Seperti biasa, hari ini Darryl pulang dengan Anastasha atas kemauannya. Tadi ia sempat bersitatap dengan Reon. Amarahnya bisa saja meledak, jika saja Anastasha tidak segera menariknya ketempat parkiran.
“Langsung pulang?”
“Iya,” jawab Anastasha yang mendapat anggukan Darryl.
Saat akan memakai helmnya, ponsel Darryl berdering. Ia menatap datar layar ponselnya, sebuah nomor yang sudah sangat lama tak pernah menghubunginya lagi. Tak mau ambil pusing, Darryl menggeser tombol merah, menolak panggilan itu.
“Siapa?” tanya Anastasha heran karena Darryl tidak mengangkat sambungan itu.
“Mama.”
Ponselnya kembali berdering, menunjukkan nomor yang sama lagi-lagi menelepon.
“Angkat aja, siapa tahu penting.”
“Tasya, emang Darryl pernah penting di hidup mereka?”
“Plis Darryl, kali ini aja.”
Darryl menurut saja, ia menggeser tombol hijau. “Halo!”
“Halo, dengan Darryl?”
Kening Darryl mengerut, suara di seberang sana bukanlah suara mama ataupun papanya.
“Iya, saya sendiri. Ini siapa?”
“Maaf, saya Mariyono. Orang tua Nak Darryl kecelakaan, sekarang dilarikan ke Rumah Sakit Medika.” Darryl terdiam membeku, ponselnya bahkan terjatuh saking shock-nya mendengar berita yang entah kenapa sangat ia benci itu.
“Halo, iya Pak?”
“Iya, terima kasih sebelumnya.”
Anastasha mengambil ponsel Darryl dan mengangkatnya karena suara di seberang sama masih terdengar saat Darryl menjatuhkan ponselnya.
“Tasya, kita ke rumah sakit sekarang!”
Anastasha menarik tangan Darryl dan menggeleng saat pria itu akan menaiki motornya. “Jangan halangi Darryl, Anastasha. Mama sama Papa kecelakaan! Darryl harus ke sana!”
“Darryl, pikiran Darryl lagi kacau. Tasya enggak mungkin biarin Darryl ke rumah sakit.”
“Tapi Mama sama Papa Darryl kecelakaan, Tasya!”
“Darryl, kita mau ke rumah sakit buat jenguk Mama-Papa! Bukan untuk menjadi pasien tambahan. Plis, dengerin Tasya!”
Darryl terdiam, membenarkan perkataan Anastasha. Gadis itu melihat sekelilingnya, mencari orang yang mungkin saja bisa membantunya.
“Kak Mike!” Mike yang mendengar namanya dipanggil, berlari menuju Anastasha melihat raut wajah Anastasha yang penuh kekhawatiran, sedangkan Darryl terdiam nge-blank.
“Ada apa?”
“Kak, tolong antar Tasya sama Darryl ke rumah sakit! Orang tua Darryl kecelakaan!”
Tanpa banyak tanya, Mike langsung berlari menuju mobilnya disusul Darryl dan juga Anastasha.
***
Darryl berlari menuju ruangan mamanya setelah bertanya pada resepsionis. Terlihat jelas jika ia sangat khawatir, wajahnya bahkan mengeluarkan keringat padahal di luar sana hujan turun dengan derasnya.
Darryl berhenti di depan pintu ruang mamanya dirawat, ragu akan membuka pintu atau tidak.
“Darryl, buang ego lo sebentar aja. Tetep mertahanin ego akan bikin lo menyesal nantinya.” Mike menepuk bahu sahabatnya.
Darryl mengangguk dan tersenyum ke arah Mike, lalu memutar kenop pintu. Dilihatnya wanita yang selalu ia benci dan rindukan dalam waktu yang bersamaan, kini terbaring lemah di sana.
Darryl mendekat.
Tes!
Air mata lolos begitu saja dari mata Darryl. Megan, mamanya terbaring dengan perban melingkar di kepala dan tangan.
“Ma ....”
“Mama ....”
Tak ada jawaban karena memang wanita paruh baya itu masih belum siuman. Darryl lagi-lagi menitikkan air matanya, sungguh, hatinya seperti diremas saat ini. Sakit, sangat sakit.
Darryl mengangkat tangannya menuju pipi mamanya, masih halus, sama seperti dulu saat ia selalu menyentuh pipi itu.
“Mama ... bangun. Ini Darryl, Ma ....” Darryl mencium pipi mamanya.
Anastasha tak bisa menahan tangis haru, hatinya tersentuh. Darryl menghapus air matanya lalu menoleh pada Anastasha, ia mendekat.
“Tasya ....” Darryl memeluk Anastasha erat.
“Tasya ... Mama, Tasya ... Mama kenapa?” lirih Darryl.
“Darryl tenang, ya, Mama nggak pa-pa, kok.”
“Bener nggak pa-pa?”
Anastasha mengangguk dan mengusap punggung Darryl menenangkan lelaki itu.
“Lo yang sabar, ya, mama lo kuat, pasti cepet sembuh.”
“Thanks, Mike.”
***
Darryl baru saja mendengar kabar jika papanya lebih parah, Abraham pendarahan otak akibat benturan keras pada kepala. Dari tadi Darryl mondar-mandir seperti setrikaan, pikirannya kacau.
Mike sudah pulang sedari tadi, sedangkan Anastasha masih setia menemani Darryl walau lelaki itu sudah memaksanya pulang berkali-kali.
“Darryl.”
“Nak, sini ....”
Darryl menoleh, matanya terbuka lebar-lebar. Mamanya sudah siuman, Darryl lantas berjalan mendekat. “Mama?”
Megan mengangguk tersenyum, sedangkan Anastasha menekan tombol di bawah brankar.
Darryl langsung memeluk mamanya, air matanya lolos begitu saja. Megan merasa hatinya menghangat, sudah lama ia tak merasakan pelukan putranya. Megan membalas pelukan Darryl, air mata tak mampu lagi ia tahan.
“Mama rindu pelukan anak Mama, sangat rindu.” Megan menatap anaknya penuh kasih.
Darryl merasa hatinya sakit mendengar perkataan mamanya. Karena dia, mamanya harus menahan rindu. Ia melepas pelukannya. “Mama minum dulu, ya.” Darryl mengambil air putih di atas nakas.
Anastasha membantu membangunkan Megan. “Ada yang sakit, Tante?” tanya Anastasha setelah Megan meminum habis air putih itu.
“Enggak, Nak, cuma sedikit pusing aja.”
Tak lama, dokter masuk dengan membawa stetoskop di lehernya.
“Malam,” sapa dokter tersebut sembari tersenyum.
“Malam, Dok.”
“Saya periksa dulu, ya?”
“Iya, Dok.”
Dokter kemudian memeriksa pergelangan tangan Megan. “Ada keluhan, Bu.”
“Iya Dok, kepala saya sedikit pusing.”
“Ini, obatnya nanti diminum dua kali sehari, ya.”
“Papa mana, Nak?” tanya Megan saat dokter itu sudah keluar.
Darryl dan Anastasha terdiam, bingung mau menjelaskan bagaimana. Megan melihat keduanya dengan heran.
“Kenapa diam?”
Krek!
Suara pintu terbuka, seorang perawat masuk dengan tergesa-gesa. “Maaf, dengan keluarga Bapak Abraham?”
“Iya Sus, ada apa?”
“Suami saya kenapa, Sus?”
“Bapak Abraham harus segera menjalankan operasi karena mengalami penggumpalan darah pada otak.”
“Tolong lakukan yang terbaik untuk Papa saya, Sus.”
“Suster selamatkan suami saya, saya mohon selamatkan suami saya!” Megan menangis, tidak kuat mendengar kondisi suaminya.
“Iya, mari ikut saya untuk mengurus registrasinya terlebih dahulu sebelum operasi di mulai.”
Darryl berjalan keluar mengikuti suster itu, sedang Anastasha berusaha menenangkan Megan.
“Tante yang tenang, ya. Om kuat, jadi Tante nggak boleh berpikiran negatif.”
“Nak, suami Tante kenapa?” Megan menangis tersedu-sedu, ingin melepas infus dari tangannya.
“Tante yang tenang, ya?”
Anastasha kembali menekan tombol di bawah brankar untuk memanggil dokter ataupun perawat.