17. Hamil

861 Kata
Sinar matahari menembus kamar utama rumah megah bak istana, cahaya menyilaukan tidak juga membuat kedua orang yang berada dibalik selimut itu terbangun. Pergulatan semalam seakan membuat Valeri dan juga Arkana kelelahan hingga tidak menyadari waktu beranjak siang. Bukannya bangun, Arkana yang melihat kilau cahaya matahari semakin menenggelamkan kepalanya dilekukan leher Valeri yang masih terlelap. "Enghhhh," lenguhan pelan dikeluarkan Valeri saat matanya hendak terbuka. Arkana mengeratkan pelukannya. "Good morning, Dear," sapa Arka masih memejamkan matanya. Mata Valeri mengerjap, dilihatnya sekeliling hingga matanya bertemu dengan mata elang milik Arkana. Wanita itu tersenyum lembut, sudah menjadi pemandangan biasa di setiap paginya. "Ssepertinya ini sudah siang Mr.Carollino," jawab Valeri setengah mengejek. Arka mencium kening Valeri dengan mesra, setiap kali Arka melakukan itu Valeri selalu memejamkan matanya. Menikmati kehangatan bibir Arkana saat menyentuh keningnya. Hatinya tidak bisa memungkiri kenyataan bahwa Arka sudah mengembalikan warna dalam hidupnya. Hidup bersama hampir tujuh bulan membuat Valeri sudah hafal baik buruknya sifat lelaki yang kini mengisi harinya. Mereka menikah secara agama, dengan berbekal restu Devaro selaku kakak satu ayah Valeria. Mereka berani melangsungkan pernikahan di depan ustad disana, sambil menunggu waktu yang tepat untuk melakukan pernikahan secara sah di mata hukum dan negara. "Kamu masih saja malas-malasan di kasur sedangkan para karyawanmu sudah berkutat dengan pekerjaan mereka untuk memajukan perusahaanmu, dasar bos- emh-." Ucapan Valeri terhenti saat Arka mengecup singkat bibir Valeri. "Iya cerewetkuu aku akan mandi sekarang juga," ucap Arka tanpa dosa membuat Valeri memutar bola matanya kesal. Valeri bangkit dari tidurnya,menggelung rambut panjangnya ke atas hingga menampilkan leher jenjangnya yang putih mulus namun terdapat bercak merah karya Arkana semalam. "Aku akan membuatkanmu sarapan," ucap Valeri sambil memakai kembali pakaiannya. "Kamu akan membuatkanku sarapan? Hei tanganmu kotor, kamu bisa membuatku sakit perut. Biar saja pelayan yang membuatnya, sekarang temani aku mandi," titah Arka langsung membopong tubuh Valeri dengan gampangnya. "Kamu memang pencari kesempatan!" hardik Valeria membuat lelaki itu tertawa. *** Rasa lelah tiba-tiba saja menghinggapi Valeri saat dia sedang mengajar tekhnik bermain piano di sekolah musiknya. Kepalanya terasa sangat pening, hingga dia memutuskan untuk memberhentikan pelajarannya. Seperti ingat sesuatu, Valeri langsung saja melihat kalender kecil yang ada didekat mejanya. Ya, ini sudah dua bulan dia tidak mendapatkan tamu datang bulannya. "Jangan-jangan," bisiknya menerawang kejadiaan yang mungkin saja akan terjadi. Dengan cepat Valeri mengambil kunci mobil dan tasnya, tanpa babibu dia langsung melajukan mobilnya ke rumah sakit terdekat untuk memastikan bahwa perkiraannya salah. Sesampainya di rumah sakit, seorang security mengambil alih mobilnya untuk diparkirkan. Valeri berjalan menelusuri lorong hingga dia menemukan meja resepsionis. "Apakah ada dokter kandungan yang bertugas?" tanya Valeria. Perawat itu menatap Valeri tanpa berkedip,meskipun dia sama-sama wanita tapi dia tahu benar bahwa Valeri memiliki paras kecantikan wanita timur yang luar biasa. Hingga perawat itu disenggol teman kerjanya. "Eh? Iya Nyonya ada. Silahkan Anda menuju ruangannya beliau mumpung tidak ada pasien. Mari saya antar," ucap perawat itu. Valeri dan perawat itu berjalan beriringan, sesekali perawat itu menoleh kearah Valeri. "Pekerjaan Anda sudah selesai Suster, saya sampai di ruangan dokter dengan selamat, dan terimakasih atas bantuannya," ucap Valeri membuat perawat itu merasa tidak enak karena memandangi Valeri terus menerus. Tanpa menunggu jawaban dari perawat itu, Valeri mengetuk pintu ruangan bertuliskan 'dr.Kath' hingga suara menyuruh masuk membuat Valeri membuka pintu dan masuk. "Selamat siang, Dokter," sapa Valeri sambil tersenyum ramah. Dokter wanita itu membalas senyuman Valeri dengan tak kalah ramahnya. "Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?" "Panggil Valeri saja Dokter," jawab Valeria. "Baik Valeri, ingin berkonsultasi?" tanya dokter kandungan itu kepada Valeri. Valeri mengangguk. "Saya telat haid selama dua bulan, emh mungkinkah saya hamil?" tanya Valeria menautkan kedua alisnya. Dokter itu mengangguk tanda dia mengerti keluhan Valeri. "Bagaimana keluhanmu, apakah mual?" Valeria mengangguk mengiyakan. "Sudah seminggu ini, tapi mualnya tidak begitu sering Dokter." "Pusing?" "Iya Dok, saya juga lebih mudah capek akhir-akhir ini," jawab Valeri. Dokter Kath menulis keluhan-keluhan yang Valeri katakan. "Silahkan berbaring di ranjang, kita akan memastikan untuk kejelasannya." Setelah berbagai pemeriksaan yang mereka lakukan, Dokter Kath mengulurkan tangannya hingga membuat Valeri bingung namun tetap saja menjabat tangan Dokter Kath. "Usia kandungan Anda 5 minggu, selamat ya," ucap Dokter Kath membuat Valeri tanpa sadar merekahkan senyumnya. Valeria sendiri tidak menyangka jika dirinya tengah mengandung anaknya dan Arkana. "Benarkah ada kehidupan di perutku Dokter?" tanya Valeri tak menyangka. Dokter Kath mengangguk dan tersenyum, "Kurasa Anda harus membuat kejutan untuk suami anda dengan kabar kehamilan Anda," kekeh Dokter Kath. Suami? Dengan kehadiran nyawa dalam perutnya Valeri harus mengatakan itu kepada Arkana, mereka harus menikah secara sah di mata negara agar anaknya kelak dapat diakui secara hukum dan mendapatkan haknya secara sah. "Terimakasih Dokter, saya permisi kalau begitu," pamit Valeri tidak lupa meninggalkan beberapa uang. Di perjalanan pulang, tidak henti-hentinya Valeri mengelus perutnya yang masih rata. Valeri tidak bisa membayangkan hari-harinya nanti pasti sangat menyenangkan. Valeri berlari kecil menuju ke dalam rumah, dia ingin membuat makan malam romantis untuk Arka. Dia ingin mengatakan kabar ini dengan suasana yang sangat sangat baik. "Oh, jadi ini p*****r itu," ucap seorang wanita membuat Valeri berhenti melangkah. Valeria menyerngitkan keningnya, menatap wanita berwajah indo berdiri menatapnya dengan sorot mata penuh kebencian. Siapa yang dia katakan p*****r?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN