Bab 2:Menunda Pulang

1135 Kata
Angkot 121 melaju kencang di jalanan Simpang Beo yang mulai ramai. "Unimed, Bang?" tanyaku, hanya sekadar formalitas pada supir, yang dibalas dengan anggukan kepala. Aku langsung naik, mencari tempat duduk, mencari sepotong ketenangan di tengah bising kota. Aku hanya ingin kabur dari rumah. Rumahku tidak terlalu jauh dari kampus, hanya saja daerahnya terkenal sebagai tempat rawan. Tapi rasanya, setiap perjalanan akan selalu terasa panjang, apalagi jika pikiran sedang kalut, pasti akan sibuk melayang-layang ke mana-mana. Angkot berhenti di pinggir jalan dekat gerbang kampus. Aku melompat turun. Gerbang 1 terlihat masih jauh, seolah mengejek langkah kakiku. Tujuh menit jalan kaki. Jam di pergelangan tanganku menunjukkan pukul 09.10 WIB. Dosen pembimbingku yang baru, Pak Kaprodi, sudah berpesan, pukul sepuluh ia ada rapat dan tidak akan kembali lagi ke kampus. Jantungku berdebar kencang, aku diliputi rasa cemas dan panik. Aku mulai berlari, napasku terengah-engah, terburu-buru mengejar waktu. Langkah kakiku menaiki tangga Fakultas Bahasa dan Seni. Saking buru-burunya, aku menabrak seseorang yang berjalan searah denganku. "Aduh!" desis suara itu. Aku menoleh sejenak, "Maaf!" kataku cepat, tanpa mengurangi laju lariku. Aku tidak punya waktu untuk berhenti atau merasa bersalah. Jantungku berdebar kencang saat tiba di depan ruang Kaprodi. Aku mengetuk, dan suara dari dalam mempersilakan. Aku melangkah masuk, napasku masih memburu. Aku melihat orang yang baru saja kutabrak juga masuk, lalu duduk di kursi di sebelahku. Aku menahan napas, kaget. Pria itu menoleh padaku, senyum tipis terukir di bibirnya. Inilah bimbingan pertamaku dengan dosen yang baru, dan di sampingku, duduklah seorang pria yang tadi tak sengaja kutabrak. Bimbingan itu tidak sampai lima menit. Pak Kaprodi buru-buru berdiri, mengambil laptop dan tasnya. "Willie, bantu Ayah menilai UAS adik-adik semester bawah, ya," pesannya sambil berlalu, menghilang di balik pintu. Di ruangan itu, tersisa aku dan William. Aku masih membolak-balik naskah bab 1 sampai 3 yang penuh coretan, otakku berusaha mencerna instruksi yang terlalu singkat. Aku baru ingat, aku sudah merekam suara percakapan kami. Aku buru-buru mematikan ponselku, supaya tidak ada yang terlewat. Kemudian, aku teringat pria di sampingku. "Maaf ya tadi," aku memulai, suaraku sedikit canggung. "Aku nggak sengaja nabrak." William hanya mengangguk santai. Matanya menatapku, memancarkan sesuatu yang belum bisa kupahami. "Kamu baru ganti DPS?" tanyanya, suaranya terdengar lembut dan sedikit berat. "Iya," jawabku, "DPS yang lama sudah pensiun. Pak Bambang." "Wah, sayang sekali," William menggeleng ringan. "Padahal Ayah itu enak. Beliau pernah mengajar mata kuliah Linguistik Forensik di kelasku semester dua." Aku hanya mendengarkan, merasa sedikit kikuk, tidak tahu harus merespons apa. "Setelah ini mau ke mana lagi?" tanya William. "Nggak tahu," aku mengangkat bahu, "Tapi malas pulang." William mengangguk, lalu melepaskan ransel hitamnya. Ia mengeluarkan laptop sambil berkata, "Sini saja revisi langsung, atau bantu aku nilai ini." Ia mengambil tumpukan kertas folio putih dari laci bawah meja Kaprodi. Bruk! Suara tumpukan kertas itu, yang lumayan tinggi, seolah sebuah beban berat. Aku mengangguk setuju. Sebuah rasa kasihan merayap di hatiku. Aku tidak tega melihat laki-laki yang tadi pagi tak sengaja kutubruk ini mengerjakan tumpukan paper sebanyak itu sendirian. "Berarti yang DPS beliau harus bantu seperti ini?" tanyaku. "Enggak," jawab William, dengan senyum tipis yang baru kusadari ada di wajahnya. "Aku asdos. Nanti kalau uangnya cair, aku traktir deh." Aku hanya tersenyum tipis. "Kamu dari kelas apa?" tanya William, suaranya mengalir ringan. "Reguler D. Kamu?" jawabku. "Aku A." Aku hanya mengangguk. Inilah fase mahasiswa semester akhir. Punya kenalan dan kawan baru, entah karena satu dosen pembimbing, penguji, atau takdir belaka. "Nama kamu siapa?" tanyaku, memberanikan diri. Suaraku sedikit ragu. "Nama panjang atau pendek, nih?" William bercanda, matanya tetap fokus pada tumpukan kertas. "Bebas," jawabku singkat, nadaku datar. Aku tidak mau diajak bercanda. "William Jonathan Pasarmak," jawab William akhirnya. Aku mengangguk. Tiba-tiba sebuah pertanyaan muncul di benakku. "Kenapa dipanggil Willie? Kenapa nggak Nathan?" "Nggak tahu," William terkekeh, mengangkat bahu, seolah pertanyaan itu tidak penting. Dari situ, benih perkenalan kami tumbuh. Percakapan mengalir deras, tentang rencana setelah tamat. William masih bingung setelah lulus S.Pd akan ke mana selain mengajar, tahu sendiri gaji guru di Indonesia seperti lelucon. Tuntutan masa depan terasa lebih berat di pundaknya, apalagi dia laki-laki. "Aku juga belum ada rencana nikah lima tahun ke depan," ujarnya suatu kali, nadanya datar. Aku pun sama, aku malah tidak ingin menikah. Mendengar pernyataanku, Willie langsung mengangkat pandangannya menatapku. "Oh ya? Kenapa?" tanyanya, sedikit terkejut, alisnya terangkat. "Nggak pengen saja," jawabku, jujur, tanpa keraguan. "Eh, tapi katanya di Islam, nikah itu wajib, ya?" tanya William hati-hati, berusaha menjaga sopan santun. "Maaf kalau aku salah kata, tapi aku pernah dengar begitu." Aku meluruskan, "Kalau nikah itu hukumnya bisa wajib, bisa mubah, tergantung orangnya. Misalnya, kalau dia nggak bisa menahan nafsu, itu jadi wajib. Daripada dia main sama l***e, kan jadi zina." William mengangguk, dahinya berkerut samar, seolah mencerna informasi baru. "Oooh, jadi begitu." Aku teringat sesuatu. "Pas SD, aku punya teman Kristen, dia nggak boleh makan babi." "Oh, itu Adven nggak sih?" William menjawab, seolah sudah hafal seluk-beluknya. "Mereka ibadahnya juga hari Sabtu. Lebih banyak pantangannya." Aku mengangguk, lalu bertanya, "Kalau kamu?" "Aku Protestan," jawab William. "Oooh," aku mengangguk pelan, pandanganku menunduk menatap lembaran yang sedang kupegang, lalu kembali menoleh menatap Willie dan bertanya. "Terus, katolik dan protestan beda lagi?" tanyaku penasaran, mataku berbinar ingin tahu. "Beda, Naa," jawab William. "Setahu aku yaa," Willie mengangkat tangan kirinya, menopang dagu, "kalo katolik itu lebih banyak menghormati Bunda Maria juga, tapi tetap Yesus yang utama, kalo protestan fokusnya lebih langsung ke Yesus aja, anak Bunda Maria. Kalo di Islam Maryam kan?" Aku mengangguk, wajah penasaran dan mata berbinarku tidak dapat berpaling menatap Willie. Aku condong ke depan, mendengarkan dengan saksama. Rasanya, ini ilmu baru, wawasan yang tidak bisa kulewatkan. Kapan lagi bisa diskusi seperti ini. William melanjutkan, "Katolik juga tata cara ibadahnya lebih banyak juga. Kegiatannya juga banyakan mereka, kayak Kamis Putih atau Rabu Abu. Aku kurang paham juga sih, Naa. Terus... kalo karismatik itu protestan, tapi mereka bukan cuma percaya Yesus, mereka juga percaya bahwa karunia bahasa Roh masih bisa terjadi di zaman sekarang, kalo kami yang protestan nggak percaya penggunaan bahasa Roh untuk zaman sekarang. Gitu, Na." "Oooh," aku mengangguk-angguk. "Ngerti?" Willie menatap sambil tersenyum tipis. Aku mengangguk. "Iya, ngerti," balasku santai. Aku benar-benar menyerap informasi yang baru kudapat, seolah setiap kata adalah butiran ilmu. Setelah membahas agama, kami masih lanjut mengobrol. Mata kuliah dan tugas yang paling berkesan untuk kami berdua adalah Tradisi Lisan Sumatera Utara yang banyak membahas tentang adat istiadat suku, aksara, dan makanan khas. Kami duduk saling berhadapan, tangan kami bergerak sambil menilai tumpukan kertas ujian mahasiswa. Topik pembahasan kami berganti menjadi evolusi, manusia dari kera, dan kerangka dinosaurus yang bentuknya hanya berdasarkan imajinasi si penemu. Tawa kami pecah saat Willie menunjukkan foto tengkorak panda dari hasil Browse di internet, yang berbeda jauh dengan yang biasa kami lihat, saat kami me-roasting dosen-dosen yang sering membuat kami pusing. Lalu, kami saling menceritakan mata kuliah favorit. Aku suka Sintaksis, sementara William menyukai Semiotika.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN