HF [17]

579 Kata
Kin ingin sekali ada gitu hero yang mampu menghentikan waktu, yang lantas membawanya kabur ke waktu di mana ia kembali bersama Alora. Kin tahu Alora benar-benar tergila-gila dengan Gray yang notabenenya hinggap pada kata sempurna. Namun, meski Kin memintanya untuk tidak merepotkan Kin bertugas bertanya daftar wawancara berdasarkan riset. Tapi, ya ... enggak begini juga ... Lalu, Gray, yang kali itu, Kin merasa antara terhormat dan tidak, dia bisa melihat senyum langka sang pangeran rupawan tersebut. Dia mengatakan, "Hampir semua pertanyaan kamu, selalu berkaitan dengan pribadi saya." Dan, Kin mengobrak-abrik perhatiannya dalam hati. 'Ya, iya lah berkaitan dengan lo. Emang siapa lagi yang harus diwawancara di sini, Bud?' Bud is Budi. No sebut merk. Kin harus berperinsip seperti itu. Sen-sor. "Kamu bahkan tanya soal ojol yang saya berikan uang lebih yang justru kamu tanya, 'Are You Okay, Tuan?'. Lalu, setelahnya, kamu tanya es krim favorit saya, yang selanjutnya, kamu malah rekomendasiin, Es Krim Cium-Rindu, Kiss-Miss gitu maksudnya?" Serius. Kin rasanya ingin hilang saja dari bumi. Namun, gadis itu tetap mempertahankan senyum anggun. Walau sudah jatuh ke kubang lumpur, tak ada salahnya mencari selang, lalu disambungkan ke keran air, dibersihkan. Maka, Kin pun membalas, dia harus tetap mempertahankan eksklusifitasnya sebagai wanita cerdas reporter yang berkelas. Meski, nyeri banget, nih, kepalanya gegara kelakuan Alora yang sungguh tidak oye. "Tuan ... tidakkah Tuan tidak mengambil sisi positif dari hal sederhana yang saya lakukan?" Dahi Gray mengkerut. "Positive?" Dia kemudian mode berpikir usai. "Hamil?" "Be—" Terputus. Karena Gray lebih dulu menatapnya intens. Seolah menanti kalimat selanjutnya. "Be?" "Be—rarti, Tuan memang be-lajar. Soalnya, seringkali Tuan dari hal-hal sederhana, kita jadi akan mengerti sebuah makna yang besar. Gini, deh. Gunanya Tuan menjawab pakai skincare apa? Itu artinya, saya, One and Only In This World yang teramat perduli dan peka kalau sejatinya, saya nggak cuman bisa jadi reporter." "Tapi, jadi kepo-pers?" "No ..." Kin menggeleng. Dia jelas nggak terima. "Namun, membantu Tuan agar bisa berada dalam satu hal yang mana Tuan membantu perekonomian, juga perm—" "Perminyakan." "Nah, ya, perminyakan produksi overrated yang sering jadi masalah terjadinya komedo. Siapa lagi coba, Tuan, yang tidak akan bahagia kalau seorang Graydebara ternyata ikhlas membagi rahasia wajah surgawinya?" Gray tertawa. Kin, sih, sudah menebak kalau itu bakalan terjadi, ya. Hahaha. Soalnya, kan, enggak ada di dunia ini pujian yang nggak akan membuatmu enggak meninggi. "Lalu ice cream? Bukannya di salah satu wawancara di Washington DC saya sudah sempat bilang kalau saya suka ice cream mint?" 'Dih, ngemut sikat gigi.' Kin ingin mencibir. 'Koreksi. Ngemut odol buat gigi. Hehe.' "Iyaaa, saya tahu." Kin terlihat meyakinkan. "Dan, bukankah akan jauh lebih menyenangkan kalau akhirnya semua orang tahu, jika Tuan Graydebara, pemilik perusahaan Benih Bumi, ternyata terbuka atas segala inovasi dan juga beraneka macam varian." Lalu, gadis itu melanjutkan ... "Bukannya ini sangat menguntungkan? Tuan akan menjelma menjadi figur yang ... tak segan untuk mengatasi semuanya dengan baik?" Di situ, Gray mulai melonggarkan dasinya. Perjalanannya menuju ke Bandung saat itu, cukup luar biasa menguras. Meski, ia tak bisa bohong jika ia menikmati kekonyolan gadis yang fun factnya, tak menunjukkan ekspresi takjub seperti kebanyakan. "Terima kasih sebelumnya," ujar Gray. Laki-laki itu melipat bibirnya membentuk smirk yang entah apa artinya. "Tapi, kalau kamu bilang saya akan lebih baik tertarik mencoba hal baru karena itu bentuk daripada menyukai tantangan or whateves, saya pikir saya sudah tahu apa yang mau saya cicipi sekarang." "Iya, kah?" 'Aseq, teraktiraaan ...' gema Kin dalam hati. "Apa itu, Tuan?" "Kamu." "Apa?" 'Maklum, Vu-DEG.' "Iya, kamu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN