Arkana Carollino, CEO Carollino Coorperation. Perusahaan yang kini berada di tingkat tiga besar perusahaan dunia. Perusahaan yang mampu bersanding dengan perusahaan Corlyn Company saat ini. Dengan usaha Arkana dan Frederick, kini perusahaan keluarganya bisa bertahan hingga saat ini.
Tapi lihatlah dirinya sekarang, berdiri sambil mondar-mandir di dalam kamar apartemannya karena dikunci oleh Valeria dari luar. Sungguh malang nasibnya si Arkana. Seharusnya lelaki itu tidak usah membuat keributan dengan Valeria.
"Tahu begini nggak bakalan aku meminta wanita bar-bar itu datang kemari," keluhnya kesal.
Arka memang sudah merencanakan ingin membuat Valeria kesal setengah mati, tapi nyatanya kini dia yang dibuat kesal setengah mati oleh Valeria. Seperti kata pepatah, senjata makan tuan. Dia yang merencanakan, dia yang kena tuahnya.
" Valeria sayang, buka pintunya donggg," teriak Arka sengaja memanggil Valeri dengan tambahan sayang, menurut Arka mungkin saja Valeri akan luluh hatinya.
Dengan kesal, Arka menendang sofa single yang ada di dalam kamar tamunya.
"Awwww, sialan!" Pekik Arka kesakitan sambil memegangi kakinya.
Di luar sana, Valeri hanya menggelengkan kepalanya mendengar ocehan-ocehan tidak jelas si Arkana. Apa boleh buat, Valeri harus melakukan ini. Takut-takut Arka menyerangnya dari belakang dan menerkamnya tiba-tiba, kikiki.
"Bodoh amat itu lelaki, sekali-kali aku yang kerjain. Mendingan aku masak aja, perut ini sudah mulai berdisko ulala," putus Valeri berjalan menuju dapur minimalis yang ada di apartemen Arkana.
Valeri mengambil beberapa bahan makanan seperti mie spaghetti dan pasta ditambah jamur dan udang. Seperti cheff hotel bintang lima, Valeri mengolah bahan makanan di depannya dengan gampang tanpa kerepotan sama sekali.
Valeri memang belajar masak sejak keluarganya memuji Velove akan hasil masakan Velove dulu. Tidak ingin kalah, Valeri pun mengikuti kelas memasak dari cheff terkenal secara privat setelah dia pulang dari kuliahnya kala itu.
Cukup menguntungkan bagi Valeri, meskipun tidak mendapatkan hati keluarganya. Setidaknya ini bisa menjadi bekal baginya saat jauh dari keluarganya. Tidak Valeri pungkiri, rasa rindu dan kangen akan keluarganya selalu saja muncul saat dia hendak tidur. Bukan Valeri jika dia langsung menelpon keluarganya, menurut Valeri dengan menjauhkan diri dari keluarganya itu sangat bagus. Dan dia tidak akan menghancurkan usahanya dengan menelpon salah satu keluarganya, apalagi itu Viona, Nayna ataupun Varo yang mungkin akan membuatnya menangis semalaman karena merindukan bunda dan kedua kakaknya yang selalu memanjakannya.
"Ayolah Valeri, kenapa kamu memikirkan mereka lagi," ucap Valeri menepis bayangan keluarganya.
Hanya ada Rio, Sandra, dan Andre yang menemaninya ketika di sini. Dia sangat merindukan ketiga orang itu.
"Lebih baik aku menelpon Rio," putus Valeri mengecilkan kompornya dan merogoh sakunya mengambil ponsel miliknya untuk menelpon Rio.
Nada tersambung sudah terdengar di ponsel berwarna merah yang kini Valeria pegang. Tak lama kemudian suara serak seperti bangun tidur mengalun memenuhi indra pendengaran Valeri.
"Rio?" Panggil Valeri.
"Astaga Vale, kamu kemana saja?" Pekik Rio di seberang sana saat mendengar suara Valeria. Sahabatnya yang satu minggu ini menghilang tanpa kabar. Bahkan apartemen wanita itu sudah ditempati Sandra untuk beberapa waktu.
Valeria terkekeh, dia sangat hafal dengan karakter teman-teman baiknya. Mereka pasti khawatir dengan Valeria.
"Calm down Rio, aku baik-baik saja bekerja disini," jawab Valeria mencoba mengurangi kekhawatiran Rio.
"Kau tahu, kakakmu Nayna selalu menelponku. Dia sangat khawatir terhadapmu. Aku mengatakan padanya bahwa ka.u ikut touring music bersama anak-anak."
"Huhhh untunglah, kamu menyelamatkanku Rioo," desah Valeria bernapas lega.
"Selalu begitu bukan, untukmu apa yang tidak akan kulakukan sweety."
"Valeeee keluarkan akuuu!!" teriak Arka membuat Valeri berjingkat kaget.
"Suara siapa itu?" Tanya Rio penasaran.
Valeria mendengus kesal, mulut Arkana memang harus disumpal biar tidak membuat kehebohan lagi dari dalam sana.
