Part 4
Cinta Pertama yang Memabukkan
Sepuluh tahun yang lalu Fahri merantau ke Malaysia setelah enam bulan lulus SMA. Kala itu ia masih berusia sembilan belas tahun. Ia meninggalkan kedua orang tuanya di kampung halamannya yang hidup dengan kemiskinan. Bersakit-sakit di negeri orang lebih dari delapan tahun membuat pemuda berwajah tampan itu melupakan keinginannya untuk bersenang-senang dengan wanita di negeri jiran tempat ia membuka usaha.
Fahri tekun bekerja untuk mengumpulkan uang sedikit demi sedikit dari usaha membuka warung makan Padang bersama temannya--Mario di negara serumpun Indonesia itu. Fahri pun rutin mengirim uang untuk membantu orang tuanya yang tinggal berdua saja di Palembang. Karena Fahri adalah anak tunggal dalam keluarganya.
Fahri bertemu kembali dengan cinta pertamanya dua tahun yang lalu ketika pulang kampung pas hari lebaran. Anita, wanita yang pernah ditaksirnya kala SMA dulu. Meski tidak berbalas, karena penampilannya yang miskin dan kucel, membuat Anita tak menoleh sedikitpun padanya. Sang gadis pujaannya itu malah menikah dengan laki-laki lain begitu lulus dari SMA. Itu juga salah satu alasan bagi Fahri untuk pergi merantau, karena patah hati melihat gadis yang disukainya itu disunting oleh orang lain. Delapan tahun lamanya Fahri tidak bertemu samasekali dengan Anita.
Mungkin karena memang ada jodoh, mereka bertemu kembali kala Anita sudah menjadi janda muda dengan seorang anak perempuan usia tujuh tahun. Ketika itu suami Anita baru tiga bulan sebelumnya meninggal dunia karena kecelakaan.
Fahri yang masih menyimpan rasa cinta untuk Anita, melamar wanita cinta pertamanya itu untuk dijadikan istri. Anita yang melihat penampilan Fahri yang sudah jauh berbeda dari kala SMA dulu, lebih tampan dan mapan, membuat wanita cantik beranak satu itu menerima lamaran Fahri tanpa berpikir panjang lagi. Menjanda selama tiga bulan membuatnya tersiksa menghabiskan malam-malam sendiri. Apalagi putri satu-satunya, Aurel lebih dekat dengan orang tua Anita sejak kecil dibanding dengan ibunya sendiri.
Dua minggu setelah bertemu, mereka pun menikah. Tanpa ada pesta pernikahan, hanya jamuan kecil saja yang dihadiri oleh kerabat dan saudara terdekat kedua penganten. Setelah menikah Anita tetap tinggal di rumah orang tuanya. Kondisi rumah orang tuanya yang sangat sederhana dan kecil, membuat Fahri tidak bisa mengajak sang istri untuk tinggal bersama orang tuanya. Untung saja Anita lebih suka tetap tinggal di rumah orang tuanya yang besar dan luas.
Almarhum suaminya tidak meninggalkan harta apa-apa buat Anita dan anaknya. Selama menikah dengan suami pertamanya, Anita tinggal di rumah mertuanya. Ketika suaminya itu meninggal dunia, Anita kembali tinggal di rumah orang tuanya.
“Anita, kamu tinggal bersama orang tuamu dulu gak apa-apa, ‘kan? Secepatnya nanti aku akan membangun rumah buat keluarga kita,” ucap Fahri kala mereka usai memadu kasih saat awal-awal menikah.
“Iya, Bang. Gak apa-apa. Nanti kalau memang sudah mau bangun rumah, ada tanah bagianku dari ayah yang lokasinya tidak jauh dari sini. Jadi gak perlu keluar dana lagi untuk membeli tanah,” jawab Anita dengan hati girang, karena suami barunya akan mewujudkan impiannya untuk memiliki rumah sendiri. Anita dengan mesra mengelus d**a kekar laki-laki yang masih perjaka ketika menikah dengannya.
Wanita yang menikah kedua kalinya itu jadi tersenyum mengingat betapa gugupnya Fahri waktu malam pertama mereka setelah menikah. Anita yang sudah pernah berumah-tangga selama delapan tahun, menjadi yang paling ganas malam itu. Wanita cantik bertubuh seksi itu membuat Fahri terkapar tidak berdaya menikmati malam pertamanya.
“Kenapa senyum-senyum begitu sih, Sayang?” tanya Fahri sambil mengecup kening wanita yang usianya lebih muda satu tahun darinya.
“Aku menikmati kebersamaan kita tiap malam, Bang. Kamu benar-benar membuatku menjadi wanita yang sangat beruntung memilikimu. Rasanya aku tidak sanggup kamu tinggal ke Malaysia minggu depan,” ucap Anita dengan wajah yang tiba-tiba menjadi sedih.
“Sabar ya, Sayang. Kita berpisah hanya untuk sementara. Nanti kalau uang tabunganku sudah cukup untuk modal usaha di sini, kita pasti akan berkumpul dan tinggal bersama,” bujuk Fahri sambil memeluk istrinya dengan erat.
“Aku ikut saja ke Malaysia, ya?” Anita menatap Fahri dengan wajah berharap.
“Jangan dulu, Sayang. Soalnya tempat tinggalku di Malaysia tidak layak untuk membawa keluarga. Aku dan teman-teman di sana tidur bareng di lantai dua restoran tanpa kamar. Laki-laki semua.” Fahri mengecup kembali kening wanita cantik yang terus memeluknya dengan erat. Membuat laki-laki itu merasa berat meninggalkan istrinya yang seksi.
“Ya, udah, tapi kamu harus sering pulang lho, Bang. Aku mana kuat lama-lama tidak bertemu suami,” rajuk Anita.
“Iya, Sayang. Aku usahakan untuk sering pulang ke sini, melihat istri cantikku ini,” bujuk Fahri sembari mencium istrinya mesra. Anita membalas ciuman suaminya dengan b*******h. Malam yang dingin itu kembali menjadi panas membara bagi sang penganten baru.
Pada awal-awal pernikahan mereka, Fahri pulang mengunjungi istrinya dua bulan sekali. Jarak kampung halamannya yang berada di pulau Sumatera tidaklah begitu jauh dari tempat usahanya di Malaysia. Namun, setelah enam bulan mereka menikah dan rumah baru mereka mulai di bangun, Fahri sudah agak jarang pulang. Katanya sayang uang ongkosnya, lebih baik uangnya dipakai untuk tambah-tambah beli bahan bangunan.
Anita juga tidak mempermasalahkan lagi sang suami yang sudah jarang pulang mengunjunginya. Mengurus tukang dan membeli bahan-bahan bangunan, membuat wanita cantik itu sibuk sepanjang hari dan lelah di malam hari.
Akhirnya tepat setahun usia pernikahan mereka, rumah impian itupun sudah selesai dibangun. Rumah mungil model minimalis hanya dengan dua kamar tidur. Benar-benar disesuaikan dengan dana tabungan yang sudah dikumpulkan Fahri selama hampir sepuluh tahun.
“Alhamdulillah, akhirnya selesai juga rumah kita, Sayang.” Fahri sengaja pulang ke Palembang untuk melihat dan membantu istrinya pindahan ke rumah baru mereka.
“Iya Bang. Tanahnya juga masih luas ke belakang. Nanti kalau ada rejeki masih bisa tambah beberapa kamar lagi,” jawab Anita dengan senyum bahagia.
“Doakan saja rejekiku tetap lancar, ya? Biar modal untuk buka usaha kita cepat terkumpul lagi. Aku sudah tidak sabaran nih untuk bisa tinggal bersama istriku yang seksi ini.” Fahri memeluk istrinya erat penuh kasih sayang.
“Aku juga ingin selalu ada di sisimu, Bang. Apalagi sekarang aku dah gak sibuk lagi ngawasin pembangunan rumah ini, pasti aku akan kesepian dan bosan gak ada kegiatan. Aurel juga gak mau tinggal di sini. Katanya dia senang tinggal di rumah orang tuaku yang luas,” jawab Anita sambil membalas pelukan sang suami.
“Sabar ya, Sayang. Rumah kita kan dekat dengan rumah orang tuamu, jadi kamu bisa ke sana kapan saja kamu mau.” Fahri menghibur istrinya sembari mengelus rambut sang istri dengan lembut.
“Seandainya aku segera hamil, kan aku gak kesepian di sini, Bang.” Anita mengelus wajah tampan sang suami yang duduk memangku kepalanya. Mereka sedang bersantai berdua di sofa ruang tengah.
“Mudah-mudahan, ya? Semoga Allah menitipkan seorang anak kepada kita secepatnya.” Fahri membungkukkan kepalanya mencium kening wanita tercintanya itu.
Anita meraih dan menahan kepala sang suami usai mencium keningnya.
“Ayo kita ke kamar, Honey,” bisik Anita mesra di telinga suaminya.
“Hahaha … kamu benar-benar membuat aku mabuk kepayang deh.” Fahri tertawa geli mendengar bisikan nakal sang istri. Kemudian digendongnya wanita cantik bertubuh seksi itu ke dalam kamar baru mereka yang masih ada sedikit aroma cat serta perabot baru masih kinyis-kinyis.