Sepuluh tahun sebelumnya Elvin tak ubahnya seperti remaja lain yang selalu ceria dan berbunga-bunga saat merasakan apa itu namanya cinta pertama. Hal yang ia rasakan begitu dalam terhadap pria yang kini duduk berhadapan bersamanya di salah satu restoran ternama di Genteng, Surabaya. Si cinta pertama yang banyak mengajarkan Elvin tentang apa itu bahagia dan derita dalam waktu yang bersamaan. Sejak tiba di restoran hingga menunggu pesanan mereka berdua datang, Elvin masih setia menunduk dalam diam. Sama halnya dengan yang dilakukan oleh Ervan. Yang berbeda hanya, pria itu bukannya menunduk, malah terang-terangan menatap Elvin lekat-lekat. Seolah takut kehilangan kesempatan untuk kembali bertemu dengan pemilik hatinya ini. Elvin sengaja mengeluarkan ponsel untuk mengalihkan perhatian dari s