"Oh bukan hanya suara kucing, emh Rio aku tutup dulu telponnya. Aku sedang memasak tadi," ucap Valeria mencari-cari alasan.
"Baiklah, jaga dirimu baik-baik ya," jawab Rio.
"Kau juga Rio," ucap Valeria.
Setelah sambungannya terputus, Valeri berjalan dengan kesal menuju kamar tamu dimana dia mengunci Arkana di dalamnya. Dengan berat hati Valeri membuka pintunya, tapi Valeria sudah berjaga-jaga jikalau Arkana berbuat sesuatu padanya.
"Kenapa kamu teriak-teriak hah?" tanya Valeri kesal.
"Jei kenapa kamu yang kesal, seharusnya aku yang kesal di sini!" jawab Arka tidak mau kalah.
Valeria menatap Arkana dengan mata melotot tajam, "Dasar lelaki i***t!" Umpat Valeria kesal.
"Dasar wanita gila!"
"Dasar lelaki blo'on!"
"Dasar wanita bodoh!"
"Setres!"
"Gila!"
"Sinting!"
"Edan!"
Mereka berdua menatap satu sama lain dengan tajam. Aroma gosong menyeruak membuat Valeria menoleh kearah dapur.
"Kyaaaa masakankuu," pekik Valeri berlari menuju dapur saat teringat bahwa dia sedang memasak.
Benar dugaannya, saus pasta yang tadi dia pakai terlalu kental dan sebagian pinggirnya gosong. Dengan cekatan Valeri menambah sedikit air ke dalamnya. Arka yang mencium harum masakan Valeri mengikuti Valeri menuju dapur.
"Kamu masak apa ?" Tanya Arka tiba-tiba membuat Valeri hampir saja melempar susuk yang dia pegang.
"Astaga, kamu mau membunuhku?" Teriak Valeri tidak sabar dengan kelakuan Arka.
"Tidak, maafkan aku," ucap Arka tulus.
Lelaki itu menatap masakan Valeria penuh minat.
"Aku membuat spaghetti," jawab Valeri menuangkan saus pastanya ke piring berisi yang sudah berisi spaghetti.
Arka mengambil garpu didekatnya,
"Aku rasa ini enak," ucapnya sambil memasukkan potongan kecil kedalam mulutnya.
Sedetik dia terdiam, tapi detik berikutnya Arkana mengacungkan dua jempolnya kearah Valeria.
"Luar biasaa, masakanmu memang lezat," puji Arkana.
Valeria tersenyum bangga, benar bukan jika usahanya tidak sia-sia? Valeria tidak menyesal mengikuti kelas memasaknya.
"Tunggu, kenapa badanku terasa gatal?" Tanya Arka membuat Valeri mengerutkan keningnya bingung.
"Hei kenapa?" Valeria menyentuh lengan Arkana.
"Itu, apa yang ada di saus pastamu?" Tanya Arkana menunjuk piring di depannya.
"Jamur dan udang, jangan bilang kamu?" Ucapan Valeria menggantung, wanita itu menutup mulutnya.
"God, aku alergi udang," jawab Arka membuat Valeri panik.
"Dimana obatmu? Hei kamu memiliki obat alergi atau tidak ?Arka, katakan padaku dimana kamu menyimpan obatnya?" Tanya Valeria panik.
Arka tersenyum, bisa dia lihat jika Valeria sangat mencemaskannya.
"Arka, lihat badanmu merah-merah," pekik Valeria panik.
"Aku punya obatnya di sana," tunjuk Arka pada kotak P3K yang ada di sudut dapur.
Valeri dengan cepat membuka kotaknya dan mengambil obat yang dimaksud Arkana.
"Ayo duduk, sebentar aku akan mengambil air putih," ucap Valeria mendudukkan Arka di kursi.
Valeria menggigit bibirnya, Valeria merasa sangat menyesal karena tidak tahu Arkana alergi dengan udang. Kalau lelaki itu alergi dengan udang kenapa menyimpan udang di dalam kulkasnya? Ada-ada saja lelaki itu.
"Kenapa wajahmu terlihat kesakitan?" tanya Arkana menatap Valeria yang kini terlihat sangat pucat.
"Entahlah,aku takut melihatmu begini."
"Kau mencemaskanku?" Tanya Arkana.
"Hah? Ti..tidaka aku hanya merasa bersalah," elak Valeria tergagap.
Arka menangkup wajah Valeria yang masih terlihat panik.
"Kita bisa memulai hubungan kita, dari seorang teman," ucap Arka menatap manik mata coklat gelap milik Valeria.
Valeri tersihir dengan mata Arka yang sangat indah baginya, bukan hanya baginya tapi bagi semua kaum hawa.
"Ya teman," jawab Valeri tersenyum.
Arka langsung mencium pipi Valeri membuat Valeri menahan napasnya kaget.
"Kamu mencuri kesempatan!" kesal Valeria.
"Tidak, itu tanda pertemanan kita," kekeh Arka membawa Valeri kedalam pelukannya.
'Pelukan ini sangat nyaman, aku seperti menemukan tempat ternyaman untuk ku sebut sebagai rumah' ucap Valeria di dalam batinnya.