9. Keturunan Corlyn Jadi Babu?

1124 Kata
Hari yang paling ingin dia hindari bagi Valeria seumur hidupnya adalah hari ini. Hari pertama dimana dia akan menjalankan kontrak sialan itu demi panti asuhan seorang wanita paruh baya yang sangat menyayanginya layaknya ibu dan anak. Tidak ada pengorbanan yang lebih berat dari pada ini, rasa kemanusiaannya lebih besar dari pada egonya untuk harga diri. Baginya, hidupnya memang sudah berakhir. Kini , dia tidak ingin ada korban lain dari kerasnya kehidupan. "Kenapa kamu harus pindah, memangnya apa pekerjaan yang milyader muda itu berikan padamu?" Tanya Sandra pada Valeri yang sedang menikmati roti panggang sebagai sarapan paginya. Semalam, Valeria makan malam bersama dengan Frederick sebelum lelaki itu kembali pulang ke Indonesia karena urusannya di Jepang sudah selesai. Frederick menawarkan bantuan jika Valeria memerlukannya. Tapi Valeria tidak akan mengkhianati Arkana, karena itu bukanlah jati dirinya yang sebenarnya. "Kenapa kamu ingin tahu, kamu cukup tinggal di sini. Kurasa apartemen ini tidak begitu buruk untuk kamu tempati," keluh Valeri pada sahabatnya yang memang suka sekali bertanya. Sandra hanya mendengus,inilah Valeri. Dia tidak ingin urusannya diketahui oleh orang lain. "Hei aku bukannya ingin tahu, tapi bagaimana jika keluargamu yang kaya raya itu menelpon kesini, apa yang harus ku jawab ?" "Bisaa ku atur, sarapanku sudah selesai. Tolong bantu aku membawa koperku ke bawah," pinta Valeri diangguki Sandra. Mereka berdua membawa koper berukuran besar lantai satu unit apartemen yang Valeria tempati. Dari pesan yang dikirim Arkana, akan ada sopir yang menjemput dirinya untuk datang ke rumah lelaki itu. Tentu saja sopir itu suruhan Arkana. "Kamu serius pindah?" Tanya Sandra lagi untuk kesekian kalinya hingga membuat Valeri menghela napasnya. Valeri meletakkan kedua tangannya di bahu Sandra, dengan satu alis naik keatas. “Satu kali lagi kamu bertanya seperti itu, kamu mendapatkan dua buah piring cantik," kekeh Valeria membuat Sandra kesal hingga menimpuk bahu Valeri. "Aww," ringis Valeri mengusap bahunya yang terasa panas. "Awas saja ji- " ucapan Sandra berhenti. "Ekhemm," dehaman seseorang membuat mereka berdua menoleh. Arka berdiri dengan gagahnya, lelaki itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana pendek selututnya. Kaos berkerah V ,ditambah kaca mata coklat bertengger keren di hidung mancungnya. Valeria terpesona akan penampilan Arka pagi ini. Sedangkan Sandra masih menganga dengan pemandangan di depannya. 'Dia lebih tampan daripada yang di majalah,' batin Sandra berdecak kagum. "Apa kalian akan terus bertengkar seperti anak kecil?" Tanya Arka dengan suara dinginnya membuat Sandra merinding. Valeria mengangkat bahunya acuh, "Sandra , aku pamit. Jaga apartemenku baik-baik " pesan Valeria diangguki Sandra. Kening Arka berkerut, kenapa pesannya hanya ditujukan untuk apartemen. Memangnya dia tidak menitip pesan untuk anaknya? Ckck mungkin anaknya diambil alih oleh mantan suaminya berhubung dalam kontrak status Valeria single. "Ayo cepat," ucap Arka berjalan mendahului Valeri. Valeri melongo, bukankah Arka lelaki. Apakah lelaki tidak punya pikiran sendiri untuk membawakan dua koper besar miliknya? Kemana hati nurani Arkana, kenapa sangat berbeda sekali dengan Frederick? "Dasar lelaki sinting," cibir Valeri saat Arka sudah memasuki mobil mewahnya. Sandra terkikik geli melihat pemandangan di depannya, wajah kusut Valeri dan juga sikap cuek Arka seakan menjadi paduan yang serasi di matanya. Dengan susah payah Valeri memasukkan kopernya kedalam bagasi, Valeri mengusap keringat sebesar biji jagung dikeningnya dengan telapak tangannya. Brakk, Valeri menutup pintu penumpang dengan kencang hingga membuat Arka yang sedang menelpon seseorang berjingkat kaget. Arka mematikan sambungannya dan menoleh kearah Valeri. "Memangnya aku sopirmu?" Tanya Arka sinis. "Bukankah kamu bilang aku akan dijemput sopir? Kamu tau sendiri bukan jawabannya?" jawab Valeri tak kalah sinisnya dari Arka. Arka menggeram , bisa-bisanya wanita itu berdebat dengannya. Ini baru awal dari kontrak selama enam bulan ke depan. Semoga saja Arka betah dengan sikap menyebalkan  Valeria. Valeria mengalihkan pandangannya ke luar jendela, musim gugur di negara itu membuat jalanan nampak indah dengan dipenuhi dedaunan kering berguguran. Bukankah setelah musim gugur akan ada musim semi? 'Aku menantikan datangnya musim semi dalam hidupku,' batin Valeri tersenyum kecut. 30 menit kemudian, mereka sampai di rumah besar dengan gaya minimalis. Jarak antara gerbang dan pintu utama nyaris 500 meter. Rumah itu tidak kalah megahnya dari rumah keluarga Corlyn di Indonesia. Kali ini Valeria bisa menebak bahwa Keluarga Carollino sangat kaya. "Selamat datang tuan," sapa kepala pelayan keluarga Carollino bernama Harme. "Ya Harme, tolong siapkan kamar untuk wanita itu. Mulai sekarang dia akan tinggal di sini. Layani dia dengan baik," ucap Arka melirik Valeri yang baru saja turun dari mobil. Itu adalah rumah keluarganya, namun karena keluarganya menetap di Indonesia rumah itu jarang untuk di tinggali. Arkana sendiri memilih tinggal di apartemen yang lebih dekat jaraknya untuk pergi ke kantor. "Baik tuan, mari silahkan masuk. Rumah ini sangat sepi tanpa kedatangan tuan dan juga Mr & Mrs.Carollino." Arkana dan Herme berjalan masuk ke dalam rumah, sedangkan Valeria masih bingung dengan apa yang ada dihadapannya. "Apa aku akan hidup satu atap dengan istrinya? Oh astaga ini gila " ucap Valeri mengutuk takdirnya. Arka menoleh, dia masih mendapati Valeri terdiam di tempatnya. "Kamu bisa berjalan bukan?" Tanya Arka membuat Valeri tersentak, kemudian mengekori Arka dan Herme di belakang mereka dengan mendengus kesal. Ada 10 pelayan yang menyambut mereka, beberapa dari mereka mungkin seusia Valeri. Valeri menyapa mereka dengan senyuman ramahnya. "Jehan , antarkan nona ini ke kamarnya," ucap Herme diangguki pelayan berusia 19 tahun bernama Jehan. "Mari nona ikuti saya," ucap Jehan. Decak kagum tak bisa ditahan oleh Valeri, tatanan figura foto yang berada di samping tangga membuat Valeri terkesan. "Anda kekasih tuan Arka?" Tanya Jehan pada Valeri. "Ah..aku? Ti..dak " jawab Veleri gugup. "Jika anda membutuhkan sesuatu, anda bisa memanggil saya nona," ucap Jehan kepada Valeria. "Jehan, namamu Jehan bukan? Panggil aku Valeri saja saat kita berdua. Kurasa, kita akan menjadi kakak adik yang kompak," ucap Valeri tersenyum lembut pada Jehan. Jehan ternganga , wanita di depannya selain cantik tapi juga sangat lembut dan baik. "Nona, maksudku kakak. Kurasa tuan Arka menganggap anda spesial. Anda wanita pertama yang diajak kemari," ucap Jehan membuat Valeri terkejut. Ketukan di pintu kamar membuat mereka menoleh, "Jehan, tinggalkan kami berdua," ucapan Arka membuat mereka menoleh. Entah kapan Arka sudah berada di sana, Jehan membungkuk undur diri sebelum Arkana marah dengan dirinya karena berani berbicara lancing kepada Valeria. Arkana mendekat kearah Valeria, "Di samping kamarmu adalah kamarku, ada pintu penghubungnya. Kamu harus ingat tugasmu, mulai sekarang kamu yang mengurus kebutuhanku," jelas Arka menekan kata ‘kebutuhanku’ membuat Valeria merinding. Valeri hanya diam , dia menunggu Arka melanjutkan kata-katanya. "Dan sekarang aku lapar, buatkan aku makanan. Aku belum sarapan sejak tadi," ucap Arka sukses membuat Valeri terbelalak. "Bukankah di rumah ini ada puluhan pelayan?" tanya Valeria menatap Arkana dengan memicingkan matanya. "Kamu lupa tugasmu?" Tanya Arka balik. "Oke oke , aku buatkan untukmu " ucap Valeri mengangkat tangannya keudara tanda dia mengalah. Dengan kesal Valeri menuruni tangga rumah bak istana, di kamarnya Arka tersenyum puas melihat wajah Valeria yang terlihat sangat kesal. "Sialan, keturunan Corlyn dijadikan babu. Mengenaskan!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN