13. Perhatian Arkana

1018 Kata
Ada yang ingin tahu bagaimana hubungan antara Valeria dan Arkana setelah mereka berdamai? Saling sayang ataukah cinta? Jawabannya bukan semua itu. Yang benar mereka masih tetap saling mengerjai dan saling membully jika ada kesempatan. Tak jarang, Arka membuat berantakan kamarnya agar Valeria kesal dan marah-marah setiap saat. Tidak mau kalah Valerai juga selalu berbuat ulah. Bahkan pernah Valeria menumpahkan kopi ke berkas yang semalaman Arka kebut untuk meeting pagi. Sontak itu membuat Arka pusing tujuh keliling. Seperti pagi ini, Valeria telah menyelesaikan ritual paginya termasuk joging mengelilingi halaman rumah mewah Carrolino dan mandi. Setelah itu, Valeria bertugas untuk membangunkan Arkana. "Hai kebo, ayo bangun. Bukankah kau ada meeting jam delapan?” ucap Valeria sambil mengguncang tubuh Arkana. Arkana langsung memiringkan tubuhnya ke samping membelakangi Valeria. Valeria menggelengkan kepalanya melihat kebiasaan Arka setiap kali dibangunkan.Lelaki itu masih enggan membuka matanya. "Kebakaraaannnnnnnnnnnn," teriak Valeria pura-pura panik membuat Arka langsung saja bangun dari tidurnya. Arka gelapan menengok ke kanan dan ke kiri, tapi yang terlihat malah sosok Valeri terbahak-bahak sambil memegangi perutnya. "Huhh, untung saja kamarku kedap suara. Jika tidak seluruh pelayan akan datang ke kamarku," omel Arka menatap sengit Valeria yang masih saja terbahak memandangi dirinya. Valeria hanya menghendikkan bahunya acuh, Valeria langsung berjalan menuju lemari Arkana yang khusus baju formalnya untuk bekerja. Wanita itu mengambil sepasang baju formal Arkana dari sana, "Cepat mandi, kamu mau pakai dasi zebra apa merah maron ?" tanya Valeri menunjukkan dua dasi pada Arkana. "Terserah kau saja cerewet," jawab Arka mengejek sambari berjalan menuju kamar mandinya dengan malas. Valeri mendengus melihatnya. "Dasar pemarahh," umpat Valeria kesal. "AKU MENDENGARMU NONA CEREWEETTTT!" teriak Arka dari dalam kamar mandi membuat Valeri aterkikik geli membayangkan wajah Arka yang sedang memerah karena sebal. Setelah menyiapkan baju kantor Arka, Valeria turun kelantai dasar untuk mengecek sarapan yang akan Arka makan pagi ini. Para pelayan menunduk hormat pada Valeria , Valeri membalas sapaan mereka dengan tersenyum ramah khas miliknya. Jehan yang melihat Valeria pun langsung menggeser sedikit tubuhnya agar Valeria bisa mengecek kelengkapan dapur. Valeria menatap Jehan, "Jehan jadwalnya hari ini tuan pemarah akan sarapan nasi goreng telur mata sapi," ucap Valeri pada Jehan. Jehan mengangguk, sebagai pelayan yang secara khusus melayani Valeria wanita itu secara tidak langsung tahu benar jadwal makanan tuan muda mereka yang sudah Valeria catat. Selama 4 bulan bersama Arkana, Valeri tahu jika Arka sangat menyukai nasi goreng telur mata sapi. Tapi jika telurnya sampai pecah, dia tidak akan memakannya. Aneh bukan ? Itulah yang namanya tuan pemarah. Padahal hanya telur ayam, bukan telurnya, eh kok? Valeria meminta Jehan menyingkir, pagi ini dia sangat bersemangat karena Arkana akan mengirimkan alat musik keluaran terbaru untuk sekolah musik yang dia dirikan. Lelaki itu sering kali memberikan Valeria hadiah luar biasa sampai Valeria tidak tahu harus berkata apa lagi. "Biar aku saja yang membuatkan sarapan Tuan Muda Arkana," ucap Valeria mengambil alih pekerjaan pelayan yang akan membuatkan nasi goreng untuk Arka. "Sepertinya Tuan sangat menyukai Anda, Nona, saya berharap jika Nona akan menjadi nyonya kami," ucap pelayan itu memandang penuh arti kepada Valeria. Hati Valeria rasanya berdesir, ada ribuan kupu-kupu yang kini memenuhi perutnya, membuatnya melayang ke angkasa. "Ah kamu ini ngaco," jawab Valeria. "Saya rasa begitu Nona, buktinya tuan sangat menyukai segala yang Nona Valeria kerjakan untuknya," ucap Jehan menggoda Valeria. "Hust, nanti tuan pemarah ngamuk jika kalian santai-santai di sini," ucap Valeria membuat mereka sadar akan pekerjaan mereka. Setelah kepergian mereka, Valerai memikirkan ucapan Jehan. Benar sekali, semenjak Valeria datang ke kehidupan lelaki itu segalanya telah berubah. Arkana selalu pulang ke rumah dan sudah tidak pernah bermalam di apartemen miliknya. Tinggal bersama lelaki itu membuat Valeria mulai terbiasa dengan sifat Arka yang suka menyuruh, suka marah tidak jelas, dan kadang sangat perhatian. "Sarapanku sudah matang?" tanya seseorang di belakang Valeria membuat wanita itu berjingkat kaget hingga tidak sengaja tangannya menyenggol teflon panas yang kini dia gunakan untuk membuat nasi goreng. Valeria mengibaskan tangannya spontan begitu rasa panas mengenai kulitnya, "Awww," ringis Valeriw meniupi tangannya yang sedikit melepuh. Arka langsung saja memegang tangan Valeri, dia meniupi tangan Valeria dengan penuh perhatian. "Jehannn, ambilkan salep luka bakar!" teriak Arka memanggil Jehan. Valeria menarik tangannya , dia menatap Arka tidak suka. "Kapan kau akan berubah, jangan suka memerintah. Mereka sudah kesusahan dengan tugasnya, ini hanya luka kecil. Aku bisa mengambil salep sendiri," ucap Valeria kepada Arka. Arkana menggeleng, dia memegang kedua bahu Valeri hingga mereka saling menatap intens. Arkana tidak bisa melihat wanita itu kesakitan. "Tidak akan aku biarkan tangan ini terluka lagi," ucap Arka mencium kedua tangan Valeria membuat Valeria terkejut dengan tindakan Arkana. Wajah Valeri memerah, jantungnya berdetak sangat kencang. Dadanya bergemuruh hebat bersamaan detak jantung yang semakin cepat dari biasanya. 'Ada apa dengan jantungku?' batin Valeri berteriak. Jehan berlari kecil menuju Arkana dan Valeria, Jehan segera memberikan salep itu kepada Arkana. “Anda tidak apa-apa nona?” tanya Jehan merasa menyesal sudah membiarkan Valeria memasak sendiri. “Kau! Apa yang kamu kerjakan sampai membiarkan-“ “Kembali bekerja Jehan,” ucap Valeria tersenyum lembut, “Aku tidak apa-apa, hanya luka ringan,” lanjut Valeria. Jehan mengangguk dan berpamitan untuk melanjutkan pekerjaannya. Valeria menatap Arkana dengan kesal, tidak seharusnya Arkana memarahi Jehan apalagi menaikkan nada suaranya. “Jangan seperti itu lagi, mereka bisa sakit hati dengan nada suaramu,” ucap Valeria kepada Arkana. Arkana hanya menganggu mengiyakan ucapan Valeria, lelaki itu meraih tangan Valeria dan mengoleskan salep luka bakar ke tangan Valeria dengan lembut. "Dulu kamu merawatku saat alergiku kumat, sekarang giliranku merawat lukamu," ucap Arkana tersenyum ke arah Valeria. Napas Valeria terhenti beberapa detik, melihat senyuman dari bibir Arkana mampu membuat dunianya berubah dalam sekejap. "Duduklah, aku akan membuat telur goreng kesukaanmu. Waktumu tidak lama lagi, sekarang sudah hampir setengah delapan," ucap Valeria mencoba menetralkan detak jantungnya. Arka menatap Valeri yang berjalan menuju dapur lagi. "Dia seperti istriku saja, ckck," gumam Arka pada dirinya sendiri. Melihat rutinitas Valeria sehari-hari sudah menjadi hobby baru untuk Arkana. Terkadang saat wanita itu tidak ada di rumah karena mengurus pekerjaannya, Arkana yang menyempatkan waktunya menghampiri Valeria di sekolah musik milik wanita itu. Sehari saja tidak mendengar suara teriakan Valeria rasanya hidup Arkana sangat hampa. Wanita itu, alasan Arkana menolak penetapan tanggal pernikahannya dengan Rishana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN