“Bang Ervan kenapa masih saja dingin ke aku ya ma?” keluh Irina pada sang mertua beberapa bulan setelah pernikahannya dengan Ervan. Emily- ibu Ervan, menghentikan kegiatannya memasak untuk beberapa saat. Perempuan hampir setengah abad itu berbalik dan tersenyum menatap sang menantu yang begitu disayanginya bak putri kandungnya sendiri. “Kamu kan tau Ervan lebih pendiam dari pada kakaknya, tapi mama percaya kok kalau lambat laun dia akan berubah dan menerima kamu sebagaimana mestinya. Kan udah sah jadi istri, jadi jangan malu maju duluan ya.” dukung Emily pada Irina. “Iya, aku tau bang Ervan pendiam, tapi dia lebih banyak melamun aja beberapa hari ini ma. Kayak lagi patah hati gitu. Bang Ervan gak lagi galau karena terpaksa putus dari pacarnya karena nikahin aku kan ma?” “Nggak ada lah

