Kembali ke masa lalu, di awal tahun 2025.
Pagi itu, sebuah pesan singkat dari pembimbing skripsiku yang baru tiba-tiba mengagetkanku. "Segera ke kampus. Bapak jam 09.10 sudah akan pergi rapat."
Mataku membulat lebar setelah membaca pesan dari Pak Kusnadi, Kaprodi yang menjadi dosen pembimbing skripsiku yang baru, karena yang lama sudah pensiun seminggu yang lalu. Jantungku langsung berdegup kencang, kaget. Untunglah aku menyapu sambil memegang ponsel, notif pesan yang masuk bisa langsung kulihat. Sebuah keharusan untuk mahasiswa semester akhir tidak jauh-jauh dari ponsel. Setelah mendapat pesan itu, tanpa pikir panjang, aku yang sedang menyapu ruang tengah buru-buru menyelesaikannya dan mengembalikan sapu ke belakang pintu dapur, lalu berlari menuju kamar. Jantungku rasanya mau lepas, jarum jam menunjukkan pukul delapan lewat dua puluh. Aduh!
Dari jendela kamar yang terbuka lebar, aku melihat sekawanan burung gereja melintas sambil bercicit. Rasanya alam pun tahu kalau hari ini bukan hari biasa.
Aku keluar kamar, sudah rapi dengan kemeja biru gelap, jilbab segi empat hitam, dan rok hitam—setelan bimbingan pertamaku. Aku kembali ke dapur, mengisi botol minum yang kosong, lalu mengambil sepatu dan menentengnya. Aku belum sempat sarapan, jadi botol air itu setidaknya bisa menemaniku di jalan.
Buru-buru kututup botol minumku sampai rapat, lalu berjalan melewati ruang tengah—seluruh bangunan rumah terbuat dari papan, lantainya semen dari depan sampai dapur—yang langsung terpampang dengan pintu luar. Dua kamar berada di sisi kanan jika keluar, satu kamar Ayah dan Mamak, satu lagi kamar aku dan dua Adikku yang masih SD. Biasanya mereka lebih sering tidur di depan TV dengan sehelai tikar di sana. Dan ya, elektronik milik bersama di rumah yang tersisa tinggal TV. Laptop dan ponselku, adalah kebutuhan pribadi untuk kuliah. Dulu Mamak punya kulkas, tapi sudah digadai Ayah, untuk modal main judi. Bahkan kereta—kami menyebut motor dengan sebutan kereta—pun digadai oleh Ayah. Sekarang rumah benar-benar kosong melompong. Kalau sampai laptop dan ponselku dijual Ayah untuk main judi, ah, tidak tahu lagilah aku harus berkata apa. Mungkin aku akan gila.
Langkahku terhenti di ambang pintu saat melihat Mamak berdiri di sana, siluetnya memenuhi kusen. Orang-orang kampung memanggil Mamakku dengan sebutan Mak Yuni, padahal Mamak-mamak batak lebih sering dipanggil dengan ditambah nama anaknya, harusnya Mak Ina karena aku anak pertama. Tapi panggilan itu sudah melekat sejak dulu, aku tidak tahu kenapa. Pagi itu, Mamak memakai celana longgar warna krem dan kaos oblong hitam dengan leher yang sudah melar. Rambut pendek sebahu yang terikat asal dengan karet gelang.
Aku tahu, Mama tidak tidur di rumah lagi. Tampangnya seperti orang yang belum mandi. Aku mengendus pelan, memang belum mandi. Bau keringat Mamak benar-benar semerbak karena tak pakai tawas atau deodorant.
Sebelum aku terduduk dan sibuk mengenakan kaos kaki dan sepatu, sempat kulihat pandangan Mamak menyapu tubuhku dari atas sampai bawah dengan tajam. Pandangannya terhenti pada tas selempangku, lalu naik menatap wajahku. Tak terlalu kuhiraukan. Yang kupikirkan sekarang adalah mengejar waktu, karena angkot bukan disitu ditunggu langsung ada. Jadi, sekarang aku buru-buru, mengejar waktu yang terasa seperti berlari semakin jauh. Aku duduk di lantai semen yang dingin, memakai kaus kaki cokelat polos dengan perasaan sedikit cemas, tapi tidak tahu kenapa.
"Mau ke kampus kau?" tanya Mamak sambil berkacak pinggang.
"Iya," jawabku, tidak mendongak. Aku sedang sibuk memasang kaus kaki yang hampir terbalik karena buru-buru. Setelah selesai, aku bangkit. Tapi Mamak masih berdiri di depanku, menghalangi jalanku.
"Mana duit KIP-mu? Sini, Mamak mau beli beras," suaranya menuntut.
Aku merogoh tas. Aku sudah terbiasa dengan ini. Uang KIP yang seharusnya untuk biaya kuliahku lebih sering dipakai untuk membiayai keluarga ini. Ayah tidak punya pekerjaan tetap, kalaupun kerja, itu tergantung mood-nya. Sejak uang KIP-ku bisa membiayai makan Mamak, Ayah, aku, dan dua adikku, Ayah tidak pernah terlihat bekerja lagi. Aku hanya tahu Ayah sering keluar rumah, tapi bukan untuk bekerja. Pekerjaan tetapnya adalah menonton orang berjudi.
Aku mengeluarkan selembar uang seratus ribu rupiah yang lusuh dari dompet pink kecilku yang kulitnya sudah mengelupas. "Ini, Mak," kataku.
"Yang betul ajalah. Mana cukup seratus ribu. Lima ratus ribu sini," Mamak mendelik, matanya membesar, tatapannya menusukku.
"Hah, lima ratus?" tanyaku, suaraku hampir tidak terdengar. Aku merasa kaget dan bingung.
"Iyalah. Kau pikir harga bahan pokok murah?"
"Kenapa Mamak nggak minta Ayah?"
"Bodohnya kau? Kau lihat Ayahmu kerja? Pengangguran kayak dia dimintai duit. Di rumah ini yang berduit cuma kau. Ngarepin BLT mana termakan. Untunglah guru sekolahmu dulu bantuin kau daftar KIP, kan!"
"Iyalah, nggak termakan. Mamak kasih duitnya untuk Ayah judi."
"Gayamu, kalo menang kau makan juga duitnya. Mana sinii… cepat!"
"Mana ada, uang untuk makan kita aja dari KIP."
"Alah-alah menjawab ajalah kau jadi anak. Mana uangnya, sini, lima ratus!"
"Untuk print revisi Ina nanti gimana kalo Ina kasih semua?" tanyaku, suaraku tercekat, rasanya ada gumpalan tak kasat mata di tenggorokanku. Aku merasa takut dan cemas.
Mamak memutar bola mata dan mendengus kesal. "Kau ini kayak baru kemarin hari aja dapat KIP. Nanti juga ada lagi duit KIP itu ditransfer orang pemerintah. Baru segitu diminta, udah perhitungan kali jadi anak. Mana uangnya? Pegel tanganku!" Mamak mengulurkan tangannya, jari-jarinya bergerak tidak sabar.
Aku menghela napas. Dengan enggan, aku mengeluarkan lima lembar uang seratus ribuan dari dompetku. Aku merasa sangat kesal dan sedih. "Jangan pelit-pelit jadi orang. Kau pun makan di rumah juganya," kata Mamak, suaranya dingin. Kata-katanya bagaikan anak panah, menusuk tepat di ulu hatiku. Aku hanya bisa pasrah saat Mamak menarik uang itu.
Belum sempat uang itu berpindah sepenuhnya, Ayah yang baru saja masuk rumah dengan napas terengah dan mata merah bekas begadang, seperti serigala lapar, langsung menyambar dua lembar dari tangan Mamak. "Buang-buang duit aja kau, sialan!" hardik Mamak, suaranya melengking dan memenuhi ruangan. Aku merasa sangat malu.
Seorang perempuan tetangga, istrinya Pak Rahmat, kebetulan lewat. Dia menoleh sejenak, wajahnya menunjukkan rasa jengkel. "Masih pagi lagi, Mak Yuni. Merepet aja kerjamu," teriaknya, lalu pergi. Aku merasa sangat malu dan sedih. Aku tidak menyalahkan tetangga itu, dia benar. Setiap hari, selalu ada pertengkaran, selalu ada teriakan Mamak yang meminta uang KIP-ku. Rasanya sedih, tapi mau bagaimana lagi. Anak akan selalu salah di mata orang tua.
Aku mencium tangan Mamak dengan cepat, gerakanku seperti orang yang melarikan diri. "Ina pergi dulu, Mak. Mau bimbingan skripsi."
Ayah, yang baru pulang sekitar jam delapan pagi, berjalan gontai ke dapur setelah merampas--menarik dengan cepat uang dua ratus ribu dari tangan Mamak, seolah tidak ada yang perlu dihiraukan.
"Sudah, sudah, pigilah. Sekolah yang betul-betul," katanya tanpa menoleh ke arahku yang sudah mengulurkan tangan. Aku merasa sangat kecewa dan tidak dianggap. Setelah Ayah menolak bersalaman, aku langsung berbalik badan dan memakai sepatu.
Suara Mamak yang masih mengomel soal uang dua ratus ribu masih terdengar jelas, seperti melodi pagi yang sumbang saat aku melangkah keluar rumah. Aku meninggalkan rumah yang rasanya lebih pengap daripada udara pagi.