bc

Jangan bunuh aku, Suamiku!

book_age18+
10
IKUTI
1K
BACA
revenge
love-triangle
family
arrogant
heir/heiress
blue collar
drama
sweet
bxg
bold
city
enimies to lovers
rebirth/reborn
polygamy
like
intro-logo
Uraian

"Kau! Kau adalah wanita ja*ang yang sudah membunuh istriku! Kau harus mati di tanganku! Kau harus merasakan sakit yang dirasakan Sahara saat kau meracuninya!"Sahara tertegun, karena begitu dirinya membuka mata setelan menelan segelas kopi yang membuat jantungnya seperti mengeras dan napasnya seperti dipaksa berhenti, dia malah mendapati suami yang dia cintainya, tengah berada di atasnya dengan kedua tangan mencekik lehernya. apa ini? apa yang terjadi? Sahara sangat mengenal Liam. Suaminya adalah lelaki yang paling mencintainya seumur hidup, bahkan ketika dipaksa menikah dengan wanita lain karena Sahara yang tidak bisa mengandung, Liam tetap datang padanya dan menolak berada satu ruangan dengan Shanina, Istri keduanya. Tapi, kenapa sekarang Liam tampak begitu marah hingga ingin membunuhnya? lalu Sahara menemukan jawabannya ketika dia menoleh ke samping kiri dan menemukan cermin besar. di sana, bukan bayangan dirinya yang tengah dicekik oleh Liam, melainkan Shanina, yang merupakan istri kedua dari suaminya.

chap-preview
Pratinjau gratis
1. Mati dan Hidup
PRANG! Gelas berisi cairan pekat itu langsung hancur berkeping-keping di atas lantai yang dilapisi dengan karpet tebal. Sedangkan seorang wanita yang baru menyesap dua tegukan cairan itu, langsung terjatuh ke lantai sambil memegangi dadanya. Mulutnya terbuka dan tertutup, berusaha memanggil siapapun yang ada di sana. Bahkan pelayan yang belum lama mengantarkan kopi padanya, langsung berbalik badan dan menutup pintu sekalipun tahu bahwa ia tengah berguling di lantai melawan maut. Ini racun. Sahara Jean yang tinggal di desa dengan bertani dan meracik obat herbal sebelum menikah, jelas mengetahui bahwa efek yang sedang dia derita adalah efek dari racun yang sangat kuat. Dia kesulitan bernapas karena tenggorokan dan kerongkongannya seperti dihimpit besi. sedangkan jantungnya terasa dipelintir dan diremas kuat hingga menjadi ampas. Pandangannya kabur, tapi masih melihat ke arah pintu, berharap seseorang menolongnya. Satu-satunya orang yang dia harapkan datang adalah suaminya, Liam Rodger, yang merupakan satu-satunya kekuatan yang Sahara miliki di mansion yang mengerikan untuknya ini. "Li..am.." Tapi panggilannya tidak pernah sampai. Hingga napasnya hanya tinggal seujung kuku, tidak ada yang datang ke kamarnya. Atau bahkan, seseorang memang sengaja membuat situasi dimana tidak akan ada seorang pun yang datang menyelamatkannya. Ah. Sahara menyadari situasi pelik yang sedang dihadapinya. Bahwa kematiannya adalah harapan besar bagi seseorang dan racun yang diteguknya adalah alat ampuh untuk wanita dengan tubuh lemah sepertinya. Tubuh yang bahkan tidak bisa memberikan keturunan untuk Liam yang begitu mencintainya, sehingga suaminya itu terpaksa harus menikahi wanita lain. Benar. Sudah pasti orang yang paling mengharapkan kematiannya adalah wanita itu. Shanina. Wanita yang mencintai Liam sejak dulu, yang bahkan sudah mencintai Liam lebih lama daripada Sahara sendiri. Wanita itu akan melakukan apapun untuk menjadikan Liam sebagai miliknya, termasuk membunuh Sahara yang merupakan satu-satunya wanita yang dicintai Liam. Jadi beginilah nasibnya. Setelah meninggalkan desa karena jatuh cinta pada borjuis kota dan menikmati hidup di dalam mansion besar bak istana, kini Sahara harus rela mati karena racun yang mengalir ke dalam tubuhnya dan membuat fungsi organ tubuhnya hancur dengan cepat. Dia tahu akhirnya, bahwa otaknya sudah mengirimkan signal darurat bahwa inilah akhir hidupnya. Tapi, tidak bisakah dirinya melihat suaminya untuk terakhir kali? Liam pasti akan sangat terluka mendapati tubuh kaku dan dinginnya saat lelaki itu pulang nanti. Tapi tidak pernah ada kesempatan bagi Sahara di hari itu, karena dia benar-benar kehilangan fungsi penting dalam tubuhnya hingga yang terakhir dia lihat adalah bayangan pintu yang tertutup rapat. * "Mati! Kau harus mati karena sudah berani membunuh wanita yang paling aku cintai! Kau harus merasakan kematian yang lebih pedih daripada Istriku!" Sahara seolah mendengar suara seseorang yang begitu dekat dengannya. Lehernya juga terasa sakit dan tertekan hingga dirinya terbatuk. Apakah ini efek racun tadi? Apakah penderitaannya masih belum berakhir? Tapi, sakit di jantungnya sudah tidak terasa. Hanya tercekik di leher yang membuatnya tidak nyaman. Sahara mencoba membuka mata, perlahan sampai netranya benar-benar bekerja. Tapi dia terkejut siapa yang dilihatnya pertama kali. Liam, yang tengah menindihinya dengan wajah basah dan juga bibir yang digigit kuat. "Li...am.." Saat itu Sahara menyadari bahwa kedua tangan besar Liam yang biasa memeluk dan memujanya dengan hangat, kini justru tengah mencekik lehernya. "Le..paskan." Suaranya tercekat. Sedangkan kepalanya terasa penuh hingga nyaris meledak. Sahara yakin dirinya sudah mati setelah meminum kopi yang sudah diberi racun oleh seseorang. Tapi kenapa tiba-tiba dia terbangun dan berada dalam jeratan Liam yang menatapnya dengan tatapan ingin membunuh. Sahara tidak bodoh untuk menganggap ini sebagai candaan yang dilakukan oleh suaminya itu, karena rasa sakit yang dia rasakan di lehernya adalah rasa sakit yang nyata. Sahara juga membuang jauh pikiran bahwa ini adalah ilusi alam bawah sadarnya, karena tangisan dan umpatan pelan Liam jelas terdengar di telinganya. "Kau! Kau adalah wanita ja*ang yang sudah membunuh istriku! Kau harus mati di tanganku! Kau harus merasakan sakit yang dirasakan Sahara saat kau meracuninya!" Apa? Apa yang baru saja dia dengar? Siapa yang membunuh siapa? Padahal dirinya lah yang mati diracuni tapi kenapa Liam malah berkata seolah dirinya adalah orang lain yang merupakan pelaku pembunuh dirinya sendiri? Ada apa sebenarnya? Lalu Sahara akhirnya melihatnya. Saat kepalanya terdorong ke samping karena mencoba melepaskan diri dari cekikan Liam, dia menemukan bayangan yang terpantul di cermin besar di hadapannya. Matanya membulat, menyadari bahwa bukan wajahnya yang ada di sana. Dia kenal wajah itu, karena itu adalah wajah Shanina, Istri kedua suaminya, yang juga diduga sebagai pelaku yang menaruh racun di kopinya. Kenapa wajah Shanina ada di sana dan bukan wajahnya? "Ugh!" Sahara merasakan dirinya yang benar-benar hampir kehabisan napas, sehingga fokusnya kembali pada Liam. Dia harus bergerak, jika tidak, dia benar-benar akan mati di tangan Lian. Maka dengan mengumpulkan tenaga, Sahara menggerakkan kakinya untuk menendang bagian tubuh vital suaminya hingga Liam terpental ke belakang. "Ja*ang! Kau benar-benar wanita menjijikkan!" Liam menatapnya dengan tajam, amarahnya belum pudar. Sedangkan Sahara masih kebingungan dengan apa yang terjadi. Dia berulang kali menatap ke arah cermin, berharap dia hanya salah lihat karena efek kesadaran yang menurun. Tetapi berapa kalipun dia menoleh, tetap wajah dan tubuh Shanina yang ada di sana. Tidak ada wajahnya. "Ah. Aku mengerti." Kepala Sahara kembali menatap pada Liam yang berujar pelan. Rupanya, lelaki itu sudah kembali bangkit. Tapi yang membuat Sahara terperanjat adalah pisau buah yang kini berada di tangan lelaki itu. "Apa yang akan kau lakukan?" tanya Sahara cemas. Sedikitnya, dia sekarang tahu bahwa Liam melihatnya sebagai Shanina. Maka semuanya menjadi jelas, kenapa Liam sampai berniat membunuhnya dengan wajah yang basah akan air mata. "Jatuhkan pisau itu, Liam!" Tapi Liam justru menyeringai dan meletakkan pisau itu di lehernya. "Bukankah kau selalu bilang bahwa kau sangat mencintaiku? Kau bahkan menguntitku selama aku berkuliah dan menyebarkan rumor bahwa kita sudah berhubungan badan saat aku berpacaran dengan Sahara. Untuk wanita gila sepertimu, kematian dirimu sendiri tidak akan berpengaruh padamu. Tapi kau pasti akan kesakitan jika melihatku mati di depan matamu, bukan?" Sahara menggeleng panik. "Tidak, Liam! Jangan lakukan itu! Aku..aku adalah Sahara. Ini aku! Aku adalah--" "JANGAN SEMBARANGAN BICARA!" "AAKHH TIDAK!" Sahara jatuh terduduk saat melihat Liam menggores sedikit lehernya ketika berteriak tadi. Lelaki itu tidak mengancam, Liam benar-benar ingin mengakhiri hidupnya. "Jangan pernah sebut nama istriku dengan mulut kotormu itu! Kau menjijikan! Hari ini, aku akan pergi menyusul Sahara dan meninggalkan dirimu sendirian. Kau akan menderita, karena lelaki yang kau cintai ini, tidak akan lagi ada di dunia yang sama denganmu." Sahara menangis, dia memohon agar Liam tidak bertindak nekat tapi kemudian dia menyadari bahwa wajah yang sedang dilihat oleh Liam adalah wajah Shanina, sehingga tangisannya akan menjadi sesuatu yang membuat Liam merasa puas. Dirinya tidak akan bisa menghentikan Liam hanya dengan berbicara, sehingga Sahara mencari kesempatan untuk bergerak mendekat ke arah Liam. Dia menepis pisau itu hingga terjatuh ke lantai dan kemudian memukul bagian belakang leher Liam hingga lelaki itu jatuh pingsan. Sahara beruntung, karena tubuh Shanina lebih sehat darinya. Dan juga, karena kondisi Liam sedang tidak baik karena kematian Sahara. Benar. Ternyata, jika dirinya tidak salah mengambil kesimpulan, Sahara atau lebih tepatnya, tubuh miliknya sudah mati dan jiwanya masuk ke dalam tubuh Shanina. Tapi jika begitu, maka dimana jiwa Shanina sekarang? Apakah wanita itu mati? Tapi kenapa? Yang lebih penting sekarang adalah, mencari tahu apa yang terjadi dan apakah tubuhnya sudah dimakamkan atau belum. Jika melihat dari pakaian yang dikenakan Liam, sepertinya lelaki itu masih mengenakan pakaian yang sama dengan saat berpamitan bekerja tadi pagi. Itu berarti, tubuhnya masih ada di rumah ini. * Sahara menuruni anak tangga dengan mengenakan gaun hitam yang bagian belakangnya menjuntai. Dia memang sangat mengenal cara berpakaian Shanina yang selalu berlebihan, semua pakaian yang ada di dalam lemari wanita itu adalah pakaian berpotongan pendek dan tebuka, serta gaun yang menjuntai ke lantai. Shanina adalah wanita yang cantik dan percaya diri karena berasal dari keluarga yang berada. Sayangnya, dia tidak beruntung karena jatuh cinta pada Liam yang justru mencintai gadis desa seperti Sahara. Kini, gadis desa itu harus berusaha keras berakting agar tampak seperti Shanina. Walaupun sejujurnya, dia merasa merinding menyadari bahwa jiwanya berada di dalam tubuh Shanina. "Shane! Kau darimana saja?" Seruan tertahan itu berasal dari Liona, yang merupakan adik perempuan Liam. Sedangkan di dekatnya ada suaminya, yang seorang Penari latar, James Carton. Shanina menatap wanita itu. Adik iparnya yang tidak pernah bersikap ramah padanya sejak awal Sahara datang ke rumah itu. "Liam mencoba membunuhku," balas Sahara pelan. Ekor matanya melihat pada peti mati yang dikerumuni oleh banyak orang yang datang melayat. Itu tubuhnya. Benar-benar tubuh dan wajahnya. Menyadari bahwa tubuhnya sudah benar-benar mati, membuat Sahara ketakutan dan ingin memangis histeris dan memohon pada siapapun untuk mengembalikannya ke dalam tubuhnya saja. Mungkin, mati justru lebih baik daripada harus hidup di dalam tubuh selirnya, istri kedua dari Liam yang justru sangat dibenci lelaki itu. Tapi Sahara tidak memiliki pilihan lain. Tuhan sudah memberikan keajaiban yang mengerikan ini padanya, maka dia harus melakukan apa yang harus dilakukannya. Mencari tahu siapa yang bekerjasama dengan Shanina untuk meracuni dirinya dan juga mencari tahu apa yang terjadi pada jiwa Shanina yang asli. "Huhuhu! Padahal aku mencintai dia seperti aku mencintai putriku sendirii! Tapi kenapa nasibnya begitu malang? Dia harus hidup dengan merelakan suaminya menikah lagi dan sekarang dia justru pergi dengan cepat." Tangan Sahara terkepal kuat di samping tubuhnya saat melihat Claudia Rodger, menangis di samping peti matinya. Padahal, ibu mertuanya itu sendiri yang memaksa dan mengancam Liam untuk menikah lagi, tapi sekarang Claudia berlagak seolah Sahara mendapatkan kehidupan yang baik sebagai menantu di rumah ini. Lalu semua orang yang hadir langsung menatap tajam padanya. Ah! Sahara kembali menyadari bahwa dirinya kini adalah Shanina, pantas semua orang langsung berpikir bahwa sudah pasti dialah yang membuat Sahara harus mati di usia muda dan cantik. Tapi berbanding terbalik dengan harapan semua orang yang berharap Sahara yang sekarang menjadi Shanina, berbalik badan dan pergi dengan rasa malu, Sahara justru berjalan ke arah tubuhnya sendiri sambil membawa setangkai bunga dan meletakkannya di sana. "Semoga kau beristirahat dengan baik," ucapnya tenang. Sahara hanya membayangkan bahwa yang kini ada di dalam tubuhnya adalah jiwa Shanina yang mati, karena sebaliknya, dirinya pun berada di dalam tubuh Shanina. Setelahnya, barulah dia memutar arah langkahnya meninggalkan ruang tamu besar yang kini terisi para pelayat. Dari ekor matanya, Sahara sempat melihat ayah mertuanya yang berdiri diam di sisi peti mati. Lelaki itu tidak berbuat jahat padanya, tapi juga mengabaikan apapun yang dilakukan oleh istri dan anaknya pada Sahara. Maka bagi Sahara, ayah mertuanya pun sama jahatnya dengan mereka. * "Sahara.. Sahara... Jangan tinggalkan aku! Jangan!" Mimpi buruk yang terasa begitu nyata. Liam masih bisa mencium kening dan bibir istrinya pagi hari tadi sebelum dirinya berangkat bekerja, tapi kemudian dia justru menerima kabar jika istrinya telah tiada. Sahara-nya memang wanita yang lemah dan sering jatuh sakit saat pergantian musim, hanya saja Liam percaya bahwa istrinya akan hidup lama bersama dengannya. Panggilan telepon yang mengabarkan bahwa Sahara sudah tiada, disangka hanya sebuah panggilan jebakan sehingga Liam mengingat apakah hari ini adalah ulang tahunnya? Ataukah ini adalah hari peringatan pernikahannya dengan Sahara? Tetapi tidak satupun dari itu. Pacuan mobilnya yang di luar batas menembus celah jalan sepanjang sore itu. Dia berharap saat sampai di rumah, Sahara akan menyambutnya dengan tawa dan mengatakan bahwa ini hanyalah lelucon. Sudah pasti begitu, bukan? Karena wanita yang tadi pagi terlihat baik-baik saja, tidak mungkin tiba-tiba mati. Sayangnya, begitu sampai di rumah, yang dia lihat adalah peti mati yang di dalamnya sudah terisi jasad istrinya. Seolah seseorang sudah menyiapkan peti mati itu jauh sebelum Sahara benar-benar mati. Liam hancur. Separuh jiwanya remuk. Satu-satunya yang terpikirkan olehnya adalah bahwa istrinya dibunuh seseorang dan orang itu sudah pasti Shanina. Wanita yang terpaksa dia nikahi tapi belum pernah sekalipun dirinya sentuh. Shanina selalu cemburu pada Sahara yang menerima cinta mutlak dari Liam, maka tidak ada lagi yang bisa melakukan hal keji itu selain Shanina. "Aku akan membuat dia menderita. Bagaimanapun caranya, dia harus merasakan sakit yang dirasakan oleh Sahara-ku." Bahkan jasad istrinya belum dikebumikan, tapi Liam takut untuk kembali turun ke bawah. Sekarang dia masih berada di kamar Shanina, setelah sebelumnya berusaha membunuh wanita itu. Padahal Liam sempat merasa bahwa Shania sudah mati di tangannya, tapi tiba-tiba saja wanita itu kembali membuka mata dan lepas darinya. Klik "Apakah kau baik-baik saja?" Pertanyaan yang tidak perlu dijawab dengan perkataan. Liam justru melemparkan vas yang ada di nakas ke arah wanita yang berdiri di ambang pintu hingga vas itu mengenai sisi wajahnya. "Enyah kau dari hadapanku! Dasar Ja*ang menyedihkan!" **

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

30 Days to Freedom: Abandoned Luna is Secret Shadow King

read
317.0K
bc

Too Late for Regret

read
342.9K
bc

Just One Kiss, before divorcing me

read
1.8M
bc

Alpha's Regret: the Luna is Secret Heiress!

read
1.3M
bc

The Warrior's Broken Mate

read
147.2K
bc

The Lost Pack

read
455.8K
bc

Revenge, served in a black dress

read
156.5K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook