Reksa bersedekap sembari sesekali melirik Liona yang tengah melayani pengunjung yang datang.
Pria berkharisma itu bahkan menjadi pusat perhatian beberapa gadis SMA dan kuliahan yang datang ke cafe kecil milik Liona.
"Tampan." celetuk salah satu gadis di depan Liona yang tengah mengantarkan minuman pesanan gadis itu.
Spontan Liona langsung berbalik mengikuti arah mata dua gadis berseragam OSIS SMA itu. Mata Liona langsung melotot melihat seseorang yang tengah duduk bersedekap di depan laptop yang terbuka.
"Dia menatapku." girang salah satu gadis itu.
Liona langsung cepat cepat mendekati Reksa.
"Mas kok kesini?" Reksa menggedikkan bahu nya tanpa menjawab pertanyaan Liona. "Mas kangen sama Liona?" kata Liona dengan pede nya membuat Reksa berdecih.
"Aku kesini karena di suruh Ibu." Liona mengerucut kan bibir nya sembari mengangguk.
Reksa memang tak bisa di tebak.
"Sana." Liona semakin mengerucut kan bibir nya kesal kala Reksa mengusir nya.
Gadis itu lalu berbalik namun belum lima langkah, kembali lagi membalikkan badan nya menatap sang suami.
"Apa?" tanya Reksa dengan nada dingin.
"Mas lagi ngurus kerjaan?"
"Lagi main game." balas Reksa membuat Liona mendengus. Tidak bisa apa menjawab dengan benar. Selalu saja membuat Liona kesal.
"Mas kerjain di dalam aja. Jangan disini." kata Liona. Tak ingin Reksa menjadi pusat perhatian.
"Kenapa?" Liona menghela napas malas.
"Sudahlah." kesal Liona lalu meninggalkan Reksa yang masih duduk nyaman sofa pengunjung.
Dengan kesal Liona kembali ke dapur untuk melayani para pengunjung yang datang.
Liona tidak ada rencana untuk memperkerjakan seseorang untuk membantu nya.
Reksa tersenyum simpul saat Liona menjauh sembari menghentakkan kaki nya kesal.
Tak lama seorang gadis datang me dekati Reksa.
"Hai.." Reksa menatap gadis itu bingung.
"Boleh kenalan?" tiba tiba gadis itu mengulurkan tangannya pada Reksa membuat Reksa bertambah bingung.
"Mas... masih single kan?" Reksa yang terdiam seketika langsung tertawa kecil.
Lalu Reksa menunjuk Liona yang sedang mengantarkan pesanan sembari berbincang pada pengunjung.
Gadis itu langsung menatap ke arah tujuan jari telunjuk Reksa.
"Wanita cantik itu, istri saya."
xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx
"Cuci tangan dulu Mas!" Reksa menatap Liona dengan tatapan tajam.
Liona menatap balik Reksa setelah menarik piring makan malam sang suami.
Renita menatap Liona kagum kala Reksa yang mendengus namun akhirnya tetap tak bisa menolak perintah Liona.
"Kamu hebat Li." Liona terkekeh mendengar pujian Renita.
"Dia selalu membangkang kalau Ibu yang bilang." kesal Renita.
Reksa langsung merebut piring makan malam nya setelah pergi mencuci tangannya di wastafel.
"Bagaimana cafe Li?"
"Ramai Ibu. Oh iya, Liona bawa beberapa kue. Sudah Liona masukkan ke kulkas saat Ibu tidur tadi."
"Waw, terimakasih. Nanti akan Ibu cicipi. Apa semua buatanmu?" Liona mengangguk di sela sela ia mengunyah nasi.
"Ibu akan ikut ke cafe besok, ini juga ingin membantu menantu ibu."
"Tidak perlu. Ibu datang saja untuk mencicipi kue buatan Liona, Liona sudah terbiasa bekerja sendiri jangan khawatir."
"Bagaimana kalau ini memaksa untuk membantu mu Li?"
"Liona bisa apa." pasrah Liona membuat Renita terkekeh.
"Bagaimana kerjaan Mas?" tanya Liona pada Reksa.
"Biasa saja." balas Reksa singkat, padat dan jelas.
"Aku heran Li, kenapa kamu mau menikah dengan pria seperti itu?" Liona hanya tertawa kecil.
Makan malam keluarga kecil itu di liputi kehangatan dengan perbincangan kecil Liona dan Renita. Tak seperti malam biasa yang hanya ada keheningan dan dentingan sendok kala Renita dan Reksa makan.
"Ibu tak ingin membuat kalian terburu buru untuk memiliki momongan, yang terpenting kalian baik baik saja."
"Ibu juga tak ingin kalian memiliki anak saat kalian berdua belum siap. Kalian harus benar benar memikirkan dengan matang, ketika kalian siap menjadi orang tua. Kalian harus benar benar bertanggung jawab. Anak akan merubah hidup kalian, jadi pikirkan baik baik. Jangan terburu buru ya?"
Reksa dan Liona saling pandang dalam hening. Lalu keduanya kompak mengangguk bersamaan membuat Renita tertawa gemas.
"Kalian memang cocok!"
**
"Terimakasih Li." Liona tersenyum pada Renita yang membantu nya menaruh barang barang cucian.
"Oh, apa Ibu menyuruh mas Reksa untuk ke cafe tadi siang?"
"Siapa? Ibu?" Liona mengangguk saat Renita menunjuk diri nya.
"Mas bilang, Ibu yang menyuruh Mas ke cafe untuk menemani Liona."
Renita menggeleng.
"Ibu tidak pernah menelepon Reksa untuk menemani mu." Liona menatap heran.
**
"Mas ta-" Liona langsung memelankan suara nya kala Reksa sudah menutup matanya, pulas di atas kasur.
Gadis itu pelan pelan naik ke atas ranjang lalu mengecek kembali apa Reksa benar benar sudah tidur atau belum dengan menjentikkan jari jari nya di depan wajah tampan sang suami.
"Huh!" kesal Liona.
Gadis itu lalu membenarkan guling yang membatasi kedua nya.
Setelah itu Liona langsung merebahkan diri nya.
xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx
Reksa membuka matanya perlahan saat di rasa Liona sudah tidur.
Tadi Reksa mendengar percakapan Liona dan Renita pasal Reksa yang ke cafe Liona tadi siang.
"Gue nggak di suruh sama Ibu." kata Reksa pelan menatap wajah Liona yang menghadap ke arah nya. "Gue cuma mau belajar jadi suami yang baik aja buat Lo."
Lama Reksa memandangi wajah Liona yang sudah pulas. Pria itu terlihat mengagumi ciptaan Tuhan di depannya karena tak bisa berhenti menatap wajah polos Liona.
Reksa membenarkan rambut Liona yang menutupi wajah nya. Perlahan tangan besar Reksa mengelus pipi Liona. Lalu
Cup
Reksa mengecup kening Liona sekilas.
xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx
JANGAN LUPA IKUTI I*STAGRAM @QUEENDEEII DAN WAT**AD DEE @QUEENAADEE(QUEENDEE)
DOAKAN DEE YA BISA MENJADI PENULIS TERKENAL SUATU SAAT NANTI. AAMIIN AAMIIN.
TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA CERITA DEE. MAAF JIKA TIDAK SESUAI EKSPETASI KALIAN.
DANK U ALL SUKSES SELALU