Tubuh Sahara kini bahkan bukan hanya kepanasan, dirinya menggigil di waktu yang bersamaan. Daripada menyetuh Liam yang tidak perdaya di atas tempat tidur, Sahara memilih merangkak turun dan mengenakan pakaiannya kembali.
Napasnya terengah, berat dan sesak. Sial! Dirinya yang selama ini hanya mendekam di dalam kamar sama sekali tidak tahu sejauh apa batas kegilaan keluarga ini. Dirinya tahu bahwa keluarga konglomerat tidak akan hidup dengan norml, hanya saja dia tidak pernah berpikir bahwa ibu mertua dan juga adik iparnya akan bisa berbuat sejauh ini bahkan sampai mengorbankan keluarga kandung mereka sendiri.
Selama ini, setiap kali dirinya menghadapi perlakuan yang tidak ramah, di lubuk hatinya Sahara selalu diam-diam menyalahkan Liam yang tidak bisa benar-benar tegas menolak dan membelanya di depan semua anggota keluarganya. Tetapi kini Sahara paham, bahwa kegilaan mereka bahkan bukan hal yang mudah untuk dihadapi Liam.
Kalaupun nantinya Sahara benar-benar menyerang Liam hingga akhirnya tubuh Shanina ini hamil dan meskipun Liam tahu bahwa keberadaan dirinya di tempat tidur ini adalah muslihat dari ibunya sendiri, Liam hanya akan mengarahkan kebenciannya sepenuhnya pada Shanina. Lelaki itu mungkin tidak memiliki kuasa untuk menyalahkan keluarganya.
"Gila! Aku buta karena selama ini seluruh pandanganku hanya tertutupi dengan cinta Liam yang melimpah ruah. Sekarang, apa yang harus aku lakukan? Bagaimanapun juga, mereka tidak akan melepaskan Shanina begitu saja, bukan?" Sahara mengerang pelan, kepalanya menengadah sedangkan tangannya memegangi dadanya yang berdegup kencang. "Apakah jika aku melukai diriku sendiri, maka aku akan terlepas dari perasaan ini?" Dia tersenyum putus asa.
Menjadi Sahara atau Shanina, keduanya bukan hal yang mudah baginya. Seharusnya, sebesar apapun cinta yang dia miliki pada Liam, dia tidak boleh masuk ke dalam rumah ini. Dulu, Sahara juga wanita yang normal, yang bahkan tidak pernah sakit. Dia diajari oleh neneknya untuk meracik obat dari tanaman yang tumbuh dari sekitar rumah mereka, sehingga bisa dipastikan tubuh Sahara lebih sehat dari siapapun. Tapi tiba-tiba saja dirinya didiagnosa tidak bisa memiliki keturunan. Seolah sayap yang Sahara miliki dipatahkan begitu saja, dirinya hancur berkeping-keping.
Penerimaan dari suaminya justru membuatnya semakin menyedihkan. Lelaki yang memiliki segalanya itu, berkata akan tetap mencintai wanita penuh kekurangan seperti dirinya.
"Apa lagi yang kau lakukan disini?"
Tubuh Sahara tersentak saat mendengar suara lemah tapi tajam di telinganya. Segera dia merapatkan pakaian yang dia kenakan, mencoba menutupi semua celah yang mungkin saja akan terlihat oleh Liam.
"A-aku akan pergi," ucapnya terbata.
Dengan limbung, dirinya berusaha bangun setelah tadi lama terduduk di lantai. Perasaan aneh itu masih menggereyangi tubuhnya, seolah mencegah Sahara untuk pergi dari ruangan itu.
Sedangkan Liam menderita sakit kepala yang hebat, hingga pandangannya terhadap penyusup yang masuk ke dalam kamarnya itu mengabur.
"Apa kau sekarang berusaha memperdayaku saat aku tidak sadar?" Tanya Liam dingin.
Tapi Sahara bahkan tidak bisa menyangkal karena sesaat tadi, tubuh setengah telanjangnya bahkan ada di atas tempat tidur Liam.
"Maafkan aku. Aku akan pergi sekarang. Kau..tidurlah lagi." Berpegangan pada dinding, Sahara nyaris mencapai pintu saat sebuah benda melesat cepat ke arahnya dan mengenai sisi dinding tepat di depan wajahnya.
Dia terkejut, hampir kembali terjatuh saat melihat jam waker itu ambruk di depannya. Dia melirik perlahan ke arah Liam, menyadari betapa tajam tatapan itu dan betapa terpancar kebencian besar padanya. Atau lebih tepatnya, pada Shanina yang menghancurkan hidupnya itu.
"Seharusnya kau tahu betapa besar rasa benciku padamu hingga setiiap kali melihatmu, aku sangat ingin menusuk-nusuk tubuhmu dengan pisau yang tumpul. Sehingga kau bisa merasakan kesakitan setiap waktu hingga benar-benar mati."
Sahara memejamkan mata, menahan tangis yang siap keluar dari mulutnya. Tubuhnya memang Shanina, tapi dirinya tetap Saharaa. Mendengar lelaki yang selama ini mengujaninya dengan banyak kata cinta dan pemujaan, tiba-tiba mengatakan perkataan menyakitkan dan mengerikan seperti itu, hati siapa yang tidak akan hancur?
Mata teduh Liam yang selalu memandanginya bahkan saat Sahara jatuh terlelap, kini menatapnya penuh kebencian.
Aku adalah Sahara, cintamu.
Ingin dia mengatakan itu, tapi terakhir kali dirinya melakukannya, Liam kehilangan kendali dan mengamuk. Sahara tidak ingin kalau sampai lelaki itu kembali berusaha melukai dirinya sendiri.
"Lakukanlah, jika itu bisa membuat perasaanmu lebih baik," lirih Sahara. Matanya menatap ke arah lelaki itu yang masih tidak mengubah cara pandangnya terhadap Sahara. "Tapi tetaplah hidup, karena itu sudah lebih dari cukup untukku."
Sahara memutar knop pintu, berjalan gontai keluar dari kamar itu, sebelum kemudian dia mendenga teriakan histeris Liam dari dalam kamar yang dia tinggalkan. Sahara terduduk, menangis tanpa suara sambil memegangi dadanya. Sakit akibat obat itu bahkan belum hilang dan dia sudah harus menanggung sakit karena dibenci oleh Liam.
Kini dia mulai meragukan maksud Tuhan dengan membuatnya masuk ke dalam tubuh Shanina, di saat mati rasanya akan jauh lebih baik.
*
"Apa kau berhasil?"
Sahara melirik dari batas bahunya, menemukan Liona di sana. "Apa kau pikir, aku akan masih hidup dan sehat jika aku benar-benar melakukan itu? Semalam Liam sadar lebih cepat dan melemparku dengan jam nakas yang ada di sana."
Adik iparnya itu tertawa, seolah apa yang diceritakan oleh Sahara adalah sesuatu yang lucu. "Yah, tidak masalah! Lagi pula sekarang kita memiliki banyak waktu karena wanita lemah itu sudah tidak ada. Dan yang terpenting sekarang adalah membuat Kak Liam kembali sadar dan bangkit, karena Ayah sangat marah melihat keadaan Kak Liam yang seperti mayat hidup. Dia menolak keluar dari kamarnya, juga menolak siapapun untuk datang mengunjunginya. Sejak kematian wanita itu, Kak Liam tidak makan apapun."
Tangan Sahara memegang erat tralis tangga. Pemandangan di lantai bawah, dimana Caludia sedang mengubah hampir semua barang yang ada di sana, sudah tidak menarik lagi. Dirinya merasa kalut setelah mendengar apa yang terjadi pada Liam. Jika saja dirinya tidak mati, jika saja saat ini dia ada di dalam tubuhnya sendiri, maka Liam tidak akan jadi seperti itu.
"Bukankah Ibu cukup dekat dengan Liam? Kenapa tidak Ibu saja yang berusaha membujuk Liam? Daripada sibuk mengganti semua perabotan yang masih tampak baik-baik saja."
Liona mengikuti arah pandangnya, kedua tangannya dibiarkan terlipat di atas tralis tangga. "Ibu sudah mencobanya, tentu saja. Tapi Ibu juga gagal karena Kak Liam bahkan tidak bersuara.
Tubuh Sahara menoleh cepat, "Apakah sudah ada yang memeriksa bahwa Liam baik-baik saja? Maksudku, kau tahu, dia berusaha untuk bunuh diri di hari dia mencoba membunhku. Hari kematian wanita itu."
Mata Liona sempat melebar mendengar apa yang dikatakan oleh Sahara, tapi kemudian wanita itu menghela napas pelan. "Dia baik-baik saja. Dia hanya meringkuk di dalam selimut tanpa keluar sedikitpun."
Terrdiam, Sahara kemudian mengambil langkah berbalik. "Biar aku yang mencobanya."
Tapi Liona kemudian kembali tertawa, kali bahkan sampai mengusap sudut matanya. "Bisakah kau tidak mengatakannya dengan lucu seperti itu? Kau mengatakan seolah kau akan langsung berhasil jika kau membujuknya untuk makan."
"Kita tidak akan tahu jika tidak mencobanya," balas Sahara. Dirinya sendiri sudah bisa menebak apa yang akan terjadi jika dia kesana, tapi dia tetap tidak bisa membiarkan Liam mati kelaparan.
Liona mengibaskan tangannya. "Lupakan itu, karena itu percuma! Daripada itu, bukankah kau sebaiknya pergi ke Luar Negeri sementara waktu sampai kecurigaan orang-orang terhadapmu hilang?"
Mata Sahara menatap apatis pada wanita yang ada di sebelahnya itu. Liona selama ini terlihat dekat dengan Shanina, sseperti seorang adik yang mengekori kakak perempuannya kemana-mana, tapi ternyata hubungan mereka yang sebenarnya justru seperti ini. Tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan Liona pada Sahara.
"Aku tidak harus melakukannya, karena bukan aku yang membunuh wanita itu." Dia berbicara seyakin mungkin, walaupun dia sendiri belum yakin apakah Shanina benar-benar terlibat atau tidak.
Dan senyum Liona langsung hilang, berganti dengan wajah datar yang menakutkan. Wanita itu berjalan mendekat pada Sahara sehingga jarak mereka hanya sejengkal. "Memang siapa yang akan perduli itu? Semua orang sudah menganggap bahwa kau adalah pelakunya. Dan kau harus menjadi pelakunya agar pelaku yang sebenarnya tetap aman."
Mata Sahara membulat terkejut, kedua tangannya terkepal di samsping tubuhnya, menahan diri untuk tidak mendorong Liona dari atas sini sekarang juga. "Kau kah itu?"
Dan wanita itu kembali tertawa. "Aku sudah bilang, bahwa pelakunya adalah kau. Dan itu adalah harapan semua orang. Bukankah kau tahu, bahwa sama dengan wanita itu, kau juga tidak memili kuasa di rumah ini. Kau justru berhutang budi padaku yang sudah membujuk Ibu untuk menjadikanmu istri kedua Kak Liam."
"Lalu bagaimana jika aku sudah tidak menginginkan pernikahan ini?" Tanya Sahara memancing.
Dan sesuai dugaannya, tatapan meremehkan yang ditunjukkan oleh Liona itu mengatakan seolah itu adalah hal yang mustahil. Karena semua orang tahu, betapa pemilik tubuh ini, Shanina, sangat mencintai Liam.
"Berhentilah berbicara kosong seperti itu, Kak! Kau seharusnya mulai memikiran apa yang harus kau lakukan untuk membuat Kak Liam berbalik membutuhkan dirimu. Atau kau juga bisa berpura-pura menjadi wanita itu dengan melakukan semua yang wanita itu lakukan semasa hidupnya. Dengan begitu, Kak Liam akan sedikit melirik padamu,walaupun menganggapmu sebagai orang lain." Liona tertawa mengejek setelah mengatakan hal itu. Kakinya lalu berjalan melewati Sahara sambil menepuk pundaknya, "Kau harus tahu dimana tempatmu, Kak Shanina yang tercinta."
Dan Sahara benar-benar ingin menarik wanita itu dan melemparkannya ke bawah agar dirinya merasa puass.
Kini dirinya mengetahui kesimpulannya, pelakunya adalah Liona atau Liona tahu siapa pelaku sebenarnya dan bekerjasama. Dan orang yang paling dekat dengan Liona adalah, tentu aja ibu mertuanya.
Walaupun begitu, situasi yang paling darurat saat ini adalah membuat Liam sadar walau hanya sedikit saja. Karena jika Liam terus mengurung diri di dalam kamar tanpa orang lain bisa memantaunya, maka tinggal menghitung waktu sampai laki-laki itu benar-benar akan menyusul tubuh Sahara yang mati.
**