Bunyi dentuman keras memekakkan telinga, lampu kelap-kelip juga menghiasi sebuah ruangan. Seharian sudah Darryl berada di tempat durjana ini, night club.
“Darryl. Udah, cukup!” Marcel menatap kasihan pada sahabatnya, di depannya sudah berjejer botol-botol minuman beralkohol. Sahabatnya sudah terlalu mabuk sekarang.
“Sebenarnya lo kenapa?”
“Marcel, lagi!” pinta Darryl menyodorkan gelasnya, tanpa mengindahkan pertanyaan Marcel.
Marcel menjauhkan botol yang masih terisi setengah di hadapan mereka, membuat Darryl menggeram marah. “Gue bilang lagi, s****n!”
“Cukup! Lo udah mabuk berat!”
“MARCEL!”
Marcel menyerah, ia menuangkan wine itu ke gelas yang dipegang Darryl membuat lelaki yang sedang mabuk itu tersenyum.
“Bagus!” Darryl meminumnya dengan sekali tegukan.
“Cel, dia bilang gue anak s****n. Anak nggak guna!”
Marcel menajamkan pendengarannya karena suara dentuman musik benar-benar keras saat Darryl mulai meracaukan entah apa.
“Mereka bahkan enggak tahu sekarang gue kelas berapa!”
Marcel dengan tatapan serius mendengarkan kata-kata yang dari tadi ia tunggu keluar dari bibir sahabatnya itu.
“Marcel, mereka bilang gue anak s****n!” Darryl menatap Marcel dengan mata merah, dan Marcel tahu betapa rapuhnya pria ini.
Marcel menatap iba sahabatnya, ia lalu membopong Darryl. Benar saja, Darryl benar-benar mabuk berat. Dengan susah payah Marcel membawa Darryl menuju mobilnya karena pria itu selalu saja memberontak.
Marcel tak membawa Darryl pulang, ia membawa Darryl ke apartemennya sebab tidak mungkin juga Darryl pulang dengan keadaan mabuk, sementara kedua orang tua lelaki itu sedang berada di rumah.
Marcel membuka pintu kamarnya dan menghempaskan tubuh Darryl di kasurnya.
“Ngerepotin banget, sih, lo!” maki Marcel lalu keluar mengambilkan air putih.
Saat Marcel menuangkan air putih, teriakan Darryl terdengar keras membuat telinganya pengang.
“BANGS*T! GUE ENGGAK BUTUH KALIAN!”
Marcel dengan tergesa-gesa menuju kamarnya, membawa segelas air putih yang bahkan belum terisi penuh. Ia melihat Darryl meringkuk dalam tidurnya, bukan suatu hal baru lagi, ia sudah terbiasa melihat temannya itu begitu. Setiap Darryl meminum alkohol berlebih, laki-laki itu akan diserang demam.
Marcel yang terdiam memperhatikan manusia s****n di depannya, tiba-tiba terkejut karena mata Darryl sudah terbuka sempurna menatapnya tajam. Untung saja ia tidak menyiram sahabatnya itu menggunakan air putih yang ia bawa.
“s****n lo! Ngagetin gue aja!” Marcel meletakkan segelas air putih itu di atas nakas.
“Marcel, gue kedinginan.”
Marcel memutar bola matanya. “Kebiasaan!” Ia kemudian menarik selimut menutupi seluruh bagian tubuh Darryl kecuali wajah. Darryl lalu menutup matanya.
Marcel lagi-lagi memperhatikan Darryl. “Cih, benar-benar ngrepotin!”
Ia melihat bibir Darryl telah pucat dan sedikit bergetar, serta napas yang terdengar berat, menandakan pria itu sudah terserang demam. Tiba-tiba saja terlintas sebuah nama di otak cemerlang Marcel.
Anastasha!
Entahlah, ia juga tidak tahu kenapa nama Anastasha bisa muncul di otaknya. Tetapi ia yakin, Anastasha bisa menenangkan Darryl untuk saat ini. Marcel merogoh saku celana Darryl untuk mencari ponsel pemuda itu di sana. Setelah mendapatkan apa yang ia cari, Marcel langsung membuka lockscreen, dan mencari kontak Anastasha. Sedetik kemudian, mata Marcel membola.
“Apa ini? Anastashanya Darryl? Sungguh menjijikkan!” Marcel menatap nyalang sahabatnya yang ia yakin masih bisa mendengar ucapannya barusan.
Marcel berjalan keluar dari kamar, ia men-dial nomor gadis yang mungkin bisa menenangkan sahabatnya itu.
“Halo?”
“Halo! Ini gue Marcel, temennya Darryl.”
“Temennya Darryl?”
“Iya, sekarang Darryl butuh lo!”
“Darryl kenapa?” Suara Anastasha terdengar khawatir, Marcel yakin perempuan di seberang sana memang benar-benar khawatir.
“Dia sakit, dia butuh lo!” jelas Marcel. “Send lokasi, gue jemput lo sekarang!”
Malam itu, Anastasha menemani Darryl yang sedang terpuruk dengan hidupnya.
***
Anastasha berjalan memasuki kelasnya, dan langsung disambut oleh suara teman-teman barunya yang saling bersahutan, membicarakan hal-hal random.
“Cintamu, senyaman mentari pagi seperti pelangi selalu kunanti.” Suara Yunus memasuki indra pendengaran Anastasha.
“Woy, guys!” seru Gitela memasuki kelas dengan lightstick BTS mini di tangannya.
“Apaan lo teriak-teriak? Dasar anoa!” kesal Bahar yang sedang menyalin tugas pelajaran Kimia Ari.
“Yeuw, dasar kutil badak!” sungut Gitela.
“Gaes, gaess, pelajaran penjas kita samaan sama kelas dua belas IPS tigaaa. Ya Allah ketemu Kak Darryl astagaaa,” heboh Gitela mengabaikan tatapan tak suka para siswa laki-laki.
“Gantengan juga gue,” sahut Daffa.
Najla si Kpopers sekaligus anak w*****d menatap rendah Daffa. “Hah sapa lo, Galaksi?”
“Hah, sapa lo, Oh Sehun?!” ejek Callistiya si Kpopers garis keras.
“Hah sapa lo, Jefri Nichol?” Sasha ikut-ikutan, ia sengaja menyenggol bahu Daffa sambil menenteng buku tasnya. Ia pecinta cogan khas Indonesia. Suka Korea juga, tapi tidak terlalu fanatik. Sasha hanya suka dramanya saja.
Dengan wajah kesal, Daffa melempar kertas di tangannya ke arah Callistiya, Gitela dan Sasha.
“Lo semua suka, kan, sama gue, makanya ngatain gue terus!”
“Dih, amit-amit suka sama lo yang mukanya kayak kerbau.”
“s****n!”
“Eh, Anastasha!” panggil Gitela.
“Iya?”
“Tasya pacaran, kan, sama Kak Darryl?”
“Enggak kok,” jawab Anastasha mengelak.
“Nggak usah nyanggah, deh, semua udah tahu, kok. Jadi bolehlah PJ-nya.” Rohman pun menyahut dengan menaikturunkan alisnya menggoda Anastasha.
“Ih, enggak! Tasya enggak pacaran sama Darryl!”
“Nah, sekarang aja panggilnya udah Darryl. Nggak biasanya Tasya manggil kakak kelas pake nama aja,” balas Gitela, membuat Anastasha malu.
“Kalian semua bikin Anastasha bete!” Anastasha menutup wajahnya dengan tangan, malu banget.
“Ciye ... ciyee!”
“Peje dong pejee!”
“Darryl s***s enggak mainnya?”
Tring!
Anastasha bernapas lega, setidaknya untuk saat ini teman sekelasnya akan berhenti menggodanya.
***
Priit!
“Itu cewek-cewek kelas sebelas, bisa cepetan dikit enggak jalannya?!”
“Lari! Larii!” teriak Pak Rudi selaku guru penjas kelas 12.
Hari ini Pak Suri tidak masuk, sehingga pelajaran penjas kelas XI MIPA 4 diambil alih oleh Pak Rudi atas permintaan Lak Suri.
Darryl yang sedari tadi berada di barisannya terus memandang Anastasha, sedetik pun tatapannya tak berpaling.
“Cantik,” gumam Darryl.
Marcel yang mendengar hanya memutar bola matanya muak. Dasar bucin, cemoohnya dalam hati.
“Oke, sekarang kita akan praktik tentang basketball, siap?”
“SIAP!”
“Masing-masing kelas tentukan saja siapa yang menjadi pemain utama dan cadangan. Yang bermain laki-laki dulu!” Pak Rudi meniup peluitnya. “Oke, sekarang!”
Ari, Bintang, Thariq, Tito, dan Faris sebagai perwakilan dari kelas XI MIPA 4 memasuki lapangan diiringi sorakan teman-teman sekelas. Sedangkan dari kelas Darryl, yang menjadi perwakilan adalah dirinya sendiri, Mike, Marcel, Joshua, dan juga Arjuna. Suara teriakan untuk menyemangati tim mereka juga tak kalah ramai, bahkan kelas XI MIPA 4 saja bersorak.
“Semangat Kak Mikee!”
“Yuhuu, Darryl, semangat!”
Tak seperti yang lainnya, Anastasha hanya diam memperhatikan. Tanpa sengaja, matanya bersitatap dengan mata Darryl. Darryl tersenyum dan memberikan kiss bye untuk Anastasha.
“Ciyee, dikasih cium jarak jauh, tuh, sama Darryl,” goda Melissa menyenggol lengan Anastasha.
Tentu saja Anastasha dibuat salting oleh tindakan Darryl.
“Ihh, Melissa apaan, sih?!” Anastasha lagi-lagi menutup wajahnya malu, Darryl tersenyum gemas melihatnya.
Priit!
Pertandingan antarkelas itu pun berlangsung selama tiga puluh menit. Darryl sebagai pencetak gol terbanyak di pertandingan ini. Tidak perlu heran memang karena Darryl adalah ketua di ekskul basketball.
Kini giliran para siswi perempuan, dan Anastasha termasuk di dalamnya. Selama berlangsungnya permainan, Anastasha tidak pernah lepas dari pandangan Darryl. Ingin rasanya Darryl mengarungi Anastasha yang penuh keringat itu, Anastashanya terlihat begitu menggoda, bahkan ia melihat ada banyak murid laki-laki yang sedang curi-curi pandang pada gadisnya. Dan ia tidak suka berbagi akan hal itu. Bahkan ketiga sahabatnya terlihat kagum.
“Awas itu liur keluar!” Darryl melempar botol air putih yang ia pegang ke arah sahabat-sahabatnya. Walau Anastasha tak mencetak gol sama sekali, Darryl tetap saja terpukau. Mata Darryl membulat saat Anastasha mengangkat rambut berniat mengikat rambut panjangnya itu. Darryl berdiri dari duduknya dan berlari menuju Anastasha. Pria itu memeluk Anastasha dari belakang, seketika membuat suasana menjadi heboh. Anastasha kaget dengan tindakan tiba-tiba Darryl.
“Jangan nakal, Sayang!”
Anastasha memejamkan matanya, menahan malu. Sungguh, Darryl sangat nekad.
“Darryl lepas!”
“Kalau enggak mau?”
“Darryl, maluu ....”
Darryl terkekeh, Anastashanya sangat lucu. Ia lalu melepas pelukannya.
“Yuhu, primadona kelas kita bener-bener udah bikin si most wanted jatuh hati gaess!” teriak Diandra heboh.
“Nggak salah lagi, harus makan-makan nih!” ujar Yunus tak kalah heboh.
“Woy, Darryl, lo jadian kok enggak bilang-bilang?!”
Teriakan-teriakan itu muncul, sedetik setelah Darryl mengecup pipi Anastasha.
“DIAM SEMUANYA! DAN KAMU DARRYL, IKUT BAPAK SEKARANG KE RUANG BK!” marah Pak Rudi yang sedari tadi terperangah melihat tindakan Darryl.