Arka mengadakan makan siang bersama para koleganya di restoran seafood terkenal di kota itu. Setelah meeting panjang yang melelahkan, Arka memutuskan untuk mengajak mereka makan siang bersama agar mereka sedikit fresh sekaligus menjalin kekerabatan diantara mereka.
Mata Arka mengelilingi interior restoran, sangat elegan dan juga terlihat klasik. Ada air mancur buatan dan juga lukisan-lukisan alam terpajang di dinding.
"Valeria," desis Arka saat matanya menemukan Valeria sedang makan siang bersama dengan seorang lelaki.
Arka menyipitkan matanya melihat lelaki yang sedang tertawa bersama Valeri, dia seperti tidak asing dengan lelaki itu. Ya, lelaki itu lelaki yang bersama Valeri saat pertama kali mereka bertemu. Dan lelaki itu yang dulu memeluk Valeri di restoran tempo lalu.
Tangan Arka terkepal hingga jarinya memutih, dia berjalan kearah Valeri dengan emosi yang mencapai ubun-ubun. Darahnya mendidih melihat wanita yang sudah dia klaim sebagai wanitanya bermesraan dengan lelaki lain.
"Arka," cicit Valeri kaget melihat Arka ada di depannya dengan tatapan mata tajam berkilat marah.
"Ayo kita pulang," ucap Arka menarik tangan Valeria dengan kasar.
"Arka, kamu menyakitiku. Lepaskan aku!" teriak Valeri mencoba melepaskan tangannya yang dipegang Arka.
"Hei lepaskan Valeria," bentak Rio pada Arkana, mereka saling menatap dengan tatapan membunuh.
"Siapa dirimu hah? Kau tak berhak akan Valeria," tandas Arkana memukul telak Rio.
Rio menarik Valeri ke arahnya, Arkapun tidak mau kalah. Dia berusaha menarik Valeri. Valeri meringis kesakitan menjadi rebutan dua pria dewasa yang bersikap layaknya anak kecil.
"Cukupppp, berhenti!" teriak Valeri frustasi.
Mereka berhenti, tapi mata Arka masih menyiratkan kemarahan.
"Kamu, jauhi Valeri. Dia sudah jadi milikku," ucap Arka penuh penekanan.
"Ayo kita pulang," ucap Valeria menyerah, wanita itu lebih baik pulang bersama Arkana dari pada harus membuat keributan lebih lanjut.
Valeri menatap Rio, matanya mengatakan bahwa dia akan baik-baik saja. Rio mengangguk meskipun rasa cemas meliputi hatinya. Semua orang berbisik melihat kejadian itu, pewaris keluarga Carollino bertengkar hanya untuk seorang gadis timur.
Arka menarik dengan kasar Valeri menuju mobilnya, dentuman suara pintu tertutup bahkan sampai membuat beberapa security yang berjaga berjingkat kaget. Valeri meringis memegangi tangannya yang terasa sakit akibat genggaman tangan Arkana.
Arka mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi , jari-jarinya memutih saking kuatnya dia mencengkeram setir. Valeri menahan napasnya saat Arka hampir saja menabrak mobil didepannya.
"Arka, tolong kurangi kecepatan mobilnya, aku takut " cicit Valeri ketakutan.
Arka hanya menoleh sekilas lalu mengembalikan pandangannya ke jalanan di depannya, tanpa memperdulikan cicitan dari Valeri. Arka terus saja mengemudi dengan kecepatan tinggi tubuhnya seakan terasa panas melihat Valeri bersama lelaki lain.
“Arkaaaa!" teriak Valeri ketika mobil yang mereka tumpangi menerobos lampu merah.
Jantung Valeri berpacu sangat kencang , diliriknya Arka yang memasang wajah datar seakan dia tidak sadar dengan apa yang baru saja dia lakukan.
Valeria menghembuskan napas leganya dengan mengelus dadanya yang masih terasa deg-deg'an.
Ciiiiittttttttttttt, Valerai memejamkan matanya saat Arka mengerem mendadak mobil didepan rumah megah Carollino. Arka membuka pintu mobilnya dan entah kapan lelaki itu sudah membukakan pintu untuk Valeri.
"Keluar!" ucapnya tegas membuat Valeri tersadar dari rasa kagetnya.
Tanpa menunggu kesadaran Valeri, Arka langsung saja menarik Valeri masuk ke dalam rumah. Valeri hanya mampu meringis, dia tidak akan mampu menandingi tenaga Arka. Para pelayan memandang mereka dengan tanda tanya besar yang memenuhi kepala mereka.
Jehan yang sedang mengganti korden dilantai atas langsung menoleh mendengar derap sepatu yang terlihat begitu terburu-buru.
"Tu-," hampir saja dia menyapa tuannya, tapi melihat ekspresi dari tuan dan nonanya membuat Jehan menghentikan ucapannya.
Blammm, pintu kamar utama akhirnya tertutup. Dan terdengar suara klik tanda pintu terkunci. Jehan hanya mampu menghela napasnya, semoga saja tuannya tidak menyakiti wanita baik hati seperti Valeri.
Valeri memundurkan langkahnya saat Arka menatapnya penuh napsu ,
"Jangan mendekat, aku bilang jangan mendekat!" ucap Valeri sambil mengacungkan jari telunjuknya didepan wajah Arka.
Arka terus saja mendekat ke arah Valeri hingga Valeri berada disudut ruangan dan tidak bisa kemana-mana lagi. Valeri mencoba membuka kungkungan tangan Arka yang menghimpitnya.
"Arka, menyingkirlah!" peringat Valeri pada Arka.
"Menyingkir, eh?" tanya Arka tersenyum sinis pada Valeri.
"Menying-, emh."
Ucapan Valeri terhenti saat bibirnya sudah dilumat tanpa ampun oleh Arka, Valeri mencoba melepaskan pagutan bibir Arka tapi tangan Arka langsung saja menarik tengkuk Valeri hingga Valeri tidak bisa bergerak, tangan kanan Arka melingkar dipinggang ramping Valeri membuat mereka semakin dekat bahkan tidak berjarak.
Mereka sama-sama terengah-engah, Arka mengelap saliva yang ada dibibir Valeri dengan ibu jarinya. Valeri menatapnya nyalang, tapi Arka bahkan tidak luluh.
Arka mendorong Valeri hingga wanita itu terjatuh diatas kasur berukuran king size. Valeri terbelalak saat Arka mulai melucuti kemeja yang lelaki itu pakai.
"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Valeri ketakutan.
"Apa lagi, bukankah ini tugasmu yang sebenarnya?" tanya Arka memandang Valeri tajam.
"Kamu melupakan perjanjian kita!" teriak Valeri dengan matanya bersimbah air mata.
"Kita sudah bersama berbulan-bulan, lalu kapan kita akan berhubungan intim? Apa kau pikir aku bodoh, di mana lelaki itu menyentuhmu?" bentak Arka mencengkeram lengan Valeri.
Dengan brutal, Arka menciumi seluruh wajah Valeri dan menggigit leher jenjang Valeri hingga meninggalkan bekas kemerahan di kulit seputih salju itu.
"Hentikan, kumohon," isak Valeri ketakutan.
“Jangan sok suci Valeria,nikmati saja hari ini kamu resmi milikku!"
Tanpa aba-aba, Arka langsung saja menarik pakaian Valeri melucuti wanita itu hingga tidak sehelai benang pun menutupi tubuh putih miliknya.
Arkana tersenyum mengejek. "Kamu sungguh indah," puji Arka melihat tubuh Valeri.
Valeri tak kuasa menahan tangisnya, satu tangannya menutupi gundukan payudaranya dan satu tangannya lagi menutupi bagian kewanitaan miliknya.
"Kumohon lepaskan aku, perjanjian akan berakhir kalau kamu berani melanggarnya," lirih Valeri menangis tersedu-sedu tapi tidak mampu membuat lelaki itu goyah sedikitpun.
Arka mendekat ke arah Valeri, dia menciumi tubuh Valeri dengan penuh perasaan. Valeri menahan napasnya saat merasakan ciuman-ciuman lembut Arka yang membuatnya seakan seperti wanita jalang yang minta dipuaskan. Wanita itu meneteskan air matanya, bukan ini yang dia mau ketika menandatangani kontrak dengan Arkana.
"Ar ... kaa," ucapnya disela-sela desahannya.
"Aaarkkkhhhhhhh," teriak Valeri saat dia merasa ada yang robek di bawah sana.
Arka menghentikan kegiatannya saat merasakan kejantanannya menerobos dinding yang sangat lembut , matanya melebar ketika melihat cairan berwarna merah mengalir dari milik Valeria.
Arkana tertegun. "Kamu masih virgin?" tanya Arka merasa berdosa.
Valeri mengangguk,air matanya mengalir tiada henti. Arka menundukkan badannya dan mengecup kedua mata indah yang menjadi hiburan baginya dengan lembut.
"Aku bersumpah akan bertanggung jawab Valeria, aku akan menikahimu,” ucap Arkana penuh tekad.
‘Dengan maupun tanpa restu keluargaku,’ lanjut Arkana membatin.
Arka mencium kening Valeri saat pergulatan panas mereka telah selesai, Arka berbaring di samping Valeri dan menyelimuti tubuh mereka yang polos. Valeri sudah terlelap akibat kelelahan, matanya masih basah karena air mata.
"Aku berjanji akan menjagamu, aku akan bertanggung jawab jika nanti ada kehidupan didalam sini. Alasannya, karena kamu milikku dan aku mencintaimu," ucap Arka sambil mengelus perut rata Valeria.
Arkana malah berharap ada jabang bayi yang nanti akan membuat mereka bersatu selamanya. Penantian yang telah tunggu-tunggu seumur hidupnya, menghabiskan hidupnya bersama wanita yang telah mencuri perhatian dan perasaannya sejak awal. Valeria, dia Valeria.