HF [16]

725 Kata
"Kami akan bercerai, Bu, lebih tepatnya aku yang memaksa bercerai, Mas Bram nggak mau, tapi kan nggak akan mungkin ada jalan penuh ketenangan jika dalam rumah tangga ada dua istri, mungkin orang lain ada yang bisa tapi aku tidak bisa, Ibu, aku yang memilih pergi." Ratna menggeleng pelan, ia hanya berpikir bahwa Gayatri telah berhasil menghancurkan hidup anaknya, Ratna yakin bahwa Gayatri saat ini tengah menikmati kemenangannya, sementara anaknya akan menanggung luka selamanya. Lea hanya bisa mengangguk, tersenyum, lalu ber dehem, lalu mengangguk lagi, lalu tersenyum lagi... tanpa tahu harus berkomentar apa. Jelas saja, Lea kan bukan ratu belanja seperti sahabat kantornya itu, yang dalam moto hidupnya menyertakan slogan: Fashion is my soul. Tapi, Lea beruntung punya sahabat seperti Audrey. Berkat campur tangan Audrey yang sukarela menjadi fashion stylist-nya, penampilan Lea sama sekali jauh dari kesan nerd, apalagi sampai saltum (salah kostum). "Le, nyalon, yuk," ajak Audrey tiba-tiba ketika pembi- caraan mulai menyerempet ke arah hair style yang lagi in. "Gue gerah ngeliat rambut lo, kayak Dora." "Sialan lo." "Gue kasih tahu demi penampilan lo juga kali, Say..." "lya, tahu." Lea melirik Audrey sekilas. "Tapi, gue bener-bener nggak bisa." Mendadak, Lea tampak malu malu. "Hari first anniversary gue sama Noah..." ini, first anniversary gue "Ya ampun! Kok, lo baru bilang?" Audrey tampak lebih berbinar ketimbang Lea yang merayakan hari bahagia itu. Lea tersenyum simpul. "Oke, oke. Kalo gitu, rencana lo apa?" "Ngng, like the other couple do. Dinner di resto." "Sound's good" Audrey mengerling jenaka. "Tapi, kalo lo nggak dandan, percuma Le. Gue pengen lo tampil beda di hari penting ini. Makanya, lo ikut gue aja ke salon. L harus tampil super duper cantik" "lya, tapi kalo ke salon, gue nggak bisa." "Ihh, Lea. Lo sih bukannya nggak bisa, tapi nggak mau." Lea cuma bisa nyengir. Lea emang paling malas ke salon. Sebisa mungkin, dia lebih memilih Audrey yang mendandaninya. "Pokoknya, just do what l've told you. Okay, Hunny" Kali ini, Lea pasrah. "Yeah, you win." Ini benar-benar masalah! Layout print advertisement produk permen peng- hilang rasa kantuk yang ditangani Lea dan beberapa rekannya, ternyata baru saja ditolak klien. Mereka ku rang sreg dengan desain yang menurut mereka tidak begitu 'nendang' ke pasaran. Tapi, untungnya tidak sam harus merombak total konsep iklan kecil- rang sreg dengan yang begitu 'nendang' ke pasaran. Tapi, untungnya tidak sam- pai harus merombak total konsep iklan itu. Revisi kecil- kecilan saja bisa dikerjakan hanya dalam beberapa jam. Lea baru saja mengarahkan kursor pada tulisan forward, ketika suara-suara itu mengganggu telinganya. Dia mengangkat wajah dan melihat Ana, salah satu rekan kerjanya, sedang sibuk membagi-bagikan undangan. Amplopnya berwarna merah marun, ada hiasan seperti ukiran di salah satu sudutnya. Di depan Lea, Ana mengedipkan sebelah matanya. "Pesta tunangan gue sama Randra. Dateng. ya, Bu." 1 Lea ingin sekali memarahi Ana yang benar-benar meng- ganggu di tengah-tengah situasi full stres ini, tapi melihat wajah sumringahnya dia jadi tak tega. Lea mendekatkan diri ke Ana, memberi selamat disertai satu pelukan plus cipika-cipiki. "Kapan lo nyusul, Le?" goda Ana. "Lo masih sama cowok lo itu kan?" Nyusul? Lea jadi berpikir sesaat. Apa iya, dia bisa seperti Ana dalam waktu dekat? Menyebar undangan dengan inisial namanya dan Noah digrafir indah di atas amplop. Tiba-tiba, kesedihan menyusup perlahan di dadanya. "lya, masih dong" Suara itu muncul mendadak. Audrey nyengir. "Hari ini kan, first anniversary Lea sama Noah." "Wow! Congrats ya, Dear." Kini, ganti Ana yang mem- "Kapan lo nyusul, Le?" goda Ana. "Lo masih sama cowok lo itu kan?" Nyusul? Lea jadi berpikir sesaat. Apa iya, dia bisa seperti Ana dalam waktu dekat? Menyebar undangan dengan inisial namanya dan Noah digrafir indah di atas amplop. Tiba-tiba, kesedihan menyusup perlahan di dadanya. "lya, masih dong" Suara itu muncul mendadak. Audrey nyengir. "Hari ini kan, first anniversary Lea sama Noah." "Wow! Congrats ya, Dear." Kini, ganti Ana yang mem- beri pelukan hangat. "Thanks, An." "Cepet nyusul, ya." Setelah Lea menjawab dengan anggukan pelan dan agak ragu, Ana kembali sibuk mem- bagikan undangan kepada yang lain. "Inget klien kita yang perusahaan permen?" tanya Lea sambil menggandeng Audrey keluar ruangan. Rasa penat membuat Lea ingin hengkang sebentar dari kubikelnya yang penuh dengan berkas. "Mereka nggak terlalu suka dengan layout kita." "Uh...jadi revisi?" "Yap. Ill send the e-mail later. Langsung revisi, oke? Gue mau ke toilet dulu." "Kalo gitu, gue ke ruangan lo dulu, ah." Audrey ter senyum centil. "Mau flirting sama Fadi."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN