Di taman komplek perumahan, seorang gadis kecil yang sedang menatap permen lolipopnya yang sudah menyentuh rerumputan dengan mata berkaca-kaca.
“Jatuh, pelmen Aca Udi jatuh. Hiks, pelmen Aca Udi jatuh ...,” lirih gadis kecil itu mengusap air matanya..
Gerak-gerik gadis kecil itu tak luput dari perhatian bocah laki-laki yang sepertinya seumuran dengannya. Anak laki-laki itu berlari menuju bapak yang sedang berjualan lolipop, yang tidak jauh dari sana.
“Pak, pesen lolipopnya satu, ya.”
“Iya, Dek.”
Sambil menunggu sebentar, Reon kecil terus memperhatikan gadis kecil itu dari jauh.
“Ini dek, harganya lima ribu.”
Reon mengambil uang di sakunya, lalu mengeluarkan uang lima ribu. “Ini Pak, makasih.”
“Sama-sama.”
Reon kecil kemudian berlari menuju gadis kecil itu, napasnya ngos-ngosan saat sudah ada di depan gadis kecil itu.
“Buat kamu,” kata Reon kecil sambil menyodorkan lolipop.
“Buat Aca Udi?”
“Aca Udi? Nama kamu Aca Udi?”
“Iya, Anataca Kilaudi.”
“Kalau gitu Leon panggilnya Kila aja, ya. Simpel.”
“Kila?”Anastasha kecil terlihat kegirangan.
“Iya.”
Ia bertepuk tangan, senang karena sudah menemukan nama panggilan yang pas untuk dirinya karena dia kesusahan mengeja namanya sendiri. Berkat Reon, Anastasha kecil menemukan nama yang pas.
“Kenapa?” tanya Reon kecil kebingungan melihat reaksi gadis di hadapannya.
“Gak pa-pa, sekarang Aca Udi udah ada nama panggilan. Aca Udi senang.”
“He he, ya udah, sekalang Leon panggil kamu Kila.”
“Yeahh! Pak lolipop, sekalang jangan panggil Neng Geulis lagi, ya, panggil Kila aja. Kilaa!” teriak Anastasha kecil pada pedagang lolipop langganannya itu.
***
“Leon, jangan pelgi. Mau ke mana?”
“Pelginya cuma sebental, nanti Leon bawain cokelat yang banyak buat Kila.”
“Janji?”
“Janji!”
Dua anak kecil itu menyatukan jari kelingking mereka masing-masing. Berjanji untuk bertemu lagi di kemudian hari.
***
Di lapangan basket SMA Taruna Bangsa, Darryl dan teman-temanna sedang bermain basket. Para siswi sudah mulai berkerumun seperti biasa di tribun sekitar lapangan, menikmati indahnya ciptaan Tuhan satu itu.
Seperti biasa, Darryl akan acuh. Tetapi itulah yang menjadi daya tarik tersendiri dari seorang Darryl, sikap cueknya membuat dia semakin terlihat cool ditambah lagi yang memang bak pahatan manekin. Sempurna, begitu kata orang-orang.
Berbeda halnya dengan Joshua, sekarang ini manusia itu sedang memamerkan ketampanannya yang katanya overdosis. Joshua dengan santainya membuka seragamnya, dan memperlihatkan kaus putih polosnya. Memamerkan tubuh atletis yang mati-matian dia bentuk setiap harinya. Sedangkan Mike, pria berparas Eropa rasa lokal itu sedang berbincang-bincang dengan adik kelas yang kurang belaian. Sudah dibilang, kan, jika Mike memang sudah bosan menjomblo?
Bagaimana dengan Marcel? Pria satu ini sedang rebahan di bawah pohon yang ada di pinggir lapangan basket. Siang ini angin berembus lumayan kencang menerpa wajah Marcel, membuat kadar ketampanan pria berkulit eksotis itu bertambah. Dan anggota basket lainnya yang visualnya juga tidak boleh diragukan. SMA Taruna Bangsa memang gudangnya manusia-manusia tampan, berbahagialah kalian wahai para siswi yang sekolah di SMA ini.
Saat sedang melempar bola ke ring, Darryl terdiam. Lemparannya tepat sasaran memang, tetapi bukan itu yang membuat dia terdiam. Entah kenapa pemandangan di depan sana membuat hatinya panas.
Anastasha sedang berbincang dengan seorang pria. Terlihat Anastasha sedang tersenyum hangat pada laki-laki itu, membuat hatinya tambah panas saja.
Tanpa sadar, Darryl mendekat ke arah kedua anak manusia itu berada.
“Anastasha!” panggil Darryl dalam dan dingin, seperti menahan amarah.
“Iya?”
“Ikut gue!” perintah Darryl tak terbantahkan, Darryl menarik tangan Anastasha menuju taman sekolah.
Reon bingung, kenapa Anastasha di bawa begitu saja oleh Darryl? Yeah, Reon sangat mengenal Darryl.
Apa mereka pacaran? tanya Reon dalam hati.
Sedangkan Anastasha berjalan terseok-seok, karena Darryl melangkah dengan cepat dan tidak santai. Bahkan tangannya memerah sekarang.
“Kak, tangan Tasya sakit ...," cicit Anastasha.
Tidak dihiraukan, Darryl tetap menyeret gadis itu. Ia membawa Anastasha menuju kursi yang ada di taman, belum melepaskan genggamannya, tetapi sudah sedikit merenggang.
“Dia siapa?” tanya Darryl tiba-tiba pada Anastasha yang duduk di depannya.
“Dia? Dia yang mana?” bingung Anastasha.
“Cowok tadi, dia siapanya Tasya?” tanya Darryl enggan menyebut nama Reon.
“Reon, temen Tasya.”
“Yakin cuma temen?”
Anastasha mengernyit heran, untuk apa Darryl menanyakan itu. Apa urusannya mengetahui status Tasya dengan Reon?
“Kok nanya gitu?”
“Gitu gimana?”
“Ya gitu.”
“Ck, jangan deket-deket sama dia lagi, ataupun cowok lain!” larang Darryl frustrasi, dia juga tidak tahu kenapa bisa begini.
“What’s your problem? Punya hak apa ngelarang Tasya?” Anastasha terlihat tak terima.
Mata Darryl merah, suara tinggi Anastasha ternyata memancing amarahnya. Darryl menarik tangan Anastasha, sehingga berdiri tepat di hadapannya. Darryl memeluk pinggang gadis itu, membuat Anastasha kaget, diam tak berkutik.
“Kalau gue bilang jangan, ya, jangan! Nggak usah bantah gue!” sentak Darryl sekali lagi.
“Kenapa? Kenapa Tasya nggak boleh deket sama cowok?” Anastasha menahan tangis, matanya yang berkaca-kaca menatap pria itu takut-takut.
"Gue nggak suka!”
“Gue nggak suka lihat lo sama cowok lain!”
“Gue, cemburu ....”
Mata Anastasha membola, kaget akan pengakuan Darryl.
***
Jam sebelas malam, Darryl baru memasuki rumahnya. Luas memang, tetapi sangat sepi. Membuatnya tidak betah jika harus berlama-lama di sini. Orang tuanya jarang di rumah, bahkan sangat jarang. Sampai Darryl merasa dia adalah anak yang tidak diinginkan, saking jarangnya dia berinteraksi dengan mama dan papanya. Darryl sering kali sengaja berbuat onar di sekolah, dengan harapan mama atau papanya pulang walau sekadar hanya untuk memarahinya. Tetapi tidak ada, percuma saja, mereka tidak peduli padanya. Itu asumsi Darryl saat ini.
Darryl memasuki kamarnya yang berwarna abu-abu dan biru, warna abu-abu lebih mendominasi. Pemuda itu membaringkan tubuhnya di atas kasur, dan menatap langit-langit kamarnya.
“Gue cemburu?” tanya Darryl pada dirinya sendiri karena mengingat ucapannya sendiri saat bersama Tasya tadi. “Jangan pernah bilang itu lagi Darryl! Lo bukan cowok bucin yang sukanya menye-menye!” Darryl berdialog dengan dirinya sendiri.
Sebenarnya Darryl cuma butuh kasih sayang, sikapnya yang temperamen adalah bentukan dari kurangnya kasih sayang yang dia dapat. Mama yang selalu ia harap bisa memperhatikannya layaknya anak yang lainnya, nyatanya hanya mementingkan pekerjaan.
Darryl memejamkan kedua matanya, ia merindukan kedua orang tuanya sekarang. “Ma, Pa, kapan pulang? Darryl kangen,” lirih Darryl sendu.
Darryl tak pernah menunjukkan sisi lemahnya seperti sekarang ini, pada sahabatnya sekalipun.
Ingin sekali rasanya dia menghubungi mama dan papanya meskipun lewat telepon, tetapi rasa gengsi dan egoisnya masih lebih tinggi.
“Darryl sehat Ma, Pa. Kalian juga sehat, kan?”
“Semoga sehat, ya.”
“Darryl kangen, apa Mama sama Papa juga kangen Darryl?”
Darryl sudah seperti orang gila sekarang. Bertanya sendiri, lalu menjawab sendiri.
Lelah dengan hidupnya, Darryl memutuskan untuk tidur.
“Selamat malam Mama, selamat malam Papa ....”
“Dan selamat malam juga, Anastasha ....” Darryl pun menuju mimpinya.