Elvin merasa gelisah karena saat membuka mata bukanlah kamar tempat tinggalnya yang ia lihat. Melainkan hamparan indah rerumputan hijau dengan dihiasi ribuan bunga celosia berwarna cerah di bagian tepi. Yang diingat Elvin, ia hanya sendirian di sini, sampai tangan kanannya merasakan sentuhan dingin yang langsung membuatnya menoleh. Di sana, berdiri seorang gadis kecil dengan rambut bergelombang sebatas bahu sedang tersenyum ramah. Tangan kirinya masih menggandeng telapak tangan Elvin, sedang tangannya yang lain membawa sekeranjang kue yang mirip dengan bola-bola coklat namun berwarna merah muda. “Mama mau?” katanya sambil mengangkat keranjang kuenya ke arah Elvin. Mama? Elvin mengerutkan kening keheranan. Gadis kecil itu yang memanggilnya itu bukan Malika, tapi sangat mirip dengan putri

