Hari Minggu, hari merdeka untuk semua pelajar di Indonesia. Tak terkecuali Anastasha. Rencananya, hari ini ia akan bermalas-malasan di kasurnya sambil menonton drakor yang belum tuntas ia tonton.
Anastasha berjalan ke meja belajarnya, mengambil laptop dan juga camilan yang selalu siap sedia di atas mejanya. Diangkatnya laptop dan camilan itu menuju kasur.
Saat hendak berbaring, suara Mama Mitha menginterupsinya, “Dek! Bisa tolong beliin bahan masakan enggak?!” teriak Mama.
Pupus sudah rencananya untuk bermalas-malasan hari ini.
“Iya, Maa!” Anastasha turun dari kamarnya menuju dapur yang ada di lantai satu.
“Tadi Mama bilang apa?” tanya Anastasha pada mama yang sibuk dengan adonan kuenya.
“Mama minta kamu belikan Mama bahan masakan. Subuh tadi bibi pulang kampung, anaknya sakit. Kemarin nggak sempat beli.” jelas Mama Mitha.
“Ya udah deh, list belanjaan sama uangnya mana, Ma?”
Mitha memberikan daftar belanja pada anaknya, “Kartunya kamu ambil di lemari, bayar pakai itu aja.”
“Oke, Ma. Sekalian Tasya beli es krim, ya!”
“Iya.”
***
Setelah berjalan kaki sekitar satu kilometer, Anastasha sampai di supermarket. Ia mendorong troli dan membuka daftar belanjaan mamanya yang ternyata lumayan banyak.
Tahu gini mending tadi bawa mobil, bisa pegel, nih, tangan Tasya nenteng belanjaan sebanyak ini, pikirnya.
“Garam udah, kecap udah, bayam udah, kangkung udah, daging ayam udah, buah udah, ini udah, semua udah. Tinggal s**u kakak, nih!”
“Mana sih, dari tadi nggak ketemu!” kesal Anastasha.
Gadis itu kembali memutari rak yang berisi s**u dengan berbagai merk, tetapi tak kunjung ia menemukan s**u kesukaan kakaknya itu.
“Aish, ternyata di atas, toh, pantes enggak ketemu. Tasya kan cuma lihat di bagian bawa aja.” Anastasha terkekeh saat sudah menemukan s**u kesukaan Ardian, kakaknya.
Ternyata kejengkelannya tak cuma sampai di situ, Anastasha kembali kesal saat s**u itu tidak bisa ia raih.
“Ini raknya yang ketinggian atau Tasya yang kurang tinggi, sih?” Anastasha marah-marah tak jelas.
“Lo yang pendek!” celetuk seseorang di belakang Anastasha.
Mendengar suara itu, ia pun berbalik. Anastasha terkejut dan terheran-heran. “Kok di sini?” tanya Anastasha pada seorang pemuda yang ternyata Darryl, kakak kelasnya.
“Emang kenapa? Nggak boleh?” tanya balik Darryl kemudian mengambil s**u yang tak bisa Tasya ambil tadi, dan meletakkannya di troli gadis itu yang sudah penuh.
“Bukan gitu. Ya udah deh, terserah juga mau di mana aja bukan urusan Tasya.” Karena sudah kehabisan kata-kata, Anastasha beranjak.
Saat Tasya akan menjauh, Darryl menahan tangannya yang sudah memegang troli. “Mau ke mana?”
“Pulang!” jawab Anastasha singkat.
“Enggak, lo harus temenin gue dulu!”
“Ih Kak, nggak mau!” tolak Anastasha.
“Kenapa?”
“Tasya mau pulang, Mama pasti nungguin Tasya.”
“Anak kayak lo siapa yang mau nungguin?”
Perkataan Darryl membuat Anastasha kesal setengah mati.
“Terserah!” kesal Tasya mendorong trolinya.
“Bentar!”
“Apalagi, sih?! Kalau orang rumah pingsan nahan lapar gara-gara bahan makanannya enggak datang, Kakak mau tanggung jawab?” Anastasha mencoba sabar.
Tanpa sepatah kata, Darryl mengambil alih troli yang dipegang Anastasha kemudian berjalan ke arah kasir. Anastasha hanya bisa mengambil napas sebanyak-banyaknya dan membuang secara perlahan. Bertemu dengan Darryl memang butuh kesabaran yang ekstra.
Dasar manusia jadi-jadian! maki Anastasha dalam hati, ia kemudian menyusul Darryl.
“Mau es krim?” tawar gadis itu, Darryl menggeleng.
Anastaha mengangguk kemudian mengambil es krim cokelat yang berukuran besar, dan menaruhnya di troli.
“Berapa Mas semua?” tanya Anastasha setelah belanjaannya selesai ditotal.
“Semuanya dua ratus sembilan puluh tiga, Mbak.”
“Ini, Mas.” Darryl menyodorkan uang tiga ratus ribu, menghalangi tangan Tasya yang sedang memegang kartu.
