8. Kelas Musik

1104 Kata
Wanita itu melangkahkan kakinya menuju lift kantor Arkana, wanita itu menekan lantai dasar dimana dirinya memarkirkan mobilnya tadi. Valeria memakai kembali kaca mata hitamnya, wanita itu masuk ke dalam mobilnya dan menyalakan mesin. Kening wanita itu berkerut, saat merasakan mobilnya melaju dengan tidak seimbang. “Pasti bocor,” keluh Valeria mencebikkan bibirnya. Belum juga dirinya keluar dari parkiran kantor Arkana, ban mobilnya malah kempes. Valeria membuka kaca matanya, wanita itu keluar dari mobilnya dan mengecek kondisi ban mobil itu. “Aish,” desis Valeria saat tebakannya benar adanya. Wanita itu kembali ke dalam mobil, mengambil ponselnya untuk menghubungi montir yang biasa dia panggil saat mobilnya bermasalah. Tinnn, wanita itu menoleh. Valeria memicingkan matanya melihat mobil mewah berhenti di belakang mobilnya. “Apa matanya buta? Padahal aku sudah menyalakan lampu,” cibir Valeria berjalan menuju mobil mewah yang sudah mengklaksonnya. Pintu mobil itu terbuka, sosok lelaki yang dia temui saat berada di ruangan Arkana keluar dari mobil mewah itu. Valeria melebarkan matanya, niatnya untuk mencaci maki lelaki itu sirna sudah begitu lelaki yang dikenalnya sebagai sepupu Arkana tersenyum lembut kearahnya. “Ada apa dengan mobilmu?” tanya Frederick. “Bannya kempes,” jawab Valeria sangat gugup karena lelaki itu kini berjalan mendekat kearahnya. ‘Astaga, apakah semua keturunan Carollino tampan-tampan seperti mereka?’ pekik Valeria di dalam hatinya. Jantungnya berdegup tidak karuan ketika aroma parfume Frederick menyeruak memenuhi indera penciumannya. Frederick mengecek mobil Valeria, dan benar ban depan mobil wanita itu kempes. “Kamu mau kemana?” tanya Frederick. “Saya? Saya mau mengajar tuan,” jawab Valeria sangat gugup. Aroma parfume lelaki itu sungguh membuat Valeria gugup tidak karuan. “Ayo aku antarkan,” ucap Frederick. “Eh?” tanya Valeria gelagapan begitu mendengar Frederick ingin mengantarkannya. Frederick menuju mobil Valeria, lelaki itu mengambil kunci mobil wanita itu. Terlihat Frederick menghubungi seseorang, dan tidak lama dari itu ada lelaki berpakaian hitam-hitam seperti bodyguard datang kearah mereka. “Ini, tolong urus mobilnya. Setelah itu antarkan ke alamat yang nanti aku kirimkan padamu,” perintah Frederick diangguki lelaki itu. “Baik pak,” jawab mereka kompak. Frederick lalu menggandengan tangan Valeria setelah lelaki itu mengambilkan tas milik Valeria yang ada di dalam mobil. Frederick membukakan pintu untuk Valeria dan mempersilahkan wanita itu untuk masuk ke dalam mobilnya. Tanpa penolakan dari Valeria, lelaki itu melajukan mobilnya meninggalkan pelataran parkir kantor dan mengantarkan wanita itu menuju tujuannya. “Tuan, apakah saya tidak merepotkan anda?” tanya Valeria merasa tidak enak dengan Frederick. Frederick menggeleng, “Tentu saja tidak, aku sendiri yang berniat mengantarkanmu. Kapan lagi aku bisa mengantarkan wanita secantik kamu?” kekeh Frederick membuat Valeria menunduk malu dengan degupan jantungnya yang extra cepat dari biasanya. “Tuan terlalu memuji saya,” jawab Valeria dengan tersenyum lembut kearah Frederick. Detik pertama, Frederick sangat terhipnotis dengan senyuman yang Valeria tunjukkan kepadanya. Detik selanjutnya Frederick mengerjapkan matanya menyadarkan dirinya dari pemikiran aneh yang menghinggapinya. “Jangan memanggilku tuan, kamu terlalu formal. Panggil saja Frederick atau Erick. Syukur-syukur kamu memanggilku sayang,” ucap Frederick menggoda Valeria. Wanita itu hanya tersipu malu mendengarkan Frederick melontarkan kalimat seperti itu. “Baik, Erick?” tanya Valeria menaikkan alisnya. “Penurut sekali,” ucap Erick menyentuh puncak kepala Valeria hingga wanita itu menegang di tempatnya dan menahan napasnya untuk beberapa detik. Erick terkekeh melihat wajah lucu dari wanita yang kini duduk di sampingnya.  “Kamu mengajar musik di sana?” tanya Frederick. Valeria mengangguk, “Kebetulan saya, emh aku pemiliknya. Hanya untuk mengisi waktu saja, soalnya aku tidak bekerja di lain tempat soalnya,” jawab Valeria menjelaskan pekerjaannya. “Kamu tidak bekerja? Lalu apa yang kamu bicarakan dengan Arkana? Kalian pacaran?” “Tidakk!” Valeria menggelengkan kepalanya dengan cepat, “Kami hanya membicarakan soal… soal tanah panti asuhan yang sudah diambil alih perusahaan kalian,” jelas Valeria. “Tanah panti asuhan?” tanya Frederick mengerutkan keningnya. Valeria mengangguk dengan cepat, “Iya, aku bernegosiasi dengannya untuk tidak menggusur panti itu,” jelas Valeria. Frederick menatap Valeria lekat, wanita cantik dan berhati sangat mulia. Bisakah Erick memiliki wanita itu untuk dirinya sendiri? “Kita sudah sampai,” ucap Valeria tersenyum. “Tunggu, biar aku yang membukakannya untukmu,” ucap Frederick menghentikan tangan Valeria yang hendak membuka pintu mobilnya. Frederick keluar dari mobilnya, lelaki itu berlari mengitari mobil dan membukakan pintu untuk Valeria. “Terimakasih sudah mengantarkanku, dan untuk mobilku juga,” ucap Valeria merasa tidak enak dengan Frederick. Lelaki itu mungkin memiliki pekerjaan yang sangat padat, tapi Frederick menyempatkan diri untuk mengantarkan Valeria ke sekolah musiknya.  Frederick hanya tersenyum, “Tidak mengajakku masuk ke dalam?” tanya Frederick menatap sekolah musik berlantai tiga di depannya. “Kamu tidak ada pekerjaan?” tanya Valeria dijawab gelengan kepala dari lelaki itu. Valeria mengajak Frederick masuk ke dalam sekolah musik yang dia dirikan. Beberapa pagawainya menyapa Valeria dan Frederick. Valeria mengajak lelaki itu untuk singgah ke ruangannya yang ada di lantai satu. “Tapi aku tidak bisa menemanimu mengobrol, anak-anak sudah menungguku sejak lima belas menit yang lalu,” sesal Valeria mempersilahkan Frederick duduk dan menunggu dirinya selesai mengajar. “Tidak masalah, aku bisa melihatmu mengajar juga kan? Sekalian menambah ilmu tentang musik, aku sangat minim ilmu pengetahuan tentang itu,” jawab Frederick. “Boleh, asal jangan mengganggu proses belajar,” ucap Valeria terkekeh. Valeria meletakkan tasnya di meja kerjanya, wanita itu memberikan sinyal kepada Erick untuk mengikutinya. Mereka memasuki ruangan kaca yang kedap suara, semua murid sudah duduk di tempatnya dengan keyboard di depan mereka. “Kamu bisa duduk di sana,” tunjuk Valeria kearah kursi yang kosong. Lelaki itu berjalan kearah kursi yang ditunjuk Valeria. Frederick tersenyum menyapa anak didik Valeria dan mengikuti arahan Valeria yang sebenarnya ditujukan kepada anak-anak didiknya. “Jadi kalau ingin belajar keyboard dengan cepat, rahasianya hanya satu. Kalian harus menghafal benar jaral tujuh nada penyusun. Do-re-mi-fa-so-la-si-do,” jelas Valeria memberikan arahan untuk anak-anak didiknya yang kini dengan serius memperhatikan Valeria. Berbeda dengan anak-anak didik Valeria yang menatap valeria memperhatikan, Frederick justru tersenyum sendiri dengan isi pikirannya. Lelaki itu membayangkan saat dirinya dan Valeria duduk bersama di depan keyboard itu dan melantunkan lagu romance yang mewakili perasaan mereka. Ah, andai saja itu benar-benar terjadi. “Cantik,” ucap Frederick membuat seluruh mata menatap kearahnya begitu juga Valeria yang menatap lelaki itu bingung. Frederick mengerjapkan matanya, lelaki itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Siapa yang cantik, Sir?” tanya salah satu murid Valeria menatap Frederick dengan tatapan jenakanya. “Itu, intonasi nadanya sangat cantik sekali,” jawab Frederick tergagap. Semua orang tertawa menertawakan wajah Frederick yang kini merah padam. “Hari ini cukup sampai disini saja kelasnya, selamat bertemu kembali hari Jumat,” ucap Valeria menutup kelas musiknya untuk hari ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN