10. Membawa Wanita Ke Apartemen

1022 Kata
Sialan ! Itu kata pertama yang diucapkan Valeria, peluh keringat sudah membasahi kening dan juga leher jenjangnya. Hei jangan kira jika Valeri sedang olahraga atau beraktivitas ranjang seperti yang kalian pikirkan. Ternyata Arkana memperlakukannya sebagai pembantu di sana. Yang lelaki maksud dengan tubuh Valeria adalah tenaga wanita itu. Lihat saja entah sudah pekerjaan keberapa yang hari ini Valeria kerjakan atas perintah Arkana yang sangat menyebalkan. "Awas saja kau Arkana , akan kuracuni makananmu dan kubuang mayatmu ke sungai Mahakam," geram Valeria sambil mengibaskan selimut yang sedang dia tata di kamar utama, kamar Arkana Carrolino. Betapa gilanya Arkana, lelaki itu meminta Valeria mengganti bad cover di kamarnya baru beberapa jam yang lalu. Arkana meminta Valeria menggantinya dengan warna yang terang, tapi baru saja pekerjaan Valeria selesai lelaki itu malah memarahinya dengan warna mencolok yang dia pilih. “Warna apa ini, terlalu mencolok di mataku. Kamu mau mataku rusak dengan bad cover berwarna sangat terang itu hah?” protes Arkana kepada Valeria. Alhasil, Valeria harus mengganti bad cover di ranjang lelaki mengesalkan itu sebelum Arkana memarahinya dengan berbagai perkataan yang terdengar sangat pedas di telinga Valeria. Jehan, pelayan yang mendampingi Valeri selama wanita itu tinggal di sana hanya bisa terkikik geli. Baginya dan juga pelayan yang lain, hubungan Arka dan Valeria seperti tom and jerry. Mereka tidak pernah akur. Ada saja yang mereka debatkan, dan ada saja yang membuat mereka naik pitam. Kadang Arka yang emosi, kadang juga Valeri yang emosi. "Jangan terlalu membenci seseorang, anda tahu bukan pepatah mengatakan perbedaan cinta dan benci itu hanya setipis helai tissu?" Goda Jehan. Valeri menatap Jehan tidak percaya, dia meletakkan begitu saja sprai yang akan dia pasang. Dia mengelap keringat yang bercucuran, "Kamu sudah pandai menggodaku, huhh " ucap Valeria dengan nada tersengal-sengal. Jehan semakin tak bisa menahan tawanya , Valeria mendelik kesal dengan ucapan Jehan tersebut. Valeria menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang lelaki itu, Valeria menatap langit-langit kamar Arkana. Untung saja hari ini Valeria tidak memiliki kelas mengajar jadi dia bisa lebih santai setelah membersihkan kamar lelaki itu. "Awas saja lelaki itu kalau berani semena-mena lagi denganku,” ucap Valeria penuh peringatan. Kringggg... kringgg. Dering telepon rumah menghentikan ucapan Valeri, dengan malas Valeri mengangkat gagang telepon itu. "Dengan Carrolino home," ucap Valeria menyapa seseorang yang ada di seberang sana. "Apa tugasmu sudah selesai? Jika sudah datanglah ke apartemenku. Kamu harus membersihkannya, ada tamu yang nanti akan datang," ucap Arkana kembali memberikan perintahnya kepada Valeria. Valeria menghela napasnya panjang, baru saja dia bisa menghirup napas setelah rentetan pekerjaan yang lelaki itu berikan kepadanya. Dan kini Valeria harus datang ke apartemen lelaki itu untuk membersihkannya? "Hei Arkana Carollino, kamu tahu sudah berapa banyak tugas yang kamu berikan kepadaku sampa saat ini?" tanya Valeria sangat kesal dengan lelaki itu. “Aku tidak butuh keluhanmu Nona Roseandra, segera ke apartemenku sekarang juga!” “Tapi,-“ "Tidak ada tapi-tapian!" ucap Arkana dipenghujung panggilannya. Valeri mendengus mendengar perintah Arkana, benar-benar gila lelaki itu. Tidak punya hati sama sekali, ini mah melebihi kerasnya menjadi asisten rumah tangga yang bisa istirahat saat mereka lelah. Sepertinya Arkana bukan tipe bos yang baik hati. "Dasar lelaki menyebalkan, ingin sekali aku mencincangnya hingga lembut dan kujadikan daging di spageti,” cerocos Valeria dengan wajah ditekuk sebal. Jehan menghampiri Valeria,"Nona, apa perlu saya membantu anda?" Tanya Jehan. Valeri menggeleng, bisa bertambah panjang kontraknya jika Arka iblis itu tahu bahwa Jehan membantunya menyelesaikan pekerjaan. "Tidak usah, aku akan ke apartemen lelaki sialan itu," ucap Valeri melenggang keluar kamar itu menuju kamarnya untuk membersihkan diri sebelum berangkat ke apartemen Arka. 30 menit kemudian , Valeri sudah siap melajukan mobil mewah yang disediakan Arka khusus untuknya. Dengan kaca mata hitam bertengger di hidung mancungnya, Valeri terlihat sangat menawan. Siapapun tahu, dari penampilan terpampang jelas saja dia dari keluarga orang berada. Tapi Valeri menutupinya dengan menggunakan pakaian santai , tidak terlalu mencolok untuk mengundang perhatian orang. "Selamat datang nona, ini kunci apartemen tuan Arkan, " ucap resepsionis yang sudah ditugaskan menunggu Valeria di sana. Valeria menerima kunci itu dan mengucapkan terimakasih, beribu pertanyaan muncul di benak Valeria. Ini apartemen mewah, jika di Indonesia harga sewa apartemen ini mampu membeli rumah beserta isinya. Bagaimana mungkin tidak ada petugas kebersihan di sini? Ataukah memang Arkana sengaja mengerjainya? Wanita itu sudah sampai di unit apartemen milik Arkana, wanita itu membuka apartemen itu dengan kunci yang sudah resepsionis berikan kepadanya. Valeria melenggang masuk ke dalam apartemen itu, matanya menyapu ke seluruh ruangan. "Gila, sudah bersih apalagi yang perlu kubersihkan?" tanya Valeria pada dirinya sendiri. Valeri mendekat kearah sofa panjang di depan tv, dia mencolek sofa itu dengan jari telunjuknya. "Bahkan tidak ada debu sedikitpun yang menempel di sini. Sepertinya lelaki itu memang sengaja mengerjai dirinya," keluhnya jengah. Valeria menuju kulkas, mengambil minuman dingin yang ada di sana. Kening Valeria menyerngit, ada begitu banyak makanan dan minuman ringan di dalam kulkas itu. Mungkinkah Arkana memang sering berada di apartemen itu? Tapi selama seminggu ini sepertinya Arkana selalu pulang ke rumah, atau mungkin lelaki itu memasukkan wanita lain di dalam apartemennya. “Ah bodoh amat, lagi pula aku hanya dijadikan pembantu saja,” ucap Valeria menghendikkan bahunya acuh, tidak peduli dengan apa yang Arkana perbuat di belakangnya. Wanita itu menatap foto keluarga Arkana, sepertinya Valeria pernah melihat sosok ibu dari Arkana.  “Dimana aku pernah melihatnya ya?” pikir Valeria mengingat-ingat wajah yang nampak tidak asing di matanya. Valerai menekan tombol on pada remot tv, muncullah sebuah film kartun yang sangat lucu. Valeria bahkan sampai terbahak-bahak hingga matanya mengeluarkan cairan bening. Lama-kelamaan dan tertidur di sana. Menjadi pembantu seharian membuat tubuhnya sangat lelah. Arka menggandeng wanita sewaannya memasuki apartemennya, wanita itu seperti cacing kepanasan yang minta dipuaskan hasratnya. Arkana sengaja membawa wanita itu ke apartemennya untuk membuat Valeria semakin kesal dengannya. Bukankah Valeria yang bilang tidak ada wanita lain dalam kontrak mereka? Arkana akan menantikan dimana Valeria dengan suka rela menyerahkan tubuhnya kepada Arkana. "Ah..honey," desahnya menciumi leher Arka. Suara televisi di dalam sana semakin membuat Arkana tersenyum puas. Rupanya Valeria datang lebih cepat dari dugaannya. Arkana tidak sabar melihat wajah Valeria yang menahan kekesalan karena perintahnya yang selalu menyulitkan Valeria. Belum lagi, ekspresi wajah Valeria saat melihat Arkana bersama wanita sewaannya datang ke apartemen itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN