15. Permainan Dimulai

1010 Kata
Valeri menggeliat dalam tidurnya, sebuah beban di perutnya membuat Valeri dengan terpaksa membuka matanya yang masih terasa sangat berat. Warna cat dinding berwarna abu-abu tua, itulah pertama kali yang dilihat Valeri sebelum matanya mendapati sebuah lengan melingkar dengan erat di perutnya. Tunggu, ini bukan kamar yang dia tempati beberapa bulan belakangan. Ini kamar utama, dan itu tandanya dia sedang di kamar Arkana. Valeri langsung saja menoleh ke samping, matanya menatap horor seorang lelaki yang dengan damainya tertidur pulas seakan tidak ada yang akan mengganggu tidurnya. "Aww," ringis Valeri ketika dia hendak menggeser tubuhnya ke samping. Rasa nyeri menjalar begitu saja di daerah kewanitaannya. ‘Astaga, ini bukan mimpi. Yang semalam itu nyata,’ batin Valeria berteriak. Valeri menutup mulutnya, napasnya tertahan tatkala dia menyibak selimut yang sedari malam menutupi tubuh polos mereka berdua. Rasa sesak memenuhi hatinya, ada rasa menyesal dan juga takut. Dia takut menghadapi keluarganya nanti jika tahu bahwa harta berharganya diambil oleh lelaki yang belum resmi menjadi suaminya. Dia memang hidup di Jepang, negara yang tidak mempermasalahkan seks. Tapi dia berasal dari negeri timur. Negeri yang menjunjung tradisi dan juga adat no s*x before marriage. Mata Valeri berkaca–kaca, gerakan yang membuat tubuhnya semakin dekat dengan Arka membuat Valeri mendongak menatap si pemilik mata elang. Arka mencium kening Valeri, dia bahkan memejamkan matanya menghidup aroma khas tubuh wanitanya. "Jangan khawatir sayang, aku akan menikahimu jika itu yang kamu pikirkan," ucap Arka membuat Valeri menatap Arka dengan kening berkerut. "Apa maksudmu?" tanya Valeria bingung. "Kita akan menikah," jawab Arka mengecup lembut pipi Valeri. Menikah? Bukankah sudah jelas klausa kontrak mereka jika salah satu melanggar kontrak maka kontrak itu batal demi hukum? Itu artinya Valeria telah memenangkan kontrak yang dia lakukan bersama Arkana, itu artinya Arkana harus melepaskan dirinya serta tanah panti asuhan itu. "Tidak, aku tidak mau," ucap Valeri sontak membuat Arka melebarkan matanya. "Kenapa? Apa kamu mencintai lelaki yang kemarin bersamamu?" tanya Arka dengan suara yang sangat menakutkan bagi siapapun yang mendengarnya, rahangnya mengeras pertanda bahwa dirinya sedang menahan emosi. Valeria mendengus, bisa-bisanya Arkana bertanya apa alasan wanita itu menolak untuk menikah dengan Arkana. Lelaki mapan yang diidam-idamkan banyak wanita seusia Valeria. "Kamu tidak perlu tahu apa alasannya, yang jelas aku menganggap tadi malam caraku melunasi hutangku padamu. Mulai hari ini kontrak kita batal demi hukum," ucap Valeri beranjak dari tempat tidur. Arka menatap Valeri yang keluar dari kamar dengan selimut menutupi tubuh polosnya. ‘Tidak, aku tidak mau.’ ‘Tidak, aku tidak mau.’ Perkataan Valeri berulang-ulang berputar seperti kaset rusak di kepala Arkana. Dadanya bergemuruh, Valeria adalah wanita pertama yang menolak pesona seorang Arkana Aldebaran Carollino. "Apa yang aku dapat takkan kulepas!" geram Arka menggenggam gelas kaca yang berada di nakas seakan dia akan meremukkan gelas itu dengan tangannya. Di kamar Valeri, wanita itu menangis sesegukan. Tubuhnya merosot, bersandar di pintu kamar mandi. Penyesalan tak akan mampu membalikkan keadaan. Kenapa juga dia bodoh, kenapa dia mau menyerahkan diri pada lelaki berengsek seperti Arka. Guyuran air dingin tak mampu mendinginkan hatinya yang sedang panas, sekalipun dia berendam di Kutub Selatan. "Rioo," isak Valeri saat panggilan di layarnya menunjukkan durasi tanda panggilan diangkat. "Vale, kamu kenapa?" tanya Rio cemas, bayangan lelaki itu kembali akan sosok Arkana yang dengan kasar menarik tangan Valeria tanpa pengampunan. Apa yang terjadi dengan sahabatnya? Kenapa semalaman Rio tidak bisa menghubungi nomor wanita itu. "Aku ... aku tidak apa-apa, bisakah aku menemuimu?" tanya Valeri menahan tangisannya. "Tentu saja sweetheart, kamu bisa menemuiku kapan pun. Ke marilah, aku di bar," jawab Rio di seberang sana. Lelaki itu tengah melakukan sedikit renovasi di bar miliknya. "Tidak, aku ingin kita bertemu di apartemenku. Aku merindukan apartemen kecilku yang menenangkan," jawab Valeria pada akhirnya. "Baiklah aku akan ke sana, tunggu aku." Seakan mendapat oksigen untuknya bernapas, Rio adalah sandarannya di saat semua orang tidak berada di sampingnya. Hanya Rio, ya hanya Rio dan Sandra yang mampu Valeri andalkan di Tokyo. "Kamu mau ke mana ?" tanya Arka dengan suara dinginnya, matanya menatap Valeri menyelidik. Melihat wanita itu sudah rapi dengan pakaian formalnya membuat Arkana memicingkan matanya, bukankah hari Sabtu wanita itu tidak ada kelas mengajar? "Bukan urusanmu," jawab Valeri acuh menutup pintu kamarnya dan berjalan keluar menuruni tangga yang melingkar. Arka menggeram, dia mengetik pesan pada seseorang. Dia lelaki, dan dia tidak akan mau berbagi wanitanya dengan lelaki lain. 'Ke manapun dia pergi, orang-orangku akan mengikutinya' batin Arka tersenyum miring. Valeri mengemudikan mobil yang biasa dia gunakan saat berpergian. Bukan mobilnya sendiri tapi mobil yang sudah Arka siapkan untuk Valeri ketika wanita itu pertama kali berada di istana miliknya. Tanpa menyadari ada mobil lain yang mengikutinya dari belakang, Valeri malah memutar musik dengan suara sangat kencang. Alunan musik disko yang mungkin mengurangi beban di benak wanita itu. "Sandra," teriak Valeri saat mobilnya berhenti di parkiran apartemen. Sandra yang baru saja melepas mantel berbahan bulu domba langsung saja menole , matanya berbinar disusul senyum yang mengembang di bibirnya. Sudah lama sekali dirinya tidak melihat Valeria datang ke apartemen milik wanita itu. Valeria malah memasrahkan segalanya kepada Sandra, sedangkan Valeria sibuk untuk membesarkan sekolah musik miliknya. "Valeri!" pekik Sandra berlari memeluk Valeria yang baru saja keluar dari mobil. "Astaga, tidak bisakah kita masuk ke dalam? Cuacanya sangat dingin," ucap seseorang di belakang mereka membuat Valeri dan Sandra tertawa, lelaki itu, siapa lagi jika bukan Rio. Mereka masuk kedalam rumah sambil berangkulan dengan Valeri yang berada di tengah. Arka, lelaki itu mengikuti Valeri hingga kemari. Senyum mengejek dia tunjukkan untuk apa yang baru saja dia lihat. Arkana mengambil ponselnya. "Hallo?" "........" "Ya, bakar rumah dan club miliknya hingga tidak ada yang tersisa sama sekali. Lakukan dengan rapi, jangan sampai ada yang memergokimu," perintahnya pada seseorang yang kini dia telepon. "......." "Aku tidak ingin ada yang gagal, pastikan semua berjalan dengan rapi," ucap Arkana menatap punggung itu yang semakin menjauh dari jangkauan penglihatannya. "......" Arka kembali memakai kaca mata hitamnya , kaca mata itu berkilat ketika sinar matahari menerpanya. Tentu saja, itu kaca mata mahal dan satu unit saja bisa membeli sepeda motor mewah. Lelaki itu terkekeh. "Kita mulai permainannya," desis Arkana dengan mata menyala yang siap melalap habis semua orang yang telah mengganggu ketentraman hidupnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN