Ketiga orang itu, Valeri, Rio, dan juga Sandra berlari menerobos kerumunan yang tengah mengamati sebuah bar yang kini dilalap si jago merah. Mereka semua hanya diam, menyaksikan kobaran kemarahan si jago merah menghabisi seluruh isi dan bangunan bar milik Rio.
Valeri dan Sandra menggenggam tangan Rio, mencoba menghentikan lelaki itu untuk tidak menerobos masuk ke dalam bar.
"Rio, tenanglah," ucap Valeri mencoba menenangkan Rio yang selalu saja ingin melepaskan diri dari Valeri dan Sarah.
"Bagaimana aku bisa tenang, bar ini adalah impianku!" teriak Rio kalut, bahkan matanya sampai berkaca-kaca menatap jerih payah yang dia kumpulkan sampai detik ini hangus begitu saja.
"Semua akan baik-baik saja, polisi sudah menyelidiki semuanya. Setelah ini kita akan tahu apa penyebab kebakaran itu," ucap Sandra
Tak lama kemudian, orang kepercayaan Rio menghampiri mereka. Kening Rio berkerut melihat wajah ketakutan orang kepercayaannya.
"Apa kabar yang kamu bawa?"
"Rumah milik Anda juga kebakaran Sir, polisi menduga ada unsur kesengajaan dalam kasus ini. Polisi ingin meminta keterangan kronologi dari Anda, mari ikut saya," ucapnya diangguki Rio.
Rio, Valeri dan Sandra berjalan mengikuti orang kepercayaan Rio menuju mobil patroli polisi yang terletak tidak jauh dari tempat kejadian.
"Apa informasi yang Anda dapatkan?" tanya Rio tidak sabaran.
"Kami menduga ada yang merencanakan semua ini, apakah Anda punya musuh selama tinggal di sini?" tanya penyelidik.
Rio mengingat semuanya, sepertinya dia tidak pernah memiliki masalah dengan siapapun. Dengan tetangga rumahnya dia juga sangat ramah, rasanya untuk memusuhi orang sebaik Rio adalah kesalahan.
"Tidak, saya tidak pernah punya musuh," jawab Rio tegas.
Komisaris itu mengangguk, "Mungkin ada yang ingin menjatuhkan anda, anda bisa mengambil tunjangan kerugian dari kantor asuransi yang anda ikuti," jelas Komisaris kepada Rio.
Rio menggeleng, dia bukannya ingin diberikan ganti kerugian atas kebakaran yang kebetulan melalap rumah dan bar miliknya. Rio hanya ingin masalah ini diusut dengan tuntas untuk mengetahui siapa dalang di balik kebakaran ini. Untung saja ibu Rio masih menjalani perawatan di rumah sakit setelah melakukan operasi lanjutan atas penyakitnya.
"Bukan itu yang saya inginkan, saya ingin mengetahui siapa yang telah melakukan ini semua dengan teganya,” disis Rio penuh penekan.
Polisi itu mengangguk mengerti, "Saya tahu, tapi mereka tidak meninggalkan jejak apapun di sini. Anda tenang saja, anak buah saya sudah melakukan penyisiran di tempat kejadian perkara."
Rio menyandarkan tubuhnya di pintu mobil, rasanya dia tidak percaya usahanya akan hancur secepat ini. Baru saja tadi dia dan kedua sahabatnya tertawa bersama,tapi hidup seakan mempermainkan dirinya.
"Rio, aku harus kembali. Lelaki itu terus saja menelponku," pamit Valeri dengan wajah tidak enak sambil menunjukkan ponselnya yang terus saja berdering karena panggilan masuk dari Arkana.
Rio menatap Valeri dengan khawatir. "Kamu akan kembali lagi ke sana?" tanya Rio
Valeri mengangguk yakin, dia tidak akan mengingkari perjanjian yang sudah dia buat dulu. Meskipun Arkana telah melanggarnya, tapi peralihan hak atas tanah panti asuhan belum mereka lakukan dengan benar.
"Semua akan baik-baik saja , hubungi aku jika ada kabar terbaru," ucap Valeri memeluk Rio dan Sandra bergantian sebelum dia memasuki mobilnya.
******
Arkana, dia sudah berhasil mencapai apa yang dia mau. Menghancurkan seluruh usaha dan kekayaan Rio dengan sekejap mata. Tentu saja tanpa ada orang yang tau bahwa dialah dalang dari semua ini.
"Dia membuatku gila," geram Arkana sambil menatap foto Valeri dalam ponselnya.
Sebelum bersama Valeri, dia bukan lelaki yang harus repot-repot melakukan sesuatu. Dia juga tidak segila dan seambisius ini. Tapi setelah mengenal wanita timur yang bernama Valeri , semuanya berubah. Dia ingin memiliki wanita itu secara utuh. Ya memiliki Valeri di depan Tuhan dan hukum negara.
Arkana tersenyum sinis mendengar suara deru mesin mobil memasuki halaman rumahnya, lelaki itu menyilangkan kakinya di sofa kebesaran yang ada di ruang keluarga. Lelaki itu sengaja menunggu Valeria pulang untuk merayakan kemenangannya.
"Kamu dari mana? Usai berkabung dengan sahabatmu?" ejek Arka menghentikan langkah Valeri yang baru saja tiba kediaman Carollino.
Valeri menatap Arka dengan memicingkan matanya tajam. "Apa maksudmu?" tanya Valeria.
Arkana menghela napasnya panjang. "Aku kira kamu tidak akan pulang hanya untuk menemani lelakimu itu," ucap Arka menyunggingkan senyum sinisnya.
Mata Valeria terbelalak, kenapa Arkana tahu segalanya? Mungkinkah?
"Kamu, kamu tahu dari mana?"
Arka terkekeh, dia mengitari tubuh Valeri sambil memainkan rambut panjang milik wanita itu. Membuat Valeri semakin jengah dengannya.
"Aku? Aku tahu dari ...."
Valeria menoleh ke arah Arkana dalam sekian detik, mata mereka bertemu.
"Oh, aku tahu sekarang. Ini semua pasti ulahmu!"
Arkana tertawa. "Gotchaa, smart woman," ucap Arkana dengan bertepuk tangan seakan-akan lelaki itu tengah merayakan sesuatu.
Valeri menggeram, tangannya terangkat hampir menampar Arka. Tapi kalah cepat, Arka lebih dulu memeluknya erat. Membawa tubuh ringkih Valeria masuk ke dalam dekapan hangatnya.
"Aku bisa melakukan lebih buruk dari ini, jauhi dia," bisik Arka membuat Valeri menegang.
Arka melepaskan pelukannya , tangannya menangkup wajah Valeri. Memaksa Valeri untuk menatapnya.
"Aku ingin kita menikah Valeria, secepatnya."
Mata Valeri terbelalak, seorang Arkana Carrolino meminta untuk menikah dengannya secara langsung?
“Aku mohon.”
Valeria tersentak, Arkana memohon di depan seorang wanita hanya untuk mengajaknya menikah? Waww, andai saja ada wartawan atau netizen yang merekam ini. Sepertinya Valeri akan menjadi trending topic tahun ini.
"Bagaimana jika aku menolakmu?"
"Aku bisa berbuat lebih kejam dari ini! AKu tidak becanda atau hanya mengancam saja Valeria," ucap Arkana penuh penekanan.
"Itu tandanya aku tidak punya pilihan,” jawab Valeri menatap datar Arkana.
Arkana tersenyum, senyuman tulus dari lelaki itu. Memang benar bukan, Valeri tidak punya pilihan lain selain mengiyakan ajakannya untuk menikah.
"Itu tandanya yes?" tanya Arkana dengan mata berbinar.
"Kamu harus meminta maaf pada Rio dan mengembalikan semua seperti semula. Termasuk mengganti kerugian yang sudah kamu sebabkan!"
"Minta maaf?" pekik Arkana menatap Valeria terkejut.
Sejak kapan Arkana harus meminta maaf? Dengan lelaki yang mencoba merebut wanitanya lagi.
"Minta maaf atau tidak sama sekali " jawab Valeri meninggalkan Arka memasuki kamarnya.
"Hei, oh sial!" geram Arka menendang dinding di depannya.
Lihat saja, pewaris Carollino akan meminta maaf kepada Rio. Dan semua itu untuk seorang wanita? Lucu sekali!
Di dalam kamar Valeri Valeri menatap wajahnya di depan kaca. Senyumnya tanpa sadar terukir di bibir tipisnya. Baru semalam dia menolak lelaki itu, tapi sekarang dia menerima Arka.
Membayangkan Arka akan menghancurkan semua orang yang dekat dengannya membuat Valeri merinding. Mungkin dia akan bertanya pada mertuanya, nyidam apa ketika hamil Arka.
Mertua?? Eh?