dapati oleh Deehan yang kini sedang menatapnya.
"Harusnya dari awal kamu bilang sama ayah, Mikha.." ucap Nino dengan nada yang lebih lembut.
"Maafkan Mikha.. ayah--hm, Mikha takut kalau keberadaan Mikha disini hanya membebani ayah saja. Makanya Mikha menunggu waktu yang pas untuk memberitahu ayah soal penelitian yang Mikah dan Earlene lakukan disini.." jelas Mikha.
"Tetap saja kamu harus memberitahu ayah.." ungkap Nino.
Melihat putrinya yang masih tertunduk di hadapannya membuat perasaan Nino melunak, ia mendekat kearah Mikha dan meraih kedua tangannya.
"Baiklah.. kamu bisa melanjutkan penelitian mu disini bersama dengan teman mu itu. Tapi ingat jangan membuat masalah dan jangan mempermalukan ayah disini, kamu paham?" ucap Nino.
Mendengar perkataan ayahnya, wajah Mikha seketika berubah lega dan ceria kembali. Mikha memeluk Nino dengan penuh semangat. Hal itu juga membuat Deehan menjadi lega, setelah ia mengira kalau Nino akan meminta Mikha mengakhiri masa penelitiannya di capitaland.
Deehan menyenggol tangan Theo memberikan kode padanya.
"Tn. Nino sepertinya sekretarsi Anda sudah lama menunggu diruangan Anda tadi.." sela Theo.
Nino mengangguk mengerti mendengar perkataan Thei. Mengingat dirinya yang masih memiliki pekerjaan yang harus ia selesaikan hari ini.
"Tn. Deehan seperti yang Aku katakan sebelumnya pada Anda kalau putri bungsu ku ini sering membuat ku pusing. Aku meminta maaf kalau saja ada perilakunya yang kurang sopan pada Anda.." ucap Nino.
"Sejauh ini perilakunya masih sopan kepada ku dan tidak membuat kepala ku pusing seperti mu.." balas Deehan sembari tertawa.
Mikha melemparkan tatapan kesal kearah Deehan yang tampak mengejeknya di hadapan Nino.
"Baiklah.. kalau seperti itu, Aku harus kembali menyelesaikan pekerjaan ku.." ungkap Nino.
".. Kerjakan penelitian mu dengan baik" lanjut Nino sambil berbisik kepada Mikha.
"Terima kasih, Tn. Nino.." ucap Earlene yang juga lega.
Nino telah meninggalkan ruangan Mikha dan juga Earlene, kepergiannya juga masih menjadi sorotan bagi para staff yang sejak tadi penasaran dengan apa yang terjadi di dalam ruangan tersebut. Namun mereka masih dibuat penasaran dengan keberadaan Deehan yang masih berada di dalam ruangan tersebut.
Mikha menarik pasokan udaranya yang sejak tadi terasa menghempit rongga dadanya. Ia kemudian beranjak dari sofa setelah tadi hanya duduk dengan wajah menunduk. Ia melirik tipis kearah Deehan yang berdiri di sebelah pintu masuk ruangannya.
"Apa sudah saatnya kamu mengatakan terima kasih pada ku?" ucap Deehan penuh percaya diri.
Mikha yang begitu gengsi mengucapkan terima kasih pada Deehan hanya mengucapkannya dengan nada pelan namun mampu membuat Deehan merasa puas akan hal tersebut.
"Terima kasih, Tn. Deehan---tadi sudah membantu ku dan Mikha.." ucap Earlene dengan nada yang lebih keras hingga membuat Mikha semakin malu.
"Tidak masalah, nona Earlene.." balas Deehan sombong.
"Hey.. kenapa kamu tidak mengatakannya kalau ayah mu tidak tau keberadaan mu disini? kamu tau? tadi jantungku hampir saja berhenti setelah mendengar kemarahan ayah mu.." bisik Earlene yang dapat juga di dengarkan oleh Deehan.
Mikha menyenggol tangan Earlene untuk berhenti membahasnya mengingat Deehan yang masih saja berada di dalam ruangannya.
Theo menyadarkan Deehan yang sejak tadi terus saja menatap Mikha.
"Tn. Deehan, ingat pertemuan kita siang ini.." bisik Theo.
Deehan melirik tipis kearah Theo sembari mengagguk mengerti.
"Baiklah.. sepertinya peran ku disini sudah selesai, hanya saja orang yang ku tolong tidak memiliki rasa terima kasih" ucap Deehan sembari menatap Mikha yang masih tak ingin menoleh kearahnya karena malu. Mengingat sikap Mikha yang selalu kurang sopan padanya.
Deehan melangkah menuju pintu ruangan Mikha, lalu tiba-tiba saja disaat ia berbalik memunggungi Mikha, Deehan mendengar suara yang lembut berterima kasih padanya. Hanya tarikan senyuman disudut Deehan yang membalas ucapan tersebut tanpa ia harus kembali berbalik menatap Mikha.
Deehan dan Theo meninggalkan ruangan Mikha lalu mendapati para staff yang masih menyoroti ruangan tersebut dengan penuh penasaran.
"Apa yang Tn. Nino dan juga Tn. Deehan lakukan diruangan mahasiswi magang itu?"
Sekilas omongan salah seorang staff tersebut terdengar oleh Deehan.
"Yang bukan urusan kalian tidak perlu di urusi! Pekerjaan di capitaland masih sangat banyak yang harus kalian kerjakan! Aku tidak mau mendegar omongan aneh setelah ini, kalian paham!!!" ucap Deehan lantang kepada seluruh staffnya yang berada di lantai tersebut.
Deehan dan Theo berhasil meninggalkan lantai tersebut.
Sedangkan Mikha masih tahap menenangkan dirinya setelah ia yang tadi sangat terkejut saat mendapati ayahnya yang tiba-tiba saja masuk dan memarahinya. Setelah Earlene mengetahui situasi tersebut, ia meminta Mikha untuk menjelaskan semua padanya.
Mikha memberitahu Earlene kalau memang sejak awal itu tidak pernah meminta bantuan ayahnya untuk meloby proposal tersebut. Namun yang bikin Earlene takjub adalah semangat Mikha yang terus berjuang demi proposal itu diterima oleh pihak capitaland.
Earlene memeluk Mikha dan juga mengecup pipinya sembari berterima kasih kepada sahabatnya itu.
"Sekarang kamu tidak perlu gelisah lagi, kan? Tn. Nino sudah tau semuanya.." ucap Earlene bersemangat.
"Tapi tetap saja, tadi jantung ku hampir berhenti berdetak karena ayah yang tiba-tiba saja datang.." balas Mikha.
"Hey! Kamu pikir, kamu saja yang merasakan hal itu? Aku juga!" sela Earlene tak mau kalah.
Namun setidaknya apa yang dikatakan Earlene ada benarnya. Saat ini Mikha tidak perlu lagi mengkhawatirkan hal tersebut, bahkan sekarang ia sudah bebas berkeliaran dimana pun tanpa mewaspadai keberadaan ayahnya. Yang sekarang yang harus Mikha jaga adalah kepercayaan ayahnya dan membuat Nino bangga padanya.
Karena hal ini juga, Mikha dapat menjadikannya sebagai alat untuk memperlihatkan pada Nino kalau ia bisa membuatnya bangga dengan pilihan yang di pilih Mikha saat mengambil jurusan seni di universitasnya setelah mendapat tentangan dari Nino.
***
Mikha mengantarkan Earlene pulang kerumahnya setelah mengerjakan penelitiannya hari ini. Dimana hari ini cukup berat baginya mengingat kejadian tadi siang yang mengejutkan baginya.
"Sepertinya Aku masih harus mendengar ocehan ayah lagi dirumah nanti.." batin Mikha sembari melajukan mobilnya menuju rumah.
Setibanya dirumah, ia juga melihat mobil kakaknya yang sudah berada dirumah lebih dulu. Bahkan mobil ayahnya juga terparkir disana. Dengan wajah yang letih, Mikha berjalan masuk kedalam rumahnya.
Mikha langsung saja menuju kamarnya, namun di pertengah anak tangga ia bertemu dengan Nana yang baru akan turun ke bawah setelah membersihkan dirinya.
"Mikha! Ibu bilang kamu sedang melakukan penelitian di kantor ayah?" tanya Nana memastikan.
Namun Mikha hanya membalasnya dengan anggukan tanpa menjelaskannya lebih detail.
"Kenapa kamu tidak memberitahu ku?" tanya Nana.
"Kalau Aku memberitahu mu, kamu pasti kamu akan memberitahu ibu---dan Ibu pasti akan memberitahu ayah.." bisik Mikha sembari meledek kepercayaan kakaknya.
Nana menjitak kepala adiknya dan melihat dengan wajah sedikit kesal. Namun Mikha hanya dapat tertawa melihat ekspresi kesal kakaknya.
Nana kembali turun dan Mikha melanjutkan langkahnya menuju kamar.
Dengan rambut setengah basah setelah keramas, Nana turun dan melihat Naura sedang sibuk menyiapkan makan malam untuk suami dan kedua putrinya.
"Apa Mikha belum pulang?" tanya Naura.
"Sudah.. dia baru saja kembali---sekarang ada di kamarnya" balas Nana santai sambil meneguk segelas air.
Naura kemudian membahas masalah siang tadi pada Nana, dimana sejak Nino pulang dari kantor, ia langsung memberitahu istrinya tentang ulah putri bungsunya yang menyembunyikan hal tersebut padanya.
Mendengar hal tersebut, awalnya Naura juga sangat terkejut dan menanyakan pada Nino apakah ia memarahi putrinya atau tidak. Dan tentu saja Nino memarahi Mikha. Karena hal itu, Naura memasakkan masakan kesukaan Mikha untuk menghibur putrinya. Dimana Naura yang sangat tau jika Mikha mendapat ocehan dari ayahnya, hal itu akan membuat suasana hatinya menjadi melow dan juga sedih.
Mikha turun setelah membersihkan dirinya.
"Sini cepat! Ibu tidak akan memarahi kamu.." ucap Naura kepada putri bungsunya.
Mikha menghela napas kasar dan meminta maaf pada ibunya.
"Aku tidak bermaksud membohongi ayah---Padahal Mikha janji akan memberitahu ayah malam ini, tapi ayah lebih dulu mengetahuinya tadi di kantor.." jelas Mikha pada Naura.
"Yang penting, ayah sudah tau.. kan? Mukanyan jangan tertekuk lagi.." pinta Naura menggoda putrinya.
Nana melihat wajah adiknya hanya dapat menertawainya sambil membalas pesan yang dikirimkan Jarvis padanya.
Hubungan Nana dan Jarvis menjadi lebih intens hingga membuat Mikha penasaran setelah melihat pantulan layar ponsel Mikha dari balik lemari kaca yang berada tepat di belakang Nana.
Melihat hal tersebut, kini giliran Mikha yang menggoda kakaknya.
*****