Arkana sedikit rishi dengan gelayutan manja di lengannya. Andai saja dia tidak sengaja ingin memancing amarah Valeria, mungkin Arkana tidak perlu membawa wanita kegatelan itu ke dalam apartemennya.
Pertama kali membuka pintu apartemennya, sosok wanita cantik tengah tertidur pulas di sofa panjang membuatnya berhenti melangkah. Wajah wanita itu sangat damai, dia seperti malaikat tak bersayap jika sedang terlelap.
Wanita yang datang bersama Arkana menoleh. “Siapa dia?” tanya wanita itu penasaran.
Arkana tidak menjawab, "Kamu masuklah ke kamar di ujung kiri," suruh Arka diangguki wanita itu.
Arka mendekatkan diri ke arah Valeria, dibelainya wajah Valeria dengan lembut. Harum tubuh Valeria bahkan sangat menenangkan baginya. Wanita terlihat sangat kelelahan, keningnya menyerngit saat tangan Arkana membelai wajah itu. Valeria hanya bergumam singkat, seperti sudah terlelap sangat jauh dalam alam mimpi.
“Selama ini, aku melihat ada yang berbeda darimu. Kamu sangat cantik dan juga menyenangkan." ucap Arka mengelus pipi Valeri.
Lelaki itu tersenyum lembut, melihat rona merah saat Valeria marah dan membantah dirinya semakin membuat Arkana bersemangat mengerjai wanita itu.
Valeria tidak terusik sama sekali, belaian itu terasa menenangkan baginya seperti belaian sang bunda saat dirinya tidak bisa tertidur di malam hari.
"Andai saja kamu bisa sedamai ini jika matamu terjaga, mungkin aku akan lebih lembut padamu," lanjut Arkana menatap wanita yang telah menjalin kontraknya untuk enam bulan itu.
Arkana terkekeh, membayangkan saat Valeria mengjukan klausa pertama kontrak mereka yang menyatakan jika Arkana ingin menyentuhnya maka Arkana harus menikahi wanita itu. Lucu sekali, jadi dalam pikiran Valeria mengira kalau Arkana akan melakukan sesuatu seperti hal intim dengan dirinya?
“Lucu sekali pemikiranmu, aku tidak menyangka isi kepala cantikmu sangat konyol,” kekeh Arkana mengusap lembut puncak kepala Valeria.
Melihat Valeria mengerjapkan matanya, Arkana segera berlari masuk ke dalam kamar yang sudah ada seorang wanita di dalamnya. Arkana sengaja tidak mengunci pintunya dari dalam, lelaki itu ingin tahu bagaimana reaksi Valeria mendapati dirinya bergumul dengan wanita lain.
Suara desahan-desahan membuat Valeria terbangun, Valeria menajamkan indera pendengarannya. Dan dia tidak salah, suara itu berasal dari kamar tamu. Dengan penuh rasa ingin tahu, Valeria berjalan menuju kamar tamu. Suara itu terdengar semakin jelas saja. Valeri bahkan sampai begidik ngeri mendengar desahan itu.
Dengan pelan, Valeri membuka pintu yang untungnya tidak terkunci. Mata Valeri terbelalak melihat Arka menciumi leher seorang wanita dengan ganas.
Dasar lelaki buaya darat! Bukankah sudah jelas apa yang sudah dia tuliskan dalam kontrak? Valeria tidak ingin ada wanita lain dalam hubungan mereka. Valeri mencebikkan bibirnya, ada rasa tidak suka melihat lelakinya b******u dengan wanita lain.
Eh? Lelakinya? Entah kapan pikiran gila itu bersarang dalam otaknya. Valeria menatap kesal pasangan yang tengah b******u mesra tanpa menyadari kehadirannya di sana. Apakah Arkana tidak melihatnya tidur di sofa? Atau memang lelaki itu tidak menganggap kehadirannya?
Memikirkannya saja membuat d**a Valeria bergumuruh. Arkana menatap sosok Valeria lewat kaca jendela tanpa wanita itu sadari. Arkana mengulum senyumnya, wajah terkejut dari wanita itu membuat Arkana merasa sangat puas.
“Sayang, masuki aku,” ucap wanita yang kini dalam kungkungan Arkana.
Mata Valeria terbelalak mendengar wanita itu mengucapkan kalimat yang tersirat sangat memalukan bagi Valeria. Hatinya seakan tercubit melihat pemandangan menjijikkan itu di depannya. Mereka pikir bisa bersenang-senang seperti itu? Oh jangan harap!
“Aku juga tidak sabar mencicipi tubuh indahmu, lekuk tubuhmu yang begitu sexy.”
Valeria menggelengkan kepalanya, tubuh indah? Tubuh wanita itu bisa Valeria jamin tidak asli, dan apanya yang sexy? Buah d**a yang besar karena implant, tentu saja lebih sexy miliknya sendiri meskipun tidak sebesar milik wanita itu.
Sebuah ide melintas di pikiran Valeria.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" teriak Valeria menggelegar membuat mereka berdua menghentikan aktivitas menjijikkan itu.
Wanita itu menatap Valeri dengan kening berkerut, kemudian menatap Arkana bergantian.
"Siapa kamu?" tantang wanita itu tanpa membenarkan pakaiannya yang sudah tidak layak, sangat menjijikkan sekali dan tidak tahu malu.
Valeria menatap mereka berdua.
"Aku adalah istrinya, dan kamu wanita ular segera pergi dari sini atau aku akan menelpon seratus security untuk menyeretmu keluar dari sini," ucap Valeria dengan menunjukkan aksen dinginnya.
Arkana bahkan tidak bisa berkata apapun, dia sedikit terkejut Valeri bisa memiliki sisi yang sangat mengerikan. Arkana bangkit dari ranjang, memungut kemejanya yang sudah berserakan di lantai. Senyuman tipis terlihat di bibir lelaki itu.
'Ada yang belum aku ketahui darinya,' batin Arka berdecak kagum dengan aura intimidasi yang keluar dari wajah Valeria.
Wanita itu segera merapikan pakaiannya dan berlari terbirit-b***t ketakutan. Valeria menahan tawanya melihat ekspresi wanita itu dan Arkana.
"Bwahahaha, lihat ... lihat wajah kalian tadi. Kalian benar-benar nampak seperti pasangan yang berselingkuh dan ke gap oleh istri sah," kekeh Valeria memegangi perutnya yang sakit akibat tertawa terbahak-bahak.
Arka menggelengkan kepalanya. "Valeri dilawan," ucap Valeria bangga mengedipkan matanya pada Arka.
Arkana mendekat ke arah Valeria, lelaki itu menatap Valeria dengan matanya yang menyipit.
"Kamu merusak acaraku, sekarang kau yang menggantikan wanita itu," ucap Arka menatap Valeri dengan tatapan memangsa.
Valeri menghentikan tawanya, dia berjalan mundur. Menggantikan wanita itu? Maksudnya Valeria harus menggantikan wanita itu untuk memuaskan hasrat lelakinya.
“Aku hanya menghentikanmu melanggar perjanjian tuan Arkana Carollino,” jawab Valeria menjulurkan lidahnya mengejek.
Valeria melambaikan tangannya. "Kaburrrrrrrr," teriak Valeri berlari keluar dari kamar tamu.
Arka hendak mengejar Valeria, wanita itu lebih dulu menutup pintunya dan mengunci lelaki itu dari luar. Suara tawa yang terdengar begitu renyah keluar dari mulut Valeria.
“Buka pintunya sekarang juga Valeria!” teriak Arkana menggedor pintu itu dengan kasar.
“Tidak mau, aku takut di terkam harimau jantan yang kelaparan,” ucap Valeria setengah berteriak.
“Awas saja kalau aku bisa keluar dari sini, aku tidak akan mengampunimu wanita bar-bar!”
Valeria malah terkekeh mendengar umpatan Arkana yang mengatai dirinya bar-bar.
“Sepertinya kamu harus mandi air dingin tuan,” ejek Valeria diikuti kekehan renyahnya.
“Oh s**t! Dasar wanita bar-bar,” umpar Arkana menendang pintu kamar itu dengan kesal.
“Valeria dilawan, sekarang rasakan pembalasanku,” ucap Valeria menatap pintu kamar tamu itu dengan tatapan penuh kemenangan.