“Lho Kak, Tasya aja yang bayar.” Gadis itu memberikan kartunya pada kasir.
“Gue aja.”
“Ini belanjaan Tasya,” tolak Tasya kembali.
“Gak pa-pa,”
“Tap-”
“Nolak lagi, gue cium lo di sini!” ancam Darryl yang membuat Anastasha kicep.
Mas-mas kasir yang dibuat kebingungan pun, tersenyum melihat perdebatan kedua remaja di depannya.
“Pip pip pip pip calon mantu, cari pacar kayak gini di mana ,Mbak? Mau saya cariin buat anak saya.” ujar seorang ibu-ibu pada Anastasha.
“Dia bukan pacar saya, Bu!” elak Anastasha sambil menggoyangkan telapaknya ke kanan kiri.
“Iya, Bu. Bukan pacar, saya suaminya.”
***
Di perjalanan pulang, Anastasha sama sekali tidak menoleh ke arah Darryl. Kekesalannya belum hilang, jadi dia meninggalkan Darryl di belakang yang membawa dua kantong plastik berukuran besar. Sedangkan Anastasha hanya membawa satu kantong plastik berisikan es krim cokelatnya.
Darryl menggelengkan kepala melihat tingkah Anastasha yang membuatnya sangat gemas. Sehingga ia tak tahan untuk tidak mengecup pipi gadis itu saat di supermarket tadi. Itulah sebabnya Anastasha sangat marah dan kesal pada Darryl saat ini.
“Tasya! Tasya!”
Tasya terus berjalan dengan cepat, dan berhenti saat sudah sampai di depan pagar rumahnya. “Pak, bukain pagarnya, dong!” teriak gadis itu.
“Iya, Non!”
Anastasha berjalan memasuki rumahnya, setelah berterima kasih pada Pak Parto. Di depan pintu, Anastasha berhenti dan menoleh ke belakang. Di sana ada Darryl yang sedang berbincang dengan Pak Parto.
“Kak, cepetan!” Anastasha kembali berteriak.
“Iya, Sayang!”
“Lama!” ujar Tasya melihat Darryl sudah mendekat, tak menyadari panggilan pemuda itu yang berbeda kepadanya.
“Assalamualaikum,” salam Anastasha begitu masuk ke dalam rumah dan mendapati mamanya yang sedang menonton film India.
“Wa'alaikumussalam.”
“Ma, ini belanjaannya.”
“Okeh, makasih, Sayang.” Mama Mitha lalu melirik ke arah Darryl yang berdiri di samping sang putri. “Ini siapa?”
“Gak tahu, Ma. Anak hilang mungkin,” sahut Anastasha acuh.
“Tasya, nggak boleh ngomong gitu, ya, kamu!” tegur Mama Mitha, Anastasha tersenyum sabar. “Nama kamu siapa, Nak?”
“Darryl, Tante,” jawab Darryl sambil menyalami tangan Nama Mitha.
“Nak Darryl, manggilnya Mama aja, ya! Enggak usah Tante. Biar anak mama genap tiga.” canda Mitha, “nama Mama, Mama Mitha.” Panjang lebar mama Mitha memperkenalkan dirinya.
“Iya, Ma.” Darryl sedikit merasakan kehangatan di hatinya.
“Tasya, bantu Mama masak, Nak!” Mama Mitha sedikit berteriak pada Anastasha yang sudah berada di tangga.
Anastasha kembali berjalan menuruni anak tangga dengan lesu. “Iya, Ma.”
***
“Jangan ganggu Tasya, plis, deh,” tegur Anastasha garang.
Sejak tadi Darryl gencar mengganggu Anastasha yang sedang membuat cake cokelat, dan membuat gadis itu jengah setengah mati.
“Tasya, calon mantu Mama enggak ganggu, ya. Jangan lebay!” bela Mama Mitha sambil cekikikan.
Anastasha mencebik, seorang Darryl sudah membuat posisinya tergeser begitu saja dari posisi anak kesayangan. Padahal baru sehari kenal dengan mamanya, bagaimana kalau sebulan? Dipastikan Anastasha akan dicampakkan.
“Manisnya,” celetuk Darryl.
Anastasha menghempas rambutnya dengan smirk narsis terbingkai di bibirnya, ”Udah tau, Tasya emang manis dari dulu!”
“Lha, geer, Neng? Darryl bilang kuenya yang manis.” Keluar sudah kejahilan seorang Darryl.
Wajah Anastasha langsung merah, karena tingkah narsisnya ia malah terkena malu.
“Malu, Neng? Kepedean, sih!” ujar Mitha tak bisa menahan tawanya.
Darryl tersenyum, ia suka melihat gadis di sampingnya salah tingkah. Sangat lucu.
“Anastasha mirip sama seseorang,” Darryl menatap dalam Anastasha.
Gadis itu mendongak menatap balik Darryl, “Siapa?”
“Calon istri Darryl!”