Rindu Papa

999 Kata
Pesanan datang, mata Darryl langsung melihat pesanan Anastasha. Ia refleks menggeplak meja. “Lho Pak, kok gosong?” tunjuknya pada tempe dan ayam yang berwarna hitam di atas meja. Anastasha mengangkat alisnya sebelah, bapaknya pun ikut heran. “Nggak pa-pa, Pak. Nggak pernah makan bacem,” ujar Anastasha, bapak itu kemudian mengangguk dan berlalu. “Darryl, ini nggak gosong. Bacem emang warnanya gini.” Darryl mengangkat bahunya. “Kok Darryl baru lihat?” “Udah pernah coba?” Darryl menggeleng sambil memakan nasi goreng yang sudah menjadi favoritnya sejak kecil. “Mau coba?” Pria itu menolak dengan gelengan, tetapi Anastasha tetap membagikan makanan itu ke piring Darryl. “Nggak mau Tasya, nggak enak.” “Enak, kok, coba cobain.” Darryl memanyunkan bibirnya, menuruti kata-kata Anastasha. Detik berikutnya matanya langsung berbinar. “Bangs*t!” “Heh, nggak boleh ngomong kasar depan makanan!” “Enak banget.” “Siapa tadi bilang gosong dan nggak enak?” Darryl terkekeh, lalu menukar pesanan Anastasha dengan nasi gorengnya. Malam ini mereka habiskan dengan canda tawa. Sepulang mengantar Anastasha ke rumah gadis itu, Darryl sengaja lewat jalan yang lebih jauh untuk pulang ke rumahnya. Ia ingin lewat di depan kantor cabang papanya, Darryl tahu jika papanya itu masih ada di sana. Sesampainya di depan kantor, Darryl menghentikan motornya. Melihat ke arah pintu masuk, ia melihat seorang paruh baya yang berstatus sebagai CEO sedang berbicara dengan bawahannya di sana. Darryl memandang pria itu dengan senyum tulus, pria paruh baya itu adalah Abraham, papa kandungnya. Tersirat sedikit rasa iri pada orang yang Abraham ajak bicara, entah sudah berapa tahun Darryl sudah tidak berbincang-bincang seperti itu dengan papanya. Menangis aja, menangis nggak akan bikin Darryl terlihat lemah. Perkataan Anastasha tempo hari lalu terlintas di benak Darryl. Dadanya sedikit sesak sekarang, ingin sekali menyapa pria yang di sana. Semenit saja, semenit saja Darryl ingin sekali menyapa kaptennya, tetapi kenapa sangat susah? Darryl sedikit menunduk, setetes air mata mengalir di pelupuk mata Darryl, lalu dengan cepat ia menghapusnya. Saat akan melihat ayahnya sekali lagi, ia di buat terkejut. Pria paruh baya itu kini juga menatap ke arahnya. “Darryl?!” Mengabaikan panggilan papanya, dengan cepat Darryl menyalakan motornya dan melaju menjauh dengan kecepatan tinggi. Jujur, ia sangat merindukan sang papa. *** ”Darryl! Darryl! Berhenti kamu!” tegas Abraham, tetapi Darryl tetap berlalu tanpa menoleh pada kedua orang tuanya. “Darryl! Jangan kurang ajar!” Megan mengusap punggung suaminya berniat menenangkan pria paruh baya itu, “Udah Pa, kayaknya Darryl belum bisa maafin kita. Kita siap-siap aja, jam terbangnya nanti sore, kan?” “Iya, Ma.” *** Darryl melajukan motornya dengan kecepatan penuh, membuat siapa pun yang ia salip mengumpat. Darryl tak peduli, mood-nya sedang buruk sekarang. Entah kenapa setiap melihat wajah kedua orang tuanya, emosi Darryl benar-benar tidak terkontrol. Bahkan perasaan rindu tertutupi oleh amarah yang membuncah. “Anj*ng, biasa aja woy!” umpat Joshua yang sedang berjalan santai, tetapi dengan tiba-tiba Darryl melintas di hadapannya dan hampir saja menabrak dirinya. “Kenapa lo? Kerasukan?!” tanya Joshua saat Darryl sudah di depannya. “It's none of your business!” “Calm down, Bro.” “Mana Mike sama Marcel?” “Berpulang ke pangkuan-Nya mungkin.” “s****n! Hati-hati lo kalau ngomong!” sahut Marcel menggeplak bahu Joshua menggunakan botol air yang masih penuh. Marcel baru saja dari kantin. “He he he. Selow Bro, selow. Sensian amat, sih, lo berdua, kayak perawan lagi pms aja.” “Masih pagi, udah cekcok aja lo berdua,” celetuk Mike yang sudah duduk dengan antengnya di kursi panjang di depan kelas. “Lo enggak tahu aja, si Jojo nyumpahin lo mati tadi.” “Anj*ng lo, Jo!” “Bangs*t, fitnah aja si Marcel. Mati aja sono lo!” umpat Joshua pada Marcel yang sudah masuk nyelonong ke dalam kelas. *** “Darryl, maju kerjakan soal halaman seratus lima nomor tiga!” “Ryl, Darryl! Bangun, woi, dipanggil Bu Nurus, tuh!” Darryl mengerjapkan matanya, terbangun dari tidur karena Marcel yang membangunkannya dengan cara yang tidak wajar. Menekan keras-keras luka wajahnya yang belum sembuh karena berkelahi dengan Reon tempo lalu. “Darryl, sini kamu!” Darryl menoleh ke depan dengan wajah kusutnya. “Saya, Bu?” tanya Darryl menunjuk dirinya sendiri dengan muka yang masih linglung. “Iya, siapa lagi yang namanya Darryl di sini kalau bukan kamu?” Darryl berdiri dari duduknya, saat akan melangkah, suara Bu Nurus kembali terdengar. “Bawa buku paket kamu sama catatan kamu!” Darryl mengambil buku paket dan catatannya, lalu berjalan ke depan, menuju di mana Bu Nurus berdiri. “Ada lagi Bu Guru?” tanya Darryl sok manis. “Nggak usah cari muka kamu! Kerjakan nomor tiga cepat! Ingat, harus lengkap dengan cara pengerjaannya juga!” Darryl kemudian mengambil spidol di meja guru, disalinnya soal yang di maksud guru galaknya itu ke papan tulis. Dalam kurun tiga menit, Darryl sudah selesai mengerjakan soal itu. “Sudah, Bu.” Bu Nurus berdiri dari duduknya, berjalan mendekati papan tulis. Dilihatnya hasil pekerjaan Darryl. Dengan mata tercengang, Bu Nurus menoleh pada Darryl yang ada di sampingnya. Jawaban Darryl benar, nyaris sempurna dengan penjelasan yang lebih mudah dipahami. “Ini kamu yang ngerjain?” tanya Bu Nurus masih tak percaya akan apa yang dia lihat. Bagaimana bisa seorang Darryl yang berandalan bisa mengerjakan soal yang bahkan Bu Nurus belum jelaskan sama sekali? Selain memberi hukuman, Bu Nurus juga menguji kemampuan Darryl karena bukan dia saja yang berpikir bahwa Darryl jenius, tetapi guru yang lain juga. Bu Nurus mengira Darryl tidak akan bisa menjawab karena pekerjaan anak itu cuma tidur sepanjang pelajaran berlangsung, tetapi ini semua di luar nalar. Dengan buku catatan kosong bersih tanpa noda, muridnya itu bisa menjawab hanya dalam waktu tiga menit. Darryl benar-benar titisan dari Albert Einstein. “Silakan duduk!” Bu Nurus bingung hendak menghukum Darryl dengan hukuman apa. Sepertinya memberi soal anak kuliahan sebagai hukuman, bukan apa-apa bagi muridnya itu. Lain kali Bu Nurus akan memikirkan hukuman yang lain.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN