Permohonan Abraham

987 Kata
Darryl menyalakan koreknya dan menyalakan rokok yang ada di sela jarinya, lalu dihisap seperti tak ada beban. Darryl tidak sendiri, melainkan bersama Joshua, Mike, dan juga Marcel. “Ryl, lo sebenernya sudah pacaran apa belum sih sama Anastasha?” tanya Joshua penasaran. Darryl tak menjawab ia masih terus menghisap puntung rokoknya, mengabaikan Joshua dengan pertanyaan tidak bergunanya itu. “Kayaknya iya,” sahut Marcel menjawab pertanyaan Joshua. “Tahu dari mana lo?” “Kemarin malem, si Darryl mabok. Dan gue bawa pulang ke apartemen gue, karena gue bingung mau ngurus si k*****t kayak gimana, di situ gue nelpon Anastasha.” “Terus?” “Gue jemput dia, dan dia yang ngurus Darryl.” “Terus?” “Nggak usah terus-terus, nanti nabrak!” “Ck, gue serius!” kesal Mike. “Santai dong. Oke, lanjut. Nah, di situ Darryl melakukan, yah you know what I mean.” “Anastasha dijebolin?” Darryl yang mendengar melempar koreknya ke dahi Joshua. “Nggak usah ngaco lo!” “Terus apa?” “Ck, nggak usah sok polos lo Mike!” Saat mereka sedang adu bacot, Joshua menoleh ke bawah dan melihat Anastasha berbincang-bincang dengan seorang siswa laki-laki yang ia kenal betul. Darryl memang sedang berada di rooftop bersama teman-temannya, mereka membolos di jam terakhir tadi. “Ryl, lihat, itu Anastasha bukan, sih?!” tunjuk Joshua pada dua insan yang sedang bercakap-cakap di bawah sana. Darryl menoleh ke bawah, benar saja, Anastasha bersama seorang laki-laki yang ia kenal, bahkan sangat kenal. Darryl mengepalkan tangan tak suka. Dan betapa mendidih ubun-ubunnya saat Anastasha terlihat bahagia bersama laki-laki itu. Oh s**l! Tiba-tiba saja Anastasha memeluk pria yang ia kenal dengan nama Reon, di situ Darryl tidak bisa mengontrol emosinya. “Bangs*t!” Darryl berjalan dengan cepat turun dari rooftop, sedangkan ketiga sahabatnya masih diam di tempat, mereka tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Bug! Bug! “JAGA BATAS, YA, LO! ANASTASHA PUNYA GUE!” Darryl menghajar Reon tanpa ampun. Bug! “Darryl!” teriak Anastasha kaget. Darryl terus membogem wajah Reon membabi buta, sungguh, Darryl sangat tidak suka Anastasha-nya disentuh lelaki lain. Reon tak terima, ia mencoba bangkit dan membalas Darryl. Ia memberi bogeman mentah tepat di pipi Darryl hingga mengeluarkan sedikit darah. Bug! Tak cukup sampai di sana, Reon juga meninju rahang Darryl keras-keras. “Reon, cukup!” pekik Anastasha. Darryl menyeringai menatap Reon, detik selanjutnya bogeman keras sudah menghantam wajah Reon lagi berulang kali. “Darry, Anastasha mohon berhenti!” Lagi-lagi Anastasha diabaikan. “Darryl, berhenti ... Anastasha mohon ....” Anastasha berucap lirih, memeluk Darryl dari belakang, mencoba menghentikan laki-laki itu. Dan benar saja, Darryl berhenti menghajar Reon yang sudah terkapar di sana. Darryl tergesa-gesa menarik lengan Anastasha menjauh, Reon hanya menatap Anastasha sendu. “Darryl, Reon terluka, Tasya harus nolongin Reon,” ujar Anastasha menatap Reon, ia menangis. Darryl yang mendengar itu menyentak kasar tangan Anastasha, lalu memegang bahu gadis itu keras. “Gue juga terluka, Anastasha!” desis Darryl tak suka. Darryl kembali menarik Anastasha menuju parkiran. Darryl dan Anastasha sudah