Makasih, sayang!

1207 Kata
Anastasha melambaikan tangan saat Ardian sudah melajukan mobilnya menjauhi area sekolah. Tepat saat ia berbalik dan akan melangkah, suara seseorang menghentikan pergerakannya. “Kilaaa!” panggil Reon dari jauh, terlihat laki-laki itu berlari mendekatinya. Sepertinya Reon baru saja memarkirkan motor di parkiran luar. “Hai, Reon!” sapa Anastasha, melambaikan tangannya saat Reon sudah mendekat. “Langsung ke kelas, kan?” tanya Reon diangguki Anastasha. “Bareng Reon, ya?” “Iya, Reon.” Mereka berdua kemudian berjalan beriringan. Anastasha menoleh pada tangan Reon yang terdapat cincin berwarna perak di ibu jari pria itu. Anastasha meraih tangan Reon, menggenggamnya. Reon membulatkan matanya kaget. Agaknya Anastasha tidak bisa menghilangkan kebiasaan kecilnya, dulu ia juga selalu menggenggam tangan Reon kapan pun dan di mana pun mereka bersama. Anastasha tersenyum manis pada Reon, dia merasa nyaman menggenggam tangan besar itu. Tangan Reon kecilnya dulu kini sudah berubah menjadi tangan pria dewasa pada umumnya. *** “DARRYL!!” teriak Bu Ria. Pasalnya, anak didiknya itu masih terlihat santai menyandarkan punggung di pagar sekolah, padahal yang lain sudah mengambil barisan masing-masing untuk melaksanakan upacara hari Senin. Darryl menolehkan wajahnya menghadap ke kanan, dilihatnya guru cerewetnya itu sudah menatapnya tajam. “Kenapa masih di situ? Masuk barisan cepat!” perintah Bu Ria dengan galak. Tetapi Darryl malah melangkahkan kakinya dengan santai menuju barisan kelasnya, XII IPS 3. “Heh, mau ke mana kamu? Udah nggak pakai dasi, baju dikeluarin, topi nggak punya, sepatu merah lagi! Kamu mau sekolah atau ke mall, sih? Masuk barisan pojok sana!” seru bu Ria menunjuk segerombolan siswa yang sedang berbaris di pojok kiri, segerombolan siswa yang sedang tidak memakai atribut lengkap seperti Darryl. Anastasha yang sedang berada di barisan paling depan mengangkat wajahnya, dilihatnya Darryl berjalan melewatinya menuju barisan siswa paling kiri. Tak sengaja, Darryl menoleh ke arahnya, pria itu berhenti sejenak lalu memilih mendekati Anastasha. Seketika suasana menjadi heboh, pria itu bertindak di luar dugaan. Tiba-tiba saja Darryl mengecup pipi Anastasha yang masih sedikit membiru akibat tonjokannya beberapa hari lalu. Setelah membuat heboh, Darryl kembali melanjutkan langkahnya tanpa sepatah kata, padahal semarak para siswa-siswi belum juga reda. Sedangkan Anastasha memandang tak percaya pada Darryl yang sudah jauh melangkah, pria itu benar-benar luar biasa. Tindakan tiba-tiba Darryl benar-benar menghebohkan suasana Taruna Bangsa pagi ini. *** “Reon, tahu ini caranya gimana?” “Iya, emang Kila enggak tahu?” “Enggak paham,” jawab Anastasha sedih. “Sini, Reon ajarin.” Reon menepuk kursi di sampingnya, menyuruh Anastasha duduk di sebelahnya. Anastasha dan Reon berada di perpustakaan saat ini, mereka sedang mengerjakan tugas Matematika berkelompok. Satu kelompok dua orang. Kebetulan Anastasha dan Reon satu kelompok karena anggota kelompok ditentukan sesuai absen, Anastasha Claudy absen ke-5 dan Argareth Dareon absen ke-6. Jika suku banyak f(x) = x⁴ + 3x³ + x² - (p + 1)x + 1 dibagi oleh (x - 2) sisanya adalah 35. Nilai p adalah .... Itu adalah soal yang dimaksud Anastasha. Jangan mengatakan Anastasha bodoh, ia adalah salah satu murid pintar di kelasnya. Hanya saja untuk materi itu, dia hanya paham maksud soalnya, tetapi masih agak bingung cara pengerjaannya. Ya, dia ketinggalan pelajaran saat masuk rumah sakit waktu itu. “Untuk soal ini, Killa harus menentukan X-nya dulu. Nah X-nya itu, kan, dua, ganti aja semua X yang ada di persamaan F(X) menjadi dua,” jelas Reon. “Setelah itu?” “Setelah itu nanti hasil F(2)-nya, kan, ketemu, sedangkan di soal sisanya itu tigapuluh lima. Nah, Kila operasionalkan aja, setelah itu nilai p-nya ketemu, deh.” “Coba dikerjakan, ya.” Sekitar lima menit Anastasha mengerjakan soal sesuai apa yang diajarkan Reon, akhirnya Anastasha menemukan nilai p. “Yey, ketemu!” girang Anastasha. “Emang berapa?” “Nilai p adalah empat!” jawab Anastasha antusias. “Dih, seneng banget kayak lagi dapat jodoh,” gemas Reon. *** Anastasha yang baru saja keluar dari kelas, terkejut karena sebuah tarikan tiba-tiba di pergelangan tangannya. “Aduh ngagetin aja, sih!” kesal Anastasha. “Jangan lihat Darryl kayak gitu, Anastasha!” Darryl tak suka dengan tatapan Anastasha. Anastasha mangatupkan bibirnya rapat-rapat, melihat Darryl menatapnya serius. Entahlah, padahal Darryl tidak melakukan apa-apa, tetapi aura menyeramkan menyeruak kental dari diri pria menyeramkan itu. Melissa dan Sasha yang berdiri di belakang Anastasha saja ikut bergidik, ngeri akan suasana yang tiba-tiba suram karena kehadiran Darryl. “Sya, Melissa sama Sasha pulang duluan, ya. Ada urusan mendadak, dadah!” pamit Melissa langsung menarik tangan Sasha buru-buru. Tak ingin berlama-lama dalam lingkup atmosfer yang diciptakan Darryl. Darryl menarik tangan Anastasha menuju parkiran, mengeluarkan motornya lalu menghampiri Anastasha yang menunggunya di dekat gerbang. “Sini!” perintah Darryl meminta Anastasha mendekat. Anastasha mendekat, Darryl dengan telatennya memasangkan helm pada Anastasha. “Jangan takut, Darryl enggak akan bunuh Anastasha!” kata Darryl memperhatikan gelagat Anastasha, yang sangat kentara jika gadis itu sedang ketakutan. “Naik!” Anastasha menaiki motor Darryl tanpa banyak kata, sebelumnya Darryl sudah melepas bomber Dior miliknya untuk diikat di pinggang Anastasha. Agar tidak mengekspos paha gadis itu saat menaiki motor. Darryl melajukan motornya membelah jalan, Anastasha bingung harus berpegangan di mana. Jika ia berpegangan di pundak Darryl, takut lelaki itu akan marah. Sepertinya mood Darryl sedang buruk sekarang. “Pegangan Anastasha!” Darryl sedikit berteriak. Anastasha menampilkan raut bingungnya, ia dengan ragu menggenggam ujung kaus Darryl. Darryl berdecak, Anastasha benar-benar menguji kesabarannya. Darryl menarik kedua tangan Anastasha melingkari pinggangnya, Anastasha menurut saja, ia memeluk pria itu. Anastasha menampilkan raut wajah bingung saat motor Darryl tidak melaju menuju rumahnya, tetapi ia tidak protes, membiarkan saja Darryl membawanya entah ke mana. Darryl ternyata memarkirkan motornya di sebuah mall. “Kenapa ke sini?” “Karena mau.” Darryl menarik tangan Anastasha memasuki mall. “Kak, Tasya ma-” “Jangan panggil, Kak!” sela Darryl menatap Anastasha. “Iya, Darryl.” “Jangan menunduk, Anastasha!” Anastasha langsung mengangkat kepalanya. Setiap perkataan Darryl bagaikan perintah mutlak yang harus ia laksanakan. “Tadi mau bilang apa?” Tatapan Darryl melembut. “Tasya mau ke timezone, boleh?” “Boleh.” Anastasha tersenyum senang, tanpa sadar menggenggam tangan Darryl erat menuju tempat yang ia inginkan. Darryl membeli koin terlebih dahulu, dan memberikan koin itu pada Anastasha. “Darryyl, Tasya mau main itu!” tunjuk Anastasha pada mesin boneka capit. “Ayo!” Anastasha melepas genggaman tangannya dari tangan Darryl, lalu berlari riang menuju mesin boneka capit itu. “Darryl siniii!” Darryl tersenyum kecil melihat tingkah Anastasha, menurutnya Anastasha sangat menggemaskan. Gadis itu memasukkan satu koin, lalu mencoba mengambil boneka berbentuk unik di dalam sana. Sekitar sepuluh menit, Anastasha memainkan mesin itu, tetapi nahas, boneka yang diincarnya sangat susah didapatkan. Anastasha memandang Darryl dengan tatapan memohon, berharap Darryl peka. “Darryl ....” “Hm?” “Anastasha mau boneka itu,” ujar Anastasha sedih. Darryl kemudian menggeser sedikit tubuh Anastasha. “Mau yang mana?” “Tasya mau boneka kecoak.” “Hah?” heran Darryl. Di dalam mesin ini banyak boneka lucu seperti boneka beruang dan Mickey Mouse, tetapi kenapa Anastasha menginginkan kecoak? Sungguh Darryl tidak mengerti lagi. Darryl hanya mencoba sekali saja, boneka itu langsung berhasil ia dapatkan. Mata Anastasha berbinar melihat boneka itu, ia tanpa sadar memeluk Darryl saking senangnya. “Makasih, Darryl.” “Sama-sama, Sayang.” Darryl dan membalas pelukan Anastasha.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN