Darryl menyalakan koreknya dan menyalakan rokok yang ada di sela jarinya, lalu dihisap seperti tak ada beban. Darryl tidak sendiri, melainkan bersama Joshua, Mike, dan juga Marcel.
“Ryl, lo sebenernya sudah pacaran apa belum sih sama Anastasha?” tanya Joshua penasaran.
Darryl tak menjawab ia masih terus menghisap puntung rokoknya, mengabaikan Joshua dengan pertanyaan tidak bergunanya itu.
“Kayaknya iya,” sahut Marcel menjawab pertanyaan Joshua.
“Tahu dari mana lo?”
“Kemarin malem, si Darryl mabok. Dan gue bawa pulang ke apartemen gue, karena gue bingung mau ngurus si k*****t kayak gimana, di situ gue nelpon Anastasha.”
“Terus?”
“Gue jemput dia, dan dia yang ngurus Darryl.”
“Terus?”
“Nggak usah terus-terus, nanti nabrak!”
“Ck, gue serius!” kesal Mike.
“Santai dong. Oke, lanjut. Nah, di situ Darryl melakukan, yah you know what I mean.”
“Anastasha dijebolin?”
Darryl yang mendengar melempar koreknya ke dahi Joshua. “Nggak usah ngaco lo!”
“Terus apa?”
“Ck, nggak usah sok polos lo Mike!”
Saat mereka sedang adu bacot, Joshua menoleh ke bawah dan melihat Anastasha berbincang-bincang dengan seorang siswa laki-laki yang ia kenal betul. Darryl memang sedang berada di rooftop bersama teman-temannya, mereka membolos di jam terakhir tadi.
“Ryl, lihat, itu Anastasha bukan, sih?!” tunjuk Joshua pada dua insan yang sedang bercakap-cakap di bawah sana.
Darryl menoleh ke bawah, benar saja, Anastasha bersama seorang laki-laki yang ia kenal, bahkan sangat kenal. Darryl mengepalkan tangan tak suka. Dan betapa mendidih ubun-ubunnya saat Anastasha terlihat bahagia bersama laki-laki itu.
Oh s**l!
Tiba-tiba saja Anastasha memeluk pria yang ia kenal dengan nama Reon, di situ Darryl tidak bisa mengontrol emosinya.
“Bangs*t!”
Darryl berjalan dengan cepat turun dari rooftop, sedangkan ketiga sahabatnya masih diam di tempat, mereka tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Bug! Bug!
“JAGA BATAS, YA, LO! ANASTASHA PUNYA GUE!” Darryl menghajar Reon tanpa ampun.
Bug!
“Darryl!” teriak Anastasha kaget.
Darryl terus membogem wajah Reon membabi buta, sungguh, Darryl sangat tidak suka Anastasha-nya disentuh lelaki lain.
Reon tak “Oh iya, perkenalkan, nama Tante, Megan. Dan ini, Om Abraham. Kita berdua orang tua Darryl, tapi ....” Kata-kata Megan menggantung.
“Tapi apa, Tante?”
“Tapi, sepertinya Darryl tidak menganggap Tante sama Om sebagai orang tuanya,” lanjut Megan terlihat sedih.
Abraham menenangkan istrinya yang tiba-tiba terlihat emosional.
“Enggak Tante, Darryl sering cerita, kok, kalau dia sayang sama Om dan Tante.” Anastasha terpaksa berbohong, ia tidak ingin orang tua dan anak itu terus-terusan seperti orang asing.
“Benar, Nak?” Kini Abraham yang angkat bicara.
Hati pria yang kini berumur empatpuluh enam tahun itu menghangat. Sungguh, ia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan hatinya itu. Terlihat dari matanya yang terpancar binar bahagia. Begitupun Megan, seperti akan jatuh likuid bening dari sudut mata wanita paruh baya itu. Jangan tanyakan bagaimana Anastasha sekarang, dia merasa bersalah sudah membohongi pria dan wanita paruh baya di depannya, tetapi Anastasha tidak menyesal.
Maaf Tante, Om, sudah lancang berbohong. Tapi sungguh, melihat pancaran kebahagiaan di raut wajah kalian, membuat Anastasha tersentuh.
“Nak, bisa mengubah anak Om kembali menjadi Darryl yang hangat? Om sangat merindukan pelukan hangat anak Om yang berandalan itu.”
Anastasha tersenyum mendengar penuturan Abraham yang menyebut Darryl anak berandalan.
“Bisa, Nak?” tanya Abraham penuh harap.
“Selagi Tasya mampu, Anastasha akan berusaha.”
“Terima kasih, Anastasha.” Abraham mengusap rambut gadis remaja di depannya.
“Om memang sangat keras padanya, setiap bertemu Darryl, Om sering kali berkata kasar. Bukannya sengaja, Om kehilangan kendali saat itu. Om tidak mau melihat Darryl mengacuhkan Om, itu kenapa Om selalu memarahinya dan memanggilnya dengan tidak pantas. Dan Om sadar akan hal itu.”
Abraham mengutarakan keluh kesahnya pada Anastasha, entah kenapa gadis itu bisa dengan sangat muda mendapatkan simpatik darinya.
“Anastasha akan coba bicara sama Darryl nanti.”
“Tolong ya, Nak. Tante tahu Tante salah, Tante cuma mementingkan karir, dan melupakan jika Tante punya anak yang harus Tante besarkan dengan kasih sayang.”
“Iya Tan-”
“Tasya! Kenapa lama?!” Suara Darryl terdengar sangat datar di pendengaran ketiganya.
“Om, Tante, boleh Anastasha naik?”
“Iya, nggak pa-pa. Sekali lagi tolong, ya, Nak. Om kangen sama putra kecil Om.”
“Iya, Om.”
Anastasha berlalu dari hadapan keduanya, dilihatnya Darryl sudah menunggu di atas sana dengan seragam yang sudah diganti menjadi pakaian santai. Darryl berdiri menatap Anastasha dingin, membuat bulu roma gadis itu berdiri.
Anastasha mengikuti Darryl menuju kamar pria itu. Saat sudah di dalam, Darryl menutup pintu.
“Kenapa lama? Ngomong apa aja sama mereka?”
“Enggak ngomong apa-apa, kok.”
“Jangan bohong, Anastasha! Darryl enggak suka!” desis Darryl.
Anastasha mendekati Darryl perlahan, ia menatap dalam manik mata pria itu. Dan Anastasha ingin tertawa saja melihatnya, jelas sekali ada guratan rindu di mata Darryl. Astaga, laki-laki di depannya ini sungguh sangat menjunjung tinggi harga diri. Kenapa tidak berkata langsung pada kedua orang tuanya jika ia rindu? Semuanya pasti akan selesai.
“Darryl rindu?”
“Rindu siapa? Anastasha udah di sini, jadi buat apa rindu lagi?”
“Bukan ke Tasya.”
“Lalu?”
“Papa dan mama Darryl.” Anastasha menggenggam tangan pria di hadapannya. “Darryl merindukan mereka, kan?”
Pria itu membuang muka. “Enggak Anastasha, nggak sama sekali.”
Dasar egois, susah sekali berkata jujur.
Anastasha maju selangkah lagi, dan Darryl tepat berada di depannya. Anastasha meraih wajah Darryl dengan kedua tangannya, agar melihatnya. Dengan tangan menangkup pipi Darryl, Anastasha bertanya, “Rindu mereka, hm?”
Darryl menatap Anastasha sendu. “Enggak Tasya, enggak. Darryl enggak rindu.”
“Jangan berbohong, Darryl! Anastasha nggak suka!” Anastasha mengembalikan kata-kata Darryl tadi. “Cukup jujur, dan Anastasha nggak akan tanya lagi.”
“Merindukan papa dan mama, hm?”
Runtuh sudah pertahanan Darryl, kristal bening itu jatuh dari pelupuk matanya.
“Iya, Darryl rindu. Bahkan sangat rindu ...,” jujur Darryl.
Kini Darryl memeluk Anastasha, tidak mau jika gadis itu melihatnya menangis karena akan sangat memalukan menurutnya.
Anastasha membalas pelukan Darryl. “Nangis aja, nangis nggak akan bikin Darryl terlihat lemah.”
“Tasya ... kenapa sakit sekali? kenapa Tasya?”
“Mau temui mereka?”
Darryl menggeleng, tanda menolak. Anastasha mengerti, dia tidak akan memaksa.
Anastasha berniat melepas pelukannya, tetapi Darryl malah mengeratkan tangannya memeluk gadis itu. Darryl menggeleng, masih tidak mau Anastasha melihatnya menangis.
“Tasya enggak akan ketawa, Darryl boleh nangis kapan aja di depan Anastasha.”
Darryl kemudian melepas pelukannya, ia menolehkan wajahnya ke samping agar Anastasha tak melihat air mata yang masih mengalir dari kedua matanya.
“I really miss them ....”
***
Senyum tercipta di bibir seorang Darryl, menghabiskan malam bersama Anastasha di kota tua bukanlah sebuah ide yang buruk. Ia berpegangan erat di pinggang Anastasha, mereka mengendarai sepeda ontel dengan Anastasha yang di depan.
Layaknya pasangan goals, mereka bercanda tawa menikmati malam penuh bintang. Darryl tak lagi memikirkan masalahnya, selama ada Anastasha ia tak perlu bersedih.
Mereka mampir di warung tenda, berniat makan malam di sana. Sederhana. Namun, pasti membekas di hati.
“Mau makan apa?”
“Bacem.”
Darryl mengernyitkan kening, ia asing dengan makanan yang gadisnya pesan. Namun, tak urung ia berjalan pada si penjual dan memesankan makanan seperti yang Anastasha pesan. Ia sendiri pun memesan makanan seperti biasa, nasi goreng tak akan pernah tergeser posisinya.
“Tasya, kayaknya di antara kita ada gelembung sabun. Lihat, nggak?”
“Mana ada, nggak lihat, tuh.”
“Iya. Kan, kata orang-orang cinta itu busa.”
Anastasha tertawa lepas. “Buta, Darryl.”
Darryl ikut tertawa, senang melihat Anastasha yang tertawa mendengar leluconnya. Itu artinya candaannya tidak garing. Tak sia-sia ia les kebanyolan pada Joshua tadi.
Pesanan datang, mata Darryl langsung melihat pesanan Anastasha. Ia refleks menggeplak meja.
“Lho Pak, kok gosong?” tunjuknya pada tempe dan ayam yang berwarna hitam di atas meja.terima, ia mencoba bangkit dan membalas Darryl. Ia memberi bogeman mentah tepat di pipi Darryl hingga mengeluarkan sedikit darah.
Bug!
Tak cukup sampai di sana, Reon juga meninju rahang Darryl keras-keras.
“Reon, cukup!” pekik Anastasha.
Darryl menyeringai menatap Reon, detik selanjutnya bogeman keras sudah menghantam wajah Reon lagi berulang kali.
“Darry, Anastasha mohon berhenti!” Lagi-lagi Anastasha diabaikan.
“Darryl, berhenti ... Anastasha mohon ....” Anastasha berucap lirih, memeluk Darryl dari belakang, mencoba menghentikan laki-laki itu.
Dan benar saja, Darryl berhenti menghajar Reon yang sudah terkapar di sana. Darryl tergesa-gesa menarik lengan Anastasha menjauh, Reon hanya menatap Anastasha sendu.
“Darryl, Reon terluka, Tasya harus nolongin Reon,” ujar Anastasha menatap Reon, ia menangis.
Darryl yang mendengar itu menyentak kasar tangan Anastasha, lalu memegang bahu gadis itu keras.
“Gue juga terluka, Anastasha!” desis Darryl tak suka. Darryl kembali menarik Anastasha menuju parkiran.
Darryl dan Anastasha sudah berada di dalam mobil, aura menyeramkan sangat bisa Anastasha rasakan. Ia menoleh pada Darryl, lelaki itu fokus pada kemudinya.
Selama perjalanan sangat hening, hingga Darryl menghentikan mobilnya di suatu taman. Sebenarnya Anastasha khawatir pada kondisi Darryl, wajah lelaki itu sudah dipenuhi lebam, bahkan mengeluarkan darah.
“Tidak berniat mengobati Darryl?” tanya Darryl tiba-tiba.
Anastasha bingung menjawab apa. Dia ingin mengobati, tetapi rasa takutnya tidak bisa ia tepis.
Darryl menggeram, ia mengambil kotak first aid di laci dashboard mobilnya. Dan diberikan pada Anastasha.
“Obati Darryl!”
Anastasha membuka kotak itu, lalu membersihkan luka Darryl pelan. Anastasha heran, kenapa dengan wajah yang penuh dengan luka pria ini masih sangat tampan?
Darryl terus memperhatikan wajah Anastasha, lagi-lagi ia terpesona. Sungguh, Anastasha seperti bidadari yang berwujud manusia.
“Udah selesai,” ucap Anastasha pelan.
"Udah?"
Anastasha mengangguk, dan menyimpan kembali kotak itu ke tempatnya.
“Tadi kenapa meluk dia?”
“Apa?” tanya Anastasha pura-pura tak mengerti.
“Ck, tadi kenapa Anastasha meluk cowok itu, hm?”
“Karena Tasya ingin,” jawab Anastasha hati-hati.
Sontak saja jawaban itu membuat Darryl kembali emosi. “Kenapa meluk cowok lain kalau Darryl ada?!”
“Maaf,” sesal Anastasha, harusnya ia bisa menjaga perasaan Darryl.
Ia pun memeluk pria tempramen di sampingnya, berharap emosi prianya bisa surut.
***
Anastasha mengikuti Darryl dari belakang, pria itu melangkah tergesa-gesa masuk ke dalam rumahnya. Pemuda itu mengajak Anastasha ke sana karena tidak ingin berada di suasana yang awkward bersama kedua orang tuanya. Benar saja, Abraham dan Megan sudah duduk di sofa, menonton berita terkini.
Darryl dengan gamblangnya berjalan begitu saja menaiki tangga, tanpa memberi salam atau apa pun pada ayah dan ibunya. Sangat tidak sopan. Bahkan Megan terlihat menggelengkan kepala melihat kelakuan anaknya. Ingin sekali Anastasha menegur, tetapi ia terlalu takut pada Darryl.
“Assalamu'alaikum,” salam Anastasha, kini kedua orang tua Darryl sudah berdiri menghadap padanya dengan tatapan heran.
“Wa'alaikumussalam.”
Anastasha menyalami keduanya. “Kenalin Om, Tante, nama saya Anastasha.”
“Pacarnya Darryl?” tanya Megan.
“Bukan, Tasya cuma temannya aja Tante.”
“Ah masa,” ujar Abraham, berniat menjahili Anastasha. Ia menyukai Anastasha pada kesan pertama, Anastasha sangat sopan menurutnya.
“Iya, Om.” Anastasha terlihat malu, membuat dua paruh baya itu tertawa gemas.
Anastasha melihat ada kehangatan di dalam kedua mata orang tua Darryl, tetapi kenapa Darryl bilang mereka tidak mencintainya?
“Oh iya, perkenalkan, nama Tante, Megan. Dan ini, Om Abraham. Kita berdua orang tua Darryl, tapi ....” Kata-kata Megan menggantung.
“Tapi apa, Tante?”
“Tapi, sepertinya Darryl tidak menganggap Tante sama Om sebagai orang tuanya,” lanjut Megan terlihat sedih.
Abraham menenangkan istrinya yang tiba-tiba terlihat emosional.
“Enggak Tante, Darryl sering cerita, kok, kalau dia sayang sama Om dan Tante.” Anastasha terpaksa berbohong, ia tidak ingin orang tua dan anak itu terus-terusan seperti orang asing.
“Benar, Nak?” Kini Abraham yang angkat bicara.“Oh iya, perkenalkan, nama Tante, Megan. Dan ini, Om Abraham. Kita berdua orang tua Darryl, tapi ....” Kata-kata Megan menggantung.
“Tapi apa, Tante?”
“Tapi, sepertinya Darryl tidak menganggap Tante sama Om sebagai orang tuanya,” lanjut Megan terlihat sedih.
Abraham menenangkan istrinya yang tiba-tiba terlihat emosional.
“Enggak Tante, Darryl sering cerita, kok, kalau dia sayang sama Om dan Tante.” Anastasha terpaksa berbohong, ia tidak ingin orang tua dan anak itu terus-terusan seperti orang asing.
“Benar, Nak?” Kini Abraham yang angkat bicara.
Hati pria yang kini berumur empatpuluh enam tahun itu menghangat. Sungguh, ia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan hatinya itu. Terlihat dari matanya yang terpancar binar bahagia. Begitupun Megan, seperti akan jatuh likuid bening dari sudut mata wanita paruh baya itu. Jangan tanyakan bagaimana Anastasha sekarang, dia merasa bersalah sudah membohongi pria dan wanita paruh baya di depannya, tetapi Anastasha tidak menyesal.
Maaf Tante, Om, sudah lancang berbohong. Tapi sungguh, melihat pancaran kebahagiaan di raut wajah kalian, membuat Anastasha tersentuh.
“Nak, bisa mengubah anak Om kembali menjadi Darryl yang hangat? Om sangat merindukan pelukan hangat anak Om yang berandalan itu.”
Anastasha tersenyum mendengar penuturan Abraham yang menyebut Darryl anak berandalan.
“Bisa, Nak?” tanya Abraham penuh harap.
“Selagi Tasya mampu, Anastasha akan berusaha.”
“Terima kasih, Anastasha.” Abraham mengusap rambut gadis remaja di depannya.
“Om memang sangat keras padanya, setiap bertemu Darryl, Om sering kali berkata kasar. Bukannya sengaja, Om kehilangan kendali saat itu. Om tidak mau melihat Darryl mengacuhkan Om, itu kenapa Om selalu memarahinya dan memanggilnya dengan tidak pantas. Dan Om sadar akan hal itu.”
Abraham mengutarakan keluh kesahnya pada Anastasha, entah kenapa gadis itu bisa dengan sangat muda mendapatkan simpatik darinya.
“Anastasha akan coba bicara sama Darryl nanti.”
“Tolong ya, Nak. Tante tahu Tante salah, Tante cuma mementingkan karir, dan melupakan jika Tante punya anak yang harus Tante besarkan dengan kasih sayang.”
“Iya Tan-”
“Tasya! Kenapa lama?!” Suara Darryl terdengar sangat datar di pendengaran ketiganya.
“Om, Tante, boleh Anastasha naik?”
“Iya, nggak pa-pa. Sekali lagi tolong, ya, Nak. Om kangen sama putra kecil Om.”
“Iya, Om.”
Anastasha berlalu dari hadapan keduanya, dilihatnya Darryl sudah menunggu di atas sana dengan seragam yang sudah diganti menjadi pakaian santai. Darryl berdiri menatap Anastasha dingin, membuat bulu roma gadis itu berdiri.
Anastasha mengikuti Darryl menuju kamar pria itu. Saat sudah di dalam, Darryl menutup pintu.
“Kenapa lama? Ngomong apa aja sama mereka?”
“Enggak ngomong apa-apa, kok.”
“Jangan bohong, Anastasha! Darryl enggak suka!” desis Darryl.
Anastasha mendekati Darryl perlahan, ia menatap dalam manik mata pria itu. Dan Anastasha ingin tertawa saja melihatnya, jelas sekali ada guratan rindu di mata Darryl. Astaga, laki-laki di depannya ini sungguh sangat menjunjung tinggi harga diri. Kenapa tidak berkata langsung pada kedua orang tuanya jika ia rindu? Semuanya pasti akan selesai.
“Darryl rindu?”
“Rindu siapa? Anastasha udah di sini, jadi buat apa rindu lagi?”
“Bukan ke Tasya.”
“Lalu?”
“Papa dan mama Darryl.” Anastasha menggenggam tangan pria di hadapannya. “Darryl merindukan mereka, kan?”
Pria itu membuang muka. “Enggak Anastasha, nggak sama sekali.”
Dasar egois, susah sekali berkata jujur.
Anastasha maju selangkah lagi, dan Darryl tepat berada di depannya. Anastasha meraih wajah Darryl dengan kedua tangannya, agar melihatnya. Dengan tangan menangkup pipi Darryl, Anastasha bertanya, “Rindu mereka, hm?”
Darryl menatap Anastasha sendu. “Enggak Tasya, enggak. Darryl enggak rindu.”
“Jangan berbohong, Darryl! Anastasha nggak suka!” Anastasha mengembalikan kata-kata Darryl tadi. “Cukup jujur, dan Anastasha nggak akan tanya lagi.”
“Merindukan papa dan mama, hm?”
Runtuh sudah pertahanan Darryl, kristal bening itu jatuh dari pelupuk matanya.
“Iya, Darryl rindu. Bahkan sangat rindu ...,” jujur Darryl.
Kini Darryl memeluk Anastasha, tidak mau jika gadis itu melihatnya menangis karena akan sangat memalukan menurutnya.
Anastasha membalas pelukan Darryl. “Nangis aja, nangis nggak akan bikin Darryl terlihat lemah.”
“Tasya ... kenapa sakit sekali? kenapa Tasya?”
“Mau temui mereka?”
Darryl menggeleng, tanda menolak. Anastasha mengerti, dia tidak akan memaksa.
Anastasha berniat melepas pelukannya, tetapi Darryl malah mengeratkan tangannya memeluk gadis itu. Darryl menggeleng, masih tidak mau Anastasha melihatnya menangis.
“Tasya enggak akan ketawa, Darryl boleh nangis kapan aja di depan Anastasha.”
Darryl kemudian melepas pelukannya, ia menolehkan wajahnya ke samping agar Anastasha tak melihat air mata yang masih mengalir dari kedua matanya.
“I really miss them ....”
Sepertinya Darryl bertemu gadis yang tepat, ia mampu mengeluarkan unek-unek hatinya tanpa berpikir dua kali.
***
Senyum tercipta di bibir seorang Darryl, menghabiskan malam bersama Anastasha di kota tua bukanlah sebuah ide yang buruk. Ia berpegangan erat di pinggang Anastasha, mereka mengendarai sepeda ontel dengan Anastasha yang di depan.
Layaknya pasangan goals, mereka bercanda tawa menikmati malam penuh bintang. Darryl tak lagi memikirkan masalahnya, selama ada Anastasha ia tak perlu bersedih.
Mereka mampir di warung tenda, berniat makan malam di sana. Sederhana. Namun, pasti membekas di hati.
“Mau makan apa?”
“Bacem.”
Darryl mengernyitkan kening, ia asing dengan makanan yang gadisnya pesan. Namun, tak urung ia berjalan pada si penjual dan memesankan makanan seperti yang Anastasha pesan. Ia sendiri pun memesan makanan seperti biasa, nasi goreng tak akan pernah tergeser posisinya.
“Tasya, kayaknya di antara kita ada gelembung sabun. Lihat, nggak?”
“Mana ada, nggak lihat, tuh.”
“Iya. Kan, kata orang-orang cinta itu busa.”
Anastasha tertawa lepas. “Buta, Darryl.”
Darryl ikut tertawa, senang melihat Anastasha yang tertawa mendengar leluconnya. Itu artinya candaannya tidak garing. Tak sia-sia ia les kebanyolan pada Joshua tadi.
Pesanan datang, mata Darryl langsung melihat pesanan Anastasha. Ia refleks menggeplak meja.
“Lho Pak, kok gosong?” tunjuknya pada tempe dan ayam yang berwarna hitam di atas meja.