berada di dalam mobil, aura menyeramkan sangat bisa Anastasha rasakan. Ia menoleh pada Darryl, lelaki itu fokus pada kemudinya. Selama perjalanan sangat hening, hingga Darryl menghentikan mobilnya di suatu taman. Sebenarnya Anastasha khawatir pada kondisi Darryl, wajah lelaki itu sudah dipenuhi lebam, bahkan mengeluarkan darah. “Tidak berniat mengobati Darryl?” tanya Darryl tiba-tiba. Anastasha bingung menjawab apa. Dia ingin mengobati, tetapi rasa takutnya tidak bisa ia tepis. Darryl menggeram, ia mengambil kotak first aid di laci dashboard mobilnya. Dan diberikan pada Anastasha. “Obati Darryl!” Anastasha membuka kotak itu, lalu membersihkan luka Darryl pelan. Anastasha heran, kenapa dengan wajah yang penuh dengan luka pria ini masih sangat tampan? Darryl terus memperhatikan wajah Anastasha, lagi-lagi ia terpesona. Sungguh, Anastasha seperti bidadari yang berwujud manusia. “Udah selesai,” ucap Anastasha pelan. "Udah?" Anastasha mengangguk, dan menyimpan kembali kotak itu ke tempatnya. “Tadi kenapa meluk dia?” “Apa?” tanya Anastasha pura-pura tak mengerti. “Ck, tadi kenapa Anastasha meluk cowok itu, hm?” “Karena Tasya ingin,” jawab Anastasha hati-hati. Sontak saja jawaban itu membuat Darryl kembali emosi. “Kenapa meluk cowok lain kalau Darryl ada?!” “Maaf,” sesal Anastasha, harusnya ia bisa menjaga perasaan Darryl. Ia pun memeluk pria tempramen di sampingnya, berharap emosi prianya bisa surut. *** Anastasha mengikuti Darryl dari belakang, pria itu melangkah tergesa-gesa masuk ke dalam rumahnya. Pemuda itu mengajak Anastasha ke sana karena tidak ingin berada di suasana yang awkward bersama kedua orang tuanya. Benar saja, Abraham dan Megan sudah duduk di sofa, menonton berita terkini. Darryl dengan gamblangnya berjalan begitu saja menaiki tangga, tanpa memberi salam atau apa pun pada ayah dan ibunya. Sangat tidak sopan. Bahkan Megan terlihat menggelengkan kepala melihat kelakuan anaknya. Ingin sekali Anastasha menegur, tetapi ia terlalu takut pada Darryl. “Assalamu'alaikum,” salam Anastasha, kini kedua orang tua Darryl sudah berdiri menghadap padanya dengan tatapan heran. “Wa'alaikumussalam.” Anastasha menyalami keduanya. “Kenalin Om, Tante, nama saya Anastasha.” “Pacarnya Darryl?” tanya Megan. “Bukan, Tasya cuma temannya aja Tante.” “Ah masa,” ujar Abraham, berniat menjahili Anastasha. Ia menyukai Anastasha pada kesan pertama, Anastasha sangat sopan menurutnya. “Iya, Om.” Anastasha terlihat malu, membuat dua paruh baya itu tertawa gemas. Anastasha melihat ada kehangatan di dalam kedua mata orang tua Darryl, tetapi kenapa Darryl bilang mereka tidak mencintainya? “Oh iya, perkenalkan, nama Tante, Megan. Dan ini, Om Abraham. Kita berdua orang tua Darryl, tapi ....” Kata-kata Megan menggantung. “Tapi apa, Tante?” “Tapi, sepertinya Darryl tidak menganggap Tante sama Om sebagai orang tuanya,” lanjut Megan terlihat sedih. Abraham menenangkan istrinya yang tiba-tiba terlihat emosional. “Enggak Tante, Darryl sering cerita, kok, kalau dia sayang sama Om dan Tante.” Anastasha terpaksa berbohong, ia tidak ingin orang tua dan anak itu terus-terusan seperti orang asing. “Benar, Nak?” Kini Abraham yang angkat bicara